Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Agustus 2012

Peran Media Online dan Kemajuan Umat Islam


http://wasathon.com/opini_anda/read/peran_media_online_dan_kemajuan_umat_islam/
Agama Islam adalah agama mayoritas di Indonesia. Hal itu terlihat dari hasil sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 yang mencatat sebesar 87,1 % atau sebanyak 207,2 juta jiwa penduduk di Indonesia beragama Islam. Dan The Pew Forum on Religion and Public Life pada tahun 2010, menyatakan bahwa penduduk yang menganut agama Islam di Indonesia sangatlah besar, yaitu sekitar 12,7 % dari total Muslim di dunia.

Selanjutnya sila ke link :)

Kamis, 08 Maret 2012

Media Mainstream vs Citizen Journalism

Start:     Mar 10, '12 1:00p
End:     Mar 10, '12 4:00p
Location:     Auditorium lantai 5 Perpustakaan Pusat UI
Pernah dengar banyak media massa di zaman orde baru dibredel oleh pemerintah karena terlalu tajam mengomentari kebijakan yang dibuat oleh pemerintah? Heran dengan media massa sekarang yang justru melempem di era kebebasan pers? Agak miris memang bila kita mencermati fakta yang terjadi, ketika kritisme justru semakin menurun di saat pengekangan terhadap pers sudah mulai berkurang.

Di sisi lain, masyarakat juga saat ini sudah tidak hanya bisa menjadi penonton yang budiman atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Citizen journalism, membuat semua orang bisa menjadi reporter atas sebuah kejadian yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Namun manakah yang lebih menarik dan terpercaya untuk mendapatkan informasi terbaru? Bagaimana pula anak muda seharusnya memaksimalkan social media sebagai sarana untuk melaporkan informasi terkini dalam bentuk citizen journalism? Kalau mau tau lebih lanjut, yuk datang ke SPEAK Forum dan berdiskusi bareng ClubSPEAK, SUMA UI, dan para narasumber.

Waktu
Sabtu
10 Maret 2012
Pukul
13.00 – 16.00

Tempat
Di Auditorium lantai 5 Perpustakaan Pusat UI

Pembicara:
Ade Armando (akademisi
dan pengamat media)
Luviana (praktisi media massa)
Mahardika (kordinator redaksi SUMA UI)

Moderator:
Adrian Danar Wibisono (Koordinator ClubSPEAK)

Acara ini terbuka untuk umum dan tersedia makanan ringan untuk seluruh peserta.
Untuk. info lebih lanjut hubungi Austin (081908044566)

http://wasathon.com/event/read/media_mainstream_vs_citizen_journalism/

Minggu, 27 November 2011

[Peduli] Istiqomah, tetaplah istiqomah



Yah, Istiqomah bukanlah anak yang beruntung dilahirkan lengkap dan normal. Bayi mungil ini adalah putri pertama Mas Wahid Widodo (34 tahun) seorang buruh tani warga Candigilo, Ngadipuro, Dukun, Magelang.  Istiqomah lahir Lahir dengan wajah dan mulut tanpa langit-langit, mata yang buta dengan bola mata yang keluar.. sungguh ini cobaan yang sangaaaat berat untuk mereka.  Luar Biasa berat.

Memang, Istiqomah telah mendapat operasi pengobatan jantung bocor dan bibir sumbing karean mereka tinggal di daerah rawan bencana di kaki gunung Merapi.  Namun, bantuan itu akan berakhir beberapa bulan ke depan.  Agar bisa mengunyah pada umur 1.5 tahun nanti, Istiqomah harus dioperasi lagi, namun orang tuanya tentu tidak mampu membiayai operasi itu sendiri.  

Untunglah para donatur dan relawan Sedekah Rombongan telah kembali bergerak untuk  mengumpulkan dana demi Istiqomah.  Semoga Allah SWT meridhoi dan memudahkan langkah mereka untuk membantu hambaNya yang diamanahkan kepada mereka dan kita semua.  Semoga Dia yang Maha Membolak Balik Hati melembutkan hati kita semua untuk membantu dan mengeluarkan kelebihan rezeki kita demi kesembuhan Istiqomah.  

Semoga engkau tetap istiqomah sebagaimana namamu yang indah itu nak, kami semua sayang padamu, doa kami bersamamu, aamin

More info please visit Rombongan 37 di Sedekah Rombongan.

Semoga bermanfaat

Foto minjam dari situs Sedekah Rombongan.


Kamis, 24 November 2011

[Peduli] Ladang Amal itu memang untuk kita

Saat sekarang ini, perhatian masyarakat tertuju pada pesta pernikahan dua anak pejabat negara.  Yang paling disoroti adalah besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pesta tersebut.  Media-media seakan berlomba menayangkan acara itu sehingga tersiar di seluruh Nusantara.  Situs-situs berita yang menayangkan pernikahan megah itu terbanjiri oleh banyak komentar.  Komentar-komentar yang datang sebagian besar pedas, sinis, mengecam dan melecehkan.  Seakan  rasa hormat kepada para pemimpin bangsa ini sudah dicampakkan begitu saja bagaikan sampah yang dibuang tanpa dipedulikan lagi.  

Para komentator itu memang tidak sepenuhnya bisa disalahkan memang.  Mereka adalah puncak-puncak gunung es kekecewaan dan kemarahan rakyat pada pemimpinnya.  Pernikahan sepasang anak pejabat-pejabat negara itu seakan menafikan krisis multi dimensi yang masih belum juga teratasi di negeri ini.  Adakah hal yang lebih menyakitkan dan menyedihkan melihat sebagian orang berpesta dengan anggaran yang besar sementara orang lain kelaparan dan tidak bisa berobat ke rumah sakit?

Salah satu dari mereka yang kurang beruntung itu adalah Rara.  Rara bukanlah artis atau selebritis apalagi tokoh politik terkenal.  Rara hanyalah anak seorang buruh pabrik tahu di daerah Jogjakarta.  Suatu ketika, bocah itu bermain dengan teman-temannya saat ada acara hajatan sunatan massal.  Saat berlari mundur, Rara tidak menyadari ada panci berisi kuah mendidih di belakangnya.  Tak ayal lagi, bagian belakang tubuh Rara pun masuk ke panci tersebut.  Mula-mula bokongnya lalu seluruh tubuhnya ikut terkena kuah gulai yang panas mendidih itu.  Kisah selengkapnya dapat sahabat-sahabat sekalian simak di blog Sedekah Rombongan yang digagas Pak Saptuari, pemilik Kedai Digital di Jogjakarta.  Karena saya sungguh tidak sanggup menuliskan kisah itu.  Terlalu menyedihkan dan mengharukan sehingga menyayat hati dan menggetarkan jiwa.  Yang jelas, kisah para relawan membantu Rara lebih layak disimak ketimbang pernikahan dua anak pejabat tadi.  Walaupun saya yakin bukan itu yang diingikan para relawan.  Tersampaikannya amanah para donatur, termasuk untuk kesembuhan Rara, jauh lebih lebih penting dari semua itu.  

Kini biaya untuk perawatan Rara selama di rumah sakit ditanggung para donatur.  Tim Sedekah Rombongan kini sedang giat menggalang dana untuk penyembuhan dan pemulihan Rara.  Rara kini telah dipindahkan ke Poli khusus rawat luka bakar. Namun, agar benar-benar sembuh, Rara masih perlu lebih banyak biaya.  Tim Sedekah Rombongan berharap akan datang lebih banyak donatur lagi untuk membantu Rara agar pulih dan ceria seperti sedia kala.  Mereka terus menggalang dukungan lewat akun twitter mereka dengan memakai hastag #SedekahRombongan.  Untuk teman-teman yang aktif di Twitter, mohon kiranya berkenan me-retweet dan me-mention info ini agar tersebar lebih luas.  Sungguh sangat berarti buat Rara dan para penerima bantuan Sedekah Rombongan lainnya.  

Terasa ironis memang.  Di saat para pejabat kaya berpesta pora, malah rakyat yang bergotong royong membantu sesama yang membutuhkan.  Para donatur mungkin tidak semuanya orang kaya dan banyak harta.  Banyak juga yang penghasilannya tidak seberapa dibanding yang sedang pesta saat ini.  Biaya perawatan Rara yang berkisar beberapa puluh juta rupiah tentu merupakan harga yang murah bagi para pejabat yang sedang berpesta itu.  Entah apa yang menghalangi mereka berbagi lebih banyak sehingga rakyat pun akhirnya yang berbondong-bondong bersedekah bagi Rara dan para dhuafa lainnya.  

Mungkin ladang amal membantu Rara dan para dhuafa lainnya memang diberikan kepada rakyat dan bukan para pejabat kaya tersebut.  Allah SWT telah menggerakkan hati sebagian rakyat negeri ini untuk berbagi meski mereka tidak semuanya kaya.  Dan bagi yang sedang berpesta pora, yang mereka dapatkan sesungguhnya mungkin istidraj.  Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran "Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS al-Isra' [17]: 16)".  Nauzubillah min dzalik

Selamat beraktifitas di hari Jumat yang berkah dan indah ini temans, jangan lupa berikan sedekah kita yang terbaik hari ini karena ladang amal ini telah diberikan pada kita.  Bukan mereka yang keras dan tertutup hatinya sehingga enggan melihat dan peduli pada penderitaan sesama.  

Semoga bermanfaat, mohon maaf untuk yang kurang berkenan.  Untuk Rara cepat sembuh ya nak, kami semua sayang padamu dan doa kami bersamamu

Informasi tentang Sedekah Rombongan dapat diperoleh di Blog Sedekah Rombongan 

[Peduli] Media dan Kepedulian

Sepengetahuan saya, yang sudah jarang nonton TV ini, masih ada acara-acara televisi yang memiliki konten kepedulian.  Contohnya adalah Peduli Kasih yang ditayangkan Indosiar dan Jika aku menjadi di Trans TV.  Dulu pernah ada acara talkshow tengah malam yang ditayangkan Metro TV dengan nama Midnight Live.  Dalam salah satu episode acara tersebut ditayangkan seorang tukang ojek yang anaknya sakit dan perlu biaya mahal untuk perawatannay.  Telepon masuk pun silih berganti sehingga terkumpullah biaya lebih dari cukup untuk perawatan si anak tukang ojek hanya dalam waktu 1 malam.  Namun acara-acara seperti itu tidaklah tinggi rating-nya. Masyarakat lebih suka acara gosip kaum selebritis atau banyolan yang mengocok perut mengundang tawa.  Bahkan acara-acara ceramah keagamaan terkadang lebih banyak lucunya daripada ilmunya, namun itulah yang disukai masyarakat kita.  Sangat disayangkan memang.

Sehingga, internet seakan menjadi media terakhir untuk menyalurkan kepedulian dan memberi informasi keberadaan mereka yang membutuhkan.  Sebagian blogger dan para penggunan situs-situs jejaring sosial ada yang mendedikasikan sebagian tulisan dan posting mereka untuk menginformasikan keberadaan mereka yang membutuhkan.  Walau mungkin masih jauh dari ideal, mengingat terus bertambahnya penduduk miskin di negeri yang malang ini, namun tidaklah akan sia-sia dalam pandangan Allah SWT.  

Salah satu dari mereka adalah Rara.  Rara bukanlah artis atau selebritis apalagi tokoh politik terkenal.  Rara hanyalah anak seorang buruh pabrik tahu di daerah Jogjakarta.  Suatu ketika, bocah itu bermain dengan teman-temannya saat ada acara sunatan massal.  Saat berlari mundur, Rara tidak menyadari ada panci berisi kuah mendidih di belakangnya.  Tak ayal lagi, bagian belakang tubuh Rara pun masuk ke panci tersebut.  Mula-mula bokongnya lalu seluruh tubuhnya ikut terkena cairan panas.  Kisah selengkapnya dapat sahabat-sahabat sekalian simak di blog Sedekah Rombongan yang digagas Pak Saptuari, pemilik Kedai Digital di Jogjakarta.  Karena saya sungguh tidak sanggup menuliskan kisah itu.  

Masih banyak anak-anak tidak mampu seperti Rara yang memerlukan perawatan dan lebih banyak lagi yang perlu pendidikan dan sebagainya.  Mari kita dedikasikan sebagian kemampuan kita menyebarkan informasi di internet, baik melalui blog atau jejaring sosial seperti FB atau twitter, untuk kepedulian.  Akan lebih baik lagi jika kita mau dan mampu mengeluarkan kelebihan harta kita demi mereka.  

Sekedar menyalakan kembali semangat peduli dan berbagi yang sempat meredup dan nasihat untuk diri sendiri.  Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membaca.

Jumat, 18 Desember 2009

[Sosial] Infotainment, pelacur dan pembunuh

Infotainment kembali naik daun, setelah seorang selebritis memaki-maki wartawan dan menyebut infotainment lebih rendah dari pembunuh dan pelacur. Memang, dalam keadaan emosi, orang bisa saja mengungkapkan perasaanya dengan berbagai cara. Mulai dari menyebutkan seluruh isi kebun binatang sampai yang lebih mengerikan lagi. Polemik dan konflik antara artis/seleb dan infotainment sudah bukan barang baru di negeri ini.

Si artis menyebut tayangan infotainment lebih rendah daripada pelacur atau pembunuh. Menarik untuk disimak, apa benar sih infotainment itu derajatnya sama atau bahkan lebih hina daripada pelacur dan pembunuh. Pelacur adalah orang-orang yang mencari uang dengan melacurkan diri. Dia menyediakan dirinya sendiri sebagai fasilitas pemuas hawa nafsu sexual lawan (atau mungkin sesama) jenisnya. Sedangkan pembunuh adalah orang yang membunuh orang lain.

Kalau definisinya seperti itu, semua orang juga sudah tahu

Namun apakah infotainment seperti itu, melacurkan diri dan membunuh?

Sebagian orang, terutama penggemar tayang tersebut, akan protes. Mereka akan mengatkaan bahwa Infotainment adalah karya jurnalistik juga. Namun, yang lain banyak yang mengecam dan mengatakan bahwa Infotainment tidak lebih dari sampah.

Salah satu tujuan orang melacurkan diri dan membunuh adalah untuk mendapatkan "easy money" atau mendapatkan uang banyak dengan cara yang mudah, enak dan tanpa kerja keras. Membunuh pun ada yang tujuannya seperti itu, walaupun tentu membunuh lebih sulit daripada melacur. Apalagi bagi seorang pembunuh profesional atau pembunuh bayaran. Hal itu sudah jadi makanan sehari-hari bagi sang pembunuh. Infotainment, walaupun tidak membunuh orang secara langsung, juga bisa berpotensi mematikan potensi manusia. Berapa banyak orang yang waktunya tersita untuk nonton infotainment, padahal dia bisa bekerja, belajar atau melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya.

Ekses negatif lain dari infotainment adalah orang-orang jadi ngiler, ngelihat gaya hidup glamor para selebritis. kadang gak sadar tuh seleb pada kaya ya juga gara-gara masyarakat itu sendiri yang haus hiburan dan doyan sensasi. Maklum, masih tingkat eksistensi diri materi. Jadi demennya hal-hal material aja. Berbicara tentang pelacuran, saya pernah membaca review di internet dari Novel berjudul Kupu Kupu Pelangi. Suatu novel yang menggambarkan realita pahit pada masyarakat kita.



"Cerita dalam novel ini adalah fiktif, namun apa yang terjadi di dalamnya merupakan bagian dari masyarakat kita. Meskipun terdengar janggal, beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah telah menjadi daerah pemasok ABG (Anak Baru Gede) untuk dijadikan pelacur.... Kenyataan yang paling menyesakkan adalah bahwa para orang tua banyak yang tega 'menjual' anak perempuannya. Gadis-gadis suci itu dianggap sebagai aset paling berharga bagi keluarga mereka...," demikian penulis bertutur pada halaman Prolog.






Bukan tidak mungkin, dengan adanya infotainment yang gila-gilaan seperti sekarang ini, pelacuran dan pembunuhan seperti itu akan makin meluas dan menggila. Makin banyak orang yang tergiur mendapatkan uang dengan cara-cara yang mudah dan menyimpang, tanpa peduli konsekwensi jangka panjangnya. Namun, itulah manusia kapitalis, di belakang dikejar ketakutan kemiskinan, di depan tergiur melihat keuntungan yang melimpah apapun konsekwensi dan resikonya. Keadaan itu dimanfaat kembali oleh media-media kapitalis tersebut dengan menggelar berbagai tayangan-tayangan kriminal.

Manusia-manusia pengelola media kapitalis itu di dunia saja sudah dilanda kehidupan yang sempit. Mereka mungkin bukan tidak punya uang dan harta, bahkan melimpah. Namun, keberkahan bukan tidak mungkin jauh dari hidup mereka. Sehingga, rasa dahaga akan sensasi liar itu tak kunjung terpuaskan.

Saya bukan fans artis tersebut, saya juga bukan membela artis itu. saya hanya pemerhati Masalah-masalah sosial. Namun sepertinya kali ini dia berkata benar. Kebenaran tentang kebobrokan tayangan -tayangan infotainment, dan sebagian besar tayangan televisi sekarang ini. Kebenaran yang secara kebetulan terungkap lewat ucapan-ucapan si seleb itu. Atau, jika kita menganggap bahwa tidak ada sesuatu pun yang merupakan kebetulan, ..... adakah yang mengatur semua kejadian itu? Wallahualam

Namun, yang sebenar-benarnya hina adalah media kapitalis dan kapitalisasi media itu sendiri. Media yang hanya peduli pada keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa peduli dampak jangka panjang dari keuntungan itu sendiri. Yang bersumber dari peradaban masa kini yang memanjakan mereka yang punya duit dan menindas dengan kejam mereka yang miskin. Peradaban yang oleh Erich Fromm disebut dengan bahsa yang sangat sarkatis dan mengerikan. "Eksperimental Society" atau masyarakat percobaan, di mana seluruh penghuninya tidak lebih dari kelinci-kelinci percobaan. Tanpa sadar dan tidak berdaya untuk melawan.

Perababan yang memuja materi seperti bangsa-bangsa kuno penyembah berhala memuja berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Bagaikan bani Israil yang menari berputar-putar memuja patung anak sapi emas hasil tempaan mereka sendiri atas bujukan Samiri. Erich Fromm mengatakan "I have it" tends to become "it has me", berhala-berhala itu menjadikan mereka yang memujanya sebagai kepunyaannya. Padahal, mereka hanya benda mati yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Allah SWT mengingatkan kita dalam Surat Thaha ayat 124 - 127

124. Tetapi, barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan menderita hidup sempit, kemudian Kami bangkitkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta.

125. Nanti tentu dia akan berkata: "Ya Tuhanku! Mengapa Engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku melihat?".

126. Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu engkau melupakannya. Begitu pula di hari ini, engkaupun dilupakan pula.

127. Demikianlah balasan Kami terhadap orang-orang yang melampaui batas dan tidak mempercayai keterangan-keterangan Tuhannya. Sesungguhnya siksaan hari akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.

Suka tidak suka, itulah realita yang ada pada masyarakat kita. Semoga kita tidak termsuk orang-orang yang mendapat kehidupan nan sempit dan tidak berkah itu.