Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2012

[Sosial] Generasi Instant Pemuja Kesenangan

"Kita usahakan agar mereka tidak merasa terjajah, baik secara pemikiran maupun tingkah laku.  Sehingga, satu saaat mereka akan sadar uang dan sadar waktu"  demikian kata seorang pengurus Komunitas Anak Langit di Tangerang saat diliput oleh sebuah stasiun TV Swasta.  Komunitas ini memperhatikan dan mengurusi anak-anak jalanan di daerah Tangerang dan sekitarnya.  Mereka bermarkas di bantaran kali Cisadane, dalam bangunan kayu nan sederhana.  Kata-kata yang diucapkan kakak pengurus komunitas tersebut mengingatkan kita pada anak-anak yang seringkali menyambangi warnet-warnet yang ada games online-nya.  Games online seperti Ragnarok, Cross Fire, Counter Strike, Point Blank, Audition Ayodance, Warcraft III dan sebagainya memang sangat digemari oleh anak-anak SD dan SMP, bahkan SMA.  Bahkan ada diantara mereka yang hampir setiap hari menyambangi warnet-warnet tersebut untuk bermain.   Sampai para operator, termasuk yang belum lama bekerja di warnet-warnet itu, bisa segera hafal nama, muka dan karakter mereka.  Tidak tanggung-tanggung pula, terkadang ada diantara mereka yang bisa menghabiskan waktu antara 3 sampai 5 jam sekali main.  Seakan-akan, permainan-permainan online itu telah menjadi kebutuhan paling utama dalam hidup mereka.

Anak-anak itu seakan tidak sabar dan sulit menahan hasrat untuk segera memainkan permainan virtual yang ada di computer-computer tersebut.  Mereka terkadang datang masih dengan pakaian seragam sekolah.  Seakan ada deep and powerfull sense of urgency dalam diri mereka untuk segera melarutkan diri ke dalam "dunia lain" yang ada dalam komputer-komputer tersebut.  Apabila belum kebagian giliran main, mereka terus menerus bertanya pada operator kapan komputer nomor sekian dan sekian selesai.  Tidak peduli apakah si operator sedang senggang sehingga mudah mengecek computer tertentu atau sedang sangat sibuk melayani klien lain yang minta print out dan sebagainya.  Seakan tidak ada sedikitpun tenggang rasa pada operator yang sedang kerepotan dengan permintaan klien warnet yang lain.  Entah apakah yang seperti itu sudah sampai ke tingkat yang sama dengan “sakaw" karena ketagihan narkotika atau belum.

Keluarga dan sekolah bahkan kegiatan ibadah keagamaan serta hal-hal lain yang sesungguhnya lebih bermanfaat seakan-akan tidak menjadi prioritas dalam kehidupan mereka.  Ada yang pagi sebelum masuk sekolah siang sudah tenggelam dalam permainan itu dan sorenya balik lagi ke warnet untuk main lagi.  Ada juga yang sampai bolos dan lebih memilih main games online daripada belajar di sekolah.  Ada pula yang malah main beberapa jam padahal sudah hampir masuk waktu sholat yang relative singkat seperti Maghrib.  Sudah hampir dipastikan, waktu sholat saat itu akan terlewatkan.  Yang lebih menyedihkan lagi, terlewatnya waktu sholat wajib itu seakan akan dilalui tanpa ada rasa berdosa atau bersalah sedikitpun.  Yang penting bagi mereka, main games online jalan terus.  Terkadang, ada orang tua yang bahkan sampai menelepon atau mendatangi warnet-warnet tersebut untuk mencari anaknya.

Yang tidak kalah memperihatinkan adalah adalah tingkah laku dan akhlak mereka.  Entah apakah kekasaran itu karena games-games online yang sebagiannya penuh kekerasan itu atau lebih karena pengaruh lingkungan.  Anak anak itu seakan belum puas kalau belum membodoh-bodohi teman-teman mereka.  Kata-kata kasar seperti (maaf) dongo, bego, goblok dan yang serupa dilontarkan tanpa ada beban moral sama sekali.  Nama-nama penghuni kebon binatang dan nama benda yang (maaf) dibuang orang sebagai sisa metabolisme tubuh seringkali pula terlontar dari mulut kecil mereka.  Semua itu seakan terlontar tanpa beban sama sekali.  Bahkan terkadang ada juga yang sampai berkelahi di dalam atau sekitar warnet.

Bercermin dari refleksi yang dikemukakan kakak pengurus komunitas Anak Langit di awal tulisan ini, anak-anak penggemar game online itu sangat mungkin termasuk mereka yang terjajah baik secara pemikiran maupun tingkah laku.  Mereka bisa jadi termasuk yang terintimidasi baik oleh anak yang lebih besar atau bahkan orang dewasa.  Mereka pun sangat mungkin terintimidasi oleh prestasi akademik mereka sendiri, pada nilai-nilai yang mereka dapatkan di sekolah.  Tentu sulit bagi kita mengharapkan mereka akan mampu berkonsentrasi dan menyerap pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah.  Sangat mungkin saat berada di kelas, pikiran dan jiwa mereka justru terpatri di warnet.  Mereka mungkin lebih memikirkan bagaimana agar bisa memenangkan permainan-permainan elektronik itu daripada berkonsentrasi dan menyimak pelajaran di sekolah.

Hal itu bisa menyebabkan terjadinya vicious circle atau lingkaran setan yang tidak berkesudahan.  Saat prestasi akademis mereka menurun, mereka pun semakin merasa tertekan baik oleh sekolah, keluarga maupun masyarakat.  Dan pelarian dari ketidaknyamanan emosional akibat perasaan terjajah itu apa lagi jika bukan permainan games online yang biasa mereka mainkan.  Saat bermain itulah mereka merasakan kelegaan sesaat dari berbagai tekanan.  Baik yang timbul tuntutan atas prestasi akademik atau dari berbagai intimidasi mereka yang lebih dewasa.  Dalam dunia yang "lain" itu mereka dapat menjadi tentara-tentara yang gagah dengan senjata mematikan di tangan.  Kehidupan sehari-hari, yang mungkin kurang menyenangkan bagi mereka, terlupakan sudah saat tenggelam dalam permainan itu.  Mungkin hanya di "dunia lain" itulah mereka merasa dipahami, dihargai dan diberi cukup apresiasi.

Steven Covey, penulis buku laris The 7 Habits of Highly Effective People dan The 8th Habit, menyatakan bahwa kebutuhan jiwa untuk dipahami secara empatik sama pentingnya seperti oksigen bagi tubuh manusia.  Arvan Pradiyansyah, penulis buku You are not Alone dan beberapa buku laris lainnya, mengatakan bahwa kebutuhan emosional tertinggi manusia adalah dipahami.  Anak-anak yang merasa terjajah dan terintimidasi, yang tidak merasa dipahami dengan baik dan tidak cukup dihargai akan mencari pelarian dan pelampiasan.  Salah satu bentuk pelampiasan itu adalah dengan bermain games online.   

Anak anak adalah cermin, cermin dari kehidupan itu sendiri. Mungkin banyak diantara kita yang masih ingat dengan dongeng Emperor's New Clothes atau Baju Baru sang Kaisar.  Seorang Kaisar yang senang berganti-ganti baju kebesaran suatu ketika ditipu dua orang penipu.  Mereka mengatakan bahwa pakaian yang akan mereka buat hanya bisa dilihat orang pintar dan cerdas.  Pada saat dipamerkan, seorang anak berteriak dan mengatakan bahwa sang Kaisar telanjang.  Tingkah laku anak-anak di warnet itu seakan menelanjangi kita semua akan tingkah laku kita sendiri.  Tinggal kini apakah kita akan jujur dengan apa yang terefleksikan dari cermin cermin kecil itu ataukah kita akan terus bersembunyi di balik sejuta satu dalih yang muncul dari ego dan pikiran kita sendiri.

Children, little children
we've tried to do our best
we are, little children,
we make mistake like all the rest

Repost dari blog yang ini

Jumat, 10 Juni 2011

[Opini] Hormat Bendera setengah hati

Penghormatan terhadap bendera sudah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan sudah terlaksana selama beberapa dekade.  Upacara tersebut diadakan dalam rangka menanamkan kecintaan pada negera dan bangsa pada pesertanya, mulai dari anak -anak sekolah sampai pegawai negeri.  Diharapkan, kecintaan pada negera dan bangsa akan terefleksikan pada kehidupan sehari hari, baik di level personal, interpersonal, sosial maupun profesional.  

Namun, entah kenapa sepertinya upacara-upacara yang seringkali diselenggarakan itu hanya sedikit berdampak pada kehidupan masyarakat, kalau tidak mau dikatakan tak bermanfaat.  Prestasi murid sekolah banyak yang buruk, sementara rasa tanggung jawab banyak pelajar seakan tidak terbentuk.  Silakan berkunjung ke warnet terdekat yang ada game online-nya, perhatikanlah tingkah laku dan bahasa yang digunakan anak-anak di sana.  Nama-nama penghuni kebun binatang mungkin tidak ada yang luput untuk diabsen, dengan intonasi yang keras dan kasar.  Mulut memang seperit moncong  teko, apa yang ada di dalam hatinya, itula yang akan keluar dari mulutnya.  Para pegawai banyak yang kinerjanya tidak memuaskan bahkan tidak sedikit yang  terlibat kasus korupsi.  Baik korupsi uang atau korupsi waktu.  Empati dan kepedulian seakan barang langka yang sulit dicari, dilibas nafsu ingin membangun geudng baru atua beli pesawat pribadi.  Sementara itu, kekayaan negeri ini bagaikan hidangan di atas meja makan yang diperebutkan korporasi-korporasi serakah yang berusaha mengeruk keuntungan dengan bahan baku melimpah dan tenaga kerja murah.  Sebagian fakta itu ditunjukkan oleh John Pilgers dalam film dokumenternya, The New Rulers.  

Walaupun demikian, pengkultusan terhadap simbol-simbol tetap saja terus dilakukan walaupun seakan "gak ngefek" pada kinerja dan prestasi baik akademis maupun profesional.  Upacara-upacara penghormatan bendara, yang terkadang diikuti setengah hati oleh para pesertanya, tetap saja diselenggarakan.  Dahulu, saat masih duduk di bangku SMP, saya termasuk yang seringkali berharap agar Sabtu sore hujan turun, agar tidak ada upacara bendera di lapangan yang diselenggarakan setiap Sabtu sore.

Maka, ketika ada sekolah yang enggan menyelenggarakan penghormatan terhadap bendera, para birokrat pun seperti kebakaran jenggot.  Bahkan ada yang bilang bahwa penghormatan terhadap bendera adalah kewajiban bagi siapapun yang tinggal di tanah ini, meminum airnya, menghirup udaranya dan makan dari hasil buminya.  namun, sepertinya Pak Pajabat yang satu ini lupa bahwa di negeri yang salah urus ini, banyak rakyat yang kelaparan dan terjerat kemiskinan.  Bahkan, di situs kompas, diberitakan seorang pemulung ditemukan meninggal dunia karena kelaparan.  Beberapa waktu sebelumnya, seorang tukang becak ditemukan meninggal di becaknya juga karena kelaparan.  Mereka yang melihat tadinya mengira si tukang becak tidur karena kelelahan, padahal memang sudah tak bernyawa.  Apakah mereka meninggal karena tidak menghormati bendera hingga tidak berhak makanan makanan hasil bumi negeri ini atau memang tidak kebagian, kita tahu jawabannya.

Apalah artinya penghormatan pada simbol-simbol negera kalau negaranya bak Neraka bagi rakyatnya yang sudah apatis dan tak bisa berbuat apa-apa.  Apalah artinya penghormatan pada bendera apabila hak-hak rakyat untuk memperoleh kehidupan yang layak tidak dihormati.  Apalah artinya mencintai bangsa dan negara, apabila negera itu sendiri bagaikan ayah yang zalim atau ibu tiri yang kejam untuk anak-anak bangsanya sendiri.  Jangan salahkan rakyat apabila hanya mencintai bangsa dan negara secara setengah hati karena memang pengurus negaranya banyak yang memperlakukan rakyat setengah hati pula.    

Simbol tinggallah simbol, sesuatu yagn indah terlihat dari luar, agung dan gagah terlihat oleh orang lain.  Namun, apabila esensinya hanya dihayati setengah hati, maka simbol akan menjadi sesuatu yang mati.  Monumen kematian sebuah bangsa yang tidak menghargai rakyatnya sendiri.  Negeri yang bahkan membiarkan sbagian dari mereka mati perlahan-lahan di tengah kekayaan alam yang luar biasa melimpah. Bagai ayam mati di lumbung padi.  

Sabtu, 03 Mei 2008

Freedom Writers Trailer - YouTube EXCLUSIVE!!




reedom Writers
In theaters January 12th, 2007
Starring: Hilary Swank, Scott Glenn, Imelda Staunton, Patrick Dempsey, Mario

"Freedom Writers" is inspired by a true story and the diaries of real Long Beach teenagers after the LA riots, during the worst outbreak of interracial gang warfare. Two-time Academy Award® winner Hilary Swank stars as Erin Gruwell, whose passion to become a teacher is soon challenged by a group of Black, Latino, and Asian gangbangers who hate her even more than each other. When Erin begins to listen to them in a way no adult has ever done, she begins to understand that for these kids, getting through the day alive is enough -- they are not delinquents but teenagers fighting "a war of the streets" that began long before they were born. Erin gives them something they never had from a teacher before -- respect. For the first time, these teens experience a hope that maybe, they might show the world that their lives matter and they have something to say.