Selasa, 24 Juni 2008

ingin blog anda jadi buku? Datang aja ke acara ini - Dari Blog jadi Buku

Start:     Jul 2, '08 7:00p
End:     Jul 2, '08 9:00p
Location:     Panggung Utama Istora Senayan
ingin blog anda jadi buku? Datang aja ke acara ini

Hari/tgl: Rabu, 2 Juli 2008
Pukul: 19.00 - 21.00 WIB
Tempat: Panggung Utama Istora Senayan
Tema: Dari Blog Jadi Buku

Pengisi:
Mbak Helvy Tiana Rosa ( http://helvytr.multiply.com/ )
Mbak Ari ( http://srisariningdiyah.multiply.com/ )

Sabtu, 14 Juni 2008

[PUISI] Layar Raksasa

Layar raksasa

di layar raksasa para peragawati memperagakan adibusana
di jalanan para pengemis berpakaian seadanya

di layar raksasa ditampilkan iklan kamar mandi mewah
di sungai di belakangnya, orang mandi dan mencuci dengan air limbah

di layar raksasa tampillah iklan mobil-mobil mewah
dalam angkutan umum, para penumpang berkeluh kesah

di layar raksasa, tampillah rumah-rumah serba megah
di belakang gedung-gedung, gang-gang sempit dengan kemiskinan yang parah

di sekitar layar raksasa, pertokoan mewah mengelilingnya
di depan pertokoan, para pengemis meminta-minta

di layar raksasa, iklan barang-barang mahal dan mewah silih berganti
di sekitarnya, banyak masyarakat miskin makin menjerit dari hari ke hari

di hotel-hotel di sekitar layar raksasa, para tamu dimanja dan dilayani
di jalanan sekitarnya para tunawisma tidak tahu bagaimana nasibnya di esok hari

Inilah kisah yang pernah terjadi,
saat Layar Raksasa pernah berdiri
di daerah Bundaran HI
tempat yang sering jadi ajang demonstrasi
Namun, walaupun kini Layar Raksasa telah tiada
bersama berbagai kenangan bersamanya
namun keadaannya masih relatif sama
dan semakin bertambah parah setiap harinya







Hati-hati pinjam meminjam barang - Pengalaman masa kecil

Unhappy, overly emotional and pessimistic people cannot appreciate the beauty and blessing of this world. Though they may surrounded by countless examples of this beauty, they see only negative aspect of things, and become even more depressed. However, God, in His mercy and compassion, created these blessings for the sake of human beings. A believer keeps this idea at the forefront of his mind, and is grateful to God for His Blessings.

Harun Yahya, Romanticism: A Weapon of Satan, page 114-115


(diterjemahkan dan diterbitkan oleh Dzikra dengan Judul: Ancaman di balik Romantisisme)

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang tukang minuman yang biasa menjual dagangannya di depan masjid dekat rumah saya. Dia mengatakan anaknya akan masuk sekolah SMP dan harus membayar uang sekolah sekitar 2 juta rupiah. Dia juga mengeluh kepada saya calon kepala daerah yang menang di dareahnya tersebut memang menjanjikan bahwa di daerah tersebut sekolah akan gratis. Saya sendiri tidak bisa menjawab karena saya sendiri sudah lama tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan partai tersebut, sejak pilkada DKI kemarin bulan Agustus 2007.

Saya sendiri tetap berkhusnudzon alias berprasangka baik pada partai tersebut sebab menurut pengetahuan saya segala sesuatu memerlukan proses. Banyak sekali manusia di dunia ini yang tidak mau melalui proses yang sesuai dengan syariat dan sunatullah. Tentu sulit bagi kita untuk mengubah sesuatu yang sudah lama rusak menjadi baik kembali dalam waktu singkat betapapun besar tekad dan keinginan kita.

Kejadian di atas mengingatkan saya pada pengalaman yang tidak menyenangkan yang terjadi saat saya masih duduk di bangku suatu Sekolah Menengah Pertama di Jakarta.


Pada waktu itu saya dan teman-teman sedang gandurng sekali main Video Game. Walaupun saat itu Video games masih sangat sederhana, tetapi bagi kami sudah cukup menghibur dan bikin ketagihan. Namun, karena pada waktu itu software video games tersebut masih dikemas dalam bentuk cartridge, maka harganya sangat mahal. Tidak seperti CD yang sangat mudah dibajak sehingga harganya jadi sangat murah. Nah, salah satu cara mengantisipasi kebosanan akibat main game yang itu-itu saja adalah dengan saling meminjam cartridge video games milik teman. Namun, ternyata rasa tanggung jawab anak-anak SMP pada waktu itu sangat kurang. Bukan saja masalah disiplin belajar atau membuat pekerjaan rumah alias PR, tetapi juga dalam rangka menjaga amanah barang-barang milik teman-teman mereka. Salah satu contohnya adalah meminjamkan cartridge game milik orang lain ke teman yang lain tanpa izin yang punya.

Pada saat itus aya punya seorang teman bernama X (laki-laki, bukan nama sebenarnya). Kami sama-sama suka main game sehingga kami cepat sekali dekat satu sama lain. Pulang sekolah bareng, main bareng. Saya juga senang sih karena si X ini kayaknya orangnya baik, terlalu baik malah. Lama-lama saya jadi tidak nyaman sendiri.

Pernah suatu hari, pulang dari sekolah, kami mampir ke sebuah tempat permainan ding-dong (bahasa kerennya Arcade, tempat main game dengan koin atau uang logam). Nah, pada saat itu saya, yang sedang membawa cartridge game milik teman adik saya. Dan, saat saya memeriksa tas, Astaghfirullah, ternyata cartridge game tersebut hilang. Akhirnya dengan berat hati dan setelah melalui pertengkaran yang cukup hebat, orang tua saya terpaksa mengganti cartridge game yang lumayan mahal itu.

Namun, terus terang saya belum pernah punya teman sebrengsek si X ini. Dia juga pernah menipu saya sehingga mainan action figures (orang-orangan favorit saya) entah bagaimana bisa dia ambil dan bawa pulang dengan sukses. Lalu dia membuat saya stress berat saat dia menekan saya saat saya tanpa sengaja menghilangkan kalkulator scientific yang saat itu masih mahal harganya. Saat itu saya dipaksa mengumpulkan uang untukmengganti kalkulator tersebut tetapi saya tidak boleh bilang orang tua, alasannya saya sudah cukup membebani orang tua selama ini.  Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu apakah kalkulator itu hilang karena saya atau karena dia atau karena orang lain. Bisa jadi saya dijebak. Dia juga sering menakut-nakuti saya dengan ancaman bahwa dia tahu gang yang ada disekitar tempat tinggal saya. Untunglah kedua orang tua saya masih membela saya mati-matian dan bahkan memperkarakan hal ini ke sekolah. Saya lihat dia takut juga.

Terakhir dia minta saya meminjamkan gitar saya, gitar satu-satunya. Saat itu entah dari mana saya punya keberania untuk menolak. Walaupun dia marah-marah, saya tidak peduli. Setelah itu, saya tidak pernah bertemu dengan dia sampai hari ini. Semoga Alloh SWT memberinya hidayah dan membuat dia kembali ke jalan yang benar. Namun, saya juga yakin bahwa di negeri ini masih banyak X yang lain, yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan selalu berusaha mengambil keuntungan dari orang lain tanpa memikirkan akibat jangka panjang yang ditimbulkan.

Kisah pengalaman saya di atas bisa jadi hanya merupakan suatu fragment kecil dari kebodohan dan kemiskinan yang melanda bangsa ini. Masyarakat yang sudah susah, miskin, bodoh dan sakit-sakitan ini malah dikasih hiburan yang berlebihan, bukannya dididik dan dilatih agar siap menghadapi tantangan. Hiburan yang akhirnya malah membuat amanah, yaitu barang pinjaman, malah jadi awal dari hancurnya persahabatan dan konflik yang berkepanjangan.

Terus saya berpikir lagi, apakah kebodohan dan kemiskinan tersebut sengaja dipertahankan agar orang-orang yang sedang berkuasa bisa mempertahankan kekuasaannya? Bukankah artinya ada ”social time bomb” (bom waktu sosial) yang bisa meledak setiap saat seperti zaman Revolusi Prancis dan sebagainya. Ingat, George Santayana pernah mengatakan “Whoever forget the past, are condemned to repeat it” (siapa yang melupakan sejarah, maka dia akan ditakdirkan mengulanginya). Inilah masalah bangsa kita, melupakan sejarah baik sejarah bansanya sendiri apalagi sejarah dunia. Mereka juga tidak melihat bahwa banyak sekali karunia dari Alloh SWT di sekitar mereka dan kenyataan bahwa banyak orang yang bisa keluar dari kemiskinan. Menyedihkan sekali.





Jumat, 13 Juni 2008

Pengajian AMMA KAZI

Start:     Jun 22, '08 10:00a
End:     Jun 22, '08 12:00p
Location:      Gedung Sabili Jl Cipinang Cempedak III / 11 A Polonia - Jakarta Timur
Assalamualaikum wr wb

AMMA-KAZI adalah sebuah forum kajian yang khusus mengupas Zionisme-Yahudi dan pengaruhnya ( Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme ) terhadap Dienul Islam.

Insya Allah rutin diselenggarakan setiap bulan pada ahad ke-4 dengan nara sumber dan tema ulasan yang perbeda pada setiap kajiannya.

Pada kesempatan ini akan diselenggarakan:

Tempat : Gedung Sabili

Jl Cipinang Cempedak III / 11 A

Polonia - Jakarta Timur

Waktu : Ahad, 22 Juni 2008, jam 10.00 WIB- selesai

Narasumber : Bp Drs Mowo Purwito

( Mantan Pendeta, aktivis PDS )

Tema : The Hidden Mission Of Christianity

Besar harapan kami atas kehadiran Ikhwan dan Akhwat, semoga kita dapat memetik hikmah dari inti kajian ini. Jazakallah

Wassalam

Jumat, 06 Juni 2008

Kekerasan Terselubung dalam Perbuatan MAXIAT

Untitled

Berbicara tentang FPI, tentu saja kita tidak bisa memisahkan pembicaraan kita dari yang namanya perbuatan maxiat.


Mari sejenak kita berempati pada para orang tua yang anak-anaknya hobby melakukan berbagai macam perbuatan maxiat seperti judi, mabuk, main perempuan (yang gak bener) dan sebagainya. Perbuatan-perbuatan seperti itu tentu akan melukai perasaan dan membuat malu para orang tua tersebut. Belum lagi apabila anak yang suka maxiat itu adalah pengangguran yang hanya bisa minta (nodong??) orang tuanya agar bisa terus bermaxiat. Bayangkan betapa berat beban yang ditanggung para orang tua tersebut, baik secara moral, emosional apalagi finansial. Jika para pelaku maxiat itu tidak bisa lagi dapat dari orang tua mereka, tentu saja mereka akan terjerumus untuk melakukan berbagai macam tindak kejahatan. Saya pernah membaca di suatu majalah ada orang tua yang anaknya kena Narkoba berkata pada salah satu teman sang anak "Jika anak saya mati, maka kamu juga harus mati. Saya tidak peduli walaupun saya harus masuk penjara sekalipun!!"

Para guru tentu akan merasa kecewa dan sedih apabila murid-murid tidak lagi rajin belajar dan tekun berlatih sehingga sulit menyerap pelajaran yang diberikan karena perhatian mereka terpusat pada berbagai macam hiburan di layar TV dan sebagainya. Rasanya sia-sia saja para guru tersebut lelah-lelah mengajar di sekolah, kursus dan institusi pendidikan lainnya. Belum lagi pengaruh tayangan seperti Smackdown yang beberapa waktu yang lalu makan korban beberapa anak kecil yang mencoba melakukan bantingan-bantingan tanpa berlatih terlebih dahulu.


Bagaimana dengan istri-istri dari para lelaki yang hobby bermaxiat dengan pergi ke tempat pelacuran baik yang tersebar di berbagai tempat di negeri ini? Seandainya pun mereka terpaksa menahan perasaan marah dan kecewa karena kelakuan para suami, para istri tersebut rawan terkena macam-macam penyakit kelamin sebagai "oleh-oleh" dari pasangannya.


Jangan salahkan apabila banyak orang yang sudah tidak percaya pada hukum dan sistem hukum di negeri ini. Sudah jamak beredar di sekitar kita suatu "lelucon" (sebenarnya sih tidak lucu) yang berbunyi "Apabila maling masuk penjara, maka begitu dia keluar dari penjara dia akan jadi maling yang lebih lihai". yang lebih parah tentu saja apabila penjara sudah jadi "training center" untuk para penjahat agar mereka bisa lebih hebat lagi dalam berbuat kejahatan.

Sudah lama saya berpikir bahwa orang tua, guru dan masyarakat yang resah karena perbuatan-perbuatan maxiat dan tempat-tempat maxiat yang menjamur bak cendawan di musim hujan itu seakan-akan tidak punya hak azasi untuk bisa tenang mendidik dan membesarkan anak-anak mereka tanpa dicengkram ketakutan dan rasa was-was berlebihan. Apakah hak azasi hanya milik sebagian pihak dan bukan milik pihak lain, terutama mereka yang termasuk "Silent Majority"?????

Link terkait:


Semoga bermanfaat, maaf jika tidak berkenan

Kerusuhan di Monas - pengalihan isu BBM??????

"Berikan kepada saya kewenangan untuk mencetak uang dan mengatur keuangan suatu negara, dan setelah hal itu terjadi saya tidak peduli kepada para pembuat hukum di negara tersebut"


Meyer Amschel Rothschild (1743 - 1812) pendiri dinasi Rotschild

Beberapa hari ini perhatian kita semua terpusatkan ke kejadian di monas hari ahad 1 juni 2008 yang lalu. Begitu gencarnya pemberitaan media massa baik cetak maupun elektronik, online maupun offline.

Lalu, seperti yang bisa sama-sama kita duga, ada pihak-pihak yang menginginkan agar FPI segera dibubarkan. mereka beralasan bahwa FPI selalu melakukan tindak kekerasan. namun, benarkah apabila FPI dibubarkan, kekerasan akan berhenti dengan sendirinya?


Tulisan kali ini tidak akan membahas masalah pembubaran FPI atau yang sejenisnya, namun saya hanya ingin curhat masalah yang lain namun ada hubungannya dengan masalah kerusuhan di MOnas kemarin itu.

Saya pernah baca bukunya om Robert Kiyosaki yang berjudul Cashflow Quadrant (sequel-nya Rich Dad Poor Dad). Dalam buku itu disebutkan bahwa apabila dalam suatu negara terjadi kekacauan atau perang (seperti di Indonesia sekarang ini), maka yakinlah bahwa seorang atau lebih kapitalis sudah masuk ke sana, bahkan mungkin sudah masuk duluan. Dalam keadaan damai dan tenang, kapitalis bisa meraih untung besar. Dalam keadaan perang dan penuh kekacauan, para Kapitalis bisa meraih untung lebih besar lagi.


Kalimat dalam buku inilah yang dari dulu menyebabkan saya tidak simpati dengan om Robert ini. Memang sih banyak ilmu dari beliau yang bisa berguna bagikita ,tetapi kata -kata itu sangat bikin saya sakit hati.


Nah, coba kita bandingkan kalimat di atas dengan yang ini:

"Berikan kepada saya kewenangan untuk mencetak uang dan mengatur keuangan suatu negara, dan setelah hal itu terjadi saya tidak peduli kepada para pembuat hukum di negara tersebut"


Meyer Amschel Rothschild (1743 - 1812) pendiri dinasi Rotschild (dikutip dari buku Pak Z.A. Maulani, Zionisme menaklukkan Dunia)


Maka, berdasarkan hal-hal di atas, saya mohon maaf bila saya (karena kebodohan saya, ngaku aja) cenderung percaya bahwa masalah kerusuhan di Monas dan isu pembubaran FPI serta begitu banyak kekacauan lainnya di negeri ini adalah upaya pengalihan perhatian masyarakat dari kenaikan harga BBM atau kepentingan kapitalis lainnya, minmal ada hubungannya.

Beritanya ada di sini
BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk

Penjajahan Korporasi Asing Atas Migas Indonesia

Semoga bermanfaat, mohon maaf bila tidak berkenan