http://inumarulez.blogspot.com/2009/06/kenekatan-manusia-ketika-cinta-ditolak.html
Aneh-aneh Disini, Minggu, 2009 Juni 07
Pernah ada pepatah mengatakan, Cinta ditolak, dukun bertindak... Tapi, tidak untuk orang orang di bawah ini... Untuk mereka, cinta ditolak, NEKAT bertindak!!
Warning: DON'T TRY THESE AT HOME (OR ANYWHERE)
Minggu, 04 Oktober 2009
Jumat, 02 Oktober 2009
[Komunitas Lebah] Sahur bareng ojek sepeda di Museum Mandiri
Pada rangkaian acara baksos MPID kemarin, saya tidak ikut Sahur on the road karena ingin ikut acara yang satu ini. Di sana saya ketemu
Teh Fifi Moestarika dan teman-teman dari Komunitas Lebah
Mas Rudy dan Mbak Ibet juga ikut.
Kami sampai kira-kira lewat tengah malam, lalu mempersiapkan tempat di Museum Bank Mandiri, lalu acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, termasuk dari ketua dan pendiri KHI,Mas Asep Kambali
Acara dilanjutkan dengan jalan-jalan malam di kota tua dipandu mas Asep dan diteruskan dengan naik sepeda onthel beramai-ramai keliling kota tua.
Asyik dan seru deh pokoknya ... :)
Selain berkeliling, kita juga mampir ke jembatan Kota Intan.
setelah puas berkeliling, kami kembali ke Museum Bank Mandiri untuk istirahat dan sahur.
Acara diakhir dengan Sholat Subuh berjamaah dan pembagian bingkisan untuk para sahabat kami tukang-tukang ojek sepeda.
btw, ada loh seorang tukang ojek sepeda yang bisa membiayai anaknya sampai lulus kuliah, Subhanallah
posted by: Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49
Label:
baksos,
jalanjalan,
komunitaslebah,
kotatua,
museum,
ojeksepeda,
sahur
[Lomba Menulis Baksos MPID] Pagi-pagi sudah TOUR OF DUTY
Pagi itu, walaupun sudah hari H rangkaian acara baksos MPID, saya masih saja mengantuk, namun tiba tiba sekitar jam 7 pagi (lewat berapa lupa? pokoknya sekitar jam segitu deh) saya ditelepon mbak Ari, diminta ikut ke baksos yang ke Gintung Cilejet, Parung Panjang.
"saya diperlukan atau enggak nih, kalau diperlukan boleh. Tapi bilang bunda Elly dulu ya?" kata saya. Yang tadinya kepingin merem sebentar karena tidak tidur semalaman (mengerjakan terjemahan sekalian browsing2 gak jelas) akhirnya langsung berangkat, untung ada yang mengantar sampai ke Radio D FM. Sekalian ajak keponakan jalan2
karena teringat lagi dengan kunjungan ke kampung Dago beberapa waktu yang lalu, bersama Mas Rudy dan Bunda Elly, sepanjang saya bersiap-siap sampai berangkat tidak lupa mendendangkan lagu favorit, soundtrack-nya Tour of Duty, apalagi kalau bukan Paint It Black-nya Rolling Stones.
kayaknya lagu itu bakal terus2-an jadi soundtrack saya kalau mau ke Parung Panjang nih ..
Samapai di sana ternyata masih nunggu, pagi-pagi ketemu mbak Noem dan Mas Heri. Setelah menunggu beberapa lama sambil ngobrol, datanglah mbak Ari dan mbak Yelli. setelah itu barulah berdatangan yang lain, seperti mbak Ndaru dan mbak Dian dan teman-teman yang lain (belum begitu hafal dan kenal, kalau ada yang ingat minta tolong ditambah di kotak reply ya)
Akhirnya, setelah semua lengkap, berangkatlah kami semua ke Parung Panjang lewat tol BSD. Pas waktu keluar dari tol sempat nyasar, namun alhamdulillah semua kembali ke jalurnya yang benar. Setelah keluar dari tol, kami melewati jalan yang biasa dilalui saat ke Desa Jagabita, namun kali ini kami melewati kompleks Parung Permai.
Sebelum masuk kompleks Parung Permai, kami menjemput relawan yang biasa membantu kami di sana yaitu Ibu Uun di puskesmas Parung Panjang.
Kami melewati kompleks Parung Permai yang benar-benar permai. Yang dimaksud permai di sini adalah banyak sekali rumah kosong, pokoknya mirip sekali dengan kota-kota hantu jaman kuda gigit besi, yaitu kota-kota yang ditinggal pemiliknya. Pak Irwan, supir yang bawa mobil yang kami tumpangi, mengatakan bahwa rumah-rumah di kompleks tersebut banyak yang hanya dijadikan investasi oleh pemiliknya. Jika suatu saat mereka perlu uang, rumah-rumah itu kan bisa dijual, mungkin begitu menurut realitas subjektif (baca: pikiran) mereka.
Tetapi siapa juga yang mau tinggal di kompleks yang kaya kota mati seperti itu, jangan-jangan rumah tetangga yang disangka kosong ternyata jadi tempat ngumpet resividis, bromocorah (baca: penjahat) atau bahkan teroris. Nah lo, berabe kan kalau sampai seperti itu
Setelah dari kota hantu eh, kompleks tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Gintung Cilejet. perjalanan kami cukup berat mengingat medan yang harus kami tempuh mirip keadan di film-film perang Vietnam, persis film jaman saya SMP dulu, Tour of Duty. Ceritanya perjalanan dari Kota Saigon alias Ho Chi Minh City ke markasnya tentara Viet Cong,
Rute yang harus kami lalui termasuk jalan tanah sempit yang berada di pinggir sebuah sungai yang cukup besar dengan airnya yang mengalir deras bercampur lumpur. Selain itu, kami juga harus melewati sebuah jembatan kayu yang ada di atas sungai tersebut. Saat dilewati mobil, terdengar jembatan kayu itu berderak-derak seakan-akan memprotes beratnya beban yang melintas di atasnya.

Desa Gintung Cilejet sendiri adalah salah satu desa yang ada di Parung Panjang, semuanya ada 11 desa yaitu:
1. Cibunar
2. Cikuda
3. Dago
4. Gintung Cilejet
5. Gorowong
6. Jagabaya
7. Jagabita
8. Kabasiran
9. Lumpang
10. Parung Panjang
11. Pingku
(nyontek dari Wikipedia Indonesia)
Sesudah sampai tujuan, mulailah kami bergerilya membagikan barang-barang sumbangan kepada mereka yang membutuhkan. Beberapa tempat bahkan tidak dapat dicapai mobil sehingga kami ada yang harus mempergunakan sepeda motor atau berjalan kaki. Bisa dibayangkan betapa terisolirnya penduduk desa Gintung Cilejet ini dari peradaban moderen. Seakan-akan mereka adalah penduduk suatu pulau yang berada nun jauh di tengah samudra.
Kondisi geografis dan fasilitas sarana jalan yang sangat tidak memadai itu pulalah yang menyebabkan masyarakat di desa tersebut, termasuk juga di desa-desa lain di Parung Panjang, enggan untuk datang ke puskesmas yang terletak di jalan raya. Ongkos berobat di puskesmas mungkin murah namun perjalanan ke sana memakan ongkos yang jauh lebih mahal. Sehingga saat terpaksa dibawa ke puskesmas, keadaan orang yang sakit sudah terlalu parah.
Apa yang kami lakukan di desa Gintung Cilejet itu memang masih sangat kurang memadai dibandingkan dengan keadaan mereka di sana. Masih banyak sekali kebutuhan masyarakat desa tersebut yang belum terpenuhi, terutama kebutuhan yang bersifat non-materi, seperti semangat menghadapi kehidupan, optimisme dan ilmu pengetahuan. Sangat disayangkan para penduduk tersebut, sebagaimana sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia, masih termasuk dalam apa yang oleh Erich Fromm sebagai "Receptive Society" alias masyarakat yang lebih banyak pasif menunggu bantuan datang pada mereka.
Mereka adalah orang-orang yang mengasihani diri sendiri dan menganggap diri mereka sebagai korban. Mereka cenderung menyalahkan segala hal di luar mereka sebagai penyebab kemiskinan hidup mereka. Sulit sekali membangkitkan jiwa mereka untuk mempersiapkan diri meraih masa depan yang gemilang.
Walapun demikian, jangan sampai kita hanya menjadi berkah bagi orang-orang yang kita kenal, orang-orang yang memang mencintai kita atau baik kepada kita. Kita juga harus berusaha semaksimal mungkin menjadi berkah bagi sebanyak mungkin manusia. Kita hidup hanya satu kali di atas muka bumi ini, maka jangan sia-siakan dengan tidak berbagi dengan yang lain.
Rekan-rekan sekalian,
Getaran-getaran jerit rintih mereka yang miskin dan menderita mungkin terlalu lemah untuk bisa didengar oleh banyak manusia yang terlena oleh kehidupan moderen, oleh yang senantiasa dibanjiri berbagai macam hiburan dan terlena manisnya teknologi.
Namun, ....... getaran-getaran energi yang lemah itu cepat atau lambat akan mampu mengetuk dan menembus pintu-pintu lagi, dan hanya tinggal masalah waktu saja bagi Allah Al Latif, Allah SWT Yang Maha Lembut, .....................
..................... yang mampu menangkap getaran kepedihan betapapun halusnya
..................... yang pada akhir memberi balasan yang seadil-adilnya bagi semua manusia
Semoga bermanfaat,
by Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49
Foto-foto kegiatan tersebut bisa dilihat di album yang satu ini
Posting sambil dengerin Ebiet G. Ade - Apakah ada bedanya
"saya diperlukan atau enggak nih, kalau diperlukan boleh. Tapi bilang bunda Elly dulu ya?" kata saya. Yang tadinya kepingin merem sebentar karena tidak tidur semalaman (mengerjakan terjemahan sekalian browsing2 gak jelas) akhirnya langsung berangkat, untung ada yang mengantar sampai ke Radio D FM. Sekalian ajak keponakan jalan2
karena teringat lagi dengan kunjungan ke kampung Dago beberapa waktu yang lalu, bersama Mas Rudy dan Bunda Elly, sepanjang saya bersiap-siap sampai berangkat tidak lupa mendendangkan lagu favorit, soundtrack-nya Tour of Duty, apalagi kalau bukan Paint It Black-nya Rolling Stones.
kayaknya lagu itu bakal terus2-an jadi soundtrack saya kalau mau ke Parung Panjang nih ..
Samapai di sana ternyata masih nunggu, pagi-pagi ketemu mbak Noem dan Mas Heri. Setelah menunggu beberapa lama sambil ngobrol, datanglah mbak Ari dan mbak Yelli. setelah itu barulah berdatangan yang lain, seperti mbak Ndaru dan mbak Dian dan teman-teman yang lain (belum begitu hafal dan kenal, kalau ada yang ingat minta tolong ditambah di kotak reply ya)
Akhirnya, setelah semua lengkap, berangkatlah kami semua ke Parung Panjang lewat tol BSD. Pas waktu keluar dari tol sempat nyasar, namun alhamdulillah semua kembali ke jalurnya yang benar. Setelah keluar dari tol, kami melewati jalan yang biasa dilalui saat ke Desa Jagabita, namun kali ini kami melewati kompleks Parung Permai.
Sebelum masuk kompleks Parung Permai, kami menjemput relawan yang biasa membantu kami di sana yaitu Ibu Uun di puskesmas Parung Panjang.
Kami melewati kompleks Parung Permai yang benar-benar permai. Yang dimaksud permai di sini adalah banyak sekali rumah kosong, pokoknya mirip sekali dengan kota-kota hantu jaman kuda gigit besi, yaitu kota-kota yang ditinggal pemiliknya. Pak Irwan, supir yang bawa mobil yang kami tumpangi, mengatakan bahwa rumah-rumah di kompleks tersebut banyak yang hanya dijadikan investasi oleh pemiliknya. Jika suatu saat mereka perlu uang, rumah-rumah itu kan bisa dijual, mungkin begitu menurut realitas subjektif (baca: pikiran) mereka.
Tetapi siapa juga yang mau tinggal di kompleks yang kaya kota mati seperti itu, jangan-jangan rumah tetangga yang disangka kosong ternyata jadi tempat ngumpet resividis, bromocorah (baca: penjahat) atau bahkan teroris. Nah lo, berabe kan kalau sampai seperti itu
Setelah dari kota hantu eh, kompleks tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Gintung Cilejet. perjalanan kami cukup berat mengingat medan yang harus kami tempuh mirip keadan di film-film perang Vietnam, persis film jaman saya SMP dulu, Tour of Duty. Ceritanya perjalanan dari Kota Saigon alias Ho Chi Minh City ke markasnya tentara Viet Cong,
Rute yang harus kami lalui termasuk jalan tanah sempit yang berada di pinggir sebuah sungai yang cukup besar dengan airnya yang mengalir deras bercampur lumpur. Selain itu, kami juga harus melewati sebuah jembatan kayu yang ada di atas sungai tersebut. Saat dilewati mobil, terdengar jembatan kayu itu berderak-derak seakan-akan memprotes beratnya beban yang melintas di atasnya.
Desa Gintung Cilejet sendiri adalah salah satu desa yang ada di Parung Panjang, semuanya ada 11 desa yaitu:
1. Cibunar
2. Cikuda
3. Dago
4. Gintung Cilejet
5. Gorowong
6. Jagabaya
7. Jagabita
8. Kabasiran
9. Lumpang
10. Parung Panjang
11. Pingku
(nyontek dari Wikipedia Indonesia)
Sesudah sampai tujuan, mulailah kami bergerilya membagikan barang-barang sumbangan kepada mereka yang membutuhkan. Beberapa tempat bahkan tidak dapat dicapai mobil sehingga kami ada yang harus mempergunakan sepeda motor atau berjalan kaki. Bisa dibayangkan betapa terisolirnya penduduk desa Gintung Cilejet ini dari peradaban moderen. Seakan-akan mereka adalah penduduk suatu pulau yang berada nun jauh di tengah samudra.
Kondisi geografis dan fasilitas sarana jalan yang sangat tidak memadai itu pulalah yang menyebabkan masyarakat di desa tersebut, termasuk juga di desa-desa lain di Parung Panjang, enggan untuk datang ke puskesmas yang terletak di jalan raya. Ongkos berobat di puskesmas mungkin murah namun perjalanan ke sana memakan ongkos yang jauh lebih mahal. Sehingga saat terpaksa dibawa ke puskesmas, keadaan orang yang sakit sudah terlalu parah.
Apa yang kami lakukan di desa Gintung Cilejet itu memang masih sangat kurang memadai dibandingkan dengan keadaan mereka di sana. Masih banyak sekali kebutuhan masyarakat desa tersebut yang belum terpenuhi, terutama kebutuhan yang bersifat non-materi, seperti semangat menghadapi kehidupan, optimisme dan ilmu pengetahuan. Sangat disayangkan para penduduk tersebut, sebagaimana sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia, masih termasuk dalam apa yang oleh Erich Fromm sebagai "Receptive Society" alias masyarakat yang lebih banyak pasif menunggu bantuan datang pada mereka.
Mereka adalah orang-orang yang mengasihani diri sendiri dan menganggap diri mereka sebagai korban. Mereka cenderung menyalahkan segala hal di luar mereka sebagai penyebab kemiskinan hidup mereka. Sulit sekali membangkitkan jiwa mereka untuk mempersiapkan diri meraih masa depan yang gemilang.
Walapun demikian, jangan sampai kita hanya menjadi berkah bagi orang-orang yang kita kenal, orang-orang yang memang mencintai kita atau baik kepada kita. Kita juga harus berusaha semaksimal mungkin menjadi berkah bagi sebanyak mungkin manusia. Kita hidup hanya satu kali di atas muka bumi ini, maka jangan sia-siakan dengan tidak berbagi dengan yang lain.
Rekan-rekan sekalian,
Getaran-getaran jerit rintih mereka yang miskin dan menderita mungkin terlalu lemah untuk bisa didengar oleh banyak manusia yang terlena oleh kehidupan moderen, oleh yang senantiasa dibanjiri berbagai macam hiburan dan terlena manisnya teknologi.
Namun, ....... getaran-getaran energi yang lemah itu cepat atau lambat akan mampu mengetuk dan menembus pintu-pintu lagi, dan hanya tinggal masalah waktu saja bagi Allah Al Latif, Allah SWT Yang Maha Lembut, .....................
..................... yang mampu menangkap getaran kepedihan betapapun halusnya
..................... yang pada akhir memberi balasan yang seadil-adilnya bagi semua manusia
"A laisallahu bi ahkamil haakimiin"
"Bukankah Allah seadil-adilnya hakim?"
(Qs. At Thiin 8)
"Bukankah Allah seadil-adilnya hakim?"
(Qs. At Thiin 8)
Semoga bermanfaat,
by Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49
Foto-foto kegiatan tersebut bisa dilihat di album yang satu ini
Posting sambil dengerin Ebiet G. Ade - Apakah ada bedanya
Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
Kucoba tuang ke dalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui
Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku
Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli
Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka
dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
Kucoba tuang ke dalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui
Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku
Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli
Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka
[Baksos MPID] Episode Desa Gintung Cilejet
Assalamualaikum,
sebelumnya mohon maaf kalau album ini upload-nya telat dan memotretnya asal-asalan, maklum bukan fotografer dan pakai kamera HP pula .. :)
Muhammad Nahar
SEFTer angkatan 49
Kamis, 01 Oktober 2009
[Quotations] Some of my favorite quotations
Words can inspire, thoughts can provoke but only action brings you closer to your dreams - Brad Sugars
To Live, to learn, to love and to leave a legacy - Stephen Covey
Life is LOGOS (Loving God, Blessing Others, Self Improvement) the rest is just detalis
- Ahmad Faiz Zainuddin - SEFT Founder
One day our grandchildren will go to museums to see what poverty was like
- Muhammad Yunus
Sebetulnya bukan engkau, yang menarik perhatianku tetapi
sensasi, yang kuperoleh dengan mencintai engkau.
- Anthony de Mello SJ
And Darkness and Decay and the Red Death held illimitable dominion over all.
- Edgar Allan Poe
setiap orang yang mencoba mencari kebahagiaan dari luar dirinya, akan selalu mendapati kebahagiaan adalah milik orang lain
“In the depths of every heart, there is a tomb and a dungeon, though the lights, the music, and revelry above may cause us to forget their existence, and the buried ones, or prisoners whom they hide. But sometimes, and oftenest at midnight, those dark receptacles are flung wide open. In an hour like this, when the mind has a passive sensibility, but no active strength; when the imagination is a mirror, imparting vividness to all ideas, without the power of selecting or controlling them; then pray that your grieves may slumber, and the brotherhood of remorse not break their chain.”
- Nathaniel Hawthorne
"There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle."
- Albert Einstein
"Oh, Great Spirit, whose voice I hear in the winds and whose breath gives life to all the world, hear me. I come before you, one of your many children. I am weak and small. I need your strength and wisdom. Let me walk in beauty and make my eyes ever behold the red and purple sunset; my ears sharp so I may hear your voice. Make me wise, so I may learn the things you have taught my people, the lessons you have hidden under every rock and leaf. I seek strength, not to be superior to my brothers, but to be able to fight my greatest enemy--myself. Make me ever ready to come to you with clean hands and straight eyes, so whenever life fades, like the fading sunset, my spirit will come to you without shame."
-Prayer Composed by Chief Yellow Lark, a Blackfoot Indian
To fear love is to fear life, and those who fear life are already three parts dead.
- Bertrand Russell, Marriage and Morals Ch. 16 (1929)
“There is a sacredness in tears. They are not the mark of weakness, but of power. They speak more eloquently than ten thousand tongues. They are messengers of overwhelming grief...and unspeakable love.”
- Washington Irving
Note: tadinya mau di-posting secara bertahap di notes, namun karena terlanjur banyak ya di sini saja,
semoga bermanfaat ya
To Live, to learn, to love and to leave a legacy - Stephen Covey
Life is LOGOS (Loving God, Blessing Others, Self Improvement) the rest is just detalis
- Ahmad Faiz Zainuddin - SEFT Founder
One day our grandchildren will go to museums to see what poverty was like
- Muhammad Yunus
Sebetulnya bukan engkau, yang menarik perhatianku tetapi
sensasi, yang kuperoleh dengan mencintai engkau.
- Anthony de Mello SJ
And Darkness and Decay and the Red Death held illimitable dominion over all.
- Edgar Allan Poe
setiap orang yang mencoba mencari kebahagiaan dari luar dirinya, akan selalu mendapati kebahagiaan adalah milik orang lain
“In the depths of every heart, there is a tomb and a dungeon, though the lights, the music, and revelry above may cause us to forget their existence, and the buried ones, or prisoners whom they hide. But sometimes, and oftenest at midnight, those dark receptacles are flung wide open. In an hour like this, when the mind has a passive sensibility, but no active strength; when the imagination is a mirror, imparting vividness to all ideas, without the power of selecting or controlling them; then pray that your grieves may slumber, and the brotherhood of remorse not break their chain.”
- Nathaniel Hawthorne
"There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle."
- Albert Einstein
"Oh, Great Spirit, whose voice I hear in the winds and whose breath gives life to all the world, hear me. I come before you, one of your many children. I am weak and small. I need your strength and wisdom. Let me walk in beauty and make my eyes ever behold the red and purple sunset; my ears sharp so I may hear your voice. Make me wise, so I may learn the things you have taught my people, the lessons you have hidden under every rock and leaf. I seek strength, not to be superior to my brothers, but to be able to fight my greatest enemy--myself. Make me ever ready to come to you with clean hands and straight eyes, so whenever life fades, like the fading sunset, my spirit will come to you without shame."
-Prayer Composed by Chief Yellow Lark, a Blackfoot Indian
To fear love is to fear life, and those who fear life are already three parts dead.
- Bertrand Russell, Marriage and Morals Ch. 16 (1929)
“There is a sacredness in tears. They are not the mark of weakness, but of power. They speak more eloquently than ten thousand tongues. They are messengers of overwhelming grief...and unspeakable love.”
- Washington Irving
Note: tadinya mau di-posting secara bertahap di notes, namun karena terlanjur banyak ya di sini saja,
semoga bermanfaat ya
[Renungan] Adakah semua bencana ini kesalahan kita?
dalam satu bulan, dua kali gempa besar : Tasikmalaya (2 September) dan Padang (30 September). Lindungi kami Yaa Allah..
Sahabat,
mari kita membayangkan seorang atasan yang begitu peduli pada kemajuan anak buahnya. Beliau mengikutsertakan para anak buahnya untuk mengikuti suatu pelatihan yang mahal dan dalam jangka waktu satu bulan, bayangkan pelatihan selama satu bulan.
Sang atasan tidak segan-segan mengeluarkan uang dari kantong pribadinya agar semua anak buahnya bisa ikut pelatihan tersbut.
Nah, mari kita bayangkan apabila ada diantara mereka yang tidak mengikuti pelatihan dengan serius. Hanya sekedar menganggap acara pelatihan itu tidak ada bedanya dengan piknik atau jalan-jalan, sekedar berlibur lepas dari rutinitas pekerjaan kantor. Selesai pelatihan, tidak ada peningkatan kinerja pada sejumlah oknum tersebut. Sungguh, dapat dibayangkan kekecewaan sang atasan atas sikap dan karakter para oknum yang ada diantara anak buanya tersebut. Bukan tidak mungkin para anak buah yang menyia-nyiakan kesempatan pelatihan itu akan menerima hukuman yang berat dari sang atasan atau institusi tempat mereka bekerja.
Sahabat,
Bulan Ramadhan adalah bulan pelatihan bagi semua kaum muslimin di dunia ini, namun berapa persenkah dari mereka yang benar-benar jadi alumni Ramadhan? Berapa banyakkah dari kaum muslimin ini, yang seharusnya menjadi khalifah di muka bumi, yang berhasil menerapkan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan mereka?
Sahabat,
Bencana-bencana yang datang silih berganti pasca Ramadhan kali ini mungkin merupakan teguran bagi kita semua, yang mungkin belum pantas disebut alumni Ramadhan. Yang menyia-nyiakan kesempatan training selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan yang baru saja berlalu.
Sahabat,
Mungkin semua bencana ini adalah teguran bagi kita semua, teguran bagi kita yang performa ibadahnya (baik ibadah ritual atau non-ritual) bukan menunjukkan orang yang pantas masuk bulan Syawal yang bermakna peningkatan, yang ternyata malah menunjukkan kinerja "saya awal" alias sama bahkan lebih buruk daripada sebelum mengikuti pelatihan.
Mari kita ingat kembali firman-firman Allah SWT:
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”
(QS Ar-Rahman [55]: 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61,
“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya),”
(QS An-Nahl [16]: 53).63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77).
Sekali lagi, jangan sampai nikmat fitrah pasca pelatihan Ramadhan ini kita dustai, ingkari dan sia-siakan karena belum tentu kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan.
Sahabat,
tidak perlu menunggu bencana untuk bertaubat, tidak perlu menunggu Ramadhan tahun depan untuk meningkatkan prestasi ibadah kita. Mulailah dari yang kita mampu, mulailah dari diri kita sendiri dan mulailah dari sekarang.
Selalu ada hikmah di balik musibah, selalu ada amanah di balik setiap nikmat dan anugerah.
Semoga bermanfaat
Turut berduka cita atas bencana yang menimpa saudara2 kita di baik di Padang, Tasikmalaya dan di tempat-tempat lainnya. Semoga mereka yang meninggal dunia diterima amal ibadah serta diampuni dosa-dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat. Serta bagi yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan oleh Allah SWT
related links
Let's go to Padang dan jurnal yang ini
Sahabat,
mari kita membayangkan seorang atasan yang begitu peduli pada kemajuan anak buahnya. Beliau mengikutsertakan para anak buahnya untuk mengikuti suatu pelatihan yang mahal dan dalam jangka waktu satu bulan, bayangkan pelatihan selama satu bulan.
Sang atasan tidak segan-segan mengeluarkan uang dari kantong pribadinya agar semua anak buahnya bisa ikut pelatihan tersbut.
Nah, mari kita bayangkan apabila ada diantara mereka yang tidak mengikuti pelatihan dengan serius. Hanya sekedar menganggap acara pelatihan itu tidak ada bedanya dengan piknik atau jalan-jalan, sekedar berlibur lepas dari rutinitas pekerjaan kantor. Selesai pelatihan, tidak ada peningkatan kinerja pada sejumlah oknum tersebut. Sungguh, dapat dibayangkan kekecewaan sang atasan atas sikap dan karakter para oknum yang ada diantara anak buanya tersebut. Bukan tidak mungkin para anak buah yang menyia-nyiakan kesempatan pelatihan itu akan menerima hukuman yang berat dari sang atasan atau institusi tempat mereka bekerja.
Sahabat,
Bulan Ramadhan adalah bulan pelatihan bagi semua kaum muslimin di dunia ini, namun berapa persenkah dari mereka yang benar-benar jadi alumni Ramadhan? Berapa banyakkah dari kaum muslimin ini, yang seharusnya menjadi khalifah di muka bumi, yang berhasil menerapkan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan mereka?
Sahabat,
Bencana-bencana yang datang silih berganti pasca Ramadhan kali ini mungkin merupakan teguran bagi kita semua, yang mungkin belum pantas disebut alumni Ramadhan. Yang menyia-nyiakan kesempatan training selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan yang baru saja berlalu.
Sahabat,
Mungkin semua bencana ini adalah teguran bagi kita semua, teguran bagi kita yang performa ibadahnya (baik ibadah ritual atau non-ritual) bukan menunjukkan orang yang pantas masuk bulan Syawal yang bermakna peningkatan, yang ternyata malah menunjukkan kinerja "saya awal" alias sama bahkan lebih buruk daripada sebelum mengikuti pelatihan.
Mari kita ingat kembali firman-firman Allah SWT:
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”
(QS Ar-Rahman [55]: 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61,
“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya),”
(QS An-Nahl [16]: 53).63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77).
Sekali lagi, jangan sampai nikmat fitrah pasca pelatihan Ramadhan ini kita dustai, ingkari dan sia-siakan karena belum tentu kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan.
Sahabat,
tidak perlu menunggu bencana untuk bertaubat, tidak perlu menunggu Ramadhan tahun depan untuk meningkatkan prestasi ibadah kita. Mulailah dari yang kita mampu, mulailah dari diri kita sendiri dan mulailah dari sekarang.
Selalu ada hikmah di balik musibah, selalu ada amanah di balik setiap nikmat dan anugerah.
Semoga bermanfaat
Turut berduka cita atas bencana yang menimpa saudara2 kita di baik di Padang, Tasikmalaya dan di tempat-tempat lainnya. Semoga mereka yang meninggal dunia diterima amal ibadah serta diampuni dosa-dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat. Serta bagi yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan oleh Allah SWT
related links
Let's go to Padang dan jurnal yang ini
Langganan:
Postingan (Atom)