Tampilkan postingan dengan label bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bencana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Agustus 2012

Berita :: Laut Aral di Kazahstan Berubah Jadi Gurun Pasir | berita99


http://www.berita99.com/berita/1064/laut-aral-di-kazahstan-berubah-jadi-gurun-pasir
KAZAKHSTAN - Laut Aral, yang terletak diantara Uzbekistan dan Kazakhstan, dahulu adalah danau terbesar keempat di dunia - suatu penampungan air tawar yang sangat besar yang mencakup area permukaan seluas 68 ribu kilometer persegi.

selanjutnya sila ke link

Rabu, 08 Agustus 2012

[Peduli] Kebakaran di Karet Tengsin

Selasa siang, tanggal 7 Agustus,  saya mendapat informasi dari mbak Yanti Apong, salah satu anggota komunitas School of Life. Dia bilang ada kebakaran besar di daerah Karet Tengsin dan salah satu teman kami, mbak Yosi Martini, yang juga anggota komunitas itu rumahnya habis terbakar. Saya pun mengajukan diri untuk ikut datang ke sana dan disetujui oleh mbak Yanti. Patokannya, Pom Bensin Pejompongan. Untunglah saat itu ada yang bisa mengantar saya ke pom bensin tersebut dari rumah. Selanjutnya saya naik angkot ke rumah susun dekat lokasi kebakaran. Setelah beberapa kali menelepon mbak Yosi, saya pun sampai ke dekat poskamling RT 02 yang sudah habis terbakar. Mbak Yosi, yang saat itu sedang bersama keluarganya yang mengungsi di kuburan Karet Bivak, menjemput saya dan membawa saya menemui keluarganya. Sebelum menuju pemakaman tempat mengungsi tersebut, saya sempat mengunjungi rumah mbak Yosi dan keluarganya yagn sudah habis terbakar.


Kebakaran besar itu dimulai dari sebuah rumah di RT 01. Saat itu sebagian besar warga sedang shalat tarawih sehingga kebakaran terlambat diantisipasi serta semakin meluas. Kebakaran yagn sangat besar itu menghanguskan 4 RT yaitu RT 01 sampai 04. Padatnya lokasi serta sempitnya jalan membuat petugas pemadam kebakaran kesulitan untuk memadamkan api. Ditambah lagi saat itu kali yang melintasi pemukiman tersebut sedang surut airnya hingga sulit untuk dipakai memadamkan api. Kencangnya angin malam itu membuat api semakin membesar dan menyebar. Bahkan, pasar yang berada di dekat lokasi pun terkena dampaknya. Banyak kios-kios pedagang yang hangus terbakar. Kebakaran itu sendiri terjadi sekitar jam 19:30 dan baru bisa diantisipasi jam 23:00. Bisa dibayangkan betapa lamanya kebakaran besar itu terjadi dan betapa banyaknya kerugian moril dan materil yagn diderita masyarakat di sana. Di sana sini banyak orang yang berusaha mencari apa saja yang masih bisa diselamatkan. Namun hal itu tetap tidak dapat menutupi fakta bahwa mereka sudah mengalami kerugian yang luar biasa.


Penderitaan warga yang sudah tertimpa musibah itu masih ditambah lagi dengan adanya tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Terkadang mereka menggunakan modus berpura-pura menjadi orang yang akan membantu mengangkat barang. Namun, sesudah barang seperti televisi atau radio diangkat oleh mereka, mereka pun melarikan diri beserta barang-barang tersebut. Bisa dibayangkan betapa mudahnya kejahatan seperti itu terjadi saat kepanikan melanda warga. Bencana memang seringkali membuka peluang yang lebar untuk terjadinya beragam kejahatan. Belum lagi kondisi pengungsian yang buruk sehingga membuat para pengungsi, terutama anak-anak, rentan terkena berbagai macam penyakit.


Padatnya pemukiman seperti yang terbakar di daeah Karet Tengsin itu adalah contoh dari apa yang disebut sebagai kerentanan sosial. Pemukiman yang padat seperti itu sangat tidak kondusif dan bukan merupakan tempat yang nyaman bagi para penghuninya untuk bisa tinggal, bekerja,  beristirahat ataupun beribadah dengan nyaman. Udara yang pengap dan lembab juga sangat tidak baik untuk kesehatan para penduduknya, terutama bagi anak-anak. Belum lagi apabila ada bencana besar yang diakibatkan keteledoran kecil seperti ponsel yang meledak atau korsleting listrik, terutama listrik colongan.


Sudah saatnya bagi kita semua untuk bekerjasama mengatasi, minimal mengurangi, kerentanan sosial yang menghantui kita selama ini. Bahkan, sekarang ini pun sebenarnya sudah sangat terlambat bagi kita untuk bertindak dan bekerja sama karena bencana akibat kerentanan sosial itu sudah terjadi di mana mana. Sudah banyak korban jiwa yang jatuh dan sudah tak terhitung lagi kerugian moril dan materil yang diderita masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. JIka bukan kita, siapa lagi, jika bukan sekarang, kapan lagi.

Semoga bermanfaat, foto-foto Insya Allah menyusul

Temans, jika kita sedih, marah dan kecewa kehilangan rumah virtual kita di Multiply, tidak ada salahnya kita melihat yang lebih malang dari kita, yaitu mereka yang kehilangan rumah sebenarnya di dunia nyata dan terpaksa mengungsi ke pemakaman dengan tenda seadanya. Bantuan dpt melalui BSMI Jakarta Dr.Gatut 08119915402,atau posko stempat Suhendra 083876454847..

Kamis, 12 April 2012

Rabu, 24 Agustus 2011

[Peduli] Suara sumbang tentang Somalia


Di tengah-tengah maraknya seruan kepedulian untuk membantu Somalia dan tingginya ghirah kaum muslimin untuk berbagi, sebuah akun twitter dengan nama hatikvah1 malah bersuara sebaliknya.  Dia malah mengatakan bahwa kalau kita membantu Somalia berarti kita membantu perampok. 



Pak Ahyudin pun mengingatkan si user hatikvah1 untuk berhati-hati karena dia sudah menyakiti dan melukai perasaan umat Islam. Namun, dasar ngeyel, si haktivah1 ini tetap ngotot dan mengeluarkan tulisan-tulisan yang pedas dan menyakitkan.  "Kalau ngga kuat kritik tutup aja account twitternya, disini bukan masjid yg monolog :)" begitu katanya.  Untuk yang satu ini, mungkin kita perlu banyak-banyak istighfar dan ingat firman Allah SWT “telah tampak kebencian dari mulut-mulut mereka dan apa yang disembunyikan dalam dada mereka sangatlah besar”. (Ali Imran:118)

Umat Islam memang sudah menerima penghinaan dari musuh-musuhnya.  Sejak zaman Rasulullah dan para sahabatnya berdakwah di Makkah dan Madinah hingga sekarang.  Media massa banyak yang  begitu mudah menyalahkan gerilyawan Al Shabab yang dianggap menghalangi bantuan kemanusiaan.  Somalia pun dengan mudah diidentikkan dengan para perompak dan bajak laut sehingga tidak perlu dibantu walau warganya kelaparan. Semua itu menyebabkan kita melupakan akar masalah yang sesungguhnya dari bencana kelaparan yang terjadi di Somalia dan Afrika pada umumnya.  

Di Somalia memang ada para perompak yang menjarah kapal-kapal laut yang datang.  Namun, mereka bukanlah representasi penduduk muslim Somalia.  Gaya hidup mereka yang penuh kemaksiatan, hura-hura serta penyalahgunaan narkotika bukanlah gaya hidup yang sesuai ajaran Islam.  Kondisi masyarakat yang sudah hancur itu pun juga membuat orang termotivasi bergabung dengan para perompak.  Jadi dapat kita simpulkan bahwa fenomena perompak ini hanyalah puncak gunung es permasalahan sosial yang ada di sana.   

Sebuah artikel menarik berjudul Famine in Somalia, It's not a natural disaster : It's murder dimuat di situs Worker Solidarity membuka mata kita akan apa yang sesungguhnya terjadi.  Artikel itu membahasa peran negara-negar Barat dan lembaga-lembaga keuangan international dalam bencana kelaparan di Somalia.  Perbudakan dan kolonialisme sudah menjangkiti Afrika berabad-abad lamanya. Hal ini tidak pernah dikenali dan dianggap penting oleh negara-negara Barat.  Padahal keserakahan mereka adalah akar dari persoalan yang ada di Afrika, terutama di Somalia saat ini.   

Pertanian tradisional Afrika zaman dahulu terdiri dari beragam tanaman, termasuk tanaman yang tahan kekeringan.  Jadi, walaupun bencana kekeringan melanda, orang Afrika tidak sampai mati kelaparan, apalagi dalam jumlah besar.  Hutan pun masih sangat luas sehingga pola turunnya hujan cenderung stabil dan tidak terlalu menyulitkan para petani.   

Pada tahun 1970, Bank- bank di Barat menganjurkan dan memaksa banyak negara-negara Afrika untuk meminjam sebanyak mungkin pada mereka.  Uang pinjaman itu, yang seharusnya digunakan untuk proyek jalan dan irigasi, ternyata banyak diselewengkan para diktator dan dihamburkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti senjata.  Orang-orang Afrika menanam "cash crop" atau tanaman - tanaman yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan Industri, seperti teh, kapas, kopi, coklat dan sebagainya.  Sebagian besar hasil dari tanaman "cash crop" itu digunakan untuk membayar hutang-hutang yang tak pernah terbayarkan.  Hutang itu memang sesungguhnya bukan untuk menyejahterakan negara jajahan, tapi sekedar alat untuk melanggengkan penjajahan.  

Negera-negara Afrika pun terpaksa mengemis pada IMF.  Namun, IMF malah menerapkan solusi draconian yang bersifat imprealistik dan mempersulit kehidupan rakyat miskin.  Subsidi kesehatan dan kesejahteraan pun dipotong tanpa ampun hingga kemiskinan merebak merajalela.  IMF bukan memberi solusi namun malah menambah beban penderitaan rakyat.  

Pertanyaannya kemudian, mengapa banyak negara begitu mudah berpaling pada solusi IMF yang sudah jelas tidak pernah berhasil itu? Z.A. Maulani, dalam buku Zionisme, Gerakan Menaklukkan Dunia, menjelaskan tentang penjualan aset-aset negara oleh para pejabat keuangan.  Dalam buku tersebut, ZA Maulani mengutip perkataan Joseph Stiglitz sebagai berikut:

“Kita bisa melihat bagaimana mata para pejabat keuangan di negara penerima bantuan itu terbelalak, tatkala mengetahui prospek ‘pemberian’ 10% komisi beberapa milyar dolar yang akan dibayarkan langsung ke rekening pribadi yang bersangkutan di suatu bank Swiss, yang diambilkan dari harga penjualan aset nasional mereka tadi”.  Hal. 199

10 persen dari uang trilyunan memang bukan jumlah yang kecil.  Tidak mengherankan apabila Joseph Stiglitz menyebut program Privatisasi itu sebagai Program Penyuapan.

Ironis memang, ternyata akar permasalahan kelaparan di Afrika adalah keserakahan negara-negara Barat yang selama ini dikenal pro zionisme. Sebuah ideologi dajjalist dan kabbalist yang dipuja pula oleh si haktiva1 itu.  Yang dengan mudah menuding orang lain sebagai perompak sementara dia sendiri pro pada negara zalim yang tangannya berlumuran darah orang-orang tak berdosa.  



Setelah mengetahui akar permasalahan kelaparan di Somalia, tidakkah hati kita bergetar untuk membantu mereka.  Ingatlah, mungkin diantara kita ada yang setiap hari mengkonsumsi hasil dari "cash crop" yang ditanam oleh orang-orang Afrika termasuk Somalia.  Maka, sudah sewajarnya, sebagai sesama muslim dan sesama manusia, kita mengeluarkan sebagian harta kita untuk membantu mereka di sana.  Sudah ada lembaga-lembaga terpercaya yang bisa mengantarkan amanah donasi kita kepada yang membutuhkan di sana.  

BCA 6760302021

BSM 1010001114

Mandiri 1280004593338

BRI 092401000018304

a/n Aksi Cepat Tanggap

Kamis, 19 Mei 2011

[Peduli] Garut Selatan




Salam Kepedulian,

Sahabat Peduli -ACTioner yang diberkahi, semoga anda senantiasa dalam kemudahan dan kesehatan, sebagaimana doa yang senantiasa dipanjatkan penerima manfaat kepedulian yang telah anda bantu via Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Bencana silih berganti menerpa Negeri. Kali ini bencana menyapa Garut bagian Selatan dan sekitar. Mari Peduli, karena Kepedulian anda adalah Solusi untuk Mereka. Kepedulian anda adalah senyum mereka, dan cerah mata mereka menatap masa depan.

Mari berdonasi, dan rasakan nikmatnya berdonasi. Bagi anda yang telah mendaftar via SMS Center dengan cara : Daftar#Nama yg telah dikirim via 085330006000, anda akan mendapatkan nomor rekening Virtual Account yang membedakan satu donatur dengan donatur lainnya untuk mempermudah dalam mendata donasi anda. Mari Bergabung bersama Aksi Cepat Tanggap.


Beni Bunniyun
Head of Public Channel
AKSI CEPAT TANGGAP

Perkantoran Ciputat Indah Permai, Blok B-8
Jl. Ir. H. Juanda No.50, Tangerang Selatan
Ciputat 15419 - Indonesia
Telp : +62 21- 741 4482 ext 201
Fax : +62 21- 742 0664
Mobille : +62 813 1062 6431
PIN : 27F2A673

Rescue Club

http://clubrescue.blogspot.com/
Rescue Club, merupakan kumpulan para rescuer di Indonesia tanpa sekat lembaga dan organisasi. Bertujuan untuk menjalin komunikasi dan berbagi pengalaman antar rescuer di mana saja di seluruh Indonesia. Tentu saja, dengan saling berbagi pengalaman akan semakin banyak ilmu, wawasan dan keterampilan yang bisa dimiliki oleh para rescuer.

Tidak ada yang merasa paling hebat, paling senior di perkumpulan ini. Karena kami para rescuer juga tidak mengenal ego pribadi dalam keseharian maupun dalam aktifitas penyelamatan di lapangan. Yang dibutuhkan adalah kerja tim, kekompakan dan saling mendukung serta melengkapi kekurangan masing-masing. Oleh karena itu, kewajiban kami para rescuer adalah senantiasa menambah wawasan dan keterampilan terkait aktifitas yang sehari-hari dilakukan, yakni tindakan penyelamatan.

Ruang ini dibuat untuk saling berbagi, siapapun yang pernah memahami atau mengalami suatu pengalaman dan tindakan penyelamatan diharapkan untuk bisa berbagi kepada para rescuer yang lain. Semakin banyak ilmu yang kita bagi, akan semakin banyak para rescuer terlahir di bumi Indonesia yang memang sangat membutuhkan banyak tenaga rescuer berkeahlian.

Sudah lazim diketahui bersama, bahwa Indonesia merupakan negeri dengan beragam bencana yang terus mengancam, baik bencana alam berupa gempa, tsunami, banjir, banjir bandang, angin topan, gunung meletus, juga bencana yang setiap hari bisa terjadi, seperti kebakaran. Masih ada juga kejadian-kejadian yang masuk dalam kategori gawat darurat 24 jam, kejadian yang bisa terjadi kapan saja tanpa bisa dihindari. Misalnya, anggota keluarga terkena setrum (aliran listrik), luka bakar (panas), dan masih banyak lagi.

Fokus aktifitas Rescue Club, selain berbagi pengalaman adalah melakukan berbagai edukasi dan training emergency kepada publik, korporat dan berbagai instansi yang membutuhkan. Rescue Club juga harus siap hadir di lokasi bencana pada saat terjadi bencana. Namun terpenting dari itu semua adalah, sebanyak-banyaknya melakukan program-program edukasi kebencanaan dalam rangka pengurangan dampak resiko bencana (mitigasi).

Mari bergabung, mari berbagi, mari beraksi!

Selasa, 08 Maret 2011

www.klikunic.com: (Video) Misteri Gempa Yogya 5 Tahun Silam Terungkap Lewat Foto

http://www.klikunic.com/2011/03/video-misteri-gempa-yogya-5-tahun-silam.html
Inikah penyebab gempa Jogja 5 tahun yang silam?

jika iya, betapa kejamnya membuat bencana dengan sengaja hanya demi kepentingan2 sesaat

Hanya Allah SWT yang tahu pasti, semoga kita terhindar dari fitnah akhir jaman yang makin keji

Minggu, 14 November 2010

[Renungan] Bencana dan Pengorbanan

Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) memiliki akar kata yang sama dengan kata ‘Qurban’ atau Kurban. Ya! kurban yang kita kenal dengan cara menyembelih hewan seperti domba, kambing, kerbau, sapi, atau unta.  Kata Taqarrub dan Qurban berasal dari akar kata qaf-ra-ba, yang berarti dekat. Seperti dalam berkurban yang disyariatkan dalam ajaran Islam, bahkan jauh sebelum itu, seperti dalam kisah dua anak nabiyullah Adam As bahwa qurban adalah pola terbaik yang Allah Swt ajarkan kepada manusia untuk dapat mendekatkan diri kepada-Nya.

Sejarah membuktikan bahwa orang-orang besar yang tercatat di dalamnya adalah mereka yang suka dan rela berkorban.  Mereka mengutamakan orang lain dan siap berkorban demi tujuan besar yang mereka percayai.  Para nabi, pemimpin besar dan para pahlwanan adalah orang -orang yang rela berkorban, bahkan dengan penuh semangat.  

Pengorbanan terbesar sepanjang sejarah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS.  Beliau rela mengorbankan anak tercinta yang lama sudah dinanti kehadirannya.  Nabi Ismail pun rela disembelih demi melaksankan perintah Allah SWT.  Namun, saat itulah Allah SWT menunjukkan Kasih SayangNya sehingga Ismail pun diganti sembeliha kambing yang besar.  Pengorbanan itu terus dikenang sepanjang masa dalma bentuk ritual pengorbanan Hewan saat Idul Adha.  

Selain pengorbanan maha besar tersebut, masih banyak contoh pengorbanan lain yang tercatat dalam sejarah.  Nabi Yusuf AS rela mengorbankan kebebasannya dan masuk penjara daripada menuruti kehendak istri dari pejabat yang membesarkannya.  Nabi Musa rela meninggalkan kehidupan mewah di Istana Firaun karena peduli pada kaumnya, Bani Israil. Nabi Muhammad SAW juga mengorbankan kehidupan yang relatif nyaman di kalangan kafir Quraisy penyembah berhala demi mendakwahkan Islam.  “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya Aku bertawakkal dan dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (At- Taubah [9]: 128-129)

Pengorbanan besar dan berat namun pemuh kemuliaan bukan monopoli para Nabi. Kaum Muhajirin dan Anshor adalah contoh lain pengorbanan yang luar biasa dalam sejarah.  Oragn-orang Madinah yang menjadi penolong kaum Muhajirin disebut kaum Anshor.  Para penduduk kota itu rela membagi harta kesayangan mereka dengan saudara-saudara barunya.  Demikian pula dengan para pahlawan bangsa yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.  Mereka rela mengorbankan jiwa raganya demi lenyapnya penjajahan dari bumi nusantara tercinta ini.  

Bencana yang melanda negeri ini memang sempat tertutup pemberitaan-pemberitaan yang lain.  Mulai dari kedatangan Presiden negara adidaya nan jumawa, yang suka makan bakso, sate dan nasi goreng hingga mafia pajak seribu wajah. Namun, keadaan para pengungsi sebenarnya tidak bisa ditutupi isu apapun juga. Kehidupan mereka yang hancur berantakan dilanda bencana tidak mungkin dipulihkan hanya dalam waktu semalam.  Perlu waktu lama dan biaya yang besar untuk megembalikan kehidupan masyarakat agar pulih sperti sedia kala, bahkan kalau bisa lebih baik lagi.  Bantuan yang mereka butuhkan masih besar sehingga ladang amalnya pun besar.  Semangat berjuang dan berkorban tidak boleh kendur demi kemaslahantan sesama.  

Idul Adha adalah bagian dari ritual agama Islam yang harus dilaksanakan sesuai tuntunan syariat.  Namun, semangat berkorban harus terus ada sepanjang hayat masih dikandung badan.  Apalagi dengan adanya beragam bencana yang datang silih berganti.  Adalah bencana yang lebih besar lagi apabila semangat berkorban itu menjadi redup. Kepedulian pun hilang bagai lilin padam ditiup angin.  

Pengorbanan adalah harga yang harus kita bayar untuk mensyukuri nikmat Allah SWT yang bahkan tak dapat kita hitung.  Mulai dari udara yang kita hirup, makanan yang kita makan dan masih banyak lagi.  Sungguh, pengorbanan kita sangat tidak sebandiing dengna semua nikmat anugerahNya.  Bahkan bukan tidak mungkin di luar sana ada banyak orang yang tingkat pengorbanannya jauh lebih tinggi dari pengorbanan kita.  Arvan Pradiyansyah, dalam sebuah talkshow di radio swasta, pernah mengatakan bahwa tidak ada makan siang yang gratis di udnia ini.  Namun, kita diberi pilihan untuk menikmati dahulu atau membayar dahulu.  Membayar dulu disebut investasi dan menikmati dahulu bakal kena pembayaran di belakang yang disebut biaya.  Dan biaya selalu lebih besar daripada investasi.  Sehingga bisa kita simpulkan bahwa pilihan kita hanya dua: berkorban atau menjadi korban.  Dan menjadi korban jauh lebih berat daripada berkorban sejak awal dengan niat ikhlas hanya mengharap ridho Allah SWT. Orang yang enggan berkorban sesungguhnya sedang melakukan pengorbanan yang sia-sia.  Bahkan,  yang dikorbankan adalah dirinya sendiri.   

Semoga bermanfaat

Kamis, 11 November 2010

Hikmah di balik bencana dan aksi kerelawanan

Bencana demi bencana datang silih berganti melanda negeri ini.  Disamping menghasilkan penderitaan dan duka cita mendalam, juga membuka ladang amal yang luar biasa besarnya bagi segenap rakyat negeri ini.  Bencana menyadarkan kita bahwa di luar sana masih banyak mereka yang menderita.  Walau mungkin ada yang merupakan peringatan atau bahkan Adzab dariNya, namun hal itu tidak boleh menyurutkan kita dari membantu mereka.  Bencana juga mendidik kita untuk tidak terlalu mudah marah terhadap hal-hal kecil yang menjengkelkan dalam hidup, baik dalam keluarga, di kantor atau tempat kerja, perjalanan dan sebagainya.  Terkadang, masalah-masalah sepele seperti channel TV, ballpoint atau bahkan sendal jepit sudah cukup membuat kita marah-marah tidak karuan.  Di mana rasa syukur kita terhadap apa yang masih ada pada diri kita, paling tidak kita masih hidup dan masih sehat.  Masih bisa berbuat banyak bagi sesama, terutama yang  terkena bencana.  Bang Gaw, seorang relawan senior, pernah bilang "kita memang sudah berbuat baik, tetapi masih banyak hal baik yang belum kita perbuat".

 

Aksi Kerelawanan
 

Di sisi lain, bencana memberi kesempatan pada manusia untuk menabung pahala dan energi kebaikan sebanyak mungkin.  Penanganan bencana bukanlah proses sekali jadi namun perlu banyak tahapan seperti emergency, recovery dan sebagainya.  Banyak diantara para relawan adalah orang-orang yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Mereka tentu tidak bisa bersedekah sebanyak orang-orang kantoran atau pengusaha kaya berpenghasilan besar.  Mereka pun tidak punya ilmu agama yang cukup untuk berdakwah di mimbar-mimbar.  Ibadah harian mereka pun mungkin sangat terbatas, sekedar bisa menggugurkan ritual-ritual yang wajib saja sudah bagus.  Mereka mungkin hanya punya kekuatan fisik untuk mengevakusi korban ataupun membantu mengangkat barang-barang di posko atau pengungsian.  Bisa jadi, kesempatan mereka untuk mengumpulkan sebanyak mungkin kebaikan ada di dalam lokasi-lokasi bencana.  Setiap kali manusia berbuat kebaikan, maka kebaikan itu akan terseimpan dalam bentuk energi positif. Apabila perbuatan yang dilakukan sebaliknya, maka dia pun akan tersimpan dalam bentuk energi negatif.  Kedua macam energi itu bisa mencair dan kembali pada pemiliknya.  Energi positif dalam bentuk 4TA (harta, tahta, kata dan cinta) dan energi negatif dalam bentuk bencana dan kemalangan.

 

Terkadang ada yang membanding-bandingkan antara mereka yang terjun langsung ke lokasi bencana dengan yang hanya menyumbang dana, bahan pangan atau barang-barang.  Mereka beranggapan bahwa yang terjun ke lokasi bencana amal sholehnya lebih besar daripada yang sekedar menyumbang donasi.  Sesungguhnya, kita tidaklah mampu mengukur pahala orang lain.  Yang terbaik adalah mengetahui apa yang kita dapat lakukan dan melakukannya, walau dalam pandangan manusia tidaklah besar.  Bantuan sekecil apapun sangat berarti dalam kondisi seperti sekarang ini.  Namun penghargaan atas sekecil apapun kebaikan bukan alasan untuk hanya menyumbang lebih sedikit daripada yang kita mampu.

 

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl:97)

 

Sesungguhnya, apapun yang kita lakukan dan sumbangkan kepada para korban bencana alam tersebut adalah tindakan kerelawanan.  Kerelawanan seharusnya menjadi bagian penting dari gaya hidup kita.  Dari depan komputer kita yang tersambung ke jaringan internet saja sudah tak terhitung banyaknya aksi kerelawanan yang bisa kita lakukan.  Sekedar memberi tahu teman-teman kita mana komunitas, lembaga dan yayasan terpercaya yang bisa menyalurkan bantuan kita pun merupakan aksi kerelawanan.  Di kota-kota besar, banyak sekali orang yang sudah tergerak hatinya untuk peduli pada sesama, namun belum tahu kemana harus menyalurkan bantuan.  Mari kita bantu mereka dan sesungguhnya perbandingan yang paling akurat hanya ada pada pada Allah SWT yang Maha Mengetahui .   "A laisallahu bi ahkamil haakimiin" Bukankah Allah seadil-adilnya hakim? (Qs. At Thiin 8)

 

"Relawan yang baik adalah yang tahu persis apa yang akan dan bisa dikerjakannya. Ketika berada di lokasi bencana ia tidak bingung dan tidak banyak bertanya apa yang mesti dikerjakan, ia bisa melihat kemampuannya sendiri dan menempatkan dirinya secara tepat sesuai kemampuannya itu. Dalam hal ini termasuk para dermawan yang secara ikhlas dan sadar diri tidak terjun langsung ke lokasi bencana lantaran khawatir justru merepotkan tim yang tengah bekerja." Kutipan dari tulisan Bayu Gawtama itu menyadarkan kita bahwa tidaklah terlalu penting di posisi mana kita berada. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana tanggung jawab dan peranan kita dalam posisi tersebut.  Biarpun kita berada jauh dari lokasi bencana namun apabila kita terus bekerja dan menyumbangkan segala yang kita mampu dan punya, maka sesungguhnya kita pun bagian dari para relawan itu.  Semoga Allah SWT yang Maha mengetahui lagi Maha Menilai diri kita membalas dengan balasan yang terbaik dunia dan akhirat. Amiin

 

--------------------------------

 

Kehidupan sering berlaku

dengan cara yang sulit kita mengerti

maksudnya.

 

Tetapi, jika hati kita ikhlas,...

kita akan melihatnya sebagai

CARA TUHAN MENUNTUN KITA

MENUJU JALAN YANG LURUS,

jalan yang diberkati nikmatnya kedamaian

dan kesejahteraan,

dan nikmatnya kewenangan

memimpin kehidupan yang bernilai.

 

Karena ini semua

adalah atas kehendak Tuhan,

marilah kita berlaku lebih patuh.


Mario Teguh

untuk teman-teman yang ingin belajar menjadi seorang Relawan, silahkan menuju album yang satu ini

[Renungan] Bencana dan Interaksi Energi

Nikola Tesla noted: "A single ray of light from a distant star falling upon the eye of a tyrant in bygone times may have altered the course of his life, may have changed the destiny of nations, may have transformed the surface of the globe, so intricate, so inconceivably complex are the processes in Nature."

Nicola Tesla



Beragam pendapat tentang bencana mewarnai hari-hari kita belakangan ini.  Mulai dari pendapat yang mengatasnamakan agama dengan mengutip dalil-dalil kitab suci sampai yang materialistik murni.  Ada pihak yang mengatatakan bahwa Tuhan menghukum manusia karena dosa-dosa mereka dengan adanya baencana-bencana ini.  Ada pula yang berpendapat bahwa semua ini hanyalah kebetulan semata. Tidak ada hubungan sama sekali dengan dosa dan kesalahan manusia.  Sebagaimana banyak orang, terutama yang tak bertuhan, yang berpendapat bahwa alam semesta ini terjadi secara kebetulan.  Jarang sekali ada orang yang menyadari adanya interaksi energi di dalam kehidupan.  Manusia pada umumnya menganggap dirinya sebagai entitats yang terpisah dari alam dan manusia lainnya.  Erich Fromm menyebut fenomena tersebut sebagi keterasingan atau "alienation".  Secara materi, manusia memang terpisah dari lingkungannya, namun sebagai entitas energi dia tidak terpisahkan sama sekali.  Manusia adalah bagian dari energi yang saling berinteraksi dalam bentuk vibrasi atau getaran. SEbagaimana energi alam mempengaruhi manusia, manusia pun mampu mempengaruhi energi alam melalui semua perbuatan tangannya.

 

Manusia telah mengubah wajah dunia sedemikian rupa selama ratusan bahkan ribuan tahun. Bangunan - bangunan megah dan besar didirikan di berbagai tempat di muka bumi ini.  Sebagian bangunan itu hanya diperuntukkan bagi kesenangan dan kebanggaan semata.  Mulai dari istana megah tempat tinggal para penguasa zalim, piramida raksasa yang hanya digunakan untuk menguburkan jasad sang Firaun sampai dengan Mall-mall megah di kota besar.  Semua itu adalah perangkap energi yang menyebabkan vibrasi energi menjadi terhambat.  Bumi yang semakin tua semakin dibebani beban yang makin berat.

 

Sementara itu, banyak gunung-gunung yang diledakkan dan diambil batu-batunya untuk dibuat jalan dan bangunan. Saat saya dan beberapa teman relawan berkunjung ke suatu daerah miskin yg terletak tidak jauh dari jakarta, seorang relawan lokal bercerita tentang keadaan gunung-gunung di sana.  Kata relawan lokal tersebut kira-kira lima tahun lagi gunung - gunung itu akan habis karena terus menerus diambil bebatuannya. Padahal, gunung-gunung adalah pasak-pasak yang menopang permukaan bumi hingga bisa stabil dan nyaman untuk ditinggali makhluk hidup.  Wajah bumi pun semakin lama sekamakin berubah, jauh dari saat dia pertama kali diciptakan.  Dan perubahan pada wajah bumi itu tentu mempengaruhi keseimbangan energinya hingga makin rentan terhadap bencana alam.  Mungkin, sekali lagi mungkin, rumah tempat tinggal kita berdiri di atas batu-batu gunung tadi.  Batu-batu yang seharusnya tetap menjadi penopang bagi keseimbangan materi dan energi bumi tercinta ini.

 
Setiap kali manusia berbuat kebaikan, maka kebaikan itu akan terseimpan dalam bentuk energi positif. Apabila perbuatan yang dilakukan sebaliknya, maka dia pun akan tersimpan dalam bentuk energi negatif.  Kedua macam energi itu bisa mencair dan kembali pada pemiliknya.  Energi positif dalam bentuk 4TA (harta, tahta, kata dan cinta) dan energi negatif dalam bentuk bencana dan kemalangan. Kita tidak tahu pasti apa sajakah yang pernah terjadi di wilayah bencana tersebut.  Bisa jadi banyak orang yang menabung energi negatif karena menzalimi sesama dan alam semesta.   Sehingga, atas izin Allah SWT, terjadilah pencairan banyak energi negatif sekaligus dalam bentuk bencana.  Kita tentu telah mengetahui bahwa kezaliman telah terjadi hampir di seluruh tempat di muka bumi ini. Ditambah lagi dengan ketidakpedulian orang pada sesama manusia.  Mereka yang berbuat maksiat, zalim dan jahat dibiarkan saja, yang penting tidak mengganggu saya.

Sesungguhnya, dalam setiap kemaksiatan akan selalu ada pihak yang terzalimi.  Ada orang tua yang prihatin pada anak-anaknya kecanduan narkotika atau minuman keras yang dijual bebas.  Ada guru atau pendidik yang kesulitan mendidik dan mengajar anak didiknya karena mereka enggan belajar.   Ada istri yang suaminya  berselingkuh atau lebih suka jajan di tempat-tempat pelacuran dan sebagainya.  Semua itu membuat pencairan energi negatif bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.  Mulai dari kecelakaan kecil yang hanya menyebabkan sedikit korban terluka hingga bencana masif yang melenan ratusan atau bahkan ribuan korban jiwa.  Sehingga, pesan Ebiet dalam lagunya sangat penting untuk kita simak dan ambil hikmahnya ".. yang terbaik hanyalah, segeralah bersujud mumpung kita masih diberi waktu .... "

Allah SWT tidak ingin kita mengeluh dan merintih namun Dia ingin agar kita memaksimalkan apapun yang dianugerahkan kepada kita agar kita bangkit dan berprestasi. Semua yang menjadi kehendakNya adalah pendidikan bagi kita semua. Sebagimana kata Rabb menurunkan kata-kata Tarbiyah atau pendidikan, Murabbi atau pendidik dan Mutarabbi atau peserta didik.  Akal memang tidak selalu bisa mencari penyebab dari semua ini, karena akal yang menuntut untuk dipuaskan adalah akal yang diperbudak ego dan hawa nafsu. Akal yang sehat adalah akal yang selalu mencari hikmah di balik setiap peristiwa dan memanfaatkan peristiwa2 itu demi kebaikan sesama dan pengembangan diri yang optimal.  Akal yang diterangi cahaya nurani yang jernih bersumber dari hati yang selalu berbaik sangka atau khusnudzon kepadaNya.

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al Baqarah:32)

Semoga bermanfaat

Kamis, 28 Oktober 2010

[Lomba Menulis Teman Maya] Belajar kerelawanan bersama Bang Gaw

Saya pertama kali mengenal Bayu Gawtama yang lebih akrab dipanggil bang Gaw dari MP beliau dan langsung suka dengan tulisan-tulisan yang diposting.  Kesempatan kopdar pertama, yaitu pada acara Lebaran bareng anak yatim, terlewatkan karena saya sakit cukup parah pada waktu menjelang Idul Fitri tahun 2008 lalu. Saya baru bisa bertemu dengan bang Gaw di masjid Al Azhar pada waktu persiapan Qurban bersama Relawan Pelangi tahun 2008 di desa Jagabita.  Desa tersebut terkenal sebagai Kampung Pesakitan karena banyak sekali orang-orang yang terserang berbagai macam penyakit seperti TBC, liver, kaki gajah dan sebagainya.  Anak-anak penderita gizi buruk di kampung-kampung di daerah itu mencapai ratusan orang. Para anggota relawan pelang sendiri sekarang mendirikan Yayasan Sahabat Peduli Generasi Mandiri. Kegiatan pertama Yayasan tersebut adalah Life Skill Camp 1 di Desa Wisata, Taman Mini. Saya sendiri berkesampatan mempraktekkan ilmu Spiritual Emotional Freedom Technique pada para peserta pelatihan tersebut, terutama yang sedang jatuh sakit. Kisahnya bisa dibaca di tulisan yang ini.  Selain itu, saya juga sempat kopdaran dengan Bang Gaw di luar Jakarta, yaitu saat gempa besar melanda kota Padang beberapa waktu yang lalu.  Saat itu kami sama-sama bertugas menjadi relawan, namun beda pekerjaan. Saya sendiri ditugasi sebagai relawan bagian recovery, yaitu tim Trauma healing dengan beberapa teman alumni pelatihan SEFT.

Bang Gaw juga pernah mengatakan bahwa "Kita tidak akan pernah kehilangan kesempatan untuk berbuat baik kepada orang lain. Dengan cara apapun yang kita bisa, sekecil apapun, selalu niatkan untuk terus meringankan beban orang-orang di sekitar kita. Sebab, kita tidak akan pernah tahu kapan kita memerlukan bantuan orang lain. Dan disaat kita benar-benar memerlukan, akan ada ‘malaikat-malaikat’ yang datang menawarkan bantuan." Hal itu terbukti saat seseorang menanyakan pada bang Gaw mengapa belum menulis lagi, padahal saya penggemar tulisan-tulisan anda. Bang Gaw bilang saat itu laptop-nya rusak karena dipermainkan anaknya.  Orang itu mengajak bang Gaw ke sebuah toko komputer dan tiba-tiba memintanya memilih sebuah laptop yang dia inginkan.  Benar-benar merupakan suatu keberuntungan yang tidak merupakan kebetulan. Bisa jadi hal itu merupakan pencairan energi positif yang sudah dikumpulkan Bang Gaw selama ini.  Selain itu, keberuntungan itu juga didukung oleh background Bang Gaw yang pernah menjadi wartawan sehingga tulisan-tulisannya dibaca dan diminati banyak orang.  

Ketrampilan Bang Gaw dalam menulis telah membuatnya mampu menghasilkan beberapa buah buku dengan judul kontemplatif, seperti Tangan Allah di seutas tali, Lelaki 11 Amanah, Berhenti Sejenak dan beberapa yang buku lain.  Buku Tangan Allah di seutas tali terinspirasi pada pengalaman Bang Gaw sendiri.  Saat itu Bang Gaw dan  beberapa relawan emergency dari ACT sedang bertugas di suatu daerah yang dilanda banjir.  Saat membawa pengungsi, perahu mereka hanyut dan hampir terbawa ke sebuah sungai yang besar dan deras sehingga kemungkinan selamat sangat kecil. Saat itulah mereka berpegangan pada tali jemuran yang tipis namun entah kenapa tali itu cukup kuat untuk menahan berat perahu karet tersbut.  Padahal arus banjir sangat kuat seakan hendak menyeret perahu itu ke sungai.  Pada keesokan harinya, tali itu putus saat digunakan beberapa anak sekolah untuk menyebrang.  Sungguh, kekuasaan Allah SWT jauh melebihi dan melampaui akal dan logika manusia.  

Menurut bapak Jamil Azzaini, seorang trainer senior dari Kubik Leadership, apabila seseorang berbuat baik, kebaikan itu akan tersimpan dalam bentuk energi positif.  Suatu saat energi positif itu akan cair dalam bentuk harta (uang/kekayaan) tahta (kedudukan), kata (ilmu pengetahuan) dan cinta (kasih sayang dari sesama). Sebaliknya, jika kita berbuat keburukan, hal itu akan tersimpan dlm bentuk energi negatif.  Suatu saat energi tersebut akan cair dalam bentuk musibah, bencana dan hal-hal buruk lainnya.

Bang Gaw juga merupakan salah satu penggagas program Universitas Kerelawanan, suatu program edukasi relawan yang diadakan oleh Aksi Cepat Tanggap.  Program ini bertujuan mengedukasi para relawan agar memiliki motivasi, spirit dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas-tugas kerelawanan di lapangan. Baik di dalam lokasi bencana ataupun di luar. Sesungguhnya, kerelawanan adalah bagian yang penting dari gaya hidup seseorang yang ingin meraih kesuksesan dan keberkahan baik di dunia dan akhirat. 

Menurut Bang Gaw, keterpanggilan adalah sarat utama menjadi relawan.  Seseorang bisa saja memiliki segudang keterampilan dan kemampuan yang lebih dari cukup dan bahkan diatas rata-rata kebanyakan orang lain.  Tetapi apabila tidak merasa tersentuh oleh keadaan sekitar, tidak merasa terpanggil oleh peristiwa kemanusiaan meskipun berlangsung di depan matanya maka takkan pernah terukir jejak kerelawanan di dirinya.  Namun, apabila keterampilan dan kemampuan yang dimilikinya minim atau bahkan tidak ada, yang terjadi adalah dia malah merepotkan para relawan yang lain. Alih-alih membantu, dia malah yang harus dibantu, bahkan mungkin sampai terpaksa harus dipulangkan.  Kekuatan emosi yang timbul dari keterpanggilan tadi harus disalurkan dengan mempelajari ketrampilan dan melatih kemampuan yang dibutuhkan oleh seorang relawan.  Tulisan lengkapnya bisa dibaca di situs ini.  Brosur Universitas Kerelawanan dapat dilihat di album yang ini.

Bang Gaw pun pernah menasihati saya saat curhat soal patah hati karena ditolak sesama anggota sebuah komunitas yang saya ikuti.  Kata Bang Gaw dengan gaya betawinya "Har, ente kalau mau pergi ke luar negeri lihat kemampuan. Mungkin ente mau ke Prancis tapi gak bisa bahasa Prancis dan gak punya cukup duit. Mungkin ente mau ke Spanyol, walaupun bisa bahasa Spanyol, tapi gak punya cukup ongkos.  Kenapa gak coba ke Malaysia, ente kan bisa bahasanya dan ongkosnya terjangkau." Suatu nasihat yang bijak dan alhamdulilah bisa saya terima dengan baik sehingga beban di hati pun terlepaskan dengan lega. Sebagai sesama penggemar Ebiet G. Ade, saya dan Bang Gaw pun akhirnya nyanyi bareng "cinta yang kuberi, sepenuh hatiku, entah yang kuterima aku tak peduli ... dst.  Belakangan, saya  baru tahu makna dalam yang terkandung dalam lagu tersebut.  Tulisan tentang makna lagu itu ada di sini.   

Berkat bang Gaw pula, saya pun semakin yakin bahwa pilihan saya untuk mengambil jalur pengabdian di bidang sosial dan kerelawan tidaklah salah, Insya Allah. Melalui pengabdian pada sesama, cinta itu pun akan mewujud dengan sendirinya.  Energi cinta yang terpancar dari luka batin patah hati mewujud dalam pekerjaan sosial kemanusiaan dalam dunia kerelawanan.  Erich Fromm, seorang filsuf, sosiolog dan ahli psikoanalisa dari Jerman pernah  mengatakan "Jika aku berkata aku mencintaimu, maka sesungguhnya aku mencintaimu dalam diri semua manusia, dalam diri semua yang hidup dan dalam diriku sendiri".  Bahwa sesungguhnya kekasihmu berada dalam diri setiap manusia dan engkau akan selalu bisa berbuat baik dan memberi kepada kekasihmu melalui diri setiap orang.  Kekasihmu mungkin tidak mengetahui kebaikan-kebaikanmu dengan sesama manusia, mungkin dia tidak akan pernah tahu.  Namun, pancaran energi kebaikan itu cepat atau lambat akan mencapainya, mengetuk lembut pintu hatinya dan bukan tidak mungkin keajaiban demi keajaiban akan terjadi.  Keajaiban yang tidak dapat dijelaskan dengan logika atau kata-kata.  Begitu banyak orang-orang yang menderita di negeri ini sehingga kita tidak akan pernah kekurangan kesempatan berbuat kebaikan. Sehingga, bukanlah penderitaan mereka yang perlu kita tangisi namun ketidakmampuan atau keengganan kita melakukan yang terbaik untuk merekalah yang seharusnya kita sesali.  Sebagaimana sering diucapkan bang Gaw, "kita memang sudah berbuat baik, tetapi masih banyak hal baik yang belum kita perbuat".

Semoga bermanfaat

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Menulis Tentang  Persahabaan di  Dunia Maya  yang diadakan oleh Mbak Dewayanie

Jangan ragu ikut lomba menulis di internet, menang atau kalah sama- sama anugerah

Posting sambil menyenandungkan lagu Ebiet G. Ade - Apakah ada bedanya

    Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
    dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
    Kucoba tuang ke dalam kanvas
    dengan garis dan warna-warni yang aku rindui

    Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
    Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
    Cintamu telah membakar jiwaku
    Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku

    Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
    Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
    Di menara langit halilintar bersabung
    Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
    Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
    Entah yang kuterima aku tak peduli,
    aku tak peduli, aku tak peduli

    Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
    dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
    Tinggal bagaimana kita menghayati
    di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
    dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka  

INDONESIA MENCARI RELAWAN




INDONESIA. Hingga menjelang penghujung tahun 2010 ini, Indonesia kehilangan kurang lebih 191 ribu nyawa akibat bencana alam yang terjadi dalam kurun waktu 30 tahun terakhir (1980-2010) berdasarkan kalkulasi Indeks Resiko Bencana Alam Maplecroft, Inggris. Jumlah ini belum menggambarkan korban bencana sosial yang justru disinyalir lebih besar bahkan bisa mencapai lebih dari dua ratus atau tiga ratus kali lipatnya. Sebagaimana bencana alam, bencana sosial pun di Indonesia tak kalah banyak variannya. Ada kemiskinan, pengangguran, kelaparan, kesehatan, kebodohan, konflik sosial, kerusakan lingkungan dan masih banyak lagi.

Kondisi ini jelas membuat kita, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia merasa prihatin sekaligus tergugah untuk melakukan apa yang kita mampu. Yang jelas kita mencintai Indonesia. Meskipun terlalu banyak hal yang mesti dibenahi, bahkan hamper di semua aspek kehidupannya. Rasanya justru inilah saat terbaik bagi kita untuk berbuat untuk Indonesia.

MENCARI. Ya, Indonesia mencari orang-orang yang peduli karena panggilan jiwanya untuk memberikan solusi kemanusiaan dan berkontribusi positif bagi kemajuan pembangunan dan kemandirian Indonesia. Tidak sekedar mencari, bahkan memanggil, sambil terus menunggu kehadiran sekaligus mengharap dedikasi jiwa-jiwa peduli Indonesia yang dengan semangat pengorbanannya membantu memperbaiki Indonesia. Dengan kerja-kerja nyata mereka memulihkan sekaligus memuliakan korban bencana. Dengan semangat kepedulian mendedikasikan karya tanpa harus diliput media.

RELAWAN. Sosok inilah yang dicari. Relawan ibarat mata air yang jernih di musim kemarau. Kehadirannya menjanjikan kesejukan dan optimisme bagi Indonesia. Merekalah pejuang sejati, yang sangat dibutuhkan saat ini, merekalah pahlawan Indonesia masa kini. Relawan Indonesia yang berjuang tanpa pamrih membangun Indonesia dalam semua bidang kehidupannya.

Akan tetapi, relawan yang dimaksud Indonesia adalah relawan professional yang membangun berdasarkan ilmu dan skill, sekaligus pengalaman professional. Bukan sekedar bekerja saja, akan tetapi yang mampu mengorganisir pekerjaannya. Akhirnya, edukasi relawan menjadi kebutuhan Indonesia saat ini.

Universitas Kerelawanan (UK) sebagai sebuah sentra edukasi terpadu (integrated learning) tentang kerelawanan di Indonesia. Dengan sistem pembelajaran efektif melalui sharing, studi kasus dan praktek kerja relawan di dunia kemanusiaan. Sebuah program edukasi kerelawanan untuk meningkatkan pengetahuan relawan, memelihara motivasi dan semangat kerelawanan sekaligus tempat berbagi dan sharing ilmu, wawasan, pengetahuan dan pengalaman praktis tentang dunia kerelawanan di ranah kemanusiaan dalam lingkup nasional, regional dan bahkan lingkup global. Dibuka UK Angkatan II.



Kampus Universitas Kerelawanan,

Graha ACT – Aksi Cepat Tanggap,

Komplek Perkantoran Ciputat Indah Permai Blok B 8-9,

Jl. Ir. H. Juanda No. 50, Ciputat, Banten – Indonesia

Hotline 0217414482 Fax 0217420664

Info lebih lanjut: Sukorini, 081363882140

atau email: universitaskerelawanan@yahoo.com

http://actforhumanity.or.id/

Rabu, 24 Februari 2010

[Puisi] Dan Gunung pun menangis



“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-Araf [7]: 96)


dan gunung pun menangis

seiring pohon pohon yang menjerit
saat ditebang habis
untuk proyek-proyek mafia kapitalis
yang gila harta dan doyan duit

dan gunung pun menangis

saat tak lagi bisa memeluk hujan
saat datang membawa kehidupan
hingga air yang penuh keberkahan
hanya bisa mengalir percuma ke dataran

dan gunung pun menangis

saat tak lagi bisa menahan tanahnya
yang telah digunduli pepohonannya
sehingga terjun bebas ke bawah sana
penduduk desa yang malang pun jadi korbannya

dan gunung pun menangis

saat para penduduk menjerit
karena datang tanah longsor yang menghimpit
hanya karena banyak manusia tidak lagi memegang amanah
mengolah alam dengan serakah

dan gunung pun menangis

ketika manusia tak lagi bertakwa
bahkan cenderung pada perbuatan-perbuatan durjana
padahal jika mereka beriman dan bertakwa
maka akan timbul berkah yang tiada taranya

dan gunung pun menangis

saat bencana tak bisa dihindari
hingga banyak manusia yang pergi
untuk tidak akan pernah kembali
ke dunia fana ini lagi

Aku hanya bisa terpana
mendengar tangisan gunung yang perkasa
tiada mampu berbuat apa-apa
karena aku juga korban peradaban durjana
yang tidak kenal bahasa kecuali harta benda

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. AR-Ruum [30]: 41).

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

Puisi sederhana yang didedikasikan untuk saudara2 yang tertimpa tanah longsor di Ciwidey dan sekitarnya,

semoga bermanfaat dan bisa menggugah kesadaran kita semua bahwa alam ini adalah amanah

Jumat, 23 Oktober 2009

[Pengalaman] Saat bertugas sebagai anggota tim Trauma Healing di Padang

Assalamualaikum, berikut sedikit cerita dari pengalaman selama bertugas di Padang

Maaf kalau postingnya telat, maklum baru mulai habis capenya

pada awalnya sih gara2 baca-baca Notes FB-mas Gaw yang menceritakan bahwa di dalam tubuh manusia, Allah SWT sudah menganugerahkan kemampuan menyembuhkan diri dengan memanfaatkan energi tubuh.  Apabila bagian dari sistem energi tubuh yang terganggu itu sudah normal kembali, maka sakit yang diderita akan berangsur-angsur pulih.  di notes tersebut disebutkan teknik SQT atau Spiritual Quantum Touch, wah saya udah lama pingin tahu dan pingin belajar teknik seperti itu.  Kapan ya bisa????

Tiba-tiba, di status FB  mbak Tari dari Logos ada informasi untuk para SEFTer yang mau membantu tim trauma healing di Padang.  Langsung saya reply untuk daftar. Alhamdulillah diterima sehingga saya, mbak Tari dan beberapa SEFTer lain, yaitu

Mas Fabri, Mas Kusnadi, Mas Widyo dan Mas Asep bisa berangkat ke Padang.

A proof of Law of Attraction???? Maybe, who knows ;)

Kami sampai di padang pada hari kamis sore, pada awal waktu Ashar.  Kami langsung menuju hotel cendrawasih di jalan Pemuda dekat Mall Andalas.  

Kami baru memulai kegiatan pada esok harinya, yaitu hari Jum'at dengan mengadakan pelatihan gratis di Masjid Nurul Iman dan mengadakan terapi gratis bagi para jamaah di sana.  di sana kami berkenalan dengan Pak Amrizal, seorang SEFTer dari Padang yang menjadi guide kami waktu itu.  Kami juga sempat melihat-lihat macam-macam bangunan yang sudah rusak, termasuk hotel Ambacang yang runtuh dan amblas beberapa tingkat ke bawah tanah.  

Pada hari sabtu, kami ke daerah Sicincin dan sekitarnya, melakukan terapi bagi masayarakat dan mengajari mereka agar mereka tidak tergantung pada para terapis.  

pada hari-hari berikutnya, yaitu mulai dari Hari Ahad sampai Selasa, tim kami dibagi dua, Saya dan mas Fabri ikut rombongan tim trauma healing ACT sementara yang lain tetap bersama BAZNas.  Kami juga mendapat bantuan relawan lokal yang dilatih

Alhamdulillah, di ACT saya bisa ketemu mbak Ririn, Mas Gaw dan Mas Andika alias Andips.  

Walaupun namanya Tim Trauma Healing, pada umumnya kasus yang kami tangani berkisar pada penyakit-penyakit fisik, seperti sakit pada kaki, lutut atau kepala.  Masyarakat kita pada umumnya hanya mengenali gejala-gejala fisik, dan kurang memperhatikan masalah2 emosi.  

Alhamdulillah, masyarakat cukup antusias, karena selain melakukan terapi, kami juga mengajari mereka cara-cara melakukan tapping pada diri sendiri.   

Diantar hal-hal menakjubkan yang saya dan tim alami adalah seorang bapak yang tadinya sulit berjalan karena kakinya sakit, setelah diterapi satu putaran bisa lompat-lompat lagi; seorang ibu yang kakiknya tadinya sakit, setelah ditapping satu putaran dan di-test dengan diminta memutar2 kaki sambil di-tapping titik Karate Chop-nya, akhirnya bisa menggerakkan kakinya kembali dan lain-lain.  Teman saya bahkan ada yang bisa membantu orang yang sudah hampir buta sehingga bisa melihat kembali walaupun masih belum jelas benar.  

kesulitan yang dialami tim, termasuk yang saya rasakan, adalah masalah komunikasi.  Kami banyak bertemu orang-orang tua dan mereka yang sepertinya kurang berpendidikan.  Namun, terkadang mereka saat diterapi juga cukup kooeperatif, seperti seorang bapak yang pernah menderita penyakit Chikungunya. Bapak itu menderita nyeri-nyeri di beberapa bagian persendiannya, sehingga menghambat tugasnya sebagai tukang bangunan.  Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah dan tingkat kooperasi yang baik dari bapak tersebut, nyeri-nyeri di jari2 tangan dan lututnya berangsur membaik setelah diterapi oleh saya.  

Pada saat bertugas di Kecamatan Dua Kali Sebelas Enam Lingkung, kami sampai kewalahan dan kelelahan melayani antrian masyarakat yang minta diterapi.  Jika saja Allah SWT tidak berbaik hati pada kami dengan mengirimkan hujan yang cukup deras, wah mungkin bisa pingsan tim trauma healing di sana.  Tim trauma healing memang perlu banyak relawan agar bisa melayani masyarakat dengan baik dan cepat.  
 
SElain menterapi orang lain, saya sendiri juga merasakan terapi dari sesama relawan Tim Trauma Healing.  Saat beristirahat di posko unit Kanagarian Sicincin, yang merupakan sebuah masjid yang kondisinya masih lumayan baik walaupun agak retak-retak, saya merasakan sakit pada leher, sakit itu menjalar ke sebelah kepala.  Teman saya, Mas Ima Lesmana, menempelkan kedua tangannya di leher saya dan mengalirkan energi dengan teknik Spiritual Quantum Touch.  Alhamdulillah, sakit di leher dan kepala berangsur pulih dan tidak kambuh lagi sampai pulang ke Jakarta. 

Saat-saat paling mengharukan justru datang pada hari terakhir saya bertugas bersama tim ACT.  di belakang puskesmas yang jadi posko tim ACT, ada sepasang suami istri yang sudah sangat tua.  sang suami terserang stroke karena terlalu lelah mengurusi istrinya yang sakit-sakitan.  Mas Fabri menterapi sang istri sementara saya dan mas Ima menterapi sang suami.  Saya bersama mas Ima sempat mencoba mengaplikasikan Spiritual Quantum Touch, yang sudah mendapat sentuhan Islami, kepada sang kakek.  Alhamdulillah, hasilnya cukup menggembirakan, apalagi si kakek ternyata sudah tahu doa yang kami baca.  Suatu doa yang dianjurkan oleh Rasul SAW untuk dibaca saat kita sakit, sambil menyentuh bagian tubuh yang sakit.  Saat itulah, karena adanya pertukaran dan interaksi energi yang intens, kami semua tidak bisa menahan derasnya air mata dan keharuan yang datang.  

Richard Gordon, pendiri Quantum Touch, menegaskan bahwa sesungguhnya semua penyembuhan adalah penyembuhan yang terjadi pada diri sendiri.  Tidak ada seorangpun yang mampu menyembuhkan orang lain.  Definisi seorang penyembuh, menurut Richard Gordon, adalah seseorang yang sakit lalu bisa menyembuhkan dirinya sendiri.  Sedangkan definisi seorang penyembuh yang hebat adalah seseorang yang sakit berat lalu bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan cepat a healer is someone who was sick and got well; a great healer is someone who was very sick and got well quickly.  Orang lain hanya bisa membantu menyelaraskan dan meningkatkan vibrasi energi tubuh, bukan menyembuhkan.

Seringkali, keinginan kita untuk segera sembuh malah menghambat proses penyembuhan yang terjadi pada tubuh itu sendiri.  Tubuh kita seakan-akan tidak dipercaya bahwa dia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri, sehingga dia pun "ngambek" dan tidak kunjung sembuh. 

Karena sebagian besar menusia tingkat energinya relatif rendah maka tubuh perlu waktu lama untuk memulihkan diri.  Untuk mempercepat kesembuhan, banyak orang memerlukan tambahan energi untuk memancing vibrasi energinya agar meningkat hingga menghasilkan efek kesembuhan.  Tambahan energi ini bisa diperoleh dengan diterapi oleh orang-orang yang tingkat vibrasi energinya lebih tinggi. 

Hadiah yang paling membahagiakan bagi seorang healing facilitator, baik yang menggunakan Energy Psychology Tapping atau Quantum Touch adalah kebahagiaan yang terpancar orang yang dia bantu untuk sembuh.  Sungguh sebuah pengalaman yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata seindah apapun. 

Semoga semakin banyak orang yang bersedia belajar terapi berbasis energi psikologi ini agar makin banyak orang yang terbantu mengatasi penyakit dan masalah-masalah emosionalnya sehingga tidak selalu tergantung pada bantuan dari luar, seperti obat-obatan dan sebagainya. 

Semoga bermanfaat

Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49

http://naharseft49.multiply.com/
http://kopiradix.multiply.com/
http://perenungancinta.blogspot.com/



 

Kamis, 01 Oktober 2009

[Renungan] Adakah semua bencana ini kesalahan kita?

dalam satu bulan, dua kali gempa besar : Tasikmalaya (2 September) dan Padang (30 September). Lindungi kami Yaa Allah..

Sahabat,
mari kita membayangkan seorang atasan yang begitu peduli pada kemajuan anak buahnya.  Beliau mengikutsertakan para anak buahnya untuk mengikuti suatu pelatihan yang mahal dan dalam jangka waktu satu bulan, bayangkan pelatihan selama satu bulan.

Sang atasan tidak segan-segan mengeluarkan uang dari kantong pribadinya agar semua anak buahnya bisa ikut pelatihan tersbut.

Nah, mari kita bayangkan apabila ada diantara mereka yang tidak mengikuti pelatihan dengan serius.  Hanya sekedar menganggap acara pelatihan itu tidak ada bedanya dengan piknik atau jalan-jalan, sekedar berlibur lepas dari rutinitas pekerjaan kantor.  Selesai pelatihan, tidak ada peningkatan kinerja pada sejumlah oknum tersebut.  Sungguh, dapat dibayangkan kekecewaan sang atasan atas sikap dan karakter para oknum yang ada diantara anak buanya tersebut.  Bukan tidak mungkin para anak buah yang menyia-nyiakan kesempatan pelatihan itu akan menerima hukuman yang berat dari sang atasan atau institusi tempat mereka bekerja.

Sahabat,

Bulan Ramadhan adalah bulan pelatihan bagi semua kaum muslimin di dunia ini, namun berapa persenkah dari mereka yang benar-benar jadi alumni Ramadhan? Berapa banyakkah dari kaum muslimin ini, yang seharusnya menjadi khalifah di muka bumi, yang berhasil menerapkan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan mereka?

Sahabat,
Bencana-bencana yang datang silih berganti pasca Ramadhan kali ini mungkin merupakan teguran bagi kita semua, yang mungkin belum pantas disebut alumni Ramadhan.  Yang menyia-nyiakan kesempatan training selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan yang baru saja berlalu.  

Sahabat,
Mungkin semua bencana ini adalah teguran bagi kita semua, teguran bagi kita yang performa ibadahnya (baik ibadah ritual atau non-ritual) bukan menunjukkan orang yang pantas masuk bulan Syawal yang bermakna peningkatan, yang ternyata malah menunjukkan kinerja "saya awal" alias sama bahkan lebih buruk daripada sebelum mengikuti pelatihan.

Mari kita ingat kembali firman-firman Allah SWT:

“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”

(QS Ar-Rahman [55]: 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61,

“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya),”

(QS An-Nahl [16]: 53).63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77).
 
Sekali lagi, jangan sampai nikmat fitrah pasca pelatihan Ramadhan ini kita dustai, ingkari dan sia-siakan karena belum tentu kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan. 

Sahabat,
tidak perlu menunggu bencana untuk bertaubat, tidak perlu menunggu Ramadhan tahun depan untuk meningkatkan prestasi ibadah kita.  Mulailah dari yang kita mampu, mulailah dari diri kita sendiri dan mulailah dari sekarang. 

Selalu ada hikmah di balik musibah, selalu ada amanah di balik setiap nikmat dan anugerah.

Semoga bermanfaat

Turut berduka cita atas bencana yang menimpa saudara2 kita di baik di Padang, Tasikmalaya dan di tempat-tempat lainnya.  Semoga mereka yang meninggal dunia diterima amal ibadah serta diampuni dosa-dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat.  Serta bagi yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan oleh Allah SWT

related links

Let's go to Padang dan jurnal yang ini
 

Senin, 17 Agustus 2009

Dompet Dhuafa Atasi Trauma Bencana dengan Metode SEFT - Info Umat | Eramuslim

http://eramuslim.com/berita/info-umat/dompet-dhuafa-atasi-trauma-bencana-dengan-metode-seft.htm
sebelumnya mohon maaf kalau baru nge-link berita ini sekarang, walaupun udah lama tetapi semoga bermanfaat

Dalam acara ini, korban dan relawan diberikan terapi dengan metode Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) oleh LoGOS Institute, untuk menghilangkan trauma dan keluhan fisik lainnya. Menurut Ketua tim LoGOS Institute, Eko Nugroho, SEFT merupakan penggabungan antara spiritualitas (melalui doa, keikhlasan, dan kepasrahan) dan *energy psychology*. Teknik ini telah terbukti secara ilmiah dan bebas dari unsur supranatural atau klenik.

Senin, 30 Maret 2009

Situ Gintung




Ahad 29 Maret 2009, saya dan beberapa kawan datang ke Situ Gintung utk bantu2 di sana.

berikut beberapa foto yang berhasil diambil pakai kamera HP, krn sibuk gak bisa potret banyak2 deh. asal-asalan lagi

Yang kami bantu bersihkan kemarin adalah sebuah taman kanak-kanak, gak tahu nama TKnya apa