Tampilkan postingan dengan label parungpanjang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parungpanjang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2009

[Lomba Menulis Baksos MPID] Pagi-pagi sudah TOUR OF DUTY

Pagi itu, walaupun sudah hari H rangkaian acara baksos MPID, saya masih saja mengantuk, namun tiba tiba sekitar jam 7 pagi (lewat berapa lupa? pokoknya sekitar jam segitu deh) saya ditelepon mbak Ari, diminta ikut ke baksos yang ke Gintung Cilejet, Parung Panjang.  

"saya diperlukan atau enggak nih, kalau diperlukan boleh. Tapi bilang bunda Elly dulu ya?" kata saya.  Yang tadinya kepingin merem sebentar karena tidak tidur semalaman (mengerjakan terjemahan sekalian browsing2 gak jelas) akhirnya langsung berangkat, untung ada yang mengantar sampai ke Radio D FM.  Sekalian ajak keponakan jalan2

karena teringat lagi dengan kunjungan ke kampung Dago beberapa waktu yang lalu, bersama Mas Rudy dan Bunda Elly, sepanjang saya bersiap-siap sampai berangkat tidak lupa mendendangkan lagu favorit, soundtrack-nya Tour of Duty, apalagi kalau bukan Paint It Black-nya Rolling Stones.   

kayaknya lagu itu bakal terus2-an jadi soundtrack saya kalau mau ke Parung Panjang nih ..

Samapai di sana ternyata masih nunggu, pagi-pagi ketemu mbak Noem dan Mas Heri.  Setelah menunggu beberapa lama sambil ngobrol, datanglah mbak Ari dan mbak Yelli. setelah itu barulah berdatangan yang lain, seperti mbak Ndaru dan mbak Dian dan teman-teman yang lain (belum begitu hafal dan kenal, kalau ada yang ingat minta tolong ditambah di kotak reply ya)

Akhirnya, setelah semua lengkap, berangkatlah kami semua ke Parung Panjang lewat tol BSD.  Pas waktu keluar dari tol sempat nyasar, namun alhamdulillah semua kembali ke jalurnya yang benar.  Setelah keluar dari tol, kami melewati jalan yang biasa dilalui saat ke Desa Jagabita, namun kali ini kami melewati kompleks Parung Permai. 

Sebelum masuk kompleks Parung Permai, kami menjemput relawan yang biasa membantu kami di sana yaitu Ibu Uun di puskesmas Parung Panjang.

Kami melewati kompleks Parung Permai yang benar-benar permai.  Yang dimaksud permai di sini adalah banyak sekali rumah kosong, pokoknya mirip sekali dengan kota-kota hantu jaman kuda gigit besi, yaitu kota-kota yang ditinggal pemiliknya.  Pak Irwan, supir yang bawa mobil yang kami tumpangi, mengatakan bahwa rumah-rumah di kompleks tersebut banyak yang hanya dijadikan investasi oleh pemiliknya.  Jika suatu saat mereka perlu uang, rumah-rumah itu kan bisa dijual, mungkin begitu menurut realitas subjektif (baca: pikiran) mereka.  

Tetapi siapa juga yang mau tinggal di kompleks yang kaya kota mati seperti itu, jangan-jangan rumah tetangga yang disangka kosong ternyata jadi tempat ngumpet resividis, bromocorah (baca: penjahat) atau bahkan teroris.  Nah lo, berabe kan kalau sampai seperti itu

Setelah dari kota hantu eh, kompleks tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Gintung Cilejet.  perjalanan kami cukup berat mengingat medan yang harus kami tempuh mirip keadan di film-film perang Vietnam, persis film jaman saya SMP dulu, Tour of Duty.  Ceritanya perjalanan dari Kota Saigon alias Ho Chi Minh City ke markasnya tentara Viet Cong,

Rute yang harus kami lalui termasuk jalan tanah sempit yang berada di pinggir sebuah sungai yang cukup besar dengan airnya yang mengalir deras bercampur lumpur.  Selain itu, kami juga harus melewati sebuah jembatan kayu yang ada di atas sungai tersebut.  Saat dilewati mobil, terdengar jembatan kayu itu berderak-derak seakan-akan memprotes beratnya beban yang melintas di atasnya. 



Desa Gintung Cilejet sendiri adalah salah satu desa yang ada di Parung Panjang, semuanya ada 11 desa yaitu:

   1. Cibunar
   2. Cikuda
   3. Dago
   4. Gintung Cilejet
   5. Gorowong
   6. Jagabaya
   7. Jagabita
   8. Kabasiran
   9. Lumpang
  10. Parung Panjang
  11. Pingku

(nyontek dari Wikipedia Indonesia)

Sesudah sampai tujuan, mulailah kami bergerilya membagikan barang-barang sumbangan kepada mereka yang membutuhkan.  Beberapa tempat bahkan tidak dapat dicapai mobil sehingga kami ada yang harus mempergunakan sepeda motor atau berjalan kaki.  Bisa dibayangkan betapa terisolirnya penduduk desa Gintung Cilejet ini dari peradaban moderen.  Seakan-akan mereka adalah penduduk suatu pulau yang berada nun jauh di tengah samudra.

Kondisi geografis dan fasilitas sarana jalan yang sangat tidak memadai itu pulalah yang menyebabkan masyarakat di desa tersebut,  termasuk juga di desa-desa lain di Parung Panjang, enggan untuk datang ke puskesmas yang terletak di jalan raya.  Ongkos berobat di puskesmas mungkin murah namun perjalanan ke sana memakan ongkos yang jauh lebih mahal.  Sehingga saat terpaksa dibawa ke puskesmas, keadaan orang yang sakit sudah terlalu parah.

Apa yang kami lakukan di desa Gintung Cilejet itu memang masih sangat kurang memadai dibandingkan dengan keadaan mereka di sana.  Masih banyak sekali kebutuhan masyarakat desa tersebut yang belum terpenuhi, terutama kebutuhan yang bersifat non-materi, seperti semangat menghadapi kehidupan, optimisme dan ilmu pengetahuan.  Sangat disayangkan para penduduk tersebut, sebagaimana sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia, masih termasuk dalam apa yang oleh Erich Fromm sebagai "Receptive Society" alias masyarakat yang lebih banyak pasif menunggu bantuan datang pada mereka.   

Mereka adalah orang-orang yang mengasihani diri sendiri dan menganggap diri mereka sebagai korban.  Mereka cenderung menyalahkan segala hal di luar mereka sebagai penyebab kemiskinan hidup mereka.  Sulit sekali membangkitkan jiwa mereka untuk mempersiapkan diri meraih masa depan yang gemilang.  

Walapun demikian, jangan sampai kita hanya menjadi berkah bagi orang-orang yang kita kenal, orang-orang yang memang mencintai kita atau baik kepada kita.  Kita juga harus berusaha semaksimal mungkin menjadi berkah bagi sebanyak mungkin manusia.  Kita hidup hanya satu kali di atas muka bumi ini, maka jangan sia-siakan dengan tidak berbagi dengan yang lain.

Rekan-rekan sekalian,

Getaran-getaran jerit rintih mereka yang miskin dan menderita mungkin terlalu lemah untuk bisa didengar oleh banyak manusia yang terlena oleh kehidupan moderen, oleh yang senantiasa dibanjiri berbagai macam hiburan dan terlena manisnya teknologi.  

Namun, ....... getaran-getaran energi yang lemah itu cepat atau lambat akan mampu mengetuk dan menembus pintu-pintu lagi, dan hanya tinggal masalah waktu saja bagi Allah Al Latif, Allah SWT Yang Maha Lembut, .....................   

.....................  yang mampu menangkap getaran kepedihan betapapun halusnya

.....................  yang pada akhir memberi balasan yang seadil-adilnya bagi semua manusia

"A laisallahu bi ahkamil haakimiin"
"Bukankah Allah seadil-adilnya hakim?"
(Qs. At Thiin 8)

Semoga bermanfaat,

by Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49

Foto-foto kegiatan tersebut bisa dilihat di album yang satu ini

Posting sambil dengerin Ebiet G. Ade - Apakah ada bedanya

    Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
    dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
    Kucoba tuang ke dalam kanvas
    dengan garis dan warna-warni yang aku rindui

    Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
    Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
    Cintamu telah membakar jiwaku
    Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku

    Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
    Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
    Di menara langit halilintar bersabung
    Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
    Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
    Entah yang kuterima aku tak peduli,
    aku tak peduli, aku tak peduli

    Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
    dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
    Tinggal bagaimana kita menghayati
    di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
    dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka 

[Baksos MPID] Episode Desa Gintung Cilejet




Assalamualaikum,

sebelumnya mohon maaf kalau album ini upload-nya telat dan memotretnya asal-asalan, maklum bukan fotografer dan pakai kamera HP pula .. :)

Muhammad Nahar
SEFTer angkatan 49

Selasa, 09 Desember 2008

[RELAWAN PELANGI] Qurban di Jagabita

Akhirnya setelah berharap-harap cemas hari H yang dinanti para relawan Pelangi pun tiba.  sesuai kesepakatan yang akhirnya berhasil dicapai 

(stelah beberapa kali berubah-ubah rencana) para relawan spakat berangkat dari Masjid Agung Al Azhar ba'da subuh supaya bisa sholat Id' Adha di Desa jagabita. 

saya sendiri berangkat dari rumah janm 2:30 pagi, krn taxinya sudah sampai duluan, Alhamdulillah.  krn pagi buta, sampai di Al Azhar skitar jam 3 pagi. 

Setelah menunggu, mbak Ari dan mpers (Mbak Izoel, Mbak Yusi, Mbak Yanin dan Mbak Ani) yang lain datang, disusul teman2 dari Relawan Pelangi.

Mas Ready menyusul dari Bogor

krn berangkatnya agak molor, maka kami tidak bisa sholat Id di Jagabita.  Kami sholat Id di daerah BSD.

Walaupun sebelum ini pernah ke desa Jagabita dua kali, saya masih aja keder dengan jalan ke sana.  Teman relawan di sebelah sudah gelisah.  "Tahu kan jalannya" dia tanya beberapa kali.  saya hanya bisa diam dan belagak udah tahu

Untung teman-teman di belakang bisa memberitahu supir arah yang benar.   Sempat telepon-teleponan sama yang sudah sampai duluan.  Jadi deh rezeki para operator seluler

sampai jagabita sekitar jam 9 kurang. 

setelah seremonial oleh pak Lurah dan tokoh masyarakat, acara pemotongan Hewan Qurban pun dimulai. 

Saya sendiri sebenarnya pada awalnya lumayan grogi dengan tugas yang akan dihadapi.  Walaupun sudah memepersenjatai diri dari rumah dengan golok yang mirip kepunyaan para pendekar Betawi, mencincang hewan yang baru dikuliti dan dagingnya masih segar itu tentu bukan perkara mudah. Apalagi ada 3 ekor sapi dan 43 ekor kambing yang harus kami tangani. 

Belum lagi relawan yang lain ada yang hanya mempersenjatai diri dengan pisau dapur yang lebih tepat utk mengupas bawang.  Maklum, bukan profesi.

Lebih grogi lagi waktu tahu lokasi mutilasi atau pencincangan itu adalah madrasah yang akan diperbaiki.  Sudah dialas terpal sih, tapi kan tempatnya tertutup.  Sebab saya sendiri pernah masuk ke tempat jualan daging di pasar dan hampir pingsan dgn aroma di tempat itu.

Namun ternyata Alloh SWT berkehendak lain.  Angin kencang yang berhembus cukup membantu para relawan melaksanakan tugas berat tersebut.  Walaupun tempat itu tertutup, namun ventilasinya cukup memadai. 

Namun, yang namanya kompetensi tentu tidak bisa dibohongi.  Tenaga outsource dari penduduk setempat banyak sekali membantu para relawan menuntaskan tugas tersebut.  Kecepatan dan ketrampilan mereka sangat mengagumkan. 

Lanjutan kisah para tenaga outsource dapat dibaca di tulisan ini

Saya sendiir belum sempat membantu banyak di bagian mutilasi.  Saya harus ke ruangan sebelah utk membantu mbak Icha menghitung kepala2 dan kulit2 hewan yang baru dipotong. 

Alhamdulillah, berkat sistem kerja yang baik dan relawan2 yang amanah, kami terhindar dari larangan menjual kulit dan kepala hewan2 teresebut.

Tukang jagalnya juga sudah profesional, jadi aman deh

Setelah zuhur, kami berhasil menyelesaikan kegiatan mencincang dan mengepak potongan-potongan daging tersebut.  Pembagian daging dipercayakan kepada para pejabat RW dan RT setempat.  Hal ini adalah cara para relawan mendidik aparat2 desa utk peduli pada warga dan memegang amanah. 

Alhamdulillah, walaupun cukup heboh, namun tidak ada kerusuhan atau hal-hal yang tidak diinginkan.  

Acara diakhiri dengan pembubaran panitia, de-briefing sejenak dan foto-foto narsis

*teuteup

Yang ingin tahu lebih banyak tentang relawan pelangi, silahkan bergabung di milis ini

http://groups.yahoo.com/group/relawan_pelangi/

Kamis, 04 Desember 2008

Lokasi desa Jagabita, screenshot dari peta Jakarta 2006




Rekan-rekan sekalian, ini ada peta ke Jagabita.

screenshot dari peta jakarta

Yang di Wikmapia baru sampai pintu masuk desa cibunar, memang masih cukup jauh tetapi kalau sudah sampai di sana bisa tanya orang :D

Semoga bermanfaat bagi yang mau ke sana.

http://www.wikimapia.org/#lat=-6.3437752&lon=106.5630001&z=18&l=0&m=a&v=2

Wikimapia - Let's describe the whole world!

http://www.wikimapia.org/#lat=-6.3437752&lon=106.5630001&z=18&l=0&m=a&v=2
Rekan-rekan sekalian, ini ada peta ke Jagabita. mohon maaf lokasi persisnya belum ditandai krn belum yakin, tetapi dari Jalan masuk kampung ke Balai Desa Cibunar (di peta namanya itu)

memang masih cukup jauh tetapi kalau sudah sampai di sana bisa tanya orang :D

Semoga bermanfaat bagi yang mau ke sana.

Selasa, 02 Desember 2008

[TAGGED POSTING] 3 favorite Hadiths

In the Name of Allah, the Most Compassionate, the Most Merciful


I was also tagged by my sister, Maryam, in this post.  The task is to find 3 hadiths that I would like to see in the mosques around me and why.  I have also include the source link of the hadiths.  Here they are:

1

Translation of Sahih Bukhari, Volume 7, Book 71, Number 582:

Narrated Abu Huraira:

The Prophet said, "There is no disease that Allah has created, except that He also has created its treatment."

http://www.iiu.edu.my/deed/hadith/bukhari/071_sbt.html

2

Translation of Sahih Bukhari, Volume 7, Book 65, Number 286:

Narrated Abu Musa Al-Ash'ari:

The Prophet said, "Give food to the hungry, pay a visit to the sick and release (set free) the one in captivity (by paying his ransom)."

http://www.iiu.edu.my/deed/hadith/bukhari/065_sbt.html

3

On the authority of Abu Hurairah that the Prophet said:

p "Whosoever removes a worldly grief from a believer, Allah will remove from him one of the griefs of the Day of Judgment. Whosoever alleviates [the lot of] a needy person, Allah will alleviate [his lot] in this world and the next. Whosoever shields a Muslim, Allah will shield him in this world and the next. Allah will aid a servant [of His] so long as the servant aids his brother. Whosoever follows a path to seek knowledge therein, Allah will make easy for him a path to Paradise. No people gather together in one of the houses of Allah, reciting the Book of Allah and studying it among themselves, without tranquility descending upon them, mercy enveloping them, the angels surrounding them, and Allah making mention of them amongst those who are with Him. Whosoever is slowed down by his actions will not be hastened forward by his lineage."

p related by Muslim in these words.

http://www.iiu.edu.my/deed/hadith/other/hadithnawawi.html#hadith36


The reason of choosing those 3 hadits is because of a village near Jakarta, the capital of Republic of Indoesia, called Jagabita.  Jagabita is located in Parung Panjang district, in the border between Tangerang and Bogor (Jakarta's suburb areas).  I have visited the village twice, first time with friends for Multiply Indonesia (the community of Multiply users in Indonesia) and for the second time with some friends for Relawan Pelangi (the Rainbow Volunteers).

People in the village are living in an extreme poverty anda in very poor health condition.  There are many kind of diseases such as Elephanthis, cancer, tumor, respiratory problems, malnutrition, etc.  

The condition of sanitation is very bad, they almost have no clean running water, especially in dry season.  They have to take a bath in a river which has very dirty water together with buffalos.  

To reach Puskesmas or Pusat kesehatan masyarakat (People's health center) they have to rent motorcycles which is too expensive for them.  It seems the authorities never give enough attention the the people of Jagabita and it's surrounding villages in Parung Panjang district.  

Therefore, the village is know as Kampung Pesakitan or Village of the sick

Actually, there is no reason of those villages to be in very poor conditions.  They are located near highly developed Jakarta's satelite cities in Tangerang Area such as Bumi Serpong Damai or Bintaro Jaya

Jagabita village and it's surrounding villages are the ultimate proof of the failure of capitalism.  

Hopefully, the Rainbow Volunteers and other communities will be able to help and support the people of those villages to rise from their poverty.  


for photos please visit


Now, I am tagging anyone who read this post to make the same thing

Rabu, 19 November 2008

[SOSIAL] Ajakan berbagi dalam acara baksos dan Qurban di desa Jagabita

Kemarin sore, ba'da Maghrib, untuk pertama kalinya saya bertemu dgn teman-teman yang tergabung dalam Relawan Pelangi.  Acara yang diadakan adalah rapat persiapan baksos dan pemotongan hewan Qurban di Desa Jagabita, Parung Panjang.  

Baksosnya sendiri akan diselengarakan pas hari raya Idul Adha, tanggal 8 Desember 2008.  Tadinya memang teman-teman Multiply Indonesia akan mengadakan baksos tersebut tanggal 6, tetapi sepertinya tidak mungkin kan mengadakan 2 acara baksos dalam waktu yang sangat bersamaan?

dalam acara kali ini Insya Alloh akan ada banyak komunitas yang akan ikut ambil bagian seperti, Relawan Pelangi, Portal Warnaislam.com, Komunitas MPers (Multiplyers), Komunitas My Quran, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC), Remaja Masjid Attin, YISC Al Azhar, dll

enggak tanggung2 saya kebagian tugas jadi PJ Hewan Qurban, waktu saya bilang belum pengalaman, mas Gaw bilang "emangnya ngelamar kerja" he he he.  Salah satu tugas PJ tersebut adalah meng-kalkulasi jumlah biaya yang dibutuhkan untuk acara pemotongan hewan Qurban di desa tersebut. 

Bakalan kerja keras nih, he he he  

btw, ada yg punya pengalaman jadi panitia Qurban?

Mohon di-share ya di reply

Insya Alloh baksos di desa Jagabita kali ini bukan sekedar bagi-bagi sembako atau potong hewan Qurban saja, tetapi juga akan ada pelayanan kesehatan dan pelatihan singkat kewiarusahaan oleh Bang Jay dari Institut Kemandirian.  Baksos ini merupakan acara perdana dari pembinaan berkelanjutan yang akan diselenggarakan secara rutin di desa tersebut.  

Desa Jagabita dikenal sebagai "Kampung Pesakitan" karena bermacam-macam penyakit ada di sana.  Sebut saja misalnya kanker, kaki gajah, asma, penyakit pernafasan, dan sebagainya.  Air dan sanitasi sangat sulit diperoleh sehingga masyarakat terpaksa mandi bareng kerbau di kubangan.  Sarana kesehatan juga sulit sekali dijangkau, sebab lebih mahal ongkos daripada berobatnya itu sendiri.  Naik ojek ke Puskesmas bisa habis 10 ribu sendiri.

Saya sendiri pertama kali ke sana bersama beberapa teman dari komunitas Multiply Indonesia beberapa waktu yang lalu.  Foto-foto dari survey tersebut bisa dilihat di sini

ada yg punya pengalaman jadi panitia Qurban?

Rekan-rekan yang mau menyumbang dalam bentuk uang bisa ke rekening Mbak Kosi

- BCA KCP Cinere No. Rekening :267-106-5401 atas Mohd. Heriyadi Arifin
- Bank Muamalat Cab. Arthaloka No. 9000-251-877 an Kosirotun
- BNI Cab. Bekasi No. 001-558-7547 an Kosirotun
- Mandiri KCP Jkt. Wisma Indosemen : No. 122-000-441-8870 an Kosirotun

Untuk memudahkan pengecekan serta pencatatan, setelah transfer mohon keikhlasannya untuk mengirimkan konfirmasi ke Kosi via sms di 08128510372 atau email : ukhti.kosi@gmail.com atau YM : anak_ngw / ukhti_kosi dengan mengetik : JAGABITA, Nama Bank dan Jumlah Bantuan


Postingan lain tentang desa Jagabita bisa dibaca di sini:

Nyata Cintanya: ajakan baksos dan qurban ke Jagabita

Maryudi, Guru dengan bayaran 100 rupiah per minggu

Makan apa

Hasil Survey Baksos MPID di Jagabita



Minggu, 20 Juli 2008

Hari Tanpa TV - Berhasilkah???

UntitledAssalamualaikum,

bagaimana hari tanpa TV kemarin, sukses enggak, he he he

Saat saya lihat pro dan kontra dari ajakan tersebut di situs detiknews dot com, kayaknya koq lebih banyak yang kontra ya.  Tanya kenapa??????????????

Sebagaimana kita ketahui, ketergantungan masyarakat pada hiburan, terutama TV sudah sampai tahap yang mengkhawatirkan.  Hal ini sudah berlangsung lama sekali, mengingat pengalaman saya waktu SD dan SMP seringkali bolos sekolah dan pura-pura sakit agar bisa nonton film kartun yang berseri-seri.  Obrolan di sekolah pada waktu itu juga berkisar tentang film-film kartun di televisi, bukan masalah pelajaran, he he he.

Kekhawatiran orang tua dan guru tentu saja dapat dimengerti dan dipahami.  Mereka tidak ingin anak-anak dan murid-muridnya tidak berhasil dalam menempuh pendidikan sehingga tidak dapat membina masa depan dengan baik.  Acara televisi sering kali sambung menyambung sehingga tidak memberi kesempatan pada anak-anak untuk melakukan hal-hal lain.  Mungkin stasiun TV A saat melihat jadwal siaran Stasiun TV B berpikir, "kalau film kartun ini saya setel jam sekian, pasti bentrok sampa punya TV B dan bisa kalah rating.  Kalau gitu saya setel setengah jam sesudahnya aja deh."

Pemsukan stasiun TV memang dari Iklan, jadi bagaimanapun hancur lebur acaranya, apabila ratingnya tinggi ya akan tetap dipertahankan mati-matian.  Namun, saya pernah dengar bahwa pada rating itu  sendiri terjadi salah kaprah, yang di-rating kan acara TV-nya bukan iklannya.  Kalau orang-orang yang suka nonton TV ditanya, "Bapak-bapak, ibu-ibu, mas, mbak, adik dll kalau pas ada iklan, channel TV-nya diganti enggak" Kemungkinan 90 sekian persen akan menjawab "Digantiiiiiiiiiiiiii". Jadi, bisa dibilang persis dengan apa yang dikatakan Bapak Tung Desem Waringin, para pemasang iklan itu menyebarkan uang di kawah gunung berapi.  Alias buang-buang duit :(

Padahal, bukankah Alloh SWT sudah menjanjikan bahwa Dia akan menjamin rezeki setiap makhluk ciptaan-Nya? Coba kita baca Surat Hud Ayat 6. (Dan tidak ada suatu binatang melata dimuka bumi ini melainkan Allah yang memberi rizqinya).  Tuh, benar kan?
  
Selama manusia belum yakin bahwa Alloh SWT menjamin rezeki setiap hamba-hamba dan makhluk-makhluk ciptaanNya, maka hal-hal seperti itu akan terus terulang sampai kapanpun.  Namun, saya pernah mendengar salah satu editorial radio SMART FM.  Dalam editorial tersebut dikatakan bahwa:
  1. Masyarakat yang terus menerus disuguhi tontonan tidak bermutu akan hilang minat bacanya. 
  2. Masyarakat yang kehilangan minat baca akan bodoh jadinya. 
  3. Masyarakat yang bodoh akan miskin. 
  4. Masyarakat yang miskin akan lemah daya belinya dan tidak bisa beli apa-apa. 
  5. Masyarakat yang lemah daya belinya tentu tidak akan mampu membeli produk-produk yang dipromosikan melalui iklan-iklan di TV.  
  6. Apabila masyarakat tidak bisa membeli produk-produk tersebut, perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk-produk tersebut tentu akan mengalami kesulitan keuangan. 
  7. Apabila perusahaan-perusahaan itu mengalami kesulitan keuangan, bisa-bisa ada PHK massal dan yang paling dahulu kena adalah buruh dan para pekerja kasar.  Mereka pada umumnya kurang berpendidikan dan miskin, sehingga mudah jadi sasaran empuk PHK.
  8. Banyaknya PHK akan menimbulkan lebih banyak pengangguran.
  9. Lebih banyak penggangguran artinya akan lebih banyak tindak kejahatan merajalela di lingkungan kita.
  10. Pada akhirnya kualitas hidup masyarakat akan menurun secara keseluruhan, termasuk penyakit yang merajalela karena sulit bagi masyarakat miskin untuk memelihara kebersihand an menjaga kesehatan, contohnya di  Desa Jagabita, Parung Panjang Tanggerang, alias Kampung Pesakitan.  Foto-fotonya bisa dilihat di sini
  11. Bukan tidak mungkin semua hal yang disebutkan di atas akan memicu krisis yang lebih besar lagi, mungkin seperti Revolusi Prancis atau peristiwa-peristiwa lainnya yang serupa dengan itu.
     

Nauzubillah min dzalik, semoga Alloh SWT melindungi kita semua, Amiiiin


Nah, apakah kita masih meremehkan dampak negatif Televisi dalam kehidupan kita??

Semoga bermanfaat, maaf jika tidak berkenan.

 

Senin, 30 Juni 2008

Foto-foto hasil Survey ke Parung Panjang - Desa Jagabita (desa pesakitan)








Untitled



Casas de Carton - Los Guaraguaos




temans, ini sedikit foto dari saya..
maaf kalau belum menambahkan keterangan,
diwakilkan dengan tulisan Ari disini yah



Hasil Survey Baksos MPID Tim Jagabita



More photos, please visit



desa_Jagabita_desa_pesakitan_parung_panjang




dibawah ini info dari mas Bayu



Sedikit cerita tentang desa Jagabita



Pernah dengar Kampung Pesakitan? Pasti belum. Karena nama kampung ini memang tidak ada dalam wilayah manapun di negeri ini. Sebutan Kampung Pesakitan bukan nama sebenarnya, hanya sebuah nama yang dilabeli oleh relawan ACT yang Selasa lalu (8/4) lalu mendatangi beberapa kampung dan desa di Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.



Sebagai contoh adalah Desa Jagabita. Perekonomian yang carut marut membuat masyarakat sangat tak berdaya untuk sekadar bertahan hidup secara normal. Yang dimaksud normal disini yakni makan tiga kali sehari, pendidikan berjalan lancar, dan kesehatan terjaga. Jika tiga hal ini menjadi patokan standar kehidupan normal, maka nyaris seluruh warga di desa ini bisa dibilang berkehidupan tak normal.



Ella misalnya, gadis 18 tahun ini menderita sakit kaki gajah sejak usianya masih sekitar dua tahun. Ukuran kakinya saat ini sudah benar-benar seukuran kaki gajah dan tak pernah diobati sama sekali. Hanya sekali dibawa ke puskesmas untuk mendapat pemeriksaan, yakni pada saat Ella berusia dua tahun. Sejak saat itu Ella tidak lagi mendapat pengobatan, padahal kakinya terus membesar.



Usan (47 tahun), Ayah Ella, mengaku tidak punya uang untuk mengobati penyakit anaknya. Sehari-harinya Usan hanya bekerja sebagai buruh serabutan membuat anyaman topi pramuka dari bambu. Setiap hasil anyaman topi itu Usan hanya mendapat upah lima ratus rupiah, dan dalam sepekan ia hanya sanggup membuat tidak lebih dari 20 topi. Itu artinya, penghasilan Usan hanya berkisar sepuluh ribu rupiah. Dengan uang sekecil itulah ia menghidupi isteri dan ketujuh anaknya. “Buat makan saja nggak ada pak, apalagi buat ke dokter”, aku Usan kepada relawan ACT.



Ibu Uun, relawan ACT yang menemani tim ACT ke desa tersebut pun menjelaskan, bahkan untuk ongkos ojeg ke puskesmas pun mereka tidak punya. Kini Ella sudah tidak bersekolah, selain karena terlalu berat membawa-bawa kakinya yang membesar, ia juga malu karena sering diejek teman-temannya. Gadis yang bercita-cita masuk pesantren agar bisa menjadi guru ngaji itu sehari-harinya berdiam diri di kamar dan malu keluar rumah.



Selain Ella, ada juga Rohilah, siswi kelas 2 SD yang mulai terkena kaki gajah. Kaki kanan gadis kecil berusia sepuluh tahun ini memang belum terlihat besar karena baru beberapa bulan menderita kaki gajah. Tetapi dari waktu ke waktu kakinya akan terus membesar jika tidak diobati.



Tidak jauh dari rumah Ella, Mas’ud, 50 tahun, sudah tiga tahun tidak bisa berjalan karena ada benjolan di lututnya. Ia tidak pernah memeriksakan kakinya ke puskesmas karena tidak punya biaya. “Jauh pak, harus naik ojeg. Pulang pergi naik ojeg tidak cukup sepuluh ribu…,” keluhnya.



Gizi Buruk


Tim relawan ACT juga menemui banyak kasus gizi buruk di desa itu. Sebut saja Mamay, 3,5 tahun yang hanya memiliki bobot 8,5 kilogram. Perutnya buncit, matanya sayu serta kulitnya yang layu. Anak-anak seusianya sudah mampu berlari, sedangkan Mamay masih digendong ibunya, Linda (22 tahun) karena belum sanggup berdiri. Ternyata, Mamay masih punya adik yang berusia enam bulan. Total anak Linda berjumlah enam, sementara suami Linda hanya bekerja sebagai guru ngaji.



“Mamay dikasih makan apa bu?” tanya relawan ACT. “Nggak mau makan, paling-paling ASI bareng sama adiknya. Soalnya saya nggak punya uang buat beli susu pak,” ujar Linda.




Rafli, 2 tahun, bobotnya hanya 8 kg. Ikrima, anak kelima dari lima bersaudara berusia 2,5 tahun, berat badannya pun tak lebih dari 9,5 kg. Adalagi Khaerul, bocah berusia tujuh tahun, selain bongkok, ia pun menderita gizi buruk karena berat badannya tidak lebih dari 13 kg. Anak yatim ini tidak terurus karena ayahnya sudah meninggal sedangkan ibunya hanya berdagang asongan di pasar. Khairul yang bongkok ini pun sering menjadi bahan olok-olok teman-temannya.



Tidak berbeda nasib dengan yang lain adalah Anisa. Ketika ditemui gadis berusia dua tahun ini sedang bermain di kubangan lumpur. Eli, sang ibu yang buta sejak kecil, tidak tahu kalau anaknya bergelimang lumpur. Berat badan Anisa hanya 5,5 kg dengan perut membuncit. Anisa tidak pernah mengenal Ayahnya, karena sang Ayah kabur saat gadis itu baru dilahirkan.



Hari sudah gelap, padahal menurut ibu Uun masih banyak yang harus dikunjungi. Selain jumlah balita gizi buruk yang sudah didata sampai diangka 100, anak-anak dan warga dengan penyakit lainnya pun sangat banyak. Ada yang sakit hernia, cacat mental, tumor kulit, TBC paru-paru, dan masih banyak lagi sehingga cukup pantas menamakan wilayah ini sebagai kampung pesakitan.



Ketidakberdayaan ekonomi, ketidaktahuan (baca: kebodohan), juga ketidakadilan sistem kehidupan menjadi penyebab utama kondisi memprihatinkan beberapa desa di wilayah Parung Panjang ini. Bahkan, sebagian warga di Parung Panjang harus tinggal di atas tanah yang bukan milik mereka sendiri, karena tanah-tanah itu sudah menjadi milik orang kota.



Beberapa desa di kecamatan ini bisa dikategorikan sebagai desa tertinggal, untuk bertahan hidup pun mereka harus bersusah payah mengurangi frekuensi makan yang biasanya tiga kali menjadi dua kali, bahkan sekali makan dalam sehari. Kesehatan seperti mimpi terindah yang takkan pernah mereka rasakan, sebab untuk membuat kartu GASKIN (keluarga miskin) pun mereka harus mengeluarkan sejumlah uang yang tak sedikit. Padahal kartu GASKIN inilah satu-satunya harapan mereka bisa mendapat perawatan kesehatan secara gratis. Adakah yang masih peduli?



Kampung Pesakitan, pasti bukan hanya di Parung Panjang. Di banyak wilayah di negeri ini terdapat kampung sejenis, dengan ketidakberdayaan ekonomi, ketertinggalan akses informasi, keterbatasan pengetahuan, serta ketidakadilan system yang mengkerangkeng kehidupan masyarakat bangsa ini. Lihatlah, berapa banyak anak-anak menderita gizi buruk di negeri ini? (Gaw)



Informasi: Bayu Gawtama, 02132855165, 085219068581