Jumat, 30 Maret 2012

[Kultwit] Ustadz by Herry Nurdi

1. Saya kenal seorang ustadz, orangnya tawadhu, dermawan, rendah hati & pengasih. Tapi sifat2 itu juga dimiliki oleh ustadz2 yg lain #ustadz

2. Ada satu sifat & amalannya, yg belum saya temui dilakukan oleh para #ustadz yg pernah saya kenal, ttg perhatiannya pd individu

3. Kalau beliau diundang ceramah bada isya, seringkali jam 8 pagi beliau sudah datang ke tempat acara, awalnya saya heran sama #ustadz ini

4. Jadi praktis, sehari beliau hanya mengajar dan berceramah satu kali. bahkan sering di audience yg sama #ustadz mengajar tiga hari penuh

5. Yang beliau lakukan ketika datang pagi, #ustadz menyambangi rumah2 dan sarapan bersama penduduk desa fan berinteraksi intens sekali

6. Jika diperkampungan dan pedesaan, bahkan #ustadz turun ke bendang/sawah dan membantu penduduk yg sedang mengolahnya

7. Saat siang, atau petang, #ustadz juga bermain bersama anak2 kampung, bahkan ngajari mereka permainan tradisional yg lama dilupakan

8. Bersama ibu-ibu #ustadz juga berinteraksi, bincang dan mencari tahu, apa yg menjadi perbincangan sehari-hari, sederhana saja

9. Jadi, selepas isya saat harus memberi taushiyah #ustadz kurang lebih sudah mengetahui apa keperluan dan apa yg perlu disampaikan, fokus

10. #ustadz tidak bicara muluk tentang teori dunia, demokrasi, atau bahkan ttg fiqih yg njlimet, beliau simple, memberi panduan hidup

11. Sedih sekali krn beliau sdh tidak ada kini. semakin sedih saat melihat #ustadz yg buru2 meninggalkan mad'u dgn alasan sdh ada acara lain

12. Bimbingan mereka masih diperlukan, tapi para #ustadz sudah tidak punya waktu utk mendampingi dan memberikan panduan

13. Tambah sedih ketika mengalami sendiri mengundang #ustadz dikirim surat perjanjian MoU perlengkapan dan syarat mengundang

14. Minta jus alpukat, bisa dinalar. Minta honor, masih bisa dipahami. Tp #ustadz menentukan tarif, standar sound dll beyond my imagination


sumber: twitter ustadz Herry Nurdi

Kamis, 29 Maret 2012

[Kultwit] Gadis Penjual Risol by mbak Fitri Nurlela

Berikut kultwit dari mbak Fitri Nurlaela, anggota Komunitas Lebah

(1) Gerimis, br makan sih, tp telinga tergelitik olh suara #gadiskecilpenjualrisoles yg sudh 2 mggu trahir lewat d dpn rmah.

(2) Krna kasian dan iseng pengen tau,sy panggil sj si #gadiskecilpenjualrisoles. Dia pun semangat mmbuka pagar rmh sy dan duduk d teras.

(3) Belinya sih cm 2 aj, tp sy tdk menyia2kan wktu utk "mewawancara" si #gadiskecilpenjualrisoles.

(4) Sdh lma sy pnya kbiasaan brtny2 pd pdgng,playan warng,pnarik ojek,pmulung pun sy ajk ngbrol,kali ini giliran #gadiskecilpenjualrisoles

(5) Balik ke si #gadiskecilpenjualrisoles trnyta dia stiap hari brjualan keliling perumahan sy mulai jam 5 sore dan dagangannya sllu habis

(6) Setiap hari #gadiskecilpenjualrisoles mmbwa 4mcm jajanan (risoles dkk), @ 25bh jd total 100buah jajanan yg dijual perbuah rp 1500.

(7) Jd hsil pnjualan #gadiskecilpenjualrisoles ini sehari klo habis smua (dan sllu hbis) adlh 150rb, dg komisi dr 1 yg laku terjual rp 300

(8) Rp 300x100bh adlh 30rb, hasil si #gadiskecilpenjualrisoles berjualan dr jam 5 sore smpe paling malam (katanya) jam 9.

(9) Siang hari si #gadiskecilpenjualrisoles sekolah di SMP dkt perumahan, dan uang hasil berjualan dia pakai membiayai kbtuhan skolahnya.

(10) Waah Subhanalloh, hebat yah, sy benar2 salut dan bnyk belajar dr #gadiskecilpenjualrisoles berusia 12thn ini.

(11) Ketekunan, kesabaran dan semangatnya mmbuat sy malu. "Sebenarnya maunya nnton sinetron Bu" ucap #gadiskecilpenjualrisoles ini pd sy.

(12) Tp krna dia ingin terus sekolah #gadiskecilpenjualrisoles ini ttp semangat berjualan. "Nnti klo udh lulus kn ga jualan lg Bu" ktnya lg

(13) Sungguh terguran dariNya yg disampaikn lwt seorg #gadiskecilpenjualrisoles kpd sy yg srngkali mngeluh&patah semangat. Alhamdulillah.

(14) Mungkn kta tdk suka keadaan kita skrg,tp yakinlah smua adlh btu pijakan mnju ksuksesan d ms depan. Makasih #gadiskecilpenjualrisoles


sumber twitter mbak @FitriDream

Badai Salju di Sumatera Barat, fenomena alam atau buatan manusia? http://kopiradix.multiply.com/journal/item/216/Teori_Konspirasi_HAARP_vs_Orgonite

Rabu, 28 Maret 2012

[Copy Paste] SULITNYA MENEGAKKAN SYARIAT ISLAM DI INDONESIA

Note: ini bukan tulisan saya, tapi copy paste dari Facebook Ustadz Ahmad Sarwat Lc, selamat membaca semoga bermanfaat

SULITNYA MENEGAKKAN SYARIAT ISLAM DI INDONESIA

Umat Islam di Indonesia sudah sejak lama memimpikan tegaknya syariat dan hukum Islam. Bahkan salah satu motivasi kenapa banyak pahlawan gugur di medan perang dalam masa perjuangan fisik di masa lalu, tidak lain tujuannya agar bisa tegaknya syariat Islam.

Ketika sudah merdeka pun, putera-puteri Islam tetap memperjuangkan tegaknya syariat Islam lewat parlemen. Bergantian bentuk-bentuk upaya penegakan syariat itu terus diperjuangkan.

Namun sampai hari ini, sudah lewat enampuluh tahun kita merdeka, ternyata syariat Islam masih belum tegak di negeri kita seperti yang dicita-citakan oleh para ulama dan pendahulu kita di masa lalu.

Pandangan Kalangan Anti Syariah

Kalau dihitung-hitung, sebenarnya yang menjadi penghalang utama kenapa syariat Islam tidak bisa lantas tegak di negeri kita bukan siapa-siapa. Ternyata justru faktor penolakan dari umat Islam sendiri.

Tegaknya syariat Islam malah berhadapan dengan sebagian besar umat Islam. Justru mereka itulah yang dengan sangat gigih berada pada posisi menentang dan sangat anti dengan syariah Islam.

Pokoknya apa pun yang berbau istilah syariah, langsung diveto dan diberi kartu merah, termasuk nasib perda-perda yang dianggap bernuansa syariah di masa sekarang.

Padahal sebenarnya sadar atau tidak sadar, kita sudah menjalankan syariat Islam, bahkan saudara-saudara kita yang 'anti' syariah, tanpa sadar mereka sudah menjalankan syariah Islam.

Buktinya ke mana-mana mereka pakai baju dan celana. Seandainya mereka anti syariah Islam, maka ke mana-mana mereka pasti telanjang bulat, persis kambing dan kerbau.

Buktinya mereka menikah dengan sah, meski sering sinis dengan penegakan syariah. Kalau mereka tidak menjalankan syariah Islam, pastilah mereka tidak menikah tapi kumpul kerbau dan jadi pelanggan rumah bordil.

Buktinya mereka mereka ikut puasa di bulan Ramadhan, meski tetap sinis dengan syariah Islam. Kalau mereka tidak menjalankan syariah Islam, seharusnya mereka makan di siang hari bulanRamadhan.

Dan tanpa sadar, pada hakikatnya kita semua sudah mengakui dan bahkan menjalankan syariah Islam, walaupun masih parsial atau sepotong-sepotong.

Jadi kendala utama kita tinggal menyempurnakan kekurangannya saja, bukan memulai dari awal. Penyadaran seperti ini penting buat shock theraphy kepada saudara-saudara kita yang sok anti penegakan syariah Islam.

Dan problem terbesar dari penegakan syariah Islam memang bersumber dari mereka, yaitu saudara kita sendiri yang sebenarnya masih sujud setidaknya 17 kali sehari semalam kepada Allah SW, di mana dalam doa ifitiah yang baca, ada tersebutkan lafadz, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanya untuk Allah Rabb alam semesta."

Jadi tugas kita sebenarnya tidak terlalu sulit, karena secara prinsip dasar, umat Islam di Indonesia sudah mengakui bahwa dia telah berserah diri kepada Allah SWT. Mana mungkin orang yang sudah menyatakan diri seperti itu, tiba-tiba jadi penentang utama syariah Islam.

Terjebak Jargon

Salah satu kendala utama kenapa oranganti dengan syariah Islam adalah karena 'kalahnya' kita dari kekuatan kafir. Mereka telah dengan efektif berkampanye untuk memperburuk citra syariah Islam.

Hal itu bisa kita buktikan dengan mudah. Berapa banyak umat Islam yang kalau mendengar istilah 'syariah', tiba-tibaseolah tersihir dan merasa phobi, takut, serem, bergidik, dan deg-degan. Soalnya yang langsung terbayang adalah kapak tajam yang akan memenggal kepala manusia ala peradaban kuno.

Tapi itulah yang telah berhasil dilakukan oleh lawan-lawansyariah Islam. Mereka berhasil membuat tulisan, opini, ajakan, dan trend yang ujung-ujungnya membuat orang takut pada istilah syariah.

Maka seharusnya kita juga harus punya strategi yang menarik untuk mencuri perhatian khalayak. Kalau sekarang ini mereka sedang phobi dengan istilah syariah dan sejenisnya, toh kita tidak harus pusing kepala dan marah-marah sendiri. Mungkin tidak ada salahnya kita menggunakan istilah lain. Toh, apalah arti sebuah nama, pinjam celoteh si Shakespiere.

Misal yang sederhana, kita bisa gunakan istilah 'peradaban maju' sebagai ganti dari istilah yang terlanjur sudah membuat orang panas dingin. Kita bisa katakan mari kita bentuk masyrakat yang 'berperadaban maju', dengan tidak menyisakan ruang bagi penipuan, pencurian, termasuk perzinaan yang sangat hewani itu.

Dan yang dimaksud dengan 'peradaban maju' tidak lain adalah tegaknya syariah Islam, yang isinya bukan hanya potong tangan, rajam, cambuk dan penggal kepala, tapi memang sepenuhnya berisi kemajuan, keadilan, kemanusiaan, ketinggian derajat manusia, pemerataan kesejahteraan dan seterusnya. Silahkan teruskan sendiri.

Kecolongan

Dan ada satu hal yang saat ini perlu kita pikirkan bersama, terutama bagi para 'pendekar dan penegak syariah Islam'. Seandainya -ini cuma seandainya saja- seandainya, tiba-tiba para penguasa sekuler itu terguling atau entah dapat hidayah lewat mana, tiba-tiba mereka bilang, "Yah sudah, sekarang kami sudah tobat, ayo kita gunakan hukum Islam", lalu apakah masalah sudah selesai?

Apakah proses penegakan syariah Islam sesederhana itu? Apakah hanya dengan melengserkan para penguasa sekuler dan kemudian diganti jadi negara Islam, atau apa lah istilahnya, masalah sudah selesai?

Sementara kita tahu persis bahwasebenarnya masih banyak kendala utama dan justru esensial sekali, tapi selama ini luput dari perhatian kita. Perhatian kitaselama ini lebih banyak terkuras untuk memperjuangkan syariah Islam di level parlemen. Padahal kalau kita cermati dengan hati lapang dan luas, tetap ada wilayah kerja lain yang sebenarnya jauh lebih sulit untuk diperjuangkan.

Urusan mengegolkan syariah Islam di parlemen mungkin hanya satu dari seribu kendala tegaknya syariah Islam. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada teman-teman yang sedang 'berjuang' di parlemen dengan menyerap begitu banyak sumber daya, tapi harus kita akui pe-er besar kita ternyata bukan di parlemen.

Pe-er besar kita justru ada di tengah diri umat Islam sendiri. Dan kejadian demi kejadian dalam garis lintasan sejarah seharusnya sudah cukup untuk menjadi guru besar kita, bahwa kekuasaan bukan berarti tujuan utama perjuangan. Dan bukan garis finish yang akan kita lewati.

Sebab berapa banyak kekuatan Islam yang pada akhirnya bisa mencapai puncak kekuasaan, tetapi ujung-ujungnya mereka harus menyerah pada kenyataan. Ternyata dengan naiknya sebuah kekuatan Islam ke puncak kekuasaan di suatu negeri, tidak ada kaitanya dengan tegak atau tidak tegaknya syariah Islam di negeri itu.

Bukankah Erbakan pernah menjadi perdana menteri di Turki? Bukankah Muhammad Dhia'ulhaq pernah berkuasa di Pakistan? Bukankah Iran dipimpin oleh para tokoh yang mengaku menegakkan Islam, meski dengan aqidah syi'ah yang banyak dikritik? Dan bukankah beberapa partai Islam juga telah menang di berbagai negeri? Bukankah kemenangan mutlak di pemilu telah pernah diraih FIS di Aljazair dan REFAH di Turki serta Jamiat Islami di Pakistan?

Tanpa mengecilkan peran dan jasa perjuangan mereka, tapi kalau kita amati, ternyata semua itu tidak selalu ekwivalen dengan tingkat penerapan syariah Islam. Setidaknya, kehidupan rakyat masih belum berubah, yang miskin masih miskin dan yang bodoh tetap masih bodoh. Hutang negara itu dan tingkat ketergantungan kepada negara adidaya yang dikuasai lobby yahudi masih tinggi. Produksi dalam negeri negara itu masih saja rendah, mereka masih menjadi negara yang nyaris 100 persen bergantung kepada belas kasihan (baca: jerat) negara adidaya.

Atau kalau kita lihat dari sudut pandang yang lain, misal nyadari sudut hukum hudud, ternyata kita juga tidak lantas menyaksikan hukum potong tangan, rajam, dan cambuk berlaku di negara itu. Mengingat bahwa sebagian teman kita punya pandangan sederhana, bahwa tegaknya syariah Islam cukup diukur dari pelaksanaan hukum hudud.

Lalu apa yang masih kurang? Dan apa yang salah?

Kalau salah sih tidak juga, dan sebenarnya tidak ada yang salah. Segala perjuangan untuk mencapai kekuasaan demi memperjuangkan syariah di level parlemen memang bukan tanpa arti. Kami pun tidak pernah berpikir untuk mengecilkan peran dan prestasi itu.

Tapi ada satu hal yang mungkin kita sering lupa, yaitu kekuatan fundamental di landasan yang menjadi fundamen esensial malah seringkali terlupakan. Fundamen itu adalah penyiapan umat untuk bisa mengenal, mengetahui, merasakan manisnya, dan merindukan tegaknya syariah Islam. Itu yang justru selama ini lepas dan luput dari perhatian kita.

Betapa banyak umat Islam yang belum tahu cara berwudhu, yang lainnya tidak tahu apa saja yang membatalkan shalat. Yang lain masih saja menikah tanpa wali, atau malah asyik berkampanye untuk poligami. Lima belas ribuan pertanyaan yang masih ke database kami cukup untuk membuktikan hal itu.

Janganlah kita bertanya tentang hal-hal yang lebih dalam dari syariah Islam. Bahkan hal-hal yang terlalu fundamental sekalipun masih saja hilang dari daya tahan umat ini. Jadi perang kita ini sebenarnya tidak vis a vis dengan orang kafir yang memushi agama Islam, tapi 'perang' kita ini lebih banyak untuk melawan 'kebodohan' dan 'keawaman' umat Islam dari syariah Islam itu sendiri.

Pelajaran dan kuliah syariah Islam itu boleh dibilang tidak pernah ada di negeri ini. Sebab pesantren kini sudah mulai kehilangan santri. Jumlahnya pun amat terbatas.

Kalau pun pernah belajar syariah, umumnya bangsa kita hanya mendapat porsi yang sangat kecil, yang sama sekali tidak cukup untuk sekedar bekal hidup, itu pun hanya semata kita dapat sewaktu masih kecil mengaji di TPA, dengan para pengajar yang tingkat kelimuannya di bidang syariah yang amat terbatas pula, kalau tidak mau dibilang memprihatinkan.

Walhasil, kendala terbesar kita malahan bukan musuh di luar, tapi justru ada di dalam diri kita masing-masing. Umat ini tidak pernah berupaya melahirkan generasi yang setidaknya 'melek' syariah.

Ketika teman-teman 20-an tahun yang lalu lalu menggagas berdirinya SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), kami kira nantinya siswa-siswi itu akan diajarkan tentang syariah Islam secara intensif. Eh, ternyata kami harus kecewa lagi, karena umumnya tidak ada bedanya dengan SD biasa, kecuali jam pelajarannya ditambah di sana sini, plus baca Iqro dan sedikit tahfizd Quran.

Sehingga otomatis bayarannya juga 'terpaksa' bertambah pula. Sampai ada teman yang memplesetkan singkatan TERPADU menjadi TERpaksa PAkai DUit.

Tapi yang teramat menyedihkan, ternyataSDIT-SDIT itu juga pernah peduli untukmengajarkan bahasa Arab secara serius. Kalau pun ada, hanya sampai hadza dan hadzihi, tidak lebih. Yang jelas, lulus SDIT itu anak-anak kita tetap tidak paham makna bacaan Quran yang dengan fasih dilantunkan, tetapi tidak paham ketika membunyikan tulisan hadits nabawi, juga tetap tidak nyambung kalau berkomunikasi dengan teman-temannya dari negeri Islam di Timur Tengah lewat chat. Apalagi membaca rujukan buku syariah Islam. Bisa-bisa mereka bilang kitab-kitab itu salah cetak.

Terus anak-anak kita mau dibawa ke mana?

Bukan apa-apa, 20 juta komunitas yahudi di dunia ini sudah memastikan bahwa anak-anak mereka mutlak harus bisa bahasa Ibrani, karena pada bahasa itulah mereka bersatu dan memiliki kekuatan. Dan Talmud itu berbahasa Ibrani. Dan mereka bangga dengan bahasa Ibraninya. Dan nyatanya, tidak ada balita yahudi kecuali mereka paham dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Ibrani.

Bagaimana dengan kita?

Jangan tanya, kenapa segitu banyak SDIT yang telah kita bangun, malah tidak mengajarkan bahasa Arab?

Padahal syarat mutlak seseorang bisa mempelajari dan memahami syariah Islam justru ada pada bahasa Arab. Mengingat bahwa Al-Quran itu turun dalam bahasa Arab. Dan mengingat pula bahwaRasulullah SAW tidak pernah berkata-kata kecuali dalam bahasa Arab. Sangat tidak masuk akal kalau hari ini kita teriak-teriak mau menegakkan syariah Islam, tapi kita tidak pernah peduli ketika anak-anak kita tumbuh tanpa bisa berbahasa Arab. Sungguh keterlaluan dan sangat tidak logis.

Kalau generasi terbaik yang kita persiapkan itu sudah sejak awal kita 'sunat' dan 'kebiri', dengan tidak peduli atas pelajaran bahasa Arab, maka sudah dipastikan kita inilah jagal-jagal yang membutakan mereka dari syariah Islam sejak dini.

Akhirnya kita hanya bisa marah-marah dan emosi sendiri, kita tuduh orang lain bersalah karena tidak mau menerapkan syariah Islam, Padahal pada hakikatnya kita sendiri yang telah 'membunuh' syariah Islam itu sejak dini.

Mungkinanda pernah lihat trilogi film hayal ala Hollywood, misalnya Terminator 1, 2 dan 3. Film itu menggambar musuh-musuh di masa mendatang melalui mesin waktu datang ke zaman kita untuk membunuh calon pemimpin masa depan, Jhon Connor. Musuh-musuh yang berupa robot itu merasa kewalahan menghadapi perlawanan sang jagoan di masa mendatang, karena itu untuk membunuh sang jagoan, mereka datang ke zaman sekarang dan ingin membunuh orang tuanya.

Hayalan ala Arnold Schwarzenegger itu itu sebenarnya sudah terjadi sekarang ini. Kitalah yang musuh yang telah 'membunuh' generasi mendatang itu dengan tidak pernah mempersiapkan mereka untuk mengerti syariah Islam. Salah satu cara 'keji' yang tanpa sadar kita lakukan adalah membuat mereka tetap buta dengan bahasa Arab dan pelajaran syariah Islam.

ApalagiSDIT-SDIT yang kita banggakan itu pun masih asyik dengan beragam teori pendidikan ala baratnya, dan nyaris sama sekali tidak punya pengajar bertaraf ulama, yangbisa melahirkan siswa semacam Al-Imam Asy-Syafi'i yang telah hafal Al-Muwaththa' ketika lulus SD.

Boro-boro hafal Al-Muwaththa', lha wong gurunya saja termasuk ummiyin, tidak bisa baca dan tulis Arab. Apalagi bicara dalam bahasa Arab. Kalau pun bisa baca, ya cuma bunyi tapi tidak paham.

Mohon maaf kepada para ikhwah yang punya SDIT atau guru pengajar, mungkin kami agak kasar, tapi mari kita merenung sejenak yuk, kita ini mau ke mana sih sebenarnya? Cintakah kita kepada syariah Islam? Kalau cinta, kenapa kok kita tidak berupaya melahirkan generasi yang mengerti syariah Islam?

Resep Tegaknya Syariah Islam

Jadi resepnya gampang, mari kita dirikan SDIT yang para pengajarnya adalah ulama, sehingga muridnya bisa lulus dengan telah mengantungi ijazah sungguhan, yakni telah membaca dan menelaah sekian puluh kitab-kitab kuning.

Mari kita urus dengan rapi dan profesional majelis-majelis taklim kita, baik di masjid mau pun di kantor-kantor. Carilah ulama yang ahli syariah untuk kita belajar ilmu syariah secara tetap kepada mereka, syukur kalau bisa sambil buka kitab. Setidaknya kajian syariahnya harus lebih padat. Jangan cuma melawak melulu. Segar sih segar, tapi kalau tiap hari melawak melulu, bisa-bisa kita saingan dengan Srimulat.

Semua itu mengerucut pada satu kesimpulan, tegaknya syariat Islam amat bergantung pada seberapa besar porsi ngajisyariah kita lakukan sekarang ini.

Mungkin ada baiknya kalau para ustadz yang terlanjur salah kamar, balik lagi ke masjid dan jamaah pengajiannya untuk mengajar syariah, dari pada mereka tiap hari ketemu dengan koboi-koboi politik di lembaga legislatif yang bikin rambut beruban. Serahkan saja pekerjaan itu pada orang yang ahli di bidangnya, sedangkan para ustadz ini bisa kembali menyapa jamaah pengajiannya. Sungguh semenjak para ustadz ini aktif di politik, banyak jamaah pengajian yang bagai anak ayam kehilangan induknya.

Itu sih sekedar usul, bisa diterima dan boleh saja dicuekin. Namanya juga usul, kadang terdengar usil di telinga.

Wallahu 'alam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: posting yang ini

Selasa, 27 Maret 2012

Imam Abu Hanifah Bicara Kesederhanaan

http://wasathon.com/humaniora/read/imam_abu_hanifah__bicara_kesederhanaan/
Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Janganlah meminta pendapat kepada orang yang gandum pun tidak ada di rumahnya.” Sebagai seorang mujtahid mutlak dan imam mahzab, beliau pasti mengerti benar kedudukan harta dalam Islam. Ucapan beliau tentang tidak meminta pendapat pada orang yang tidak ada gandum di rumahnya bermakna bertanyalah pada orang yang tepat. Ketiadaan gandum merupakan simbol dari kemiskinan yang melanda kehidupan seseorang.

selanjutnya sila klik link di atas

Senin, 26 Maret 2012

Kisah Pemburu Emas

http://wasathon.com/kisah_inspirasi/read/kisah_pemburu_emas/
ketika semua solusi seakan buntu, semoga kisah motivasi inspiratif berikut ini bermanfaat untuk kita semua, selamat membaca

[Kultwit] Kenaikan BBM by Muhammad Assad

Besok rakyat mau demo besar2an #BBM naik, presidennya malah lg plesir ke China-HK-Korea pake duit rakyat. Pengecut!

#BBM itu sebetulnya ga perlu naik kalo pemerintah bs efisien menggunakan APBN dan ga dikorupsi sana sini.

Presiden minta rakyat hemat agar APBN ga jebol, tp ruang banggar anggota DPR ratusan M & pesawat baru presiden TRILYUNAN. Gagal paham. #BBM

Setiap kenaikan #??? pasti akan berentet ke semua sektor dan megancam denyut nadi masyarakat bawah. Blm masalah penimbunan, pengoplosan, dll

Skr pemerintah belum ngumumin kenaikan #BBM aja, harga2 bahan pokok udah ancang2 pada mau naik. Ini efek dominonya.

Alasan utama yg sering dipake Pemerintah ttg kenaikan #BBM adalah utk menyelamatkan APBN krn harga minyak global trs naik & memberatkan APBN

Memang betul harga minyak dunia bbrp bulan terakhir melejit. Harga minyak yg jd basis penyusunan APBN diasumsikan 60 USD per barrel. #BBM

Tp skr harga kisaran minyak dunia sudah menembus angka psikologis 100 USD, bahkan sempat 125 USD per barrel. #BBM

Jd kata pemerintah, kalo #BBM tidak dinaikkan, maka akan membuat APBN jebol 200 Trilyun lebih untuk subsidi

jika subsidi #BBM dibiarkan mencapai 200 Trilyun, anggaran APBN tidak akan cukup, krn hanya dianggarkan sktr 120 Trilyun (sebelum dikorupsi)

Jadi cara paling cepet nambahin pemasukan negara gmn? Ya naikkin #BBM biar kas aman. Setoran sana sini tetep aman.

Padhal sudah byk sekali digulirkan ide-ide dari pakar ekonomi yg real dan konkret utk menambah pemasukan negara tanpa menaikkan #BBM

Salah satu solusinya naikkin cukai rokok di angka 100-200%. Percaya deh, para perokok sejati biarpun rokok mahal ttp aja dibeli. #BBM

Thn 2012 target pemerintah dr pendapatan cukai rokok 70 Triliun. Kalo dinaikkan 100%, jd 140 T. Kalo 300%? Jd 210 T. Selesai urusan. #BBM

Utk para perokok sejati dan non-sejati, biarpun 300% kenaikan harga rokok, ttp aja pasti dibeli. #BBM

Kalopun para perokok merasa mahal, ya mrk akan ngurangin pembelian rokok dan ini malah bagus, kesehatan rakyat lebih terjamin. #BBM

Harga rokok di Indonesia itu MURAH, dibanding dg negara lain & dibanding dg dampak rusaknya kesehatan krn rokok. #BBM

Di Singapore, harga rokok Sampoerna buatan Indonesia dijual Rp 80,000/bungkus. Di Indonesia? Cukup Rp 12,000/bungkus atau 1/7 nya. #BBM

Jd cukai rokok dinaikkin 300% aja itu masih kecil, kalo perlu naikkin jd 500%. Cash money pemerintah bertambah 350 TRILYUN. #BBM

Knp cukai rokok yg dinaikin? Krn harga rokok ga ada dampaknya thdp kenaikan harga bahan bahan pokok lainnya. #BBM

Itu duit 350 Trilyun/thn kalo bener2 utuh dipake utk kesejahteraan rakyat dan ga ada yg dikorupsi, Indonesia makmur semakmur2nya.

Sbg perbandingan, harga 1 liter #BBM di Qatar itu LEBIH MURAH dibanding harga air putih. Gendeng kan? Itu krn pemerintahnya amanah.

Harga seliter #BBM di Qatar itu ga sampe 1 Riyal (Rp 2500), sedangkan harga air putih 1 liter sktr 1,5 Riyak

Harga #BBM 1 Riyal (Rp 2500) per liter di Qatar itu dg kualitas oktan 92 atau selevel Pertamax Plus di Indonesia.

Pertanyaannya skr adalah, berapa sesungguhnya kapasitas produksi minyak Pertamina? Knp trus menurun? Pada bocor kemana itu? #BBM

Brp tingkat kebocoran yg trjadi? Sudahkah kinerja BUMN menunjukkan performa sehat? Inilah pertanyaan2 yg ga pernah terungkap ke publik. #BBM

Selain itu, cara lainnya pemerintah harus punya nyali utk renegosiasi kontrak royalti di sektor migas dan pertambangan. #BBM

Sgt sgt ga masuk akal, profit sharing Freeport & Pemerintah Indo itu 97% : 3%. Kita cm kebagian 3%, sisanya diangkut ke amrik. Miris. #BBM

Itu baru Freeport, blom Blok Cepu, LNG Tangguh, dll. Hampir semua kontrak royalti sgt merugikan Indonesia. #BBM

Masa kita yg punya lahan, kita yg punya sumber daya alamnya, tp cm dihargai 3%? Idealnya adalah 50-50 atau paling mentok 40-60. #BBM

Qatar yg skr jd negara terkaya di dunia itu hny mengandalkan 1 sektor: LNG (Liquified Natural Gas). Indonesia? Semua SDA ada di sini. #BBM

Kita punya mineral, batubara, LNG, timah, minyak, sampe daun singkong utk bahan bakar nabati pun kita punya. Betapa kayanya bangsa ini. #BBM

Solusi dr pemerintah utk memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) kpd rakyat miskin hanya utk menghibur sesaat. #BBM

BLT akan mendorong iklim kontra-produktif yg dlm jangka panjang justru melahirkan anak2 bangsa bermental pengemis. #BBM

Oke lanjut. Selama ini terdapat premis yg keliru: kenaikan harga minyak dunia selalu jadi alasan menaikkan #BBM.

Padahal, kenaikan harga minyak dunia mestinya jadi berkah (windfall) bkn bencana, jika target produksi dlm negeri (Pertamina) tercapai. #BBM

Dr sini sudah bs jadi indikasi tentang adanya salah urus di sektor pengelolaan Produksi dan Distribusi #BBM Nasional.

Solusinya? Di sektor hulu penyaluran #BBM, hrs ada upaya yg ketat utk mencegah manipulasi #BBM bersubsidi oleh oknum2 tertentu.

Untuk itu, harus diikuti dg upaya penegakan hukum (law enforcement) yang bs menyapu bersih mafia #BBM secara tegas tanpa pandang bulu.

Jika Pemerintah mengatakan penyaluran #BBM bersubsidi tdk efektif & tdk adil, maka jelas jawabannya bukan dg menaikkan harga.

Tp bagaimana mengendalikan penyaluran #BBM secara terkendali, akuntabel dan transparan, shg distribusi BBM dapat dipertanggungjawabkan.

Dan subsidi #BBM hanya diberikan sesuai kpd yg bnr2 membutuhkan (motor, angkutan umum, kapal2 nelayan) yg memang layak  disubsidi.

Maka, gagasan pengendalian konsumsi #BBM bersubsidi jauh lebih baik drpd menaikkan harga BBM, krn social cost yg rendah.

Solusi lainnya, kebijakan fiskal darurat berupa pemangkasan anggaran proyek2 departemen dan non-departemen yg rawan korupsi. #BBM

Gelombang demo skr ini di satu titik akan berubah eskalasinya jd kerusuhan massal yg bs melumpuhkan aktivitas vital masyarakat. #BBM

Penguasa mana yang sanggup meredam jika rakyatnya sdh marah? Apakah akan menurunkan tentara utk meredam? Brp jiwa yg akan jd korban? #BBM

Penurunan tentara utk meredam massa tdk akan membuat rakyat yg sudah kelaparan jd takut, justru makin beringas. #BBM

Rakyat bs jd sgt berani menghadapi semburan gas air mata, tembakan peluru karet atau moncong panser sekalipun, spt kerusuhan Mei 1998. #BBM

Yak, sekian twit panjang malam ini ttg #BBM dr saya yg awam. Smg niat Pak Presiden naikkin #BBM tgl 1 april nnt hanya April Mop :D

Sumber; Twitter Pak Muhammad Assad