http://cahaya-semesta.com/article/91140/rahasia-terkabulnya-doa-part1-sd-part-5.html
apa rahasia terkabul doa? sila ke link, semoga bermanfaat :)
Tampilkan postingan dengan label doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doa. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Juli 2012
Jumat, 23 Maret 2012
[Kultwit] Doa oleh M. Fauzil Adhim
1. Tertegun mengingati betapa santun do'a Nabi Musa as., meski saat itu sedang didera lapar yang amat sangat. Allah Ta'ala abadikan do'anya.
2. Nabi Musa as. berdo'a, (QS. Al-Qashash, 28: 24)
3. Dengarkan do'a Nabi Musa as., "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." QS. 28: 24
4. Ia amat malu meminta seraya mendikte Allah Ta'ala tentang apa yang harus Allah Ta'ala berikan. Ia tak memvisualisasikan keinginannya.
5. Nabi Musa as. amat sangat santunnya. Dan inilah satu di antara do'a-do'a yang Allah Ta'ala abadikan dalam Al-Qur'an.
6. Dan tidak akan terucap do'a yang sedemikian santun kepada Allah Ta'ala kecuali apabila berhimpun sikap tawadhu', yaqin & terjaganya adab.
7. Betapa pun amat menghajatkan makanan karena rasa laparnya yang amat sangat, Nabi Musa as. tidak vulgar meminta makan. Santun ia.
8. Amat besar rasa malunya kepada Allah Ta'ala sehingga tak terucap do'a yg mendikte. Bukankah engkau yakin Allah Maha Kuasa lagi Maha Tahu?
9. Tapi atas do'a yg diucapkan dg penuh yakin, penuh harap, penuh pinta skaligus takut kpd-Nya, maka Allah Ta'ala beri lebih dr yg diminta.
10. Rasa lapar yang menderanya, juga letih-lelah yang amat sangat, tetapi Allah Ta'ala berikan makanan, pekerjaan, perlindungan & jodoh.
11. Betapa sering manusia berdo'a kepada Allah Ta'ala, tetapi tidak meminta yang terbaik dari-Nya. Ia juga tidak meminta dengan santun.
12. Ia amat santun tatkala berhadapan dengan atasannya, tetapi kepada Allah Ta'ala ia tak menjaga adabnya. Astaghfirullahal 'adziim.
13. Betapa sering kita berdo'a, tetapi kita bahkan telah memilih cara yang menurut kita terbaik. Bukan meminta yang terbaik kepada-Nya.
14. Btapa sering kita memohon dg amat sdetail-detailnya seakan Allah Ta'ala ksulitan memahami keinginn kita. Ataukah adab kita telah hilang?
15. Btapa banyak mnusia berusaha memvisualisasikan keinginan ttkala meminta kpd Allah Ta'ala seakan Allah Ta'ala tak tahu yg trbaik u/ kita.
16. Ingin berbincang lebih panjang. Tapi maafkan saya, ilmu masih pas-pasan. Mohon do'anya agar dapat menjadi hamba-Nya yang tha'at.
sumber: @kupinang
2. Nabi Musa as. berdo'a, (QS. Al-Qashash, 28: 24)
3. Dengarkan do'a Nabi Musa as., "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." QS. 28: 24
4. Ia amat malu meminta seraya mendikte Allah Ta'ala tentang apa yang harus Allah Ta'ala berikan. Ia tak memvisualisasikan keinginannya.
5. Nabi Musa as. amat sangat santunnya. Dan inilah satu di antara do'a-do'a yang Allah Ta'ala abadikan dalam Al-Qur'an.
6. Dan tidak akan terucap do'a yang sedemikian santun kepada Allah Ta'ala kecuali apabila berhimpun sikap tawadhu', yaqin & terjaganya adab.
7. Betapa pun amat menghajatkan makanan karena rasa laparnya yang amat sangat, Nabi Musa as. tidak vulgar meminta makan. Santun ia.
8. Amat besar rasa malunya kepada Allah Ta'ala sehingga tak terucap do'a yg mendikte. Bukankah engkau yakin Allah Maha Kuasa lagi Maha Tahu?
9. Tapi atas do'a yg diucapkan dg penuh yakin, penuh harap, penuh pinta skaligus takut kpd-Nya, maka Allah Ta'ala beri lebih dr yg diminta.
10. Rasa lapar yang menderanya, juga letih-lelah yang amat sangat, tetapi Allah Ta'ala berikan makanan, pekerjaan, perlindungan & jodoh.
11. Betapa sering manusia berdo'a kepada Allah Ta'ala, tetapi tidak meminta yang terbaik dari-Nya. Ia juga tidak meminta dengan santun.
12. Ia amat santun tatkala berhadapan dengan atasannya, tetapi kepada Allah Ta'ala ia tak menjaga adabnya. Astaghfirullahal 'adziim.
13. Betapa sering kita berdo'a, tetapi kita bahkan telah memilih cara yang menurut kita terbaik. Bukan meminta yang terbaik kepada-Nya.
14. Btapa sering kita memohon dg amat sdetail-detailnya seakan Allah Ta'ala ksulitan memahami keinginn kita. Ataukah adab kita telah hilang?
15. Btapa banyak mnusia berusaha memvisualisasikan keinginan ttkala meminta kpd Allah Ta'ala seakan Allah Ta'ala tak tahu yg trbaik u/ kita.
16. Ingin berbincang lebih panjang. Tapi maafkan saya, ilmu masih pas-pasan. Mohon do'anya agar dapat menjadi hamba-Nya yang tha'at.
sumber: @kupinang
Senin, 28 September 2009
[Renungan Cinta] Vibrasi Cinta dari dalam diri
Saat engkau hanya bisa melihatnya dari kejauhan
tanpa ada keberanian untuk mendekat
seakan-akan tembok energi yang tebal tak terlihat ...
menghalangimu ke sana
engkau melihatnya begitu akrab dengan yang lain
namun dengan dirimu sendiri entah berapa ratus juta tahun cahaya
bahkan engkau merasa seakan-akan dianggap tidak ada
......... sama sekali tidak ada
Jauh dalam hatimu, engkau merasakan badai datang tiba-tiba
membutakan pandanganmu dan menguasai jiwamu
menusuk dan membekukan jiwamu ....... yang menggigil kedinginan
engkau merasa tak berdaya ...... sangat tak berdaya
Sesak terasa nafasmu, bagai ada beban berat menghimpitmu
........... beban yang amat sangat berat
......... Bagai terjebak dalam badai yang kejam dan dahsyat .....
.... atau tenggelam dalam lautan luas tak bertepi, ........
. ....... tidakkah itu merupakan suatu siksaan yang sangat pedih?
Sahabat,
jika itu yang engkau rasakan, maka tanyakan dirimu
getaran atau vibrasi apakah yang sesungguhnya engkau pancarkan kepadanya?
Apakah getaran egoistik yang hanya mementingkan diri sendiri, yang sangat-sangat menginginkan dirinya?
atau getaran kasih sayang yang menentramkan dan menyejukkan jiwa orang lain, terutama orang yang kau cintai
Sahabat,
Bahasa cinta adalah bahasa hati
bahasa hati adalah bahasa emosi
bahasa emosi adalah energi
bahasa energi adalah getaran atau vibrasi
yang kita pancarkan terus menerus tanpa sadar
bahasa hati adalah bahasa emosi
bahasa emosi adalah energi
bahasa energi adalah getaran atau vibrasi
yang kita pancarkan terus menerus tanpa sadar
Sungguh, getaran kasih sayang hanya akan timbul dari hati yang dimiliki oleh jiwa yang tenang tentram. hati yang jiwa pemiliknya bergantung hanya pada Allah SWT sehingga memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi.
Jiwa yang bagaikan pegunungan yang tinggi, yang mata airnya menghasilkan air yang menyegarkan siapapun yang meminumnya, serta irama gemericiknya menentramkan jiwa siapapun yang mendengarnya
Jiwa yang tetap menjadi berkah bagi sesama manusia, apapun yang terjadi
Sahabat,
sepertinya waktunya kita semua mengevaluasi kembali, jiwa dan hati yang bagaimana yang kita miliki. Apakah jiwa yang tenang dan tentram, jiwa yang penuh kasih sayang dan terus-menerus memberkati sesama serta terus menerus memperbaiki diri sehingga keberkahan yang dia beri meningkat terus kualitasnya? Ataukah jiwa yang penuh kegelisahan, terus menerus mengutuk sesama manusia dan membiarkan diri semakin menurun kualitasnya dari hari ke hari. Erich Fromm menyebut kehidupan yang kosong dari makna itu sebagai "The Unlived Life" atau kehidupan yang tidak dijalani dengan sepenuh kehidupan alias mati sebelum mati.
Hati dari jiwa yang mati bagaikan gunung berapi itu hanya akan menghasilkan vibrasi yang mengerikan bagaikan lahar yang melahap habis semua yang bisa dicapainya.
Erich fromm mengingatkan kita bahwa "Destructiveness is the outcome of unlived life" atau kecenderungan untuk menghancurkan adalah hasil dari kehidupan kosong tanpa makna yang tidak dijalani sepenuhnya.
Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berdoa kepada Allah:
Allahumma ashlih lii diini alladzi huwa 'ishmatu amri, wa ashlih lii dunyaaya allati fiihaa ma'aasyi, wa ashlih lii aakhirati allati fiihaa ma'aadi, waj'alail hayaata ziyaadatan lii fii kulli khair, waj'alil mauta raahatan lii min kulli syarr
("Ya Allah, baikkanlah agamaku, karena itulah penjaga urusan (kehidupan)ku. Dan baikkanlah (urusan) duniaku, karena di dalamnya aku hidup. Dan baikkanlah (kehidupan) akhiratku, karena itulah tempat kembaliku (setelah mati). Dan jadikanlah sisa hidupku semakin menambah segala kebaikan. Dan jadikanlah kematianku sebagai waktu istirahatku dari (melakukan atau merasakan) segala keburukan")
(HR. Muslim, dinukil dari Ad Du'a minal Kitab wa Sunnah hal. 32)
Sebuah nasihat untuk diri sendiri, semoga bermanfaat bagi siapapun yang membaca
Selasa, 30 Desember 2008
MT Wilson, SKom., MKom. » Blog Archive » Kami Tidak Lupa, Palestina!
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/tanzir/2008/12/30/kami-tidak-lupa-palestina/
satu lagi tulisan blog tentang Palestina,
“Kami Tidak Lupa, Palestina!,” an entry on MT Wilson, SKom., MKom.
semoga bermanfaat
satu lagi tulisan blog tentang Palestina,
“Kami Tidak Lupa, Palestina!,” an entry on MT Wilson, SKom., MKom.
semoga bermanfaat
Label:
bantuan,
blog,
doa,
gaza,
gunadarma,
hartaharam,
introspeksi,
kispa,
palestina
Senin, 29 Desember 2008
Palestina, untuk yang baru bisa membantu dengan doa
Sering kali, apabila ada simpatisan para pejuang Palestina memposting di blog mereka tentang keadaan terakhir di sana, banyak reply yang masuk kurang lebih bunyinya begini:
"Maaf saya baru bisa membantu dengan doa"
Tentu saja itu bukan suatu yang buruk, sebagai muslim tentu kita tidak bisa meremehkan kekuatan suatu doa bukan?
Namun, sadarkah kita akan konsekwensi ucapan tersebut?
Misalnya:
1. sudahkah kita sungguh-sungguh memanfaatkan waktu-waktu yang dianjurkan untuk berdoa, seperti 1/3 malam yang akhir umpamanya?
2. Sudahkah kita menjaga diri kita dari barang-barang yang haram?
Saya pernah membaca di sebuah majalah, kisah seorang ibu yang tersadar saat mengikuti pengajian. Pulang dair pengajian, dia langsung berdoa kepada Alloh SWT
"Ya Alloh, jika diantara harta saya ada harta yang haram, tolong musnahkan, agar saya bisa bersih saat menghadap pada-Mu"
beberapa hari kemudian, rumah si ibu habis dilalap si jago merah. Pada saat semua tetangga panik, si ibu malah tenang-tenang saja. Mungkin pikir si ibu, inilah jawaban dari doa saya beberapa hari yang lalu.
Terlepas dari benar atau tidaknya cara si ibu itu berdoa, kita semua sadar betapa pentingnya menjaga diri dari harta haram. Sulit kita mengharpkan doa kita diterima bila dalam diri kita masih banyak harta haram. Apalagi jika sel-sel dalam badan kita terkandung zat-zat yang haram, baik zat-nya atau cara mendapatkannya.
3. Mendisiplinkan diri dalam mengisi waktu, mengurangi aktifitas sia-sia bahkan yang menjurus pada dosa
Masih banyak lagi
Memang tidak salah apabila kemampuan kita baru sebatas doa, namun pertanyaannya kemudian, sudahkan kita sungguh2 dalam berdoa, atau sesungguhnya kita memang tidak pernah beroda???
bagi saudara-saudaraku di Palestina, maafkan makhluk lemah ini yang tidak bisa berbuat apa-apa,
bahkan memperingatkan teman2-nya agar sedikit lebih peduli pada kalian saja tidak bisa
Astaghfirullah
sungguh rugi kita apabila pelajaran mahal ini tidak kita jadikan momentum untuk introspeksi diri
Bantuan Anda untuk rakyat Gaza bisa disalurkan KISPA. No rek. KISPA BMI no.311.01856.22 an Nurdin QQ
"Maaf saya baru bisa membantu dengan doa"
Tentu saja itu bukan suatu yang buruk, sebagai muslim tentu kita tidak bisa meremehkan kekuatan suatu doa bukan?
Namun, sadarkah kita akan konsekwensi ucapan tersebut?
Misalnya:
1. sudahkah kita sungguh-sungguh memanfaatkan waktu-waktu yang dianjurkan untuk berdoa, seperti 1/3 malam yang akhir umpamanya?
2. Sudahkah kita menjaga diri kita dari barang-barang yang haram?
Saya pernah membaca di sebuah majalah, kisah seorang ibu yang tersadar saat mengikuti pengajian. Pulang dair pengajian, dia langsung berdoa kepada Alloh SWT
"Ya Alloh, jika diantara harta saya ada harta yang haram, tolong musnahkan, agar saya bisa bersih saat menghadap pada-Mu"
beberapa hari kemudian, rumah si ibu habis dilalap si jago merah. Pada saat semua tetangga panik, si ibu malah tenang-tenang saja. Mungkin pikir si ibu, inilah jawaban dari doa saya beberapa hari yang lalu.
Terlepas dari benar atau tidaknya cara si ibu itu berdoa, kita semua sadar betapa pentingnya menjaga diri dari harta haram. Sulit kita mengharpkan doa kita diterima bila dalam diri kita masih banyak harta haram. Apalagi jika sel-sel dalam badan kita terkandung zat-zat yang haram, baik zat-nya atau cara mendapatkannya.
3. Mendisiplinkan diri dalam mengisi waktu, mengurangi aktifitas sia-sia bahkan yang menjurus pada dosa
Masih banyak lagi
Memang tidak salah apabila kemampuan kita baru sebatas doa, namun pertanyaannya kemudian, sudahkan kita sungguh2 dalam berdoa, atau sesungguhnya kita memang tidak pernah beroda???
bagi saudara-saudaraku di Palestina, maafkan makhluk lemah ini yang tidak bisa berbuat apa-apa,
bahkan memperingatkan teman2-nya agar sedikit lebih peduli pada kalian saja tidak bisa
Astaghfirullah
sungguh rugi kita apabila pelajaran mahal ini tidak kita jadikan momentum untuk introspeksi diri
Bantuan Anda untuk rakyat Gaza bisa disalurkan KISPA. No rek. KISPA BMI no.311.01856.22 an Nurdin QQ
Label:
bantuan,
doa,
gaza,
hartaharam,
introspeksi,
kispa,
palestina
Langganan:
Postingan (Atom)