Tampilkan postingan dengan label renungancinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungancinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2011

[Renungan Cinta] Labyrinth sang Minotaur

Derajat cinta sejajar dengan nyawa dan iman. Saling mengisi saling membentuk memberi arti bagi hidup dan kehidupan dunia. Ketika ketiganya bersinergi maka hasilnya adalah sebuah cahaya. Cahaya ilahiah.

Kata-kata di atas terdapat dalam cover belakang buku Dear Love, sebuah buku antologi tentang kisah-kisah cinta yang nyata terjadi dalam kehidupan.  Namun, terkadang cinta tak seindah apa yang digambarkan kata-kata tersebut.  Bukannya menjadi cahaya yang menerangi, malah menjadi kegelapan yang pekat atau labirin gelap yang mengerikan.  

Betapa banyaknya kita temui berita -berita tentang mudahnya orang membunuh dengan alasan cinta.  Baik membunuh dirinya sendiri, seperti di tulisan ini, atau orang lain,bahkan terkadang orang yang katanya dia cintai.  Mengapa cinta yang begitu indah dan agung malah berubah menjadi awan gelap yang membutakan mata hati sehingga tangan seakan mudah bergerak mencabut nyawa yang bukan haknya?

Cinta yang buta adalah cinta yang tidak bersinergi dengan keimanan dan penghargaan terhadap nyawa dan kehidupan.  Cinta seperti itu  tidak akan membawa pencintanya ke jalan cahaya yang lurus.  Cinta itu malah akan membawanya ke Labyrinth yang gelap dan tak berujung, yang dihuni monster Minotaur seperti dalam kisah mitologi Theseus .  Orang yang masuk, atau lebih tepatnya dimasukkan dengan paksa, ke dalam Labyrinth itu tidak akan bisa keluar karena kerumitan jalan-jalan yang ada di dlaamnya.  Saat dia sedang kebingungan dan ketakutan serta tak berdaya, saat itulah si monster datang menyerang dan memakannya hidup-hidup tanpa ampun.  

Monster bertubuh besar berkepala banteng itu menuntut pengorbanan para pemuda dan pemudi dari Athena setiap tahun.  Mynotaur itu sendiri adalah simbol dari kecerdasan EGO kita sendiri.  Dalam konsep Se7en Energy Intelligence , kecerdasan EGO adalah kecerdasan paling rendah, yang lebih rendah dari tingkat kecerdasan  binatang ternak sekalipun.     

Cinta adalah denyut nadi kehidupan, denting irama nada surgawi dan bukanlah monster pembunuh yang mengintai dalam labirin gelap.  Cinta adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan dan bukan kegelapan yang menyesatkan.  Cinta yang benar akan menghargai nyawa dan kehidupan serta tidak akan menghilangkannya dengan sia-sia.  Keimanan akan membawa cinta menuju Jalan Cahaya yang lurus dan penghargaan akan kehidupan membuat cinta menjadi pemelihara yang amanah.    
 

Semoga bermanfaat
 

Akan datang hari
Mulut di kunci kata tak ada lagi
Akan tiba masa
Tak ada suara dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab tiba
 
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Matahati kami

Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di Jalan Cahaya sempurna

Mohon karunia kepada kami
Hamba-Mu yang hina
 

Ketika Tangan dan Kaki Bicara

 

Chrisye, Lyric by Taufik Ismail

 

Selasa, 03 Mei 2011

[Renungan Cinta] Ada apa di balik patah hati

Seorang sahabat pernah mengingatkan bahwa "Hati seorang mukmin terlalu lembut untuk bisa patah".  Hati yang lembut itu karena mencintai Zat yang Abadi, yang tidak akan pernah mengecewakan para pencintaNya.  

Hati yang mengeras adalah bagaikan air yagn tercampuri banyak bahan-bahan kimia sehingga menjadi beracun dan tidak bisa diminum.  Hati itu bagaikan batu yang keras bagai tanah yang diaspal sehingga air hujan tidak bisa masuk ke dalamnya.  Hati bisa menjadi keras apabila dia dibalut berbagai pengalaman yang memiliki tingkat emosi tinggi. seperti dendam, kekecawaan, kemarahan dan sebagainya.  Semua itu berpangkal dari keinginan dan keinginan berawal dari pikiran kita sendiri.  

Menurut para ahli tafsir, jauh sebelum masa diutusnya Nabi Nuh kepada umatnya, hiduplah 5 orang shaleh yang sangat dihormati dan dicintai para pengikutnya.  Mereka bernama Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nashr.  Sesudah kelima orang shaleh itu meninggal dunia, para pengikutnya mendirikan patung untuk mengenang mereka.  Patung-patung tersebut, oleh generasi yang datang sesudah para pendirinya, mulai disembah perlahan-lahan.  Upaya Nabi Nuh untuk mengingatkan mereka agar kembali menyembah Allah SWT tidak diindahkan oleh mereka dan mereka saling mengingatkan agar tetap menyembah kelima berhala itu.  Hal ini dijelaskan dalam Al Quran Surat Nuh ayat 23: Dan mereka berkata, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr."(QS. Nuh: 23).  Jadi, dosa syirik itu dimulai dari kultus, baik individu, kelompok ataupun negara.  Ciri orang yang mengkultuskan sesuatu atau seseorang adalah timbulnya ghirah atau kemarahan apapbila sesuatu yang dikutuskan itu dikritik atau dicela. Demikian pembahasa tentang asal muasal dosa syirik yang pernah dibahas di pengajian Ar Rahman.  

Jatuh cinta adalah sejenis pengultusan terhadap orang yang dicintai.  Seseorang yang mencintai orang lain akan memperlakukan orang yang dicintai itu seakan-akan manusia setengah dewa.  Apa saja yang diminta oleh orang yang dicintai itu akan dipenuhi walaupun habis harta dan terkuras energi hingga tak tersisa.  Bahkan terkadang dia menghalalkan segala cara demi menyenangkan orang yang dicintainya tersebut. Yang pasti hilang dari orang yang patah hati adalah ketenangan.  Padahal ketenangan adalah fondasi kebahagiaan, kebahagiaan adalah fondasi dari kesuksesan dan kesuksesan adalah fondasi dari penampilan.  Unsur utama dalam membina ketenangan yang hakiki adalah keberkahan dan kesederhanaan.  Keberkahan bagaikan semen yang mengikat batu kali dan pasir dalam sebuah fondasi sebuah bangunan.  Sedangkan kesederhanaan adalah bagaikan batu kali dan pasir itu sendiri.  

Orang yang patah hati itu seharusnya mensyukuri nikmat tersebut.  Dia justru terhindar dari pengultusan sang kekasih sehingga mengalahkan penghambaanya pada Allah SWT, Rabb semesta alam yang menciptakan, mengatur dan memelihara segalanya, termasuk dirinya sendiri.   Orang yang patah hati itu justru berpeluang mendapatkan ketenangan sejati yang bersumber dari Kasih SayangNya yang tak terbatas.  Dia seharusnya mampu membangun kembali kehidupannya dari puing-puing hatinya yang hancur berantakan itu agar bisa bangkit kembali menatap masa depan yang indah, baik di dunia maupun akhirat.

Semoga bermanfaat

Referensi

Ebook "Jangan raih kesuksesan yang tidak sukses"

Ebook "Tragedi Impian"

Terapi Istighfar

http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1139257561

http://v4.e-arrahman.com/

Minggu, 17 Oktober 2010

Belajar Menulis di kala patah hati

"If I can say to somebody else, "I love you," I must be able to say, "I love in you everybody, I love through you the world, I love in you also myself."

Erich Fromm dalam The Art of Loving


Saya tertarik dengan masalah kemiskinan sudah sejak lama.  Waktu masih sekolah, saya mengenal dan berteman dengan anak-anak orang kaya dan anak-anak orang miskin. Saat pulang sekolah, seorang teman sering mengajak saya pulang melewati kawasan kumuh di belakang sekolah.  Saya mendapatkan pengalaman dan kesempatan melihat langsung keadan orang-orang yang miskin di sana.  Sehingga, setelah mengenal Internet saya pun berpartipasi dalam berbagai kegiatan sosial.  Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan beberapa komunitas berbasis pengguna internet, baik para bloggers ataupun para pengguna jejaring sosial, seperti Multiply Indonesia, Relawan Pelangi, Komunitas Lebah dan Yayasan Sahabat Peduli Generasi Mandiri.  Dalam perjalanan tersebut, saya pun berkenalan dengan orang-orang dengan berbagai latar belakang namun sama-sama menyukai kegiatan sosial.

Sebagaimana manusia pada umumnya ketertarikan antar lawan jenis bisa saja terjadi. Bukankah ada syair lagu "mulanya biasa saja ... akhirnya datang juga"? Namun, pertemuan saya dengan dia yang dicinta itu terjadi secara tiba-tiba. Saya sudah sangat tertarik pada orang itu saat pertama kali bertemu.  Namun,seperti sudah bisa diduga, hasil yang saya terima adalah penolakan. Semenjak kejadian itu, saya sempat down secara mental dan emosional.  Hari-hari saya diisi kemurungan hanya dengan persis seperti syair lagu "but like a fool I keep losing my place and I keep thinking something gonna change" dari lagu Sometimes Love ain't enough-nya Patty Smith.  Hanya harapan kosong akan perubahan yang tak kunjung datang. Saya pun saat itu berada di persimpangan jalan antara yang benar dan yang salah, antara menerima kenyataan dan memberontak sampai berbuat nekad.


Namun, entah kenapa semenjak saat itu saya malah termotivasi untuk belajar menulis lebih banyak tentang cinta.  Saya pun lebih intens mendalami ajaran-ajaran Erich Fromm.  Dalam ajaran-ajaran Fromm, saya temukan kombinasi yang menarik antara cinta antar pribadi dengan kondisi masyarakat.  Cinta, menurut Fromm, adalah suatu seni yang agung dan indah yang memberi kekuatan pada sang pencinta untuk berbuat yang terbaik bagi yang dicintai tanpa mengharapkan balasan.  Cinta bukan sekedar perasaan manja yang menuntut untuk terus menerus dipuaskan.  Kata-kata sang filsuf pun banyak saya kutip dalam tulisan-tulisan saya tentang cinta. Tentu saya yang saya ambil adalah yang sesuai dengan keyakinan saya sebagai seorang muslim.

 

Akhirnya, saya menyadari bahwa patah hati bisa jadi adalah anugerah tersembunyi yang diberikan olehNya.  Anugerah itu membuat hati kita yang telah mengeras dan membeku menjadi lembut dan peka pada tanda-tanda kekuasaanNya.  Musim dingin tersebut adalah kesempatan bagi kita "berhibernasi" dan berkontemplasi dengan relaks sebagai bekal menghadapi kehidupan yang akan datang.

 

Bukan tidak mungkin, orang yang menyebabkan kita patah hati sehingga menderita, nelangsa dan sebagainya adalah "utusan"-Nya yang bertugas memaksa kita kembali ke jalan yang benar, jalan yang Dia kehendaki.  setelah tugasnya selesai, biarlah sang "utusan" pergi meninggalkan kita, tidak perlu kita mengejarnya.  Kita tinggal meneruskan perjalanan di jalan yang Dia kehendaki, di mana kebahagiaan yang dijanjikan untuk kita menanti jika kita sabar meniti jalan lurus tersebut.  Diantara kepingan-kepingan hati yang berserakan itulah saya temukan butir-butir mutiara pencerahan yang membuat saya mampu menuangkan apa yang saya pikirankan dan rasakan dalam bentuk tulisan.

 

Selain pengalaman yang saya alami di atas, berbagai kiat menulis pun saya temukan di internet.  Salah satu layanan pelatihan menulis yang saya ikuti adalah  Newsletter Gratis Pintar Menulis dalam 9 Minggu.  Di sana saya temukan Kiat menulis bebas, yaitu mencurahkan apa yang ada di hati dan kepala terlebih dahulu dan mengedit hasilnya belakangan.  Belajar menulis memang perlu proses, tetapi bisa dijalani oleh siapapun yang berminat mempelajarinya.  Motivasi untuk menulis saya semakin terpacu saat membaca buku Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat yang ditulis sahabat saya,  Pak Jonru. Namun, karena keterbatasan keuangan, saya belum bisa mengikuti kelas-kelas yang berbayar di  Sekolah-Menulis Online.  Walaupun demikian, yang saya peroleh dari  SMO Kelas Free Trial sudah sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan saya menulis.

 

Saya pun semakin yakin bahwa dengan mengambil jalur pengabdian di bidang sosial dan kerelawan, pilihan saya tidaklah salah. Melalui pengabdian pada sesama, cinta itu pun akan mewujud dengan sendirinya.  Erich Fromm mengatakan "Jika aku berkata aku mencintaimu, maka sesungguhnya aku mencintaimu dalam diri semua manusia, dalam diri semua yang hidup dan dalam diriku sendiri".  Bahwa sesungguhnya kekasihmu berada dalam diri setiap manusia dan engkau akan selalu bisa berbuat baik dan memberi kepada kekasihmu melalui diri setiap orang.  Kekasihmu mungkin tidak mengetahui kebaikan-kebaikanmu dengan sesama manusia, mungkin dia tidak akan pernah tahu.  Namun, pancaran energi kebaikan itu cepat atau lambat akan mencapainya, mengetuk lembut pintu hatinya dan bukan tidak mungkin keajaiban demi keajaiban akan terjadi.  Keajaiban yang tidak dapat dijelaskan dengan logika atau kata-kata.  Begitu banyak orang-orang yang menderita di negeri ini sehingga kita tidak akan pernah kekurangan kesempatan berbuat kebaikan.

 

Belajar menulis memang semata-mata melibatkan unsur intelektualitas.  Bahkan Pak Hernowo pernah menulis buku yang berjudul Menulis dengan Emosi. Judul itu membuktikan bahwa emosi adalah unsur yang sangat ampuh dalam menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan.  Emosi adalah kekuatan terpendam dalam diri manusia yang bisa digunakan untuk hal-hal yang membangun atau merusak. Dalam adegan film Enter The Dragon, Bruce Lee menasihati seorang untuk menggunakan Emotional Content dan bukan kemarahan dalam berlatih.

 

Saya sendiri berharap para pembaca tulisan ini tidak sedang patah hati, namun jika ada yang mengalami maka akan lebih baik menggunakan momen tersebut untuk belajar menulis dan lihat saja hasilnya ..... Insya Allah.

 

Semoga bermanfaat

 

Tulisan ini diikutsertakan pada Program Beasiswa SMO 2010 

Minggu, 02 Mei 2010

[Renungan Cinta] Transendensi kreatif dalam cinta

    Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
    dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
    Kucoba tuang ke dalam kanvas
    dengan garis dan warna-warni yang aku rindui

    Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
    Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
    Cintamu telah membakar jiwaku
    Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku

    Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
    Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
    Di menara langit halilintar bersabung
    Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
    Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
    Entah yang kuterima aku tak peduli,
    aku tak peduli, aku tak peduli

    Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
    dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
    Tinggal bagaimana kita menghayati
    di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
    dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka


Sahabat,

pernahkah engkau terluka oleh cinta
terluka oleh sesuatu yang lebih indah daripada terbitnya mentari pagi
namun lebih mengerikan dari letusan gunung berapi

Cinta, dia memang unik, memang aneh
lebih halus dan lembut daripada sutera
namun lebih kuat dan lebih keras daripada baja

Rasa cinta adalah energi yang dahsyat.  Kehampaan jiwa adalah suatu yang tidak bisa dihindari saat tiada bersama dengan yang dicintai.  Cinta bagaikan pemantik api yang menyalakan bahan bakar kreatifitas.  Ratusan ribu bahkan jutaan judul lagu dan bait puisi tercipta karena cinta.  Buku-buku sarat makna terlahir dari tangan para penulis yang jiwanya terbakar api cinta. Namun, entah berapa banyak pula perang dan konflik tercipta karena cinta.  Baik cinta antar anak manusia ataupun cinta pada negara dan bangsa.  

Sesungguhnya, rasa sakit karena luka itu adalah pertanda akan kebutuhanmu akan transendensi.  Transendensi berarti melampaui status makhluk ciptaan yang pasif dan secara kreatif mengatasi permasalahan yang dihadapi, termasuk kegagalan cinta tersebut.  (Erich Fromm, The Sane Society, 1955 page 41) Rasa sakit itu akan tetap menyiksa sampai kebutuhan itu terpenuhi, sebagaimana rasa lapar dipenuhi dengan makan dan rasa haus dihilangkan dengan minum.  Bisa dibilang, kreatifitas adalah syarat mutlak dari kemampuan seseorang untuk transendensi.

Kreatifitas berasal dari akar kata yang sama dengan kata "to create" atau menciptakan.  Kreatifitas adalah suatu kekuatan yang berbahan bakar emosi yang ditampung dalam tangki bahan bakar bernama kesabaran.  Kreatifitas tanpa kesabaran bagaikan minyak atau bensin yang terhamburkan, siap meledak setiap saat.  Bukanlah ciptaan bermanfaat yang dihasilkan namun malah kerusakan dan kehancuran yang terjadi.  Sementara kreatifitas tanpa emosi bagai mesin dengan tangki bahan bakar yang kosong melompong, tidak ada daya untuk menghasilkan apapun jua.  Dalam film Enter The Dragon, Bruce Lee menasihati seorang muridnya saat latihan.  "I said Emotional Content, not Anger" kata sang Master.  

Kreatifitas berarti juga keberanian untuk meninggalkan zona nyaman kita.  Untuk menjadi kreatif, mau tidak mau kita harus melakukan petualangan menuju wilayah yang sama sekali tidak kita ketahui.  Wilayah yang dipenuhi ketidak pastian dan tantangan bahkan marabahaya.  Seperti mendaki menara langit dalam badai halilintar yang menggelegar atau mengarungi samudra luas yang seakan tak bertepi.  

Ebiet G. Ade dalam lagunya "Apakah ada bedanya" menggambarkan pendakian menuju transendensi itu sebagai "Menara Langit".  Ketika sang pencinta meningkatkan level eksistensi dirinya, dari eksistensi materi, eksistensi energi hingga eksistensi jiwa.  Pendakian itu bagai menaiki menara yang menjulang tinggi ke langit, di tengah badai yang dahsyat dan petir yang sambar menyambar.  Pada bait-bait awal lagu, sang pencinta masih pada level eksistensi materi, hanya tertarik pada kondisi fisik yang dia cintai.  Walaupun kreatifitas sudah mulai tercipta, salah satunya dengan menuangkan apa yang dia rasakan ke dalam kanvas, ego sang pencinta terlihat masih dominan.  Dia masih dikuasai kebingungan dan kesedihan saat tiada bersama kekasihnya. 

Pada akhirnya, sang pencinta mengambil keputusan untuk mendaki menara langit transendensi dirinya, berbekal kreatifitas, emosi dan kesabaran.  Perlahan namun pasti dia mulai merasakan dirinya tiada terpisahkan secara energi dengan orang lain dan bahkan alam semesta.  Pada akhirnya dia merasakan tiada lagi perbedaan antara pertemuan dan perpisahan, sama sama nikmat.  Sama-sama menenteramkan jiwa sang pencinta yang sudah mengalami transendensi secara kreatif.   

Semoga bermanfaat

Rabu, 24 Februari 2010

[Renungan Cinta] Cinta Lelaki Sejati

Cinta lelaki sejati
bukan hanya menemukan masalah menemukan objek yang dicintai
bukan sekedar hasrat menggebu saat bertemu pertama kali
bukan pula sebuah obsesi yang membuatnya buta mata buta hati
bukan pula yang membuatnya tergila-gila hingga lupa diri

Cinta lelaki sejati
adalah suatu jenis seni
yang hanya dapat dilakukan karena dipahami
oleh seorang pencinta sejati
yang benar-benar memahami SENI MENCINTAI

Cinta lelaki sejati
bukanlah perasaan lemah yang menuntut kepuasan dan dipahami
namun lebih merupakan kekuatan sejati
yang siap menerima dan memahami
serta lebih banyak berkorban dan memberi

Cinta lelaki sejati
adalah cinta yang memberi karena peduli
adalah cinta yang peduli karena rasa tanggung jawab pada yang dicintai
tanggung jawab yang diimbangi penghormatan
dan penghormatan yang timbul karena dalamnya pengetahuan

Cinta Lelaki sejati
bagai butir intan permata
diantara arang dan batu bara
walau terbuat buat dari bahan yang sama
namun sangat berbeda cara mengolahnya

Cinta lelaki sejati
adalah benteng kukuh dan rumah yang nyaman untuk ditinggali
untuk ksejehtraaan orang yang dicintai
bukan pasir penghisap yang menelan yang dicintai
dalam lautan obsesi gila tak bertepi

Cinta lelaki sejati
adalah cinta yang menyatukannya dengan yang dicintai
dengan tetap menunjung tinggi integeritas pribadi
bukan cinta yang membuatnya terasing dari yang dicintai
dari sesama manusia, dari kehidupan dan dirinya sendiri

Cinta lelaki sejati
bagai bahtera Nabi Nuh penyelamat dalam banjir
bukanlah rakit rapuh penuh kebocoran
yang tidak mungkin selamat sampai ke pantai tujuan

Cinta lelaki sejati
adalah cinta yang membuat sang pencinta berkata
setengah bersumpah

aku mencintaimu dalam diri semua manusia
aku mencintaimu dalam diri semua yang hidup
dan aku mencintaimu dalam diriku sendiri


(If I can say to somebody else, "I love you," I must be able to say, "I love in you everybody, I love through you the world, I love in you also myself.")
Erich Fromm, The Art of Loving

Cinta lelaki sejati
adalah cinta yang membuatnya
mencintai Rabb-nya sepenuh hati
memberkahi sesama manusia tanpa pamrih
serta terus meningkatkan kualitas diri

Inspired by:

The Art of Loving - Erich Fromm

SEFT - Ahmad Faiz Zainuddin

Notes yang ini

Ringkasan The Art of Loving

[Renungan Cinta] Menulislah dengan cinta

menulislah dengan cinta
tulislah apa yang kau rasakan
jangan perdulikan segala kekakuan aturan
jangan takut berbuat kesalahan

menulislah dengan cinta
cinta yang kau rasakan
cinta yang kau inginkan
cinta yang engkau cita-citakan

menulislah dengan cinta
biarkan media yang rindu
curahan dari hatimu
terpuaskan bagai tersiram air danau biru

menulislah dengan cinta
biarkan cinta memenuhi kertas tulismu
biarkan jari jemarimu menari beradu
mengekspresikan dalamnya perasaanmu

menulislah dengan cinta
biarkan para pembaca tulisanmu
merasakan lepasnya dahaga yang mengharu biru
kehidupan yang penuh deru dan debu

menulislah dengan cinta
biarkan cinta menghangatkanmu
mencairkan kebekuan hatimu
yang lama sudah keras membatu

menulislah dengan cinta
biarkan energi cinta yang tersimpan di hatimu
memancar dan menghangatkan pembaca tulisanmu
sehingga memberi mereka kehidupan baru

Semoga bermanfaat, Jakarta 24 Februari 2010

Selasa, 08 Desember 2009

[Renungan Cinta] Kepada Kekasihku

kepada kekasihku,

kepada kekasihku,
yang saat ini jauh dari diriku
apalagi hatiku
kupersembahkan kata-kata ini
kata-kata sederhana
yang mungkin tiada cukup menggambarkan apa itu cinta
dan segala keindahannya

kekasihku,

sungguh aku terpesona saat pertama melihatmu
namamu langsung terukir di hatiku
tanpa bisa aku hapuskan
walau telah kucoba
dengan berbagai cara yang ku tahu dan ku bisa

kekasihku,

sungguh aku adalah manusia
yang tiada pantas mendampingimu
atau untuk sekedar mengagumimu
terlalu banyak kekurangan dan kelemahan
yang ada pada diriku

Kekasihku,

entah apa kau rasakan
apa yang aku rasakan saat ini
betapa aku sangat merindukanmu
atau sekedar sekilas melihat senyummu
agar dapat terpuaskan dahaga
yang bagaikan terik mentari
yang membakar padang pasir tandus nan membara

Kekasihku,

apakah harapan ini akan menjadi kenyataan
atau hanya impian di atas impian

aku tak tahu, mungkin ku tak kan pernah tahu
sampai kapanpun

Selasa, 29 September 2009

[Renungan Cinta] Blog Perenungan Cinta

http://perenungancinta.blogspot.com/
Sekedar mengumpulkan tulisan serial Renungan Cinta, yaitu apa yang saya tahu dan bisa renungkan tentang cinta

Semoga bisa menjadi Taman Virtual yang menyejukkan dan menyegarkan bagi siapapun yang sedang jatuh cinta atau kecewa karena cinta

Selamat berkunjung, Semoga bermanfaat

Senin, 28 September 2009

[Renungan Cinta] Vibrasi Cinta dari dalam diri



Saat engkau hanya bisa melihatnya dari kejauhan
tanpa ada keberanian untuk mendekat
seakan-akan tembok energi yang tebal tak terlihat ...
menghalangimu ke sana

engkau melihatnya begitu akrab dengan yang lain
namun dengan dirimu sendiri entah berapa ratus juta tahun cahaya
bahkan engkau merasa seakan-akan dianggap tidak ada
......... sama sekali tidak ada

Jauh dalam hatimu, engkau merasakan badai datang tiba-tiba
membutakan pandanganmu dan menguasai jiwamu
menusuk dan membekukan jiwamu ....... yang menggigil kedinginan

engkau merasa tak berdaya ...... sangat tak berdaya
Sesak terasa nafasmu, bagai ada beban berat menghimpitmu
........... beban yang amat sangat berat

......... Bagai terjebak dalam badai  yang kejam dan dahsyat .....

.... atau tenggelam dalam lautan luas tak bertepi, ........

. ....... tidakkah itu merupakan suatu siksaan yang sangat pedih?


Sahabat,

jika itu yang engkau rasakan, maka tanyakan dirimu
getaran atau vibrasi apakah yang sesungguhnya engkau pancarkan kepadanya?
Apakah getaran egoistik yang hanya mementingkan diri sendiri, yang sangat-sangat menginginkan dirinya?
atau getaran kasih sayang yang menentramkan dan menyejukkan jiwa orang lain, terutama orang yang kau cintai

Sahabat,

Bahasa cinta adalah bahasa hati
bahasa hati adalah bahasa emosi
bahasa emosi adalah energi
bahasa energi adalah getaran atau vibrasi
yang kita pancarkan terus menerus tanpa sadar


Sungguh, getaran kasih sayang hanya akan timbul dari hati yang dimiliki oleh jiwa yang tenang tentram.  hati yang jiwa pemiliknya bergantung hanya pada Allah SWT sehingga memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi.  

Jiwa yang bagaikan pegunungan yang tinggi, yang mata airnya menghasilkan air yang menyegarkan siapapun yang meminumnya, serta irama gemericiknya menentramkan jiwa siapapun yang mendengarnya

Jiwa yang tetap menjadi berkah bagi sesama manusia, apapun yang terjadi  
 
Sahabat,
 
sepertinya waktunya kita semua mengevaluasi kembali, jiwa dan hati yang bagaimana yang kita miliki.  Apakah jiwa yang tenang dan tentram, jiwa yang penuh kasih sayang dan terus-menerus memberkati sesama serta terus menerus memperbaiki diri sehingga keberkahan yang dia beri meningkat terus kualitasnya? Ataukah jiwa yang penuh kegelisahan, terus menerus mengutuk sesama manusia dan membiarkan diri semakin menurun kualitasnya dari hari ke hari.  Erich Fromm menyebut kehidupan yang kosong dari makna itu sebagai "The Unlived Life" atau kehidupan yang tidak dijalani dengan sepenuh kehidupan alias mati sebelum mati. 

Hati dari jiwa yang mati bagaikan gunung berapi itu hanya akan menghasilkan vibrasi yang mengerikan bagaikan lahar yang melahap habis semua yang bisa dicapainya.

Erich fromm mengingatkan kita bahwa "Destructiveness is the outcome of unlived life" atau kecenderungan untuk menghancurkan adalah hasil dari kehidupan kosong tanpa makna yang tidak dijalani sepenuhnya. 

Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berdoa kepada Allah:

Allahumma ashlih lii diini alladzi huwa 'ishmatu amri, wa ashlih lii dunyaaya allati fiihaa ma'aasyi, wa ashlih lii aakhirati allati fiihaa ma'aadi, waj'alail hayaata ziyaadatan lii fii kulli khair, waj'alil mauta raahatan lii min kulli syarr

("Ya Allah, baikkanlah agamaku, karena itulah penjaga urusan (kehidupan)ku. Dan baikkanlah (urusan) duniaku, karena di dalamnya aku hidup. Dan baikkanlah (kehidupan) akhiratku, karena itulah tempat kembaliku (setelah mati). Dan jadikanlah sisa hidupku semakin menambah segala kebaikan. Dan jadikanlah kematianku sebagai waktu istirahatku dari (melakukan atau merasakan) segala keburukan")

(HR. Muslim, dinukil dari Ad Du'a minal Kitab wa Sunnah hal. 32)

Sebuah nasihat untuk diri sendiri, semoga bermanfaat bagi siapapun yang membaca  

Sabtu, 22 Agustus 2009

[Renungan Cinta] Memaafkan dengan Cinta



Sahabat,
Jika kita hanya ingin bersahabat dengan orang-orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, niscaya kita tidak akan pernah menemukan seorang sahabatpun.

Sungguh, sahabat-sahabat kita adalah manusia biasa. Mereka juga berproses menjadi untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari, sama seperti kita. Bisa jadi, dalam perjalanan hidup ini, mereka mengecewakan kita. Mereka mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Mereka adalah manusia-manusia yang juga terbuat dari tanah lempung sama dengan kita. Sungguh, manusia bukanlah malaikat-malaikat bersayap nan suci dan bersih dari segala kesalahan.

Bukankah para Nabi juga pernah melakukan kesalahan? Nabi Adam melanggar larangan Allah SWT untuk mendekati, apalagi menyentuh dan memakan, buah Khuldi. Nabi Adam lalu bertaubat mengakui kesalahannya, seraya mengakui dengan tulus bahwa dia telah berbuat zalim. Nabi Yunus meninggalkan tanggung jawab beliau berdakwah di Kota Ninive sehingga beliau dihukum dengan cara ditelan paus raksasa.

Sahabat,
Mungkin diantara kita ada yang bertanya, betapa enaknya mereka yang sudah melakukan kesalahan dimaafkan begitu saja. Sepintas memang begitu, namun sesungguhnya memaafkan itu adalah demi kebaikan diri kita sendiri.

Setidaknya ada 3 alasan memaafkan:

1. Ke-ikhsan-an Allah SWT:

kita ingin agar Allah SWT berbuat ikhsan pada kita, bukan sekedar adil. Ikhsan dalam bahasa Arab adalah kebaikan yang paling tinggi, yaitu berbuat baik kepada orang-orang yang sesungguhnya tidak pantas kita beri kebaikan, seperti orang yang zalim pada kita.

Jika keadilanNya ditegakkan, habislah kita semua masuk ke dalam Neraka, tidak ada diantara kita yang bakal bisa masuk surga. Bukan tidak mungkin, adanya orang-orang yang zalim pada kita itulah peluang kita berbuat baik bahkan pada mereka, agar Allah SWT berkenan memberi kepada kita balasan yang lebih baik daripada yang pantas kita dapat dengan amal sholeh kita selama ini.

2.Ketidaksempurnaan kita sendiri:

kita juga seringkali melakukan dosa dan kesalahan, kita perlu pengampunan. Jiwa manusia berkembang dari kanak-kanak menuju kedewasaan. dalam perjalanan itu, banyak kesalahan yang kita lakukan baik karena kelemahan manusiawi kita atau kurangnya kedewasaan karakter yang kita miliki. Steven Covey mendefinisikan kematangan sebagai keseimbangan antara keberanian dan tenggang rasa.

3. Demi kebaikan diri kita sendiri:

Bryan Tracy dalam buku Change your thinking change your life mengatakan bahwa suatu penjara memerlukan 2 macam orang, penghuni dan penjaga penjara. Apabila seseorang tidak memaafkan orang lain yang bersalah padanya, dia bagaikan penjaga penjara yang terpaksa menjaga tahanan yang seharusnya dia lepaskan sejak dulu. Sungguh sangat disayangkan, hidup yang hanya sekali dan sebentar ini disia-siakan hanya untuk hal seperti itu.

Tentu saja masih banyak alasan untuk tetap memaafkan mereka yang bersalah pada kita, namun ketiga alasan di atas cukup kiranya memotivasi kita untuk belajar memaafkan orang lain.

Sahabat,
Ujian persahabatan adalah menerima sahabat tersebut apa adanya, tidak menuntutnya untuk berubah. Inilah yang oleh Erich Fromm dalam The Art of Loving disebut sebagai Respect atau penghormatan, salah satu unsur terpenting dalam seni Mencintai. Meminta maaf dan memaafkan adalah bagian penting dari respect atau penghormatan tersebut.

Sahabat-sahabat kita bukanlah orang-orang yang sempurna, kita ada di dunia ini untuk menyayangi dan memberkahi mereka dengan cinta yang sempurna, cinta yang lebih banyak memberi dan memahami, cinta yang tidak menuntut balasan apa-apa. Cinta seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mampu berada dalam Modus Menjadi atau Being Mode, yaitu mereka yang mengidentifikasi diri dari apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka miliki. Mode ini bertentangan dengan Having Mode, yaitu orang-orang yang mengidentifikasi diri dengan apa-apa yang mereka miliki. Lagipula, bagi kita orang-orang beragama, sudah jelas dalam keyakinan kita bahwa segala seuatu adalah milik Allah SWT, kita sesungguhnya tidak punya apa-apa dan tidak pernah pula memiliki apapun juga. Kita hanya diberi amanah, tidak lebih dari itu.

Memang, ada kalanya orang yang kita mintakan maaf itu tidak mau memaafkan kita. Tentu saja kita tidak harus memohon sampai menyembah-menyembah dan mengeluarkan air mata darah. Namun, secara diam-diam kita dapat terus menerus meningkatkan kemuliaan karakter dan tingkat kompetensi kita. Kita tetap belajar dari kesalahan-kesalahan kita.

walaupun ada yang enggan memaafkan kita, namun dia juga berhak mendapatkan keberkahan dari keberadaan kita. Walaupun mungkin dia tidak mengetahuinya, walaupun dia tidak peduli pada kita.


Aku tahu aku yang bersalah
aku tahu engkau belum mau memaafkanku
namun aku tetap mengambil pelajaran dari semua ini
sungguh, jasamu sangat besar dalam perkembangan diriku
Engkau adalah orang yang diutus untuk memperbaiki diriku
Aku berjanji jika suatu saat kita bertemu lagi,
aku sudah menjadi orang yang lebih baik daripada diriku sekarang ini

Terima kasih, engkau tetap sahabatku



"Allah SWT will never answer any prayer started with "why ........." but He will answer any prayer started with "How .........." and He will answer them, not through words, but miracles"

semoga bermanfaat,

Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49

Minggu, 16 Agustus 2009

[Renungan Cinta] Seni Mencintai dan eksisntensi diri

Mudahnya bilang cinta,
hanya karena suka  
tak terasa terlena,
banyak hati kecewa
mungkin kau perlu waktu
tanyakanlah hatimu
bila terasa hampa
saat tiada berjumpa
pastilah itu cinta

Rafika duri

Alkisah, seorang pemuda menemui seorang ustadz yang dikenal cukup bijak dalam memutuskan perkara dan berkata "Pak ustadz, saya sudah tidak lagi mencintai istri saya.  Rasa cinta itu sudah tidak ada lagi"

sang Ustadz berkata "Cintailah istrimu"

sang pemuda berkata lagi "Pak Ustadz, rasa cinta itu sudah tidak ada"

sang ustadz berkata lagi "Cintailah istrimu"

sang pemuda berkata lagi, mulai kehilangan kesabaran "Pak Ustadz, rasa cinta itu sudah tidak ada"

Sang ustadz lantas berkata "Tidak masalah apakah rasa cinta itu masih ada atau tidak, cintailah istrimu.  Nak, sesungguhnya cinta itu hakikatnya memberi, bukan menerima.  dengan mencintai, maka rasa cinta itu cepat atau lambat akan tumbuh kembali. Jangan hanya menjadikan cinta itu hanya sebagai perasaan yang menuntut untuk dipuaskan tetapi jadikanlah cinta itu sebagai kekuatan untuk memberi dan memahami"

Sang pemuda pun menganggukkan kepala, mengerti apa yang dikatakan sang ustadz

Sahabat,

Sungguh, di dunia ini tidak ada kata terindah sekaligus paling menyakitkan selain cinta.  Namun pernahkah kita berintrospeksi cinta macam apakah yang kita punya?

Sebelum membahas tentang cinta itu sendiri, kita perlu mengetahui bahwa ada tiga tingkatan eksistensi diri manusia, yaitu materi, energi dan jiwa.  

1. pada eksistensi diri tingkat materi, manusia terus menerus mencari sensasi kenikmatan sesaat.  dia merasa terpisah dari lingkungannya dan orang lain.  terkdang terjadilah lingkaran setan yang menjebak manusia sehingga sulit meningkat dari eksistensi materi.  sensasi yang dia rasakan tidak memuaskan dia dan menyebabkannya mencari sensasi baru yang lebih dahsyat lagi.  Sensasi itu bisa berupa sensasi fisik seperti makanan atau minuman, atau psikologis seperti pujian atau perhatian orang lain dsb.  Orang yang masih dalam eksistensi materi seringkali merasa bosan dengan sensasi yang sudah ada dan ingin lebih lagi dan lagi.  Manusia tingkat materi cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan apa saja yang dia miliki.  dalam istilah Mas Jamil, orang-orang ini memiliki mentalitas To Have.  

2. pada eksistensi diri tingkat energi, manusia mulai meningkat kepekaannya dan merasakan kesatuan dan keterpautan dengan semesta dan sesamanya.  bahwa dia adalah bagian tak terpisahkan dari lautan energi yang meliputi alam semesta ini.  jeritan sesamanya yang terbenam dalam penderitaan mulai dia rasakan seakan-akan dia sendirilah yang mengalami penderitaan itu.  Sebaliknya, apabila ada sesamanya yang mengalami kegembiraan, dia turut bergembira seakan-akan dia sendirilah yang mengalami kegembiraan itu.  

3. pada eksistensi diri tingkat jiwa, manusia mulai merasakan benar kekuasaan Allah SWT.  Pada tahap eksistensi inilah manusia dapat dengan efektif membangun karakternya.  Dia percaya bahwa dengan bantuanNya, dia akan lebih kuat daripada apapun juga di dunia ini.  Namun, dalam menggapai impiannya, dia tidak egois dan hanya memikirkan diri sendiri. dia memastikan bahwa impiannya itu akan membawa manfaat bagi sebanyak mungkin manusia dan makhluk yang lain di dunia ini.  Pada saat inilah seseorang biasanya mendapat atau merasakan panggilan jiwanya, mencari makna hidup sesungguhnya kata Victor Frankl. Misi hidup menurut Steven Covey dan Proposal Hidup menurut Bapak Jamil Azzaini.  Mereka memiliki mentalitas yang berbeda dengan orang-orang yang ada di tingkat materi yaitu mentalitas To Be atau mentalitas menjadi.  Mereka secara proaktif mampu menulis ulang naskah kehidupan mereka agar sesuai dengan prinsip-prinsip kehidupan. Mereka mampu untuk menjadi lebih pengertian, lebih tekun, lebih sabar, lebih bersyukur dan sebagainya.   

Maka,

Jika seseorang mencintai pasangannya karena keelokan parasnya, maka sesungguhnya orang itu masih berada di tingkat eksistensi materi.  Hawa nafsu masih mendominasi orang yang cintanya seperti ini.  Sesungguhnya yang dia cari hanyalah sensasi, kenikmatan sesaat.  Baik sensasi yang bersifat fisik atau psikologis.

Jika seseorang mencintai pasangannya selama tingkat energinya kondusif, yaitu saat orang itu merasa nyaman saat mengajak pasangannya berinteraksi, maka sesungguhnya dia berada di tingkat eksistensi energi

Jika seseorang mencintai pasangannya tanpa syarat, hanya ingin memberkahinya sebagai seseorang yang dititipkan oleh Allah SWT kepadanya maka sesungguhnya dia telah berada di tingkat eksistensi jiwa.  Dia telah memiliki karakter yang agung yaitu karakter yang terbentuk karena kebiasaan-kebiasaan baik yang selaras dengan syariat dan sunnatullah atau hukum-hukum alam.

Cinta pada eksistensi jiwa inilah yang mendorong seseorang mencintai yang dia cintai tanpa syarat, walaupun parasnya biasa saja atau tingkat energinya sedang kurang kondusif.  Cinta yang lebih banyak mendengarkan, memahami, menghargai dan memberi.  Cinta yang menghasilkan tabungan emosi positif yang jumlahnya tak terkira.  

Sahabat,

ketika kita menikmati kopi instant, tentunya yang kita nikmati dan kita sukai adalah isinya.  Diseduh air panas dan diminum  perlahan-lahan, hmmmmmmmm nikmaat.  bungkus aluminium foil-nya tentu saja kita buang, bukankah jarang sekali ada orang yang suka mengoleksi bungkus kopi  

namun, apakah kita mencintai orang yang kita cintai dengan cara yang sama? kita hanya menyukai aspek-aspek tertentu darinya, apakah fisik atau parasnya saja atau tingkat energinya semata.  Tentu saja tidak, jika ya, maka kita sesungguhnya tidak mencintai orang tersebut tetapi hanya sekedar menyukainya.  Itu pun tidak 100 persen, tetapi hanya sebagian saja yang sesuai dengan selera kita.  

Manusia adalah makhluk mulia yang harus dihargai secara keseluruhan.  Manusia memang terdiri dari berbagai unsur seperti materi/fisik, energi dan jiwa.  Namun, keseluruhan unsur-unsur itu membentuk satu kesatuan utuh yang disebut manusia.  Hal ini  tent tidak menafikan adanya kekurangan dalam diri manusia.  

Karena itulah, mencintai seorang manusia haruslah dengan integritas pribadi yang kukuh.  Cinta yang terpatrikan integritas di dalamnya akan menjadi benteng yang kukuh dan rumah yang nyaman bagi jiwa orang yang dicintai.  Cinta yang benar-benar bisa dipercaya, tidak akan memanipulasi atau berbohong.  

Erich Fromm mengatakan bahwa Cinta bukanlah sentimen yang dapat dinikmati oleh orang-orang tanpa pandang kedewasaan dan kematangan emosi.  Fromm menyebut cinta seperti ini sebagai cinta produktif.  Cinta yang oleh sang pencinta lebih difokuskan pada aktifitas, lebih memberi dan memahami secara proaktif.  Memberi di sini tidak selalu dimaknai dengan materi, namun lebih kepada hal-hal yang bersifat energi atau spiritual seperti perhatian, pertolongan, dan menyediakan diri untuk dijadikan sandaran saat diperlukan.  

Aktifitas dan pemberian itu didorong oleh adanya rasa kepedulian dari sang pencinta pada yang dicintainya.  Kepedulian yang menimbulkan rasa tanggung jawab atau responsibility.  Orang yang mencintai dengan cinta yang sejati tentu akan merespon dengan baik terhdap kebutuhan siapa saja yang dia cintai.

Namun, rasa tanggung jawab tersebut harus diimbangi dengan rasa hormat.  Rasa hormat di sini adalah mencintai dengan membiarkannya tetap menjadi dirinya.  Respon sang pencinta terhadap kebutuhan kekasihnya adalah respon yang tulus tanpa ada kepentingan terselubung di dalamnya.  Respon yang tidak terdistorsi oleh keinginan atau ketakutan sang pencinta.  "Aku mencintaimu sebagaimana engkau adanya, bukan sebagaimana yang aku inginkan", demikian kira-kira isi kepala dan hati mereka.  

Rasa hormat seperti di atas hanya bisa didapatkan apabila sang pencinta adalah orang yang merdeka, yang telah mencapai kemerdekaan sepenuhnya.  Private Victory dalam istilah Steven Covey.  

Rasa hormat itu sendiri hanya bisa didapatkan apabila sang pencinta memiliki ilmu pengetahuan yang memadai, baik tentang cinta itu sendiri ataupun orang yang dicintai.  Pengetahuan seperti ini, selain diperoleh dengan belajar melalui berbagai sarana seperti buku, internet dan sebagainya, juga bisa diperoleh dengna komunikasi yang jujur, efektif dan saling terbuka penuh kepercayaan.  Keterbukaan seperti itu tentu menimbulkan kerentanan, dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keimanan yang kukuh.  

Karena itulah Erich Fromm mengatakan bahwa cinta adalah aksi dari orang-orang yang memiliki keimanan yang kukuh dalam dirinya.   Orang-orang yang imannya lemah, maka Cintanya juga lemah.  

Love means to commit oneself without guarantee, to give oneself completely in the hope that our love will produce love in the loved person. Love is an act of faith, and whoever is of little faith is also of little love.
- Erich Fromm

Cinta seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mampu berada dalam Modus Menjadi atau Being Mode, yaitu mereka yang mengidentifikasi diri dari apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka miliki.    Mode ini bertentangan dengan Having Mode, yaitu orang-orang yang mengidentifikasi diri dengan apa-apa yang mereka miliki.  Lagipula, bagi kita orang-orang beragama, sudah jelas dalam keyakinan kita bahwa segala seuatu adalah milik Allah SWT, kita sesungguhnya tidak punya apa-apa dan tidak pernah pula memiliki apapun juga.  Kita hanya diberi amanah.  

Maka, jelaslah kini bagi kita bahwa yang namanya cinta tidaklah identik dengan sekedar suka.  Cinta adalah seni, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang terlatih di dalam melaksanakan seni tersebut.  

Sahabat,
Cinta bukanlah perkara remeh, mudah atau main-main.  Cinta adalah Seni Maha Agung yang tidak semua orang bisa melakukannya.  Orang harus belajar dan berlatih, bahkan kadang harus berjuang untuk mencintai dan mendapatkan cinta pada akhirnya.  

Namun demikian, tidak pernah ada kata terlambat dalam belajar Seni mencintai.  selama kita masih dianugerahi dan diamanahi kehidupan, maka saat itulah kita terus menerus belajar Seni mencintai, sehingga cinta yang indah itu akan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita.  

Cinta tanpa seni mencintai bagai kapal rapuh yang penuh kebocoran berlayar  di lautan, setiap saat bisa kandas atau tenggelam.  Cinta dengan seni mencintai bagai Bahtera Nabi Nuh yang tidak akan pernah tenggelam walaupun badai dahsyat menggulung lautan yang sedang dilayari.

Semoga bermanfaat 

Selasa, 14 Juli 2009

[Renungan Cinta] Hikmah Patah Hati



Ya Tuhanku yang Maha Pengasih
Engkau sahaja pemeliharaku
Dengarkan rintahan hambaMu ini
jangan Kau biarkan ku sendiri
Agar ku dapat bahagia walau tanpa bersamanya
gantikanlah yang hilang tumbuhkan yang telah patah
kuinginkan bahagia di dunia dan akhirat
padaMu Tuhan kumohon segala

InTeam, Doa Seorang kekasih

Sahabat,

Sungguh, di dunia ini tidak ada kata terindah selain cinta.  Namun, sudah tidak terhitung berapa banyak yang menderita karena kata tersebut.  Bahkan ada yang memilih sakit gigi daripada sakit hati karena putus cinta alias patah hati.  

Patah hati bisa jadi adalah anugerah tersembunyi yang diberikan olehNya agar hati kita yang telah mengeras dan membeku menjadi lembut dan peka pada tanda-tanda kekuasaanNya.  Musim dingin tersebut adalah kesempatan bagi kita "berhibernasi" dan berkontemplasi dengan relaks sebagai bekal menghadapi kehidupan yang akan datang.  

Bukan tidak mungkin, orang yang menyebabkan kita patah hati sehingga menderita, nelangsa dan sebagainya adalah "utusan"Nya yang bertugas memaksa kita kembali ke jalan yang benar, jalan yang Dia kehendaki.  setelah tugasnya selesai, biarlah sang "utusan" pergi meninggalkan kita, tidak perlu kita mengejarnya.  Kita tinggal meneruskan perjalanan di jalan yang Dia kehendaki, di mana kebahagiaan yang dijanjikan untuk kita menanti jika kita sabar meniti jalan lurus tersebut.  

Mungkin yang perlu diperbaiki adalah pemahaman kita tentang kesenangan dan ksedihan, yang bagaikan musim semi dan musim dingin.  Sehingga kita menerima datangnya musim dingin kesedihan di hati kita sebagaimana kita menerima kedatangan musim dingin di ladang pertanian kita.  Saat kita tidak bisa menanam apapun di ladang tersebut.

Jika suatu saat kita menemukan cinta yang lain, mudah-mudahan saat itu kita telah menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa.  Suatu pribadi yang lebih siap untuk mencintai dengan Cinta yang lebih banyak mendengarkan, memahami, menghargai dan memberi.  Cinta yang jauh lebih sabar dan penuh kasih sayang.  Cinta yang menghasilkan tabungan emosi positif yang jumlahnya tak terkira.   Cinta yang terpatrikan integritas di dalamnya, yang akan menjadi benteng yang kukuh dan rumah yang nyaman bagi jiwa orang yang dicintai.  Cinta yang benar-benar bisa dipercaya, tidak akan memanipulasi atau berbohong.  

Jikapun kita menuntut sesuatu dari yang kita cintai, yang kita tuntut tersebut bukanlah demi kepentingan atau kesenangan pribadi namun sesungguhnya untuk kebaikan yang dicintai juga.  Tuntutan yang lebih merupakan dorongan rasa tanggung jawab sebagai seorang pencinta yang menjaga kekasihnya dari segala mara bahaya.  Tuntutan yang tidak disertai paksaan, yang tetap dalam koridor penghormatan kepada yang dicintai.  

"The deeper that sorrow carves into your being, the more joy you can contain" demikian kata Kahlil Gibran.  Kepedihan yang kita alami sesungguhnya merupakan petunjuk akan datangnya bahagia.  

When God wants to give you His Wisdom and His Guidance and He finds the door of your heart locked, then He sends you an angel to break your heart so the wisdom and guidance can enter.  The problem is that you chase the angel and you forget and ignore the wisdom and guidance God has given.  

Sungguh, cinta adalah hal teragung yang ada di muka bumi ini dan hanya pantas untuk diberikan kepada Dia yang Kekal Abadi, yang tidak akan pernah mengecewakan para pencintaNya, disertai rasa takut dan harapan padaNya.  

Sebuah nasihat untuk diri sendiri yang sedang patah hati. 

Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membaca  

Inspired by: The Art of Loving, Erich Fromm dan The Prophet, Kahlil Gibran
 
Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49