Terik mentari seakan terpantulkan pada bongkahan batu-batu gamping yang berwarna putih itu. Para pekerja dengan perlengkapan seadanya terus bekerja menggali bongkahan-bongkahan tersebut. Mereka mengumpulkan batu-batu yang sudah dipecahkan dengan perkakas dan bahan peledak sederhana hasil racikan mereka sendiri. Sesudah diolah dengan cara dibakar, batu-batu itupun dibawa dengan truk-truk yang sudah sangat tua. Model bagian depan truk yang masih berhidung mancung itu seakan menyiratkan masa yang lampau.
Suasana di sana seakan-akan membawa kita ke dalam film-film fantasy masa lalu seperti film Conan the Barbarian dan sebagainya. Namun, yang ada di sana bukanlah para ksatria berotot kekar dengan pedang tajam, kuda-kuda yang berlari melintasi pegunungan berdebu, putri raja nan cantik, monster atau penyihir jahat. Melainkan para pekerja yang berjuang menghidupi diri dan keluarganya dengan upah yang hampir-hampir tidak bisa mengejar harga kebutuhan pokok. Para pekerja dengan perlengkapan seadanya terus bekerja menggali bongkahan-bongkahan tersebut. Mereka mengumpulkan batu-batu yang sudah dipecahkan dengan perkakas dan bahan peledak sederhana hasil racikan mereka sendiri. Sesudah diolah dengan cara dibakar, batu-batu itupun dibawa dengan truk-truk yang sudah sangat tua. Model bagian depan truk yang masih berhidung mancung itu seakan menyiratkan masa-masa yang lampau, saat truk-truk seperti itu merajai jalanan.
Belum lagi resiko kecelakaan, cacat tubuh atau bahkan kematian. Maklum, ledakan dari bahan peledak yang mereka gunakan untuk memecah batu gamping juga menghasilkan kepulan asap dan serpihan debu yang membahayakan kesehatan, terutama pernafasan dan mata. Para pekerja yang sudah membanting tulang memeras keringat seakan hanya mendapatkan upah sekadarnya. Mereka hanya dibayar beberapa belas sampai beberapa puluh ribu rupiah setiap hari. Pekerjaan penuh resiko itu mereka jalani tanpa jaminan kesehatan ataupun keselamatan yang seharusnya mereka dapatkan. Mereka juga tidak mengenakan perlengkapan keamanan dan keselamatan seperti helm, kacamata pelindung atau sepatu boot. Perlengkapan yang sebenarnya dibutuhkan untuk bekerja di daerah seperti itu. Tidak ada jaminan kesehatan dan keselamatan bagi mereka dalam bekerja. Korban di kalangan para pekerja itu sudah banyak pula yang berjatuhan, baik cacat, sakit ataupun meninggal dunia.
Padahal, batu-batu gamping hasil jerih payah mereka dinikmati oleh banyak orang, termasuk orang-orang kaya di berbagai kota di negeri ini. Batu kapur tak hanya dimanfaatkan untuk campuran bahan bangunan semata, juga dimanfaatkan untuk industri besi baja, bahan pembuat karbit, penetralisir limbah industri besi baja, bahan pembuat karbit, hingga untuk bahan dasar proses pemutihan gula. Pagar-pagar besi rumah orang-orang kaya, yang dibuat untuk melindungi diri dan harta benda dan menegaskan status sosial mereka, dilas dengan karbit yang dibuat dengan batu2 tersebut.
Tayangan dokumenter dari sebuah televisi swasta tentang para penambang batu gamping itu mengingatkan saya pada saat bekerja di Bandung beberapa waktu yang lalu. Pada saat bepergian dari Bandung ke Puncak lewat Cianjur dan sebaliknya, saya seringkali melewati daerah Padalarang. Salah satu tempat yang sering saya lewati adalah pertambangan batu gamping seperti dalam tulisan di atas. Namun, saat itu saya belum mengetahui kehidupan para penambang batu itu yang sesungguhnya.
Terkadang begitu mudah bagi kita untuk melupakan dan mengabaikan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita. Mereka telah bekerja keras membanting tulang untuk menyediakan bahan-bahan yang untuk membuat hidup kita lebih nyaman dan aman. KH Toto Tasmara, dalam salah satu ceramah beliau di sebuah radio swasta pernah mengatakan "Jika rumah yang kita tempati bocor atapnya dan air hujanpun merembes masuk, kepada siapa kita minta pertolongan. Apakah kepada pak Dokter yang biasa memeriksa apabila ada anggota keluarga sakit, apakah kepada pak Direktur Utama yang gajinya puluhan juta sebulan atau saudara kita yang kaya raya? Tentu saja tidak, kita tentu akan minta tolong pada tukang bangunan yang tinggal di kontrakan petak, yang biasa memperbaiki rumah kita dengan tangan trampilnya".
Maka sungguh kita dianggap dan dibilang orang kaya karena ada orang-orang miskin di sekitar kita. Lebih dari itu, hidup kita sebagai orang yang kaya menjadi lebih nyaman dengan keberadaan dan pertolongan mereka. Namun, jarang sekali kalau boleh dibilang hampir tidak pernah kita berterima kasih dengan tulus pada mereka dan berinteraksi lebih dalam, berusaha mengetahui dan memahami apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Jika jiwa kita masih memiliki kehidupan, yang menyebabkan jiwa itu peka pada penderitaan sesama, kita akan merasa berdosa apabila menghabiskan uang dan harta kita hanya untuk kesenangan pribadi. Walaupun semua itu kita peroleh dengan kerja keras yang halal, namun hakikatnya semua itu merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah SWT.
Semoga bermanfaat
Referensi:
Penambang Bukit Kapur : Bertaruh Nyawa Kejar Rupiah
Bertarung Nyawa di Bukit Kapur
Rabu, 19 Mei 2010
Rabu, 12 Mei 2010
Rabu, 05 Mei 2010
Sosial] Motor besar dengan konsekwensi besar
siapa yang tidak kenal merek motor itu? Walaupun di Indonesia relatif jarang, namun sempat membuat heboh karena motor jenis itu ada yang menjadi upeti dari seorang petugas kepada petugas lainnya.
Saya masih bisa mengingat betapa nge-fans-nya saya pada motor jenis itu. Setiap kali mau ke daerah Bogor lewat pasar Minggu, saya sudah pasang kuda-kuda di bis metro mini untuk melihat motor jenis itu di sebuah bengkel dalam perjalanan ke pasar minggu. Terkadang, motor itu saya gambar di whiteboard, walaupun tentu saja sebatas ilustrasi sketsa. Suatu keingian yang lebih merupakan dorongan eksternal dibandingkan dengan motivasi internal. Seiring perjalan waktu, keinginan saya untuk memiliki motor besar itu mulai memudar. Pergaulan dengan teman-teman relawan membuat mata hati saya terbuka akan penderitaan masyarakat di sekitar kehidupan saya.
Motor besar memang bisa jadi salah satu simbol kegagahan dan keperkasaan, terutama buat kaum Adam. Dalam iklan-iklan produk jeans, rokok dan sebagainya, bintang iklannya seringkali berpose atau mengendarai motor besar. Di film-film, motor seperti itu identik dengan kebebasan, bebas lepas menjelajahi benua Amerika nan luas melalui jalan-jalan yang panjang seakan tak berujung. Dengan tubuh kekar penuh tato, kacamata hitam dan tanpa helm serta aksesoris khas penggemar HD lainnya.
Mungkin masih terekam dalam ingatan kita serombongan motor besar yang mampir di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar. Mereka menguras BBM bersubsidi dan menyebabkan banyak pengguna kendaraan yang lain tidak kebagian. Sehingga banyak pihak yang menganggap hal itu sebagai perampokan BBM bersubsidi. Kalau mampu beli dan mengendarai motor besar, BBM-nya jangan yang bersubsidi dong, mungkin itu yang ada di benak banyak orang. Belum lagi berita yang masih cukup hangat betapa motor besar merek HD itu menjadi semacam upeti untuk oknum aparat penegak hukum dari orang yang menggelapkan uang pajak yang dibayar rakyat. Uang pajak yang dibayarkan dengan suka rela dari tetesan keringat, cucuran air mata dan darah dari rakyat yang bekerja keras dengan cara yang halal dan Insya Allah diridhoi oleh Allah SWT. Mereka membayar pajak dengan harapan uang itu akan berguna bagi para pembarayarnya. Namun, uang itu hanya berakhir menjadi gaya hidup mewah para aparat, termasuk motor besar boros bensin itu tadi.
Peradaban yang kalah memang cenderung menyerap simbol-simbol dari peradaban yang menang dan menguasainya. Dahulu, ketika peradaban Islam dominan di bumi Spanyol, banyak masyarakat non muslim yang meniru gaya hidup orang-orang Islam. Para perempuan non muslim banyak yang mengenakan busana yang menutup aurat seperti kerudung. Orang-orang Eropa yang terpengaruh budaya Islam juga ikut menjaga kebersihan, salah satunya dengan cara membersihkan diri dengan air dan sabun. Namun, saat Barat menguasai panggung kehidupan dunia, masyarakat dunia cenderung meniru dan menyamakan gaya hidup dan budaya mereka dengan peradaban Barat. Seberapapun mahal harga yang harus dibayar, termasuk korupsi dan penyelewangan amanah atau penggelapan harta. Tidak peduli betapa banyak saudara seagama, sebangsa setanah air atau sesama manusia yang akan menderita, terdzalimi dan kehilangan hak-haknya.
Sebagaimana yang pernah saya sampaikan pada siaran KaZI di Radio Islam Sabili beberapa waktu yang lalu, gaya hidup barat adalah gaya hidup yang sangat mahal. Gaya hidup yang harus dibayar dengan ketimpangan sosial yang akhirnya memperlebar jarak antara orang kaya dan orang miskin. Gaya hidup yang memanjakan segelintir orang-orang berduit namun menindas mereka yang lain. Salah satunya adalah dengan motor besar itu tadi. Revolusi Prancis adalah salah satu konsekwensi mengerikan yang harus dibayar atas ketimpangan sosial tersebut.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah. Mereka menghafal tahuh-tahun terjadinya peristiwa penting, yang banyak diantaranya adalah peristiwa-peristiwa berdarah. Mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Tetapi mereka jarang sekali, kalau tidak mau mengatakan tidak pernah, mengambil hikmah dan pelajaran dari sejarah. Oleh karena itu George Santayana, seorang filsuf, pernah berkata: "Those who forget the past are condemned to repeat it" (mereka yang melupakan sejarah akan dikutuk untuk mengulanginya).
Barang-barang mahal, termasuk motor besar, memang bisa menjadi simbol status sosial pemiliknya. Namun, apabila harta tersebut didapat dengan jalan yang tidak halal dan merugikan orang lain, hakikatnya semua itu adalah harta rampokan dari rakyat yang miskin dan tidak berdaya. Rakyat yang hasil kerja kerasnya tidak bisa mereka nikmati di dunia ini bahkan untuk sekedar mengganjal perutnya yang lapar.
Getaran-getaran jerit rintih mereka yang miskin dan menderita mungkin terlalu lemah untuk bisa didengar oleh banyak manusia yang terlena oleh kehidupan moderen, oleh yang senantiasa dibanjiri berbagai macam hiburan dan terlena manisnya teknologi.
Namun, ....... getaran-getaran energi yang lemah itu cepat atau lambat akan mampu mengetuk dan menembus pintu-pintu lagi, dan hanya tinggal masalah waktu saja bagi Allah Al Latif, Allah SWT Yang Maha Lembut, .....................
..................... yang mampu menangkap getaran kepedihan betapapun halusnya
..................... yang pada akhir memberi balasan yang seadil-adilnya bagi semua manusia
"A laisallahu bi ahkamil haakimiin"
"Bukankah Allah seadil-adilnya hakim?"
(Qs. At Thiin 8)
Semoga bermanfaat
Minggu, 02 Mei 2010
[Renungan Cinta] Transendensi kreatif dalam cinta
Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
Kucoba tuang ke dalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui
Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku
Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli
Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka
Sahabat,
pernahkah engkau terluka oleh cinta
terluka oleh sesuatu yang lebih indah daripada terbitnya mentari pagi
namun lebih mengerikan dari letusan gunung berapi
Cinta, dia memang unik, memang aneh
lebih halus dan lembut daripada sutera
namun lebih kuat dan lebih keras daripada baja
Rasa cinta adalah energi yang dahsyat. Kehampaan jiwa adalah suatu yang tidak bisa dihindari saat tiada bersama dengan yang dicintai. Cinta bagaikan pemantik api yang menyalakan bahan bakar kreatifitas. Ratusan ribu bahkan jutaan judul lagu dan bait puisi tercipta karena cinta. Buku-buku sarat makna terlahir dari tangan para penulis yang jiwanya terbakar api cinta. Namun, entah berapa banyak pula perang dan konflik tercipta karena cinta. Baik cinta antar anak manusia ataupun cinta pada negara dan bangsa.
Sesungguhnya, rasa sakit karena luka itu adalah pertanda akan kebutuhanmu akan transendensi. Transendensi berarti melampaui status makhluk ciptaan yang pasif dan secara kreatif mengatasi permasalahan yang dihadapi, termasuk kegagalan cinta tersebut. (Erich Fromm, The Sane Society, 1955 page 41) Rasa sakit itu akan tetap menyiksa sampai kebutuhan itu terpenuhi, sebagaimana rasa lapar dipenuhi dengan makan dan rasa haus dihilangkan dengan minum. Bisa dibilang, kreatifitas adalah syarat mutlak dari kemampuan seseorang untuk transendensi.
Kreatifitas berasal dari akar kata yang sama dengan kata "to create" atau menciptakan. Kreatifitas adalah suatu kekuatan yang berbahan bakar emosi yang ditampung dalam tangki bahan bakar bernama kesabaran. Kreatifitas tanpa kesabaran bagaikan minyak atau bensin yang terhamburkan, siap meledak setiap saat. Bukanlah ciptaan bermanfaat yang dihasilkan namun malah kerusakan dan kehancuran yang terjadi. Sementara kreatifitas tanpa emosi bagai mesin dengan tangki bahan bakar yang kosong melompong, tidak ada daya untuk menghasilkan apapun jua. Dalam film Enter The Dragon, Bruce Lee menasihati seorang muridnya saat latihan. "I said Emotional Content, not Anger" kata sang Master.
Kreatifitas berarti juga keberanian untuk meninggalkan zona nyaman kita. Untuk menjadi kreatif, mau tidak mau kita harus melakukan petualangan menuju wilayah yang sama sekali tidak kita ketahui. Wilayah yang dipenuhi ketidak pastian dan tantangan bahkan marabahaya. Seperti mendaki menara langit dalam badai halilintar yang menggelegar atau mengarungi samudra luas yang seakan tak bertepi.
Ebiet G. Ade dalam lagunya "Apakah ada bedanya" menggambarkan pendakian menuju transendensi itu sebagai "Menara Langit". Ketika sang pencinta meningkatkan level eksistensi dirinya, dari eksistensi materi, eksistensi energi hingga eksistensi jiwa. Pendakian itu bagai menaiki menara yang menjulang tinggi ke langit, di tengah badai yang dahsyat dan petir yang sambar menyambar. Pada bait-bait awal lagu, sang pencinta masih pada level eksistensi materi, hanya tertarik pada kondisi fisik yang dia cintai. Walaupun kreatifitas sudah mulai tercipta, salah satunya dengan menuangkan apa yang dia rasakan ke dalam kanvas, ego sang pencinta terlihat masih dominan. Dia masih dikuasai kebingungan dan kesedihan saat tiada bersama kekasihnya.
Pada akhirnya, sang pencinta mengambil keputusan untuk mendaki menara langit transendensi dirinya, berbekal kreatifitas, emosi dan kesabaran. Perlahan namun pasti dia mulai merasakan dirinya tiada terpisahkan secara energi dengan orang lain dan bahkan alam semesta. Pada akhirnya dia merasakan tiada lagi perbedaan antara pertemuan dan perpisahan, sama sama nikmat. Sama-sama menenteramkan jiwa sang pencinta yang sudah mengalami transendensi secara kreatif.
Semoga bermanfaat
dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
Kucoba tuang ke dalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui
Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku
Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli
Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka
Sahabat,
pernahkah engkau terluka oleh cinta
terluka oleh sesuatu yang lebih indah daripada terbitnya mentari pagi
namun lebih mengerikan dari letusan gunung berapi
Cinta, dia memang unik, memang aneh
lebih halus dan lembut daripada sutera
namun lebih kuat dan lebih keras daripada baja
Rasa cinta adalah energi yang dahsyat. Kehampaan jiwa adalah suatu yang tidak bisa dihindari saat tiada bersama dengan yang dicintai. Cinta bagaikan pemantik api yang menyalakan bahan bakar kreatifitas. Ratusan ribu bahkan jutaan judul lagu dan bait puisi tercipta karena cinta. Buku-buku sarat makna terlahir dari tangan para penulis yang jiwanya terbakar api cinta. Namun, entah berapa banyak pula perang dan konflik tercipta karena cinta. Baik cinta antar anak manusia ataupun cinta pada negara dan bangsa.
Sesungguhnya, rasa sakit karena luka itu adalah pertanda akan kebutuhanmu akan transendensi. Transendensi berarti melampaui status makhluk ciptaan yang pasif dan secara kreatif mengatasi permasalahan yang dihadapi, termasuk kegagalan cinta tersebut. (Erich Fromm, The Sane Society, 1955 page 41) Rasa sakit itu akan tetap menyiksa sampai kebutuhan itu terpenuhi, sebagaimana rasa lapar dipenuhi dengan makan dan rasa haus dihilangkan dengan minum. Bisa dibilang, kreatifitas adalah syarat mutlak dari kemampuan seseorang untuk transendensi.
Kreatifitas berasal dari akar kata yang sama dengan kata "to create" atau menciptakan. Kreatifitas adalah suatu kekuatan yang berbahan bakar emosi yang ditampung dalam tangki bahan bakar bernama kesabaran. Kreatifitas tanpa kesabaran bagaikan minyak atau bensin yang terhamburkan, siap meledak setiap saat. Bukanlah ciptaan bermanfaat yang dihasilkan namun malah kerusakan dan kehancuran yang terjadi. Sementara kreatifitas tanpa emosi bagai mesin dengan tangki bahan bakar yang kosong melompong, tidak ada daya untuk menghasilkan apapun jua. Dalam film Enter The Dragon, Bruce Lee menasihati seorang muridnya saat latihan. "I said Emotional Content, not Anger" kata sang Master.
Kreatifitas berarti juga keberanian untuk meninggalkan zona nyaman kita. Untuk menjadi kreatif, mau tidak mau kita harus melakukan petualangan menuju wilayah yang sama sekali tidak kita ketahui. Wilayah yang dipenuhi ketidak pastian dan tantangan bahkan marabahaya. Seperti mendaki menara langit dalam badai halilintar yang menggelegar atau mengarungi samudra luas yang seakan tak bertepi.
Ebiet G. Ade dalam lagunya "Apakah ada bedanya" menggambarkan pendakian menuju transendensi itu sebagai "Menara Langit". Ketika sang pencinta meningkatkan level eksistensi dirinya, dari eksistensi materi, eksistensi energi hingga eksistensi jiwa. Pendakian itu bagai menaiki menara yang menjulang tinggi ke langit, di tengah badai yang dahsyat dan petir yang sambar menyambar. Pada bait-bait awal lagu, sang pencinta masih pada level eksistensi materi, hanya tertarik pada kondisi fisik yang dia cintai. Walaupun kreatifitas sudah mulai tercipta, salah satunya dengan menuangkan apa yang dia rasakan ke dalam kanvas, ego sang pencinta terlihat masih dominan. Dia masih dikuasai kebingungan dan kesedihan saat tiada bersama kekasihnya.
Pada akhirnya, sang pencinta mengambil keputusan untuk mendaki menara langit transendensi dirinya, berbekal kreatifitas, emosi dan kesabaran. Perlahan namun pasti dia mulai merasakan dirinya tiada terpisahkan secara energi dengan orang lain dan bahkan alam semesta. Pada akhirnya dia merasakan tiada lagi perbedaan antara pertemuan dan perpisahan, sama sama nikmat. Sama-sama menenteramkan jiwa sang pencinta yang sudah mengalami transendensi secara kreatif.
Semoga bermanfaat
Jumat, 30 April 2010
Pembukaan Rumah Sehat Komunitas Lebah
| Start: | May 8, '10 08:00a |
| End: | May 8, '10 1:00p |
| Location: | Balai Warga RW 03 Jl. Petojo Utara VI |
Pembukaan Rumah Sehat ( Unit pelayanan kesehatan gratis) , Komunitas Lebah bekerja sama dengan RW 03 Petojo, akan dilakukan pula periksa kesehatan gratis untuk 100 orang warga yang membutuhkan serta games umtuk anak yatim.
Sabtu, 24 April 2010
Main Page - WikiSuccess, be the Best!
http://www.wikisuccess.org/wiki/Main_Page
Kumpulan kita2 sukses yang disusun ala wikipedia
Kumpulan kita2 sukses yang disusun ala wikipedia
[Self Improvement] Kebanggaan yang sehat
In reality, there is, perhaps, no one of our natural passions so hard to subdue as pride. Disguise it, struggle with it, beat it down, stifle it, mortify it as much as one pleases, it is still alive, and will every now and then peep out and show itself; you will see it, perhaps, often in this history; for, even if I could conceive that I had compleatly overcome it, I should probably be proud of my humility.
[Thus far written at Passy, 1741]
[Thus far written at Passy, 1741]
Adalah suatu hal yang lumrah apabila seseorang ingin dihargai hasil kerja kerasnya. Dan, adalah hal yang sangat wajar apabila seseorang merasa bangga saat berhasil mencapai kesuksesan yang diidamkannya.
Bayangkan, betapa bangganya seorang penulis saat buku pertamanya diterbitkan suatu penerbit. Mungkin dia akan pergi ke toko buku atau distributor buku barunya itu dan memborong buku tersebut untuk dibagikan kepada teman-temannya. Demikian pula saaat seorang pelajar atau Mahasiswa. berhasil naik ke jenjang yang lebih tinggi dalam pendidikannya. Seseorang yang berhasil mendapat promosi di tempat kerjanya juga demikian. Sama dengan seorang pencinta yang diterima menjadi pasangan hidup oleh pujaan hatinya.
Kebanggaan yang sehat adalah kebanggaan yang tidak membuat lupa daratan. Dia tetap mengingat jasa orang-orang yang membantunya mencapai kesuksesan, baik langsung ataupun tidak langsung. Dan yang paling penting adalah dia tidak lupa bahwa semua yang telah dia capai hakikatnya adalah anugerah dan karunia Allah SWT.
Kebanggaan yang sehat berasal dari mentalitas berkelimpahan atau abundance mentality. Menurut Steven Covey, mentalitas ini menganggap bahwa masih ada banyak sumber daya di luar sana, untuk semua orang. Berlawanan dengan mentalitas berkelangkaan atau Scarcity Mentality yang menganggap hanya ada tersedia sedikit sumber daya di luar sana. Jika sebagian sudah diambil orang lain, maka hanya akan tersisa sedikit untuk saya.
Kebanggaan yang sehat hanya bisa dicapai dengan hasil usaha keras yang dikerjakan sendiri. Kebanggaan yang diperoleh dengan usaha yang lebih kecil/sedikit daripada yang seharusnya dilakukan adalah kebanggan semu. Suatu kebanggaan yang segera akan berakhir seperti air di daun keladi atau kayu yang lapuk dimakan rayap. Sedikit guncangan sudah mampu untuk menghancurkan kebanggaan seperti itu.
1. Bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kesuksesan yang berhasil dicapai. Bersyukur tentu bukan cuma di hati dan perkataan namun juga menggunakan kesuksesan dan semua hasilnya dalam rangka ibadah kepadaNya. QS Ibrahim 7
Abu Bakar Ash Shidq sangat mengetahui esensi sebuah pujian. Bahwa pujian hakikatnya disebabkan karena persepsi atau dugaan orang lain terhadap keberhasilan kita. pada saat menerima pujian beliau berkata "Janganlah Engkau siksa aku karena apa yang mereka tidak ketahui dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka duga".
2. Mengarahkan energi pujian yang dia terima kepada orang-orang yang berjasa atas kesuksesannya. Mulai dari ayah dan ibunya, guru-gurunya baik guru formal atau non formal dan lain sebagainya. Sesungguhnya, semua orang yang pernah kita temui adalah guru bagi kita, walaupun terkadang kita tidak menyadarinya.
3. Jangan lupa "cuci piring sesudah pesta usai". Maksud metafor tersebut adalah kesuksesan menuntut penerimanya untuk belajar lebih giat, bekerja lebih keras dan memikul beban tanggung jawab yang lebih besar. Seseorang yang telah berhasil meraih gelar sarjana dari suatu perguruan tinggi harus terus belajar agar ilmunya tetap up to date. Seorang penulis yang sudah berhasil menerbitkan buku harus terus belajar agar bisa menulis buku kedua atau mempersiapkan edisi revisi bukunya apabila harus dicetak ulang. Seorang karyawan yang naik pangkat atau mencapai jenjang karier yang lebih tinggi harus mempersiapkan dirinya untuk memikul beban tanggung jawab pada jenjang tersebut.
4. Menggunakan pengaruh yang didapatkan dari kesuksesan tersebut untuk menjadi berkah dan kebaikan pada sesama. Orang sukses lebih menarik untuk didengarkan perkataannya dibandingkan orang gagal. Muhammad Yunus, saat menerima Nobel Perdamaian tahun 2006, menyampaikan pada seluruh dunia visi beliau tentang dunia yang sama sekali bebas dari kemiskinan. Beliau menggunakan kesempatan itu untuk mengatakan bahwa tempat yang paling cocok untuk kemiskinan adalah museum.
5. Tidak memandang rendah orang-orang yang lebih rendah posisinya. Suatu ketika, Rasulullah SAW pernah ditanya "Ya Rasul apakah apabila seseorang senang mengenakan pakaian yang indah bisa disebut sombong?" Rasul menjawab "Allah SWT Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan atau memandang rendah orang lain".
dengan menerapkan kiat-kiat di atas, Insya Allah kebanggan kita akan berubah menjadi rasa syukur dan bukan kesombongan.
Sebagian materi tulisan terinspirasi dari materi Luck Factor-nya SEFT Total Solution Training
Referensi:
Farid Poniman, Indra Nugroho, Jamil Azzaini , Kubik Leadership
Steven Covey, Tujuh Kebiasaan manusia yang sangat efektif (The 7 Habits of Highly Effective People)
Bayangkan, betapa bangganya seorang penulis saat buku pertamanya diterbitkan suatu penerbit. Mungkin dia akan pergi ke toko buku atau distributor buku barunya itu dan memborong buku tersebut untuk dibagikan kepada teman-temannya. Demikian pula saaat seorang pelajar atau Mahasiswa. berhasil naik ke jenjang yang lebih tinggi dalam pendidikannya. Seseorang yang berhasil mendapat promosi di tempat kerjanya juga demikian. Sama dengan seorang pencinta yang diterima menjadi pasangan hidup oleh pujaan hatinya.
Kebanggaan yang sehat adalah kebanggaan yang tidak membuat lupa daratan. Dia tetap mengingat jasa orang-orang yang membantunya mencapai kesuksesan, baik langsung ataupun tidak langsung. Dan yang paling penting adalah dia tidak lupa bahwa semua yang telah dia capai hakikatnya adalah anugerah dan karunia Allah SWT.
Kebanggaan yang sehat berasal dari mentalitas berkelimpahan atau abundance mentality. Menurut Steven Covey, mentalitas ini menganggap bahwa masih ada banyak sumber daya di luar sana, untuk semua orang. Berlawanan dengan mentalitas berkelangkaan atau Scarcity Mentality yang menganggap hanya ada tersedia sedikit sumber daya di luar sana. Jika sebagian sudah diambil orang lain, maka hanya akan tersisa sedikit untuk saya.
Kebanggaan yang sehat hanya bisa dicapai dengan hasil usaha keras yang dikerjakan sendiri. Kebanggaan yang diperoleh dengan usaha yang lebih kecil/sedikit daripada yang seharusnya dilakukan adalah kebanggan semu. Suatu kebanggaan yang segera akan berakhir seperti air di daun keladi atau kayu yang lapuk dimakan rayap. Sedikit guncangan sudah mampu untuk menghancurkan kebanggaan seperti itu.
1. Bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kesuksesan yang berhasil dicapai. Bersyukur tentu bukan cuma di hati dan perkataan namun juga menggunakan kesuksesan dan semua hasilnya dalam rangka ibadah kepadaNya. QS Ibrahim 7
Abu Bakar Ash Shidq sangat mengetahui esensi sebuah pujian. Bahwa pujian hakikatnya disebabkan karena persepsi atau dugaan orang lain terhadap keberhasilan kita. pada saat menerima pujian beliau berkata "Janganlah Engkau siksa aku karena apa yang mereka tidak ketahui dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka duga".
2. Mengarahkan energi pujian yang dia terima kepada orang-orang yang berjasa atas kesuksesannya. Mulai dari ayah dan ibunya, guru-gurunya baik guru formal atau non formal dan lain sebagainya. Sesungguhnya, semua orang yang pernah kita temui adalah guru bagi kita, walaupun terkadang kita tidak menyadarinya.
3. Jangan lupa "cuci piring sesudah pesta usai". Maksud metafor tersebut adalah kesuksesan menuntut penerimanya untuk belajar lebih giat, bekerja lebih keras dan memikul beban tanggung jawab yang lebih besar. Seseorang yang telah berhasil meraih gelar sarjana dari suatu perguruan tinggi harus terus belajar agar ilmunya tetap up to date. Seorang penulis yang sudah berhasil menerbitkan buku harus terus belajar agar bisa menulis buku kedua atau mempersiapkan edisi revisi bukunya apabila harus dicetak ulang. Seorang karyawan yang naik pangkat atau mencapai jenjang karier yang lebih tinggi harus mempersiapkan dirinya untuk memikul beban tanggung jawab pada jenjang tersebut.
4. Menggunakan pengaruh yang didapatkan dari kesuksesan tersebut untuk menjadi berkah dan kebaikan pada sesama. Orang sukses lebih menarik untuk didengarkan perkataannya dibandingkan orang gagal. Muhammad Yunus, saat menerima Nobel Perdamaian tahun 2006, menyampaikan pada seluruh dunia visi beliau tentang dunia yang sama sekali bebas dari kemiskinan. Beliau menggunakan kesempatan itu untuk mengatakan bahwa tempat yang paling cocok untuk kemiskinan adalah museum.
5. Tidak memandang rendah orang-orang yang lebih rendah posisinya. Suatu ketika, Rasulullah SAW pernah ditanya "Ya Rasul apakah apabila seseorang senang mengenakan pakaian yang indah bisa disebut sombong?" Rasul menjawab "Allah SWT Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan atau memandang rendah orang lain".
dengan menerapkan kiat-kiat di atas, Insya Allah kebanggan kita akan berubah menjadi rasa syukur dan bukan kesombongan.
Sebagian materi tulisan terinspirasi dari materi Luck Factor-nya SEFT Total Solution Training
Referensi:
Farid Poniman, Indra Nugroho, Jamil Azzaini , Kubik Leadership
Steven Covey, Tujuh Kebiasaan manusia yang sangat efektif (The 7 Habits of Highly Effective People)
Langganan:
Postingan (Atom)