Senin, 17 Agustus 2009

Dompet Dhuafa Atasi Trauma Bencana dengan Metode SEFT - Info Umat | Eramuslim

http://eramuslim.com/berita/info-umat/dompet-dhuafa-atasi-trauma-bencana-dengan-metode-seft.htm
sebelumnya mohon maaf kalau baru nge-link berita ini sekarang, walaupun udah lama tetapi semoga bermanfaat

Dalam acara ini, korban dan relawan diberikan terapi dengan metode Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) oleh LoGOS Institute, untuk menghilangkan trauma dan keluhan fisik lainnya. Menurut Ketua tim LoGOS Institute, Eko Nugroho, SEFT merupakan penggabungan antara spiritualitas (melalui doa, keikhlasan, dan kepasrahan) dan *energy psychology*. Teknik ini telah terbukti secara ilmiah dan bebas dari unsur supranatural atau klenik.

Minggu, 16 Agustus 2009

[Renungan Cinta] Seni Mencintai dan eksisntensi diri

Mudahnya bilang cinta,
hanya karena suka  
tak terasa terlena,
banyak hati kecewa
mungkin kau perlu waktu
tanyakanlah hatimu
bila terasa hampa
saat tiada berjumpa
pastilah itu cinta

Rafika duri

Alkisah, seorang pemuda menemui seorang ustadz yang dikenal cukup bijak dalam memutuskan perkara dan berkata "Pak ustadz, saya sudah tidak lagi mencintai istri saya.  Rasa cinta itu sudah tidak ada lagi"

sang Ustadz berkata "Cintailah istrimu"

sang pemuda berkata lagi "Pak Ustadz, rasa cinta itu sudah tidak ada"

sang ustadz berkata lagi "Cintailah istrimu"

sang pemuda berkata lagi, mulai kehilangan kesabaran "Pak Ustadz, rasa cinta itu sudah tidak ada"

Sang ustadz lantas berkata "Tidak masalah apakah rasa cinta itu masih ada atau tidak, cintailah istrimu.  Nak, sesungguhnya cinta itu hakikatnya memberi, bukan menerima.  dengan mencintai, maka rasa cinta itu cepat atau lambat akan tumbuh kembali. Jangan hanya menjadikan cinta itu hanya sebagai perasaan yang menuntut untuk dipuaskan tetapi jadikanlah cinta itu sebagai kekuatan untuk memberi dan memahami"

Sang pemuda pun menganggukkan kepala, mengerti apa yang dikatakan sang ustadz

Sahabat,

Sungguh, di dunia ini tidak ada kata terindah sekaligus paling menyakitkan selain cinta.  Namun pernahkah kita berintrospeksi cinta macam apakah yang kita punya?

Sebelum membahas tentang cinta itu sendiri, kita perlu mengetahui bahwa ada tiga tingkatan eksistensi diri manusia, yaitu materi, energi dan jiwa.  

1. pada eksistensi diri tingkat materi, manusia terus menerus mencari sensasi kenikmatan sesaat.  dia merasa terpisah dari lingkungannya dan orang lain.  terkdang terjadilah lingkaran setan yang menjebak manusia sehingga sulit meningkat dari eksistensi materi.  sensasi yang dia rasakan tidak memuaskan dia dan menyebabkannya mencari sensasi baru yang lebih dahsyat lagi.  Sensasi itu bisa berupa sensasi fisik seperti makanan atau minuman, atau psikologis seperti pujian atau perhatian orang lain dsb.  Orang yang masih dalam eksistensi materi seringkali merasa bosan dengan sensasi yang sudah ada dan ingin lebih lagi dan lagi.  Manusia tingkat materi cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan apa saja yang dia miliki.  dalam istilah Mas Jamil, orang-orang ini memiliki mentalitas To Have.  

2. pada eksistensi diri tingkat energi, manusia mulai meningkat kepekaannya dan merasakan kesatuan dan keterpautan dengan semesta dan sesamanya.  bahwa dia adalah bagian tak terpisahkan dari lautan energi yang meliputi alam semesta ini.  jeritan sesamanya yang terbenam dalam penderitaan mulai dia rasakan seakan-akan dia sendirilah yang mengalami penderitaan itu.  Sebaliknya, apabila ada sesamanya yang mengalami kegembiraan, dia turut bergembira seakan-akan dia sendirilah yang mengalami kegembiraan itu.  

3. pada eksistensi diri tingkat jiwa, manusia mulai merasakan benar kekuasaan Allah SWT.  Pada tahap eksistensi inilah manusia dapat dengan efektif membangun karakternya.  Dia percaya bahwa dengan bantuanNya, dia akan lebih kuat daripada apapun juga di dunia ini.  Namun, dalam menggapai impiannya, dia tidak egois dan hanya memikirkan diri sendiri. dia memastikan bahwa impiannya itu akan membawa manfaat bagi sebanyak mungkin manusia dan makhluk yang lain di dunia ini.  Pada saat inilah seseorang biasanya mendapat atau merasakan panggilan jiwanya, mencari makna hidup sesungguhnya kata Victor Frankl. Misi hidup menurut Steven Covey dan Proposal Hidup menurut Bapak Jamil Azzaini.  Mereka memiliki mentalitas yang berbeda dengan orang-orang yang ada di tingkat materi yaitu mentalitas To Be atau mentalitas menjadi.  Mereka secara proaktif mampu menulis ulang naskah kehidupan mereka agar sesuai dengan prinsip-prinsip kehidupan. Mereka mampu untuk menjadi lebih pengertian, lebih tekun, lebih sabar, lebih bersyukur dan sebagainya.   

Maka,

Jika seseorang mencintai pasangannya karena keelokan parasnya, maka sesungguhnya orang itu masih berada di tingkat eksistensi materi.  Hawa nafsu masih mendominasi orang yang cintanya seperti ini.  Sesungguhnya yang dia cari hanyalah sensasi, kenikmatan sesaat.  Baik sensasi yang bersifat fisik atau psikologis.

Jika seseorang mencintai pasangannya selama tingkat energinya kondusif, yaitu saat orang itu merasa nyaman saat mengajak pasangannya berinteraksi, maka sesungguhnya dia berada di tingkat eksistensi energi

Jika seseorang mencintai pasangannya tanpa syarat, hanya ingin memberkahinya sebagai seseorang yang dititipkan oleh Allah SWT kepadanya maka sesungguhnya dia telah berada di tingkat eksistensi jiwa.  Dia telah memiliki karakter yang agung yaitu karakter yang terbentuk karena kebiasaan-kebiasaan baik yang selaras dengan syariat dan sunnatullah atau hukum-hukum alam.

Cinta pada eksistensi jiwa inilah yang mendorong seseorang mencintai yang dia cintai tanpa syarat, walaupun parasnya biasa saja atau tingkat energinya sedang kurang kondusif.  Cinta yang lebih banyak mendengarkan, memahami, menghargai dan memberi.  Cinta yang menghasilkan tabungan emosi positif yang jumlahnya tak terkira.  

Sahabat,

ketika kita menikmati kopi instant, tentunya yang kita nikmati dan kita sukai adalah isinya.  Diseduh air panas dan diminum  perlahan-lahan, hmmmmmmmm nikmaat.  bungkus aluminium foil-nya tentu saja kita buang, bukankah jarang sekali ada orang yang suka mengoleksi bungkus kopi  

namun, apakah kita mencintai orang yang kita cintai dengan cara yang sama? kita hanya menyukai aspek-aspek tertentu darinya, apakah fisik atau parasnya saja atau tingkat energinya semata.  Tentu saja tidak, jika ya, maka kita sesungguhnya tidak mencintai orang tersebut tetapi hanya sekedar menyukainya.  Itu pun tidak 100 persen, tetapi hanya sebagian saja yang sesuai dengan selera kita.  

Manusia adalah makhluk mulia yang harus dihargai secara keseluruhan.  Manusia memang terdiri dari berbagai unsur seperti materi/fisik, energi dan jiwa.  Namun, keseluruhan unsur-unsur itu membentuk satu kesatuan utuh yang disebut manusia.  Hal ini  tent tidak menafikan adanya kekurangan dalam diri manusia.  

Karena itulah, mencintai seorang manusia haruslah dengan integritas pribadi yang kukuh.  Cinta yang terpatrikan integritas di dalamnya akan menjadi benteng yang kukuh dan rumah yang nyaman bagi jiwa orang yang dicintai.  Cinta yang benar-benar bisa dipercaya, tidak akan memanipulasi atau berbohong.  

Erich Fromm mengatakan bahwa Cinta bukanlah sentimen yang dapat dinikmati oleh orang-orang tanpa pandang kedewasaan dan kematangan emosi.  Fromm menyebut cinta seperti ini sebagai cinta produktif.  Cinta yang oleh sang pencinta lebih difokuskan pada aktifitas, lebih memberi dan memahami secara proaktif.  Memberi di sini tidak selalu dimaknai dengan materi, namun lebih kepada hal-hal yang bersifat energi atau spiritual seperti perhatian, pertolongan, dan menyediakan diri untuk dijadikan sandaran saat diperlukan.  

Aktifitas dan pemberian itu didorong oleh adanya rasa kepedulian dari sang pencinta pada yang dicintainya.  Kepedulian yang menimbulkan rasa tanggung jawab atau responsibility.  Orang yang mencintai dengan cinta yang sejati tentu akan merespon dengan baik terhdap kebutuhan siapa saja yang dia cintai.

Namun, rasa tanggung jawab tersebut harus diimbangi dengan rasa hormat.  Rasa hormat di sini adalah mencintai dengan membiarkannya tetap menjadi dirinya.  Respon sang pencinta terhadap kebutuhan kekasihnya adalah respon yang tulus tanpa ada kepentingan terselubung di dalamnya.  Respon yang tidak terdistorsi oleh keinginan atau ketakutan sang pencinta.  "Aku mencintaimu sebagaimana engkau adanya, bukan sebagaimana yang aku inginkan", demikian kira-kira isi kepala dan hati mereka.  

Rasa hormat seperti di atas hanya bisa didapatkan apabila sang pencinta adalah orang yang merdeka, yang telah mencapai kemerdekaan sepenuhnya.  Private Victory dalam istilah Steven Covey.  

Rasa hormat itu sendiri hanya bisa didapatkan apabila sang pencinta memiliki ilmu pengetahuan yang memadai, baik tentang cinta itu sendiri ataupun orang yang dicintai.  Pengetahuan seperti ini, selain diperoleh dengan belajar melalui berbagai sarana seperti buku, internet dan sebagainya, juga bisa diperoleh dengna komunikasi yang jujur, efektif dan saling terbuka penuh kepercayaan.  Keterbukaan seperti itu tentu menimbulkan kerentanan, dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keimanan yang kukuh.  

Karena itulah Erich Fromm mengatakan bahwa cinta adalah aksi dari orang-orang yang memiliki keimanan yang kukuh dalam dirinya.   Orang-orang yang imannya lemah, maka Cintanya juga lemah.  

Love means to commit oneself without guarantee, to give oneself completely in the hope that our love will produce love in the loved person. Love is an act of faith, and whoever is of little faith is also of little love.
- Erich Fromm

Cinta seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mampu berada dalam Modus Menjadi atau Being Mode, yaitu mereka yang mengidentifikasi diri dari apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka miliki.    Mode ini bertentangan dengan Having Mode, yaitu orang-orang yang mengidentifikasi diri dengan apa-apa yang mereka miliki.  Lagipula, bagi kita orang-orang beragama, sudah jelas dalam keyakinan kita bahwa segala seuatu adalah milik Allah SWT, kita sesungguhnya tidak punya apa-apa dan tidak pernah pula memiliki apapun juga.  Kita hanya diberi amanah.  

Maka, jelaslah kini bagi kita bahwa yang namanya cinta tidaklah identik dengan sekedar suka.  Cinta adalah seni, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang terlatih di dalam melaksanakan seni tersebut.  

Sahabat,
Cinta bukanlah perkara remeh, mudah atau main-main.  Cinta adalah Seni Maha Agung yang tidak semua orang bisa melakukannya.  Orang harus belajar dan berlatih, bahkan kadang harus berjuang untuk mencintai dan mendapatkan cinta pada akhirnya.  

Namun demikian, tidak pernah ada kata terlambat dalam belajar Seni mencintai.  selama kita masih dianugerahi dan diamanahi kehidupan, maka saat itulah kita terus menerus belajar Seni mencintai, sehingga cinta yang indah itu akan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita.  

Cinta tanpa seni mencintai bagai kapal rapuh yang penuh kebocoran berlayar  di lautan, setiap saat bisa kandas atau tenggelam.  Cinta dengan seni mencintai bagai Bahtera Nabi Nuh yang tidak akan pernah tenggelam walaupun badai dahsyat menggulung lautan yang sedang dilayari.

Semoga bermanfaat 

Kamis, 13 Agustus 2009

[Sahabat Peduli] Bazaar Peduli anak Jalanan dan Dhu'afa

Start:     Aug 15, '09 08:00a
End:     Aug 17, '09 6:00p
Location:     Lapangan Blok S - Jakarta Selatan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hai teman dan Sahabat semua,

Sahabat Peduli kali ini membuka bazaar untuk produk yg di hasilkan dari karya-karya anak dhu’afa dan anak jalanan, salah satu tindak lanjut dari program life skill camp beberapa waktu yang lalu, produk yang nanti akan di pemerkan dalam bazaar adalah kerajinan dari daur ulang (komunitas / yayasan kumala) dan sabun cair dll (Yayasan Himmaata).

2 produk ini juga menjadi demo peserta pada saat pelatihan Life Skill Camp,

Penasaran ingin melihat hasilnya dan ingin membeli barangnya? Atau ingin menjadi bagian memasarkan produk karya terbaik anak bangsa jelang kemerdekaan? Mereka bagian dari kita semua, ingin tutut andil dalam kepeduliaan?

Mau dapat sesuatu yg paling mengesankan menyambut bulan ramadhan dan oleh2 lebaran?

Yuuuuuk kunjungi stand Peduli kami ‘ Sahabat peduli’ di sini tempatnya :

Tanggal Pelaksanaan Bazar : 15 – 17 Agustus 2009

Lokasi Stand bazaar : Lapangan Blok S – Jakarta Selatan

Stand Sahabat Peduli : No. IV G dan IV H

Jam bazaar : 08.00 – 18.00 wib


Wassalam,

LSC dan Sahabat Peduli Team

G.I. Joe: The Rise of Cobra

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
"Whoever forget the past, are condemned to repeat it" - George Santayana

Akhirnya nonton juga nih film yang satu ini, padahal kemarin malam kehabisan tiket

kalau masalah tokoh-tokoh sih udah lumayan kenal, lantaran waktu kecil juga mainan favoritnya ya GI Joe ini, termasuk film kartunnya. Walaupun ada beberapa juga yang kurang familiar.

Awalnya saya kira gak terlalu jauh dari versi kartunnya, ya ada tembak-tembakan dan sebagainya. Standar film action Holywood deh

Baru awal-awal saya udah terperangah, Gila ini psycho banget ya. Berhubung lagi demen banget sama karya-karya Erich Fromm, ya langsung deh manteng gak bekutik kaya orang ditodong

Sejarah? Ho ho ho, baru mulai aja sudah disuguhi scene sejarah yang mengerikan (sejarah apa dan kayak apa nonton sendiri ya, ntar gw dibilang spoiler lagi). Walaupun cuma sebentar, tetapi sangat menentukan pengertian kita tentang film ini. So, jangan dilewatkan ya

Teknologi militer: super canggih pokoke, saya gak bisa jelasin soalnya, selain supaya gak spoiler, emang gak paham (secara gw gaptek gitu loh). Cuma yang saya tahu ya, kalau sampai ada benerannya, gak kebayang deh berapa milyar atau trilyun biayanya. ya mungkin kaya lagu Pesawat tempurnya Iwan Fals yang dulu pernah ngetop itu

Teori konspirasi? apalagi ini sih gak usah ditanya. Walaupun mungkin hanya bisa dideteksi oleh orang-orang tertentu yang sudah terlatih (atau memang memiliki ketertarikan terhadap bidang itu)

Bayangin gini aja deh, kalau saya punya produk dan ingin jadi kaya dengan menjual produk tersebut, maka yang saya butuh adalah Pasar, Tul gak?

Tetapi, kalau prduk saya gunanya hanya untuk membunuh, merusak dan menghancurkan, maka Pasar yang saya butuhkan adalah PERANG, lebih besar dan luas sekalanya, ya makin baik. Makin lama durasinya, ya makin baik juga. Kan supaya saya tetap kaya, perlu ada sustainable profit alias gimana caranya agar duit masuk terus. Jadi kalau bisa ya perangnya jangan berhenti, bahkan jangan pernah berhenti. kalau ada korban dari orang-orang yang tidak berdosa ya emangnya gw pikirin, just business nothing personal.

Bahkan kalau perlu, jual tuh senjata-senjata kepada kedua (atau lebih) belah pihak yang sedang bertikai. Nah, konspirasi apa yang lebih gede dari penjualan senjata kepada pihak-pihak yang saling bertikai.

demikian deh kira-kira isi kepala si James McCullen XVIII, yang udah jualan senjata dari jaman kakek buyutnya. Si kakek buyut ini udah jualan senjata sejak abad ke 17, jadi kebayang gak sih pengalaman makhluk sadis haus darah dalam urusan jualan alat-alat pembunuh.

Kalau dalam teorinya Erich Fromm, orang kaya gini disebut memiliki Hoarding Orientation, yang suka numpuk-numpuk harta gak peduli halal atau haram, merugikan orang lain atau tidak. Mungkin mirip-mirip pendusta agama yang ada dalam Surat Al Maun, yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (apalagi dia juga yang bikin banyak anak jadi yatim dan orang-orang jadi miskin, apa gak lebih gede tuh dosanya)

Yang demen action sih gak bakalan kecewa, porsinya ada kali 75 persen lebih gebuk-gebukan dan tembak-tembakan. Namun, di film ini physical fights secara mengejutkan diimbangi dengan hampir sempurna psychological inner struggle dan inter-personal conflict yang berat dan melelahkan bagi para tokohnya. Kalau di Star Wars kan (kalau gak salah) antara Luke Skywalker dan bapaknya, Darth Vader alias Anakin Skywalker. kalau di sini, konflik serupa ada lebih dari satu dan lebih kompleks. Cinta, dendam, kekecewaan, kemarahan terpendam dan sebagainya semua ada, tinggal tunggu meledaknya saja.

kalau Kisah cinta gimana? Ada, beneran deh, wong saya nonton sendiri koq. Namun, sekali lagi kisah cinta tersebut dibumbui dengan sengatan psikologis yang kental.

Yang jelas, ini salah satu film Holywood yang full psycho, bisa dibilang beda deh dengan yang lain

Yang jelas, gak usah terlalu worry kalau pada belum nonton kartunnya, gak terlalu berhubungan koq. Walaupun tentu saja ada feeling yang beda kalau udah familiar sama versi serial kartunnya, kaya saya, he he he.

Jumlah tokohnya juga lebih sedikit daripada versi mainan atau serial kartunnya (Ya iyalah, kalau tidak nanti jadi crowded alias penuh dong). Ketidakhadiran para gangster Dreadnoks juga sama sekali tidak mengurangi nilai film ini. Suatu hal yang tadinya sempat bikin kecewa, namun kekecewaan itu sudah terobati sekarang.

Namun, jika teman-teman perlu bekal sebelum nonton, saya sarankan sedikit baca-baca, googling kalau perlu tentang psychology, terutama karya-karya Erich Fromm (Erich Fromm lagi, gak ada yang lain ya? He he he, maklum idola) atau yang sejenisnya. Baca sejarah konflik di Eropa terutama Prancis dan Inggris. Biar kebayang lebih jelas bagaimana lihai dan liciknya klan McCullen dalam "menciptakan pasar" untuk produk-produk mereka (Baca: mengadu domba dan membuat macam-macam konspirasi supaya terjadi konflik atau perang). Edisi Koleksi Angkasa juga OK banget untuk dijadikan referensi.

Pelajaran moral dari film ini, menurut saya, adalah:

Manfaatkan waktu damai yang kita miliki saat ini, karena saat-saat indah ini mungkin tidak akan berlangsung lama. Selalu saja ada orang-orang yang ngiler melihat keuntungan yang bisa diperoleh dari "bisnis darah manusia" seperti si Destro. Sebagai konsekwensinya, mereka membutuhkan perang. Peperangan yang dahsyat dan panjang, yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Jangan sampai kita menyesal kenapa kita tidak beramal sholeh pada saat keadaan masih (relatif) damai.

Saya tutup review ini dengan mengutip kata-kata Erich Fromm (lagi-lagi Erich Fromm) dalam karyanya To Have or To Be.

One of the sick elements in our economy is that it needs a large armament industry. Even today, the United States, the richest country in the world, must curtail its expenses for health, welfare, and education in order to carry the load of its defense budget. The cost of social experimentation cannot possibly be borne by a state that is making itself poor by the production of hardware that is useful only as a means of suicide. Furthermore, the spirit of individualism and activity cannot live in an atmosphere where the military bureaucracy, gaining in power every day, continues to further fear and subordination.

by the way, mudah-mudahan si Destro juga ikut baca buku itu, minimal kutipan di atas.

semoga bermanfaat, buat yang mau nonton selamat nonton ya.

Insya Allah tokoh-tokoh dan aspek-aspek lain dari film ini akan saya bahas di lain kali di postingan yang lain

Selasa, 04 Agustus 2009

[SEFT] Baksos SEFT dan Yayasan Hurin'In di daerah Jatibunder, Tanah Abang




Baksos ini diselenggarakan oleh LPPI Hurin'In dan Logos Institute di daerah Jatibunder, Bongkaran Tanah Abang.

baksos ini bertujuan untuk mulai memutus regenerasi PSK agar keturunan mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

[SEFT] Praktek terapi SEFT di acara Life Skill Camp 1 - 2009

Cinta yang kuberi
sepenuh hatiku,
entah apa yang kuterima,
aku tak peduli,  
aku tak peduli,
aku tak peduli

Ebiet G. Ade - Apakah ada bedanya


Sebagai salah satu panitia acara LSC kemarin, saya termasuk orang yang dapat banyak berkah.  Saya mendapat banyak kesempatan untuk memperaktekkan teknik SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang saya pelajari beberapa waktu yang lalu.  Para peserta dan sesama panitia banyak yang mengalami gangguan kesehatan yang biasa terjadi saat terselenggaranya acara yang cukup padat, seperti kelelahan, capek, pusing, mual atau sakit perut dan sebagainya.  Aktifitas SEFTing tersebut saya lakukan di mushalla, barak para peserta dan tempat-tempat lain yang memungkinkan.  Alhamdulillah, hasilnya lumaya buat pemula, ada penurunan rasa sakit walau belum hilang 100 persen

Yang menarik, ada rekan panitia yang sesudah pusingnya diterapi malah keliyengan kaya orang baru bangun tidur.  Saya sendiri sempat bingung mau ngapain.

Untung saya segera ingat cerita seorang ibu polwan yang phobia duren.  saat dia keliyengan hampir pingsan, Mas Faiz langusng menyuruhnya berdiri.  Langsung rekan itu saya minta berdiri pelan-pelan.  Alhamdulillah hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi

benar kata Mas Faiz, little bit learning is dangerous

Dalam training SEFT, masalah ini dibahas dalam bagian "Handling the excessive intensity".  

Memang saya akui bahwa terapi SEFT yang saya lakukan masih kurang efektif dan menemui banyak kendala.  Namun, itu semua adalah pelajaran agar bisa membuat "Art of delivery" dari terapi SEFT yang saya lakukan makin baik. saya juga mendapat kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang membuat terapi SEFT menjadi kurang efektif.  

Hal-hal tersebut antara lain:

1.  Ada unsur unsur yang kurang terpenuhi baik dari unsur energy psychology atau spiritual

Unsur-unsur spiritual dalam SEFT antara lain:

A. Yakin: Yakin bukan pada terapis atau SEFT atau diri sendiri, namun pada kekuasaan Allah SWT yang Maha Menyembuhkan.  

B. Khusuk: Konsentrasi, memusatkan perhatian pada rasa sakit.  Energi tubuh manusia mengikuti jalan pikiran, jika pikiran diarahkan ke arah rasa sakit, ke sanalah energi mengalir.  

C. ikhlas: menerima bahwa sakit itu adalah ketentuan Allah dan membiarkan yang lalu biarlah berlalu

D. pasrah: membiarkan apa yang akan terjadi, sembuh atau tidak kepadaNya.

E. syukur: dari satu hal yang tidak beres atau tidak sesuai keinginan kita, ada 10000000000000000001 bahkan lebih nikmat dari Allah SWT yang terkadang bahkan tidak kita sadari.  

sedangkan unsur energy psychology yang perlu dipenuhi antara lain:

A. teknik yang benar dan tepat.  

B. ketepatan akar masalah dalam set-up.  sering kali, apa yang dirasakan bukanlah akar permasalahan yang sebenarnya tetapi merupakan gejala semata. Akar masalah seringkali merupakan masalah-masalah emosi.  

2. Kurangnya kerja sama dengan terapis SEFT, baik dalam memenuhi unsur-unsur spiritual atau energy psychology: Untuk memaksimalkan efek terapi SEFT, terapis dan klien perlu bekerja sama.  Keduanya perlu "men-spiritual-kan" dirinya semaksimal mungkin.  Bila klien kurang "spiritual" maka terapis harus memaksimalkan sisi EFT atau sisi energy psychology agar terapi tetap memiliki efek yang diharapkan, termasuk mencari akar masalah yang sebenarnya.  Apalagi jika klien merasa apatis sehingga enggan bersama terapis untuk mengucapkan repetitive power words "Ya Allah, saya ikhlas, saya pasrah" pada saat di-tapping.  

3. Background klien, terutama para peserta yang berasal dari lingkungan menengah ke bawah.  Erich Fromm menyebut masyarakat seperti ini sebagai receptive society, masyarakat yang lebih suka berharap dari luar, terutama dalam hal materi.  Agama seringkali hanya berkisar pada masalah ritual semata dan bukan pada sisi spiritualitas.  ditambah lagi mereka lebih percaya pada obat-obatan daripada energy therapy.      

4. Adanya godaan dari pihak terapis untuk menggunakan SEFT untuk sarana mendongkrak Ego.  seorang SEFTer bukanlah malaikat yang bersih dan suci.  dia juga manusia biasa yang memiliki keinginan untuk dihargai.  Namun, sudah selayaknya seorang SEFTer selalu berusaha kembali "men-spiritual-kan" dirinya agar efektifitas terapi yang dilakukan selalu meningkat.    

Saya percaya SEFT adalah salah satu media yang efektif untuk membagi cinta pada sesama manusia.  Erich Fromm mengatakan "Jika aku berkata aku mencintaimu, maka sesungguhnya aku mencintaimu dalam diri semua manusia, dalam diri semua yang hidup dan dalam diriku sendiri".  Fromm menyebut cinta seperti ini dengan istilah Brotherly Love.  Bahwa sesungguhnya kekasihmu berada dalam diri setiap manusia dan engkau akan selalu bisa berbuat baik dan memberi kepada kekasihmu melalui diri setiap orang.  Kekasihmu mungkin tidak mengetahui kebaikan-kebaikanmu dengan sesama manusia, mungkin dia tidak akan pernah tahu.  Namun, pancaran energi kebaikan itu cepat atau lambat akan mencapainya, mengetuk lembut pintu hatinya dan bukan tidak mungkin keajaiban demi keajaiban akan terjadi.  Keajaiban yang tidak dapat dijelaskan dengan logika atau kata-kata.  

Semoga bermanfaat  

Inspired by: SEFT, Erich Fromm - The Art of Loving dan The Sane Society,
 
Posting sambil dengerin Ebiet G. Ade - Apakah ada bedanya

Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
Kucoba tuang ke dalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui
Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku
Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli
Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka