Selasa, 22 Juni 2010

Jakartaku sayang, Jakartaku malang, kado ultah Jakarta

Gegap gempita terdengar di berbagai penjuru kota. sebagai ibukota dari sebuah negeri yang sedang dilanda krisis multidimensi, Jakarta seakan tak peduli. Aroma hedonisme, materalisema dan sekulerisme merebak di mana-mana. Seakan tak peduli lagi, rasa sakit yang menggerogoti diri. Lupa diri lupa daratan, mabuk kesenangan.

Jakarta kembali merayakan hari jadinya. Walaupun, sebagaimana telah menjadi rahasia umum, hampir tidak ada kemajuan berarti bagi warga kota tersebut. Selain pembangunan fisik semata, tidak ada peningkatan moral dan spiritualitas, apalagi kesejahteraan. Namun, hal tersebut seakan tidak menyurutkan gairah kota tua yang terus bersolek bak anak muda ini untuk kebmali berpesat pora. Pesta yang diadakan diatas derita warga kota tersebut.

Di balik kemeriahan pesta, tak terhitung lagi banyaknya fakir miskin yang merintih kesakitan dan kelaparan. Kemiskinan bagai ular raksasa yang membelit tubuh mereka hingga remuk tulang-tulangnya.

Kearifan umat beriman telah kulepaskan
Kini kupelajari kearifan umat yang murtad
Kearifan umat yang murtad adalah kebohongan dan tipu muslihat
Apakah kebohongan dan tipu muslihat? Perusak jiwa dan penegak tubuh

(Mohammad Iqbal dalam HIKMAH FIRAUN)

Seorang jurnalis foto dari Belgia, Thibault Gregoire, menerbitkan sebuah buku One day in Jakarta. Buku tersebut berisi foto-foto tentang Jakarta, mulai dari yang paling mewah sampai paling kumuh, paling sholeh sampai paling banyak maksiat. Foto-foto berkualitas tinggi itu seakan bercerita jujur apa adanya. Bagaimana seorang anak jalanan tertidur di lantai stasiun Manggarai dalam keadaan dekil, penuh daki dan kotoran. Bagaimana seorang ibu mencuci di sungai yang berair keruh dan sejumlah orang berkumpul di bawah kolong jembatan, yang menjadi tempat tinggal bagi mereka. Masih banyak lagi foto-foto sejenis. Foto-foto tersebut bisa dilihat di galeri berikut ini.

Di sisi lain, pusat-pusat perbelanjaan megah dan mewah menjamur di mana-mana. Jakarta telah menjadi salah satu kota yang paling banyak pusat perbelanjannya di dunia. Seakan tidak ada lagi kaum miskin di sana, sepertinya kantong semua orang yang datang sesak berisi lembaran-lembaran rupiah yang siap dibelanjakan apa saja dan kapan saja. Entah butuh atau sekedar ingin semata. Kerusuhan dan penjarahan yang terjadi pada bulan Mei 1998 seakan lenyap tak berbekas dari ingatan, apalagi diambil hikmah dan pelajaran di dalamnya.

Padahal, hanya beberapa meter saja, sudah ada orang-orang yang terpaksa mengerjakan apa saja yang mereka bisa hanya untuk bertahan hidup. Semau terekam dalam buku kumpulan foto tersebut. Keadaan Jakarta yang sesungguhnya, carut marut para penghuninya, sudah bukan merupakan rahasia lagi. Bahkan seorang jurnalis foto asing dengan mudah bisa mengabadikan keadaan tersebut.

Generasi tuanya congkak luar biasa
Yang muda sibuk berias seperti wanita kampungan
Kemauan yang muncul dari hati mereka tak pernah mantap
Mereka dilahirkan mati dari rahim-rahim mereka
Gadis-gadisnya terjerat oleh mode pakaian
Dan bermacam-macam alat kecantikan
Mereka senang berpakaian mewah
Alis matanya dirias seperti sepasang pedang
Perhiasannya gemerincing menyilaukan mata
Buah dadanya dipamerkan seperti ikan di kolam

(Mohammad Iqbal dalam HIKMAH FIRAUN)

DR Adian Husaini, dalam artikel beliau Tanda-tanda kehancuran sebuah bangsa, pernah mengungkapkan keprihatinannya. Patung Diponegoro yang terletak di depan sebuah gedung peninggalan kaum Mason Belanda berdiri dengan tegaknya. Patung yang sesungguhnya tidak diinginkan pahlawan yang dipatungkan tersebut. Namun, mengapa tidak ada ormas atau partai yang memperotes pembangunan patung tersebut, yang menelan anggaran sekitar sepuluh milyar rupiah. Suatu jumlah yang tidak sedikit, mengingat masih banyaknya rakyat yang menderita kelaparan, kemiskinan dan kebodohan.

Syahadatnya adalah mengabdi pada kekuatan asing
Dan candi dibangun dengan batu bata rerontok masjid
Sungguh malang bangsa yang menjauhkan diri dari Tuhan dan wahyu-Nya
Ia adalah bangsa yang mati, namun tak sadar bahwa ia mati.

(Mohammad Iqbal dalam HIKMAH FIRAUN)

Namun, begitulah Jakarta. Kota tua yang seakan tidak sadar akan ketuaannya. Kota yang terus menerus bersolek mengikuti perkembangan zaman, tanpa sadar akan dibawa ke mana. Kota yang dibesarkan, dimanjakan dan dirawat oleh peradaban Setan, yang digagas Iblis Laknatullah. Jakarta yang nafasnya sudah tersengal-sengal namun tetap saja melangkah, bankan mencoba berlari.

Bisa jadi, jakarta ini adalah gambaran besar dari para penghuninya, walaupun tentu tidak semua. Manusia-mausia yang lebih suka memperindah tubuh daripada jiwa dan hati. Manusia-manusia pengikut peradanba Barat, peradaban yang membesarkan Jakarta dan Indonesia. Membesarkan secara fisik namun menghancurkan secara moral dan spiritual.

Bumi Siria memberi kepada Barat
Seorang Nabi Saleh, tulus dan suci
Sebagai gantinya Siria mendapat dari Barat
Senjata, minuman keras dan para pelacur.

(Mohammad Iqbal)


Tulisan sederhana untuk Jakarta tercinta, sungguh malang nasibmu, hiks

Minggu, 06 Juni 2010

Pengalihan Isu dari Mavi Marmara ke Video Porno, cermin masyarakat sakit

Demonstrasi demi demonstrasi yang dilakukan berbagai elemen masyarakat ternyata mampu menarik perhatian dunia akan isu Mavi Marmara.  Oleh karena itu, Zionis dan pihak-pihak yang pro mereka tentu saja berusaha mengalihkan perhatian dan sorotan dunia pada mreka.  Untuk mengalihkan perhatian masyarakat di negara-negara maju, mereka harus bekerja keras dan merancang strategi jitu.  Masyarakat di negera-negara maju jelas bukan kumpulan orang tolol pendek ingatan yang mudah ditipu dan dibodoh-bodohi.  Namun, tidak demikian dengan masyarakat Indonesia, negeri dengan jumlah umat Islam terbanyak di dunia.  Mereka tahu persis bahwa masyarakat Islam Indonesia tak ubahnya buih di atas lautan.  Mereka sangat mengetahui bahwa  masyarakat Indonesia ini enggan untuk memikirkan hal-hal yang berat.  Orang2 Indonesia susah diajak berpikir mendalam.  Orang-orang negeri ini sudah terlalu tertekan oleh beratnya beban hidup akibat kemiskinan yang menghimpit.

Kemunculan video porno dua selebritis yang pernah jadi sorotan media massa adalah pengalih isu paling efektif. Isu Mavi Marmara yang sempat mendominasi pemberitaan media, baik cetak, elektronik ataupun online, seakan tertutupi oleh kemunculan video tidak senonoh itu.  Siapapun pelakunya, seleb atau non seleb, video seperti itu seharusnya hanya beredar di ruang privat.  Bahkan, hubungan suami istri tidak seharusnya direkam di video.  Kegiatan seperti itu adalah kegiatan yang bersifat sangat pribadi, bahkan Rasul SAW melarang pasangan suami istri menceritakan apa saja yang mereka lakukan kepada orang lain.  Apalagi dalam masyarakat sakit jiwa yang dipenuhi "otak-otak ngeres" dan "nafsu syahwat" seperti masyarakat kita ini.

Sebenarnya, tidak penting apakah video itu beneran kedua artis itu atau bukan.  Siapapun pelakunya, video seperti itu sama sekali bukanlah konsumsi publik.  Apalagi kalau dilakukan di luar pernikahan yang sah, tentu sudah termasuk zina.  Namun, di dunia selebritis yang serba bebas, liberal dan glamour, kelakuan seperti itu sangat mungkin sudah dianggap biasa.

Tragedi Mavi Marmara adalah momentum yang sangat tepat untuk membuka hati umat manusia, tanpa pandang ras, bangsa, agama atau keyakinan.  Betapa penyerangan brutal nan kejam pada para relawan kemanusiaan adalah salah satu kejahatan kemanusiaan terkejam saat ini.  Kedok Negara Israel (yang dengan tanpa hak mencatut gelar mulia seorang Nabi) sebagai negara demokratis terkuak sudah.  Kebijakan-kebijakan negara kaum zionis itu ternyata tidak ada bedanya dengan Jerman zaman pemerintahan Nazi dan Hitler, Italia zaman Fasis Mussolini dan Soviet zaman Stalin. Sama sekali tidak ada bedanya.  Wajah Iblis nan penuh kebusukan menjijikkan kini terbuka dan telanjang.  Tidak mengherankan apabila mereka berusaha menutupi terkuaknya aib mereka dengan segala cara, termasuk menyebarkan video porno.

Entah kapan media-media kapitalis serakah itu akan sadar bahwa masyarakat sakit hanya menghasilkan individu-individu sakit jiwa dan sebaliknya.  Media-media yang justru melakukan pengkhianatan dan mengambil keuntungan tak seberapa dari sakitnya masyarakat ini.  Mungkin menunggu sampai masyarakat sakit ini berubah menjadi zombie-zombie tak berakal dan tak berjiwa, yang berjalan, berbicara dan bernafas namun hakikatnya sudah meninggal sebelum ajal.  Kerusuhan Mei 1998, yang pada hakikatnya merupakan ledakan bom waktu kemiskinan, seakan berlalu lenyap tanpa pernah diingat lagi apalagi diambil pelajaran dan hikmahnya.  

Jika demikian adanya, terlalu naif kiranya apabila kita berharap bahwa Tragedi Mavi Marmara akan menjadi tragedi kemanusiaan terakhir.  Pengalihan isu dengan cara-cara kotor dan murahan seperti video porno selebritis seharusnya menjadi peringatan bagi kita bahwa kejahatan dan tragedi kemanusiaan pasti akan berulang kembali di masa depan.  Selama akar permasalahan dari tragedi-tragedi kemanusiaan, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang, belum terselesaikan dengan tuntas.

"Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan .. WASPADALAH, WASPADALAH!!"

Bang Napi


----- semoga bermanfaat ------------


Rabu, 02 Juni 2010

Tragedi Mavi Marmara, harga sebuah amanah dan pelajaran berharga

Perjalanan mengarungi lautan luas tentu bukan perjalanan aman tanpa resiko.  Apalagi tujuan mereka adalah dareah Gaza yang masih dibayangi penjajahan Zionis lakntaullah.  Mavi marmara bukanlah kapal perang seperti yang mengangkut tentara sekutu saat mereka menyerbu pantai Omaha tahun 1944, yang dalam sejarah dikenal dengan D day.  Mavi Marmara bukanlah pula kapal dagang zaman kolonial yang mengangkut hasil bumi negeri-negeri jajahan.  Marvi Marmara bukanlah kapal yang yang mengangkut harta berharga sehingga menjadi incaran para bajak laut dan perompak. Marvi Marmara adalah sebuah kapal yang membawa para relawan yang mengantar bantuan untuk para penduduk Gaza. Kapal itu hanya berisi bahan makanan, obat-obatan dan generator pembangkit tenaga listrik.  Seluruh muatan yang ada di kapal itu hanya untuk penduduk Gaza yang terisolir, kelaparan dan kedinginan.  Tidak ada senjata atau bahan berbahaya di dalam kapal itu.  Kecuali tentu saja jika ada yang sedemikian paranoid sehingga menganggap pisau dapur sebagai senjata yang sama berbahaya dengan senapan serbu dan bahan-bahan peledak.  

Namun, adegan yang terjadi pada malam itu di atas kapal Marvi Marmara jauh lebih mengerikan daripada peperangan.  Jauh lebih menakutkan daripada perampokan para bajak laut.  Yang terjadi adalah pembantaian terhadap awak kapal dan relawan oleh sepasukan tentara terlatih bersenjata lengkap namun tak punya hati nurani.  Para relawan dan awak kapal terpaksa harus melawan semampu mereka dengan alat seadanya.  Akibat dari perkelahian tidak seimbang tersebut, belasan penumpang kapal itu meninggal dunia, sementara puluhan lainnya luka-luka.  

Mavi Marmara bukanlah sekedar kapal pengangkut bantuan.  Mavi Marmara adalah harga sebuah amanah.  Apapun resikonya, amanah tetap harus dijaga dan disampaikan keapda yang berhak, dalam hal ini rakyat Gaza.   Rasulullah SAW menjelaskan bahwa yang paling ringan dari agama ini adalah mengucapkan dua kalimah syahadat dan yang paling berat adalah menjaga amanah.  NIlai keimanan manusia adalah seberapa kuat dia mampu menjaga amanah yang diberikan kepadanya.  Amanah memiliki akar kata yang sama dengan Iman dan Aman.  Orang beriman mampu menjaga amanah yang diberikan kepadanya sehingga orang lain merasa aman dengannya.  

Dalam khutbahnya Rasulullah SAW, yang diriwayatkan Anas, beliau bersabda : "Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak agama bagi orang yang tidak memegang janji". (HR.Ahmad dan al-Bazzaar). Syaikh Muhammad al Ghazali dalam bukunya Akhlak Seorang Muslim mengatakan, menjaga amanah ialah menunaikan dengan baik hak-hak Allah SWT dan hak-hak manusia tanpa terpengaruh oleh perubahan keadaan, baik susah maupun senang.

Mavi Marmara adalah juga hikmah dan pelajaran.  Pelajaran tentang pengorbanan dan kebahagiaan. Betapa banyak orang yang bersedia merepotkan diri, bersusah payah dan bahkan berkorban waktu, tenaga dan jiwa raga untuk keselamatan dan kebahagiaan sesama.  Mungkin dengan bersikap egois dan tidak peduli pada sesama, orang dapat mencapai kesenangan.  Namun, kebahagiaan hanya dapat diraih dengan berbagi dan berkorban bagi orang lain.  Walaupun harus berpeluh keringat, berlinang air mata, bersimbah darah, bahkan meregang nyawa.

Mavi Marmara adalah juga pelajaran tentang cinta.  Cinta para relawan dan awak kapal pada penduduk Gaza.  Cinta antar manusia pada sesamanya yang menderita tanpa memandang agama dan keyakinan, tanpa memandang ras dan perbedaan warna kulit.  Cinta yang terbebas dari penjajahan budaya materialistik dan kapitalistik nan hedonis.   Banyak orang yang mengabdikan diri dalam aksi-aksi kemanusiaan adalah orang-orang yangtidak beragama. Namun, mereka tleah merasakan nikmatnya menjadi relawan, nikmatnya berbuat baik pada sesama.  Berbuat baik adalah fitrah bagi manusia, melalui perbuatan2 itu, manusia menemukan ketentaraman dan keadamaian batin.  Namun, bagi seroang muslim, perbuatan2 itu tentu harus pula bernilai ibadah

Mavi Marmara adalah bukti bahwa amanah, pengorbanan dan cinta tidak pernah terpisahkan.  Ketiga hal tersebut membentuk suatu sinergi yang memancarkan energi dan berkah bagi sesama.  

Mavi Marmara adalah juga pelajaran tentang kewaspadaan.  Kini mata dunia internasional, walaupun mungkin belum semua, telah terbuka untuk mengetahui siapa musuh kemanusiaan yang sesungguhnya.  Siapa yang tega menyerang awak kapal dan relawan tak bersenjata dengan tentara bersenjata lengkap.  Siapa yang tega membiarkan penduduk Gaza mati kelaparan sesudah beberapa waktu yang lalu membombardir para penduduk itu secara membabi buta.  

Orang-orang yang di dalam Al Quran surat Al Fatihah disbut dengan Maghdub.  Yaitu orang-orang yang menyimpan Ghadab dalam hati mereka.  Ghadab adalah dendam kesumat bagai bara api yang tidak akan padam walau disiramkan padanya air seluruh lautan.  Dendam membara bagai bom waktu yang setiap saat siap meledak tanpa bisa diduga.  Dendam yang berasal dari kebanggan rasial yang semu belaka, yang tidak ada artinya dalam pandangan Allah SWT.  Namun, kebanggaan itu menghasilkan manusia-manusia bengis dan sadis, yang hatinya penuh kedengkian dan dendam pada semua manusia selain bangsanya.  

Amerika serikat sang negara adidaya gagah perkasa tiada tanding di kolong langit, ternyata masih seperti kerbau di ladang.  Sementara si zionis seperti anak gembala dengan riang bermain seruling di atas sang kerbau yang perkasa namun bebal otaknya

Mavi Marmara adalah juga pelajaran tentang sejarah dan perubahan.  Memang sekarang kaum zionis masih berkuasa dengan keangkuhan dan arogansi yang luar biasa. Namun, cepat atau lambat angin perubahan akan berhembus tanpa bisa dicegah oleh siapapun dan apapun, sebagaimana yang telah terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia.  Namun, tragedi ini juga menjadi bukti bahwa banyak manusia tidak pernah belajar dari sejarah.  Mereka menghafal tahuh-tahun  terjadinya peristiwa penting, yang banyak diantaranya adalah peristiwa-peristiwa berdarah.  Mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah.  Tetapi mereka jarang sekali, kalau tidak mau mengatakan tidak pernah, mengambil hikmah dan pelajaran dari sejarah itu sendiri.  Oleh karena itu George Santayana, seorang filsuf, pernah berkata: <i>"Those who forget the past are condemned to repeat it"</i> (mereka yang melupakan sejarah akan dikutuk untuk mengulanginya).   

Perubahan adalah sunatullah yang tidak bisa dihindari.  Sesuatu yang kecil suatu saat akan bisa menjadi besar.  Sebaliknya, sesuatu yang besar suatu saat bisa menjadi kecil, bahkan hilang sama sekali.  Sepanjang sejarah, para diktator dan tiran sudah datang silih berganti.  Mereka berkuasa secara absolut layaknya Tuhan yang menguasai seluruh Alam Semesta.  Namun, mereka kini sudah menjadi bagian dari sejarah.  Nama mereka, yang dulunya disebut dengan penuh rasa takut seraya bergetar, kini tak lebih dari kata yang ringan untuk diucapkan.  

Mavi Marmara bukanlah tragedi kemanusiaan yang pertama.  Dan pasti juga bukan yang terakhir.  Selama kejahatan Zionis masih merajalela di muka bumi ini, maka tragedi-tragedi kemanusiaan selanjutnya masih akan terjadi, tanpa bisa diduga bagaimana, kapan, di mana dan siapa yang akan menjadi korbannya.  

Selasa, 25 Mei 2010

Berjihad dengan Harta

Malam makin larut di suatu kota di Mesir. Seorang pemuda sedang menunggu taksi di tepi jalan. Pemuda ini bekerja di sebuah perusahaan milik orang Yahudi. Dia seringkali heran dengan para pemilik perusahaan tersebut, karena kerugian beberapa ratus dollar saja sudah cukup membuat mereka paranoid ketakutan hingga kalang kabut.

Tidak berapa lama, datanglah sebuah taksi. Pemuda itu memanggil taksi tersebut dan masuk. Karena perjalanan cukup jauh, dia mengajak si supir taksi mengobrol. Obrolan pun berlanjut sampai si supir taksi menceritakan bahwa dia bekerja di restoran dari pagi sampai petang. "Brother, sedemikian sulitkah kehidupan di sini, sehingga kamu harus bekerja dua kali sebagai pelayan restoran dan supir taksi" kata si pemuda keheranan. Sang supir taksi tersenyum dan berkata "Tidak brother, penghasilan saya sebagai seorang pelayan restoran sudah cukup menghidupi keluargaku". Pemuda itu keheranan dan berkata "lalu mengapa kamu harus bekerja lagi sebagai supir taksi?". Si supir taksi menjawab "aku ingin bisa bersedekah". Pemuda itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sangat kagum dan takjub pada supir taksi di sebelahnya. Insya Allah, apa yang dilakukan si supir taksi itu sudah bisa dikategorikan sebagai jihad harta.

Harta adalah sarana bagi kehidupan kita. Harta harus dicari dengan jalan yang halal sesuai syariat dan diridhoi Allah SWT. Harta tidak boleh hanya disimpan di gudang seperti Qarun. Namun, harta itu harus mengalir dengan baik agar semua manusia merasakan manfaatnya. Biasanya, pengeluaran harta adalah untuk memenuhi dua hal, kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan dapat diperhitungkan secara rasional namun selera dan keinginan cenderung emosional bahkan kompulsif. Terkadang orang bahkan menghalalkan segala cara untuk memperturutkan keinginan yang tidak terbatas itu.

Pengeluaran harta dapat dinilai sebagai amal shaleh atau jihad. Apabila kita mengeluarkan harta ala kadarnya untuk bersedekah, maka hal itu tentu dinilai sebagai amal sholeh. Kebaikan sebesar butiran atom pun akan diperhitungkan oleh Allah SWT di Yaumil Hisab nanti. Namun, sering kali kemampuan kita untuk menyedekahkan harta terhalang oleh keinginan-keinginan yang menuntut untuk segera dipuaskan. Sehingga, lebih banyak harta kita gunakan untuk memperturutkan hobby dan keinginan kita daripada untuk dinafkahkan di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Sehingga tidak mengherankan apabila seorang cendekiawan muslim Palestina, ketua Rabithah Alam Islami di Suriah, bernama DR. Nawwaf Takruri mengatakan bahwa memperioritaskan penggunaan harta untuk perjuangan di jalan Allah SWT sudah bernilai jihad, bukan lagi sekedar amal. Mengeluarkan harta lebih banyak sehingga mengurangi kemampuan kita untuk memperturutkan keinginan memerlukan Mujahadah. Mujahadah adalah jihad melawan keinginan hawa nafsu diri sendiri. Agar pengeluaran itu efektif, diperlukan ijtihad, baik pribadi ataupun kolektif, untuk menentukan tujuan dan strategi pengeluaran harta tersebut. Sehingga, dengan ditambah ridho dan keberkahan dari Allah SWT, banyak orang akan memperoleh manfaat dari harta tersebut.

Jihad adalah mengeluarkan segenap kemampuan untuk berjuang meraih keridhoan Allah SWT. Jihad harus dilengkapi dengan ijtihad dan mujahadah. Apabila tidak, hampir tidak ada bedanya jihad dengan kekerasan yang serampangan. Ali bin Abi Thalib memberi contoh mujahadah, saat beliau tidak jadi membunuh musuh karena mukanya diludahi. Ali khawatir pembunuhan terhadap musuh yang dia lakukan tidak lagi bermotif jihad di jalan Allah SWT. Melainkan sudah bermotif amarah atau bahkan balas dendam. Dalam film Enter The Dragon, Bruce Lee menasihati seorang muridnya saat latihan. "I said Emotional Content, not Anger" kata sang Master. Maksudnya adalah, gunakan pikiranmu untuk mengarahkan kekuatan dan kandungan emosimu ke arah yang tepat. Jihad, ijtihad dan mujahadah tidak akan pernah terpisahkan.

Sebaliknya, apabila harta dipergunakan dengan serampangan tanpa perhitungan, maka yang terjadi adalah pemborosan. Seorang ulama mendefinisikan pemborosan sebagai pengeluaran harta di jalan yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Walaupun hanya satu rupiah, pengeluaran bukan di jalan Allah SWT termasuk pemborosan. Bahkan, pemanfaatan harta tanpa perhitungan yang matang justru akan menambah dosa dan kemaksiatan yang akan menjadi beban di Yaumul Hisab nanti. . Mungkin kita masih ingat pada buku jakarta Undercover yang ditulis seorang mantan santri. Buku itu berisi tempat-tempat wisata sex yang ada di Jakarta, kota kita tercinta ini. Hampir-hampir tidak bisa dipercaya bahwa di Jakarta, Ibu kota Republik Indonesia, negara dengan jumlah ummat Islam terbanyak di seluruh dunia, ada tempat-tempat pelesiran sex seperti itu.

Bayangkan, bagaimana perasaan orang-orang miskin tersebut saat ada orang yang berkata "Ibu-ibu, Bapak-bapak sekalian, maaf saya belum bisa membantu meringankan beban penderitaan anda sekalian. Kami ingin terlebih dahulu memuaskan hawa nafsu kami untuk bermewah-mewah. Kami ingin merayakan terlebih dahulu ulang tahun anak-anak kami atau pernikahan kami dengan pesta-pesta yang megah terlebih dahulu. Ibu bapak sekalian bersabar dulu saja ya. Kalau ada yang sampai mati karena kelaparan atau sakit, yah anggap saja sudah waktunya".

Tentu saja tidak ada orang yang cukup sinting untuk mengatakan kata-kata menyakitkan itu tepat di muka orang-orang miskin, jika tidak mau kehilangan nyawa.

Namun, kata-kata seperti itu seakan-akan diucapkan melalui kemewahan biasa yang dipertontonkan orang-orang kaya, baik secara langsung atau melalui saluran penyedia informasi seperti TV atau internet. Gedung-gedung tinggi menjulang angkuh sementara disekitarnya orang-orang miskin melihat dengan pandangan mata nanar sampai menahan lapar melihat orang-orang kaya berlalu lalang dengan atau tanpa sadar memamerkan kemewahan yang mereka miliki.

Ironisnya, musuh-musuh Islam, terutama kalangan Yahudi, justru mengamalkan jihad harta ini demi kepentingan eksistensi mereka. Suatu ketika ada seseorang bertamu ke rumah orang Yahudi. Si tuan rumah menyuguhkan teh kepada si tamu. Dia memberi dua batang gula pada teh untuk si tamu sedangkan dia sendiri minum teh tanpa gula. Si tamu heran dan bertanya "mengapa anda tidak minum teh anda dengan gula?". Si Yahudi menjawab, "kami sekeluarga ada 4 orang dan masing-masing dari kami minum teh dua kali sehari". "Apabila masing-masing kami menghemat dua batang gula setiap hari, maka kami akan mengumpulkan cukup banyak harta untuk disumbangkan pada perjuangan saudara-saudara kami di Israel" tambah si Yahudi.

Memberikan harta kepada mereka yang membutuhkan adalah ciri orang yang beriman dan bertaqwa. Orang-orang yang beriman bermujahadah sebelum dan sesudah memperoleh harta. Mereka menggunakan kemampuan terbaik mereka untuk memperoleh harta, namun mereka sama sekali tidak merasa memiliki harta tersebut. Mereka mengendalikan keinginan untuk menggunakan hartanya dan menganggap harta itu sebagai amanah yang harus ditunaikan sesuai keinginan yang menitipkan amanah tersebut. Tidak lebih dari itu.

Then said a rich man, "Speak to us of Giving."
And he answered:
You give but little when you give of your possessions.
It is when you give of yourself that you truly give.
For what are your possessions but things you keep and guard for fear you may need them tomorrow?
And tomorrow, what shall tomorrow bring to the over prudent dog burying bones in the trackless sand as he follows the pilgrims to the holy city?
And what is fear of need but need itself?
Is not dread of thirst when your well is full, thirst that is unquenchable?

On Giving

By Kahlil Gibran in The Prophet


Semoga bermanfaat

terinspirasi dari buku Dahsyatnya Jihad Harta

Jumat, 21 Mei 2010

Sang Raja Lautan yang dibantai karena keserakahan

Deburan ombak seakan memecah kesunyian lautan. Para nelayan seakan tidak memperdulikan deburan ombak tersebut, mereka terus saja bekerja. Namun, yang mereka tangkap bukanlah ikan-ikan biasa. Yang menjadi incaran mereka adalah ikan-ikan yang telah berpuluh bahkan beratus tahun menjadi teror di lautan. Baik dalam kenyataan atau dalam film-film, yaitu ikan hiu. Bagian dari ikan hiu yang mereka akan ambil adalah siripnya. Terkadang bagian yang lain masih diolah namun lebih sering tidak. Daging ikan hiu tidaklah enak untuk dimakan dan sedikit yang mau bersusah payah mengolah daging itu menjadi ikan asin. Tanpa sirip, ikan hiu persis petarung yang sudah dipotong kedua tangan dan kakinya. Jangankan untuk merajai lautan, untuk berenang saja sudah tidak mampu. Ikan hiu harus terus bergerak untuk bisa bernafas dengan insangnya dan dia tidak akan bisa berenang tanpa sirip-sirip itu. Kehidupan Sang Raja Laut pun berakhir tragis menjadi onggokan bangkai.

Sirip-sirip hiu tersebut dijual dengan harga yang fantastis. Sirip dengan kualitas tertinggi dijual 10 juta rupiah per kilo, sementara yang kualitasnya rendah dijual 2 juta rupiah per kilo. Tidak mengherankan banyak orang yang tergiur akan besarnya keuntungan yang bisa diperoleh dari sirip-sirip tersebut. Konon, sirip-sirip itu dipercaya bisa membuat orang yang memakannya senantiasa sehat dan panjang umur. Sirip-sirip itu juga banyak yang diekspor ke negara-negara yang banyak mafia dan gangsternya.

Kalau harus bayar 10 juta rupiah per kilogram, mungkin koruptor pun harus berpikir 10 ribu kali sebelum merogoh koceknya. Yang tidak ragu untuk membayar sebanyak itu tentunya para gangster dan mafia yang sangat percaya pada mitos. Keinginan untuk hidup selama mungkin dan ketakutan pada kematian menyebabkan orang-orang itu mencari obat panjang umur. Terkadang, mereka mencari obat-obatan yang secara medis masih diragukan seperti tulang harimau, cula badak dan sebagainya. Mereka adalah para gangster yang bisnisnya perjudian skala besar, pelacuran antar negara, narkotika dan obat terlarang dan sebagainya. Bahkan mungkin juga ada yang berbisnis pembunuh bayaran. Setiap hari, mungkin setiap jam, uang panas dan haram itu mengalir deras ke dalam pundi-pundi mereka.

Sudah menjadi fitrah bagi manusia apabila berbuat jahat maka dia tidak akan merasakan ketenangan hakiki. Apalagi apabila makanan yang dia konsumsi sehari-hari terdiri dari barang-barang haram dan mendapatkannya juga dengan uang haram. Hidup orang itu akan dipenuhi kepura-puraan, kehinaan dan ketakutan walaupun dari luar banyak orang mengaguminya. Dalam keadaan seperti itu, banyak orang mencari perlindungan kepada berbagai hal seperti jimat, takhayul dan sebagainya. Termasuk mencari obat-obatan tertentu yang dipercaya bisa membuat panjang umur tanpa harus menjaga kesehatan dan tanpa perlu meninggalkan bisnis haram.

Kejahatan cepat atau lambat akan menghasilkan kejahatan berikutnya yang seringkali lebih besar. Rasulullah mengajarkan kita bahwa orang yang memulai suatu kejahatan akan menerima pembalasan dosa kejahatan tersebut dan dosa dari kejahatan orang-orang yang mengikutinya. Sementara, para pengikut orang yang memulai itu juga akan menerima dosa yang sama, apalagi kalau mereka diikuti orang lain. Sementara itu, kerusakan demi kerusakan terus terjadi. Kerusakan yang terjadi antara lain kerusakan lingkungan dan biota laut seperti berkurangnya populasi ikan hiu. Ikan hiu adalah predator natural yang menjaga keseimbangan rantai makanan di lautan. Pemburuan besar-besar ikan hiu dan predator natural lainnya akan menyebabkan jumlah mereka berkurang atau bahkan punah. Bila tidak ada predator, maka populasi ikan dan binatang yang menjadi makanan para predator itu akan membengkak. Jumlah populasi mangsa yang terlalu besar itu akan menyebabkan lingkungan tidak lagi mampu mendukung kehidupan mereka. Yang tidak kalah mengerikan adalah kerusakan sosial dan moral seperti kemiskinan, pelacuran, judi, kejahatan terorganisir seper mafia dan gangster dan lain sebagainya. Karena itulah, amar ma'ruf nahi munkar (memerintahkan hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk/jahat) menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam ajaran Islam. Berdiam diri saat ada kejahatan yang sedang terjadi adalah juga merupakan kejahatan.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.

(Riwayat Muslim)

Inspired by: tayangan dokumenter Elshinta TV

komik silat Tony Wong: Long Hu Men (Perguruan Naga Harimau)

Semoga bermanfaat

Rabu, 19 Mei 2010

[Sosial] Para penambang bukit kapur yang harus bertaruh nyawa

Terik mentari seakan terpantulkan pada bongkahan batu-batu gamping yang berwarna putih itu.  Para pekerja dengan perlengkapan seadanya terus bekerja menggali bongkahan-bongkahan tersebut. Mereka mengumpulkan batu-batu yang sudah dipecahkan dengan perkakas dan bahan peledak sederhana hasil racikan mereka sendiri.  Sesudah diolah dengan cara dibakar, batu-batu itupun dibawa dengan truk-truk yang sudah sangat tua.  Model bagian depan truk yang masih berhidung mancung itu seakan menyiratkan masa yang lampau.  

Suasana di sana seakan-akan membawa kita ke dalam film-film fantasy masa lalu seperti film Conan the Barbarian dan sebagainya.  Namun, yang ada di sana bukanlah para ksatria berotot kekar dengan pedang tajam, kuda-kuda yang berlari melintasi pegunungan berdebu, putri raja nan cantik, monster atau penyihir jahat.   Melainkan para pekerja yang berjuang menghidupi diri dan keluarganya dengan upah yang hampir-hampir tidak bisa mengejar harga kebutuhan pokok.  Para pekerja dengan perlengkapan seadanya terus bekerja menggali bongkahan-bongkahan tersebut. Mereka mengumpulkan batu-batu yang sudah dipecahkan dengan perkakas dan bahan peledak sederhana hasil racikan mereka sendiri.  Sesudah diolah dengan cara dibakar, batu-batu itupun dibawa dengan truk-truk yang sudah sangat tua.  Model bagian depan truk yang masih berhidung mancung itu seakan menyiratkan masa-masa yang lampau, saat truk-truk seperti itu merajai jalanan.   

Belum lagi resiko kecelakaan, cacat tubuh atau bahkan kematian.  Maklum, ledakan dari bahan peledak yang mereka gunakan untuk memecah batu gamping juga menghasilkan kepulan asap dan serpihan debu yang membahayakan kesehatan, terutama pernafasan dan mata.  Para pekerja yang sudah membanting tulang memeras keringat seakan hanya mendapatkan upah sekadarnya.  Mereka hanya dibayar beberapa belas sampai beberapa puluh ribu rupiah setiap hari.  Pekerjaan penuh resiko itu mereka jalani tanpa jaminan kesehatan ataupun keselamatan yang seharusnya mereka dapatkan.  Mereka juga tidak mengenakan perlengkapan keamanan dan keselamatan seperti helm, kacamata pelindung atau sepatu boot.  Perlengkapan yang sebenarnya dibutuhkan untuk bekerja di daerah seperti itu.  Tidak ada jaminan kesehatan dan keselamatan bagi mereka dalam bekerja.  Korban di kalangan para pekerja itu sudah banyak pula yang berjatuhan, baik cacat, sakit ataupun meninggal dunia.    

Padahal, batu-batu gamping hasil jerih payah mereka dinikmati oleh banyak orang, termasuk orang-orang kaya di berbagai kota di negeri ini.  Batu kapur tak hanya dimanfaatkan untuk campuran bahan bangunan semata, juga dimanfaatkan untuk industri besi baja, bahan pembuat karbit, penetralisir limbah industri besi baja, bahan pembuat karbit, hingga untuk bahan dasar proses pemutihan gula.  Pagar-pagar besi rumah orang-orang kaya, yang dibuat untuk melindungi diri dan harta benda dan menegaskan status sosial mereka, dilas dengan karbit yang dibuat dengan batu2 tersebut.  

Tayangan dokumenter dari sebuah televisi swasta tentang para penambang batu gamping itu mengingatkan saya pada saat bekerja di Bandung beberapa waktu yang lalu.  Pada saat bepergian dari Bandung ke Puncak lewat Cianjur dan sebaliknya, saya seringkali melewati daerah Padalarang.  Salah satu tempat yang sering saya lewati adalah pertambangan batu gamping seperti dalam tulisan di atas.  Namun, saat itu saya belum mengetahui kehidupan para penambang batu itu yang sesungguhnya.   

Terkadang begitu mudah bagi kita untuk melupakan dan mengabaikan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita.  Mereka telah bekerja keras membanting tulang untuk menyediakan bahan-bahan yang untuk membuat hidup kita lebih nyaman dan aman. KH Toto Tasmara, dalam salah satu ceramah beliau di sebuah radio swasta pernah mengatakan "Jika rumah yang kita tempati bocor atapnya dan air hujanpun merembes masuk, kepada siapa kita minta pertolongan.  Apakah kepada pak Dokter yang biasa memeriksa apabila ada anggota keluarga sakit, apakah kepada pak Direktur Utama yang gajinya puluhan juta sebulan atau saudara kita yang kaya raya? Tentu saja tidak, kita tentu akan minta tolong pada tukang bangunan yang tinggal di kontrakan petak, yang biasa memperbaiki rumah kita dengan tangan trampilnya".

Maka sungguh kita dianggap dan dibilang orang kaya karena ada orang-orang miskin di sekitar kita.  Lebih dari itu, hidup kita sebagai orang yang kaya menjadi lebih nyaman dengan keberadaan dan pertolongan mereka.  Namun, jarang sekali kalau boleh dibilang hampir tidak pernah kita berterima kasih dengan tulus pada mereka dan berinteraksi lebih dalam, berusaha mengetahui dan memahami apa yang sesungguhnya mereka butuhkan.  Jika jiwa kita masih memiliki kehidupan, yang menyebabkan jiwa itu peka pada penderitaan sesama, kita akan merasa berdosa apabila menghabiskan uang dan harta kita hanya untuk kesenangan pribadi.  Walaupun semua itu kita peroleh dengan kerja keras yang halal, namun hakikatnya semua itu merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah SWT.

Semoga bermanfaat

Referensi:

Penambang Bukit Kapur : Bertaruh Nyawa Kejar Rupiah

Bertarung Nyawa di Bukit Kapur