Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Februari 2010

[Puisi] Kedamaian dalam rinai hujan



Rain and tears, are the same

but in the sun
you've got to play the game

When you cry
in winter time
you can pretend
it's nothing but the rain

Kekasihku,

saat hujan deras menerpa tubuhku
tidak kuasa kuhentikan diriku
untuk bermain di bawah belaian lembutnya
untuk menyembuhkan semua luka

Kekasihku,

ketika kucuran air dari atap rumah
mengucur melimpah ketanah
kubasuh mukaku dengan air itu
manis terasa di mulutku

Kekasihku,

hujan kali ini sungguh berbeda
seakan mengerti isi hatiku yang luka
iramanya mengiringi langkah kaki ini
membasahi jalanan yang gelap dan sepi

Kekasihku,

mungkin kau tak kan mengerti
apa yang kurasakan saat ini
namun cukuplah sang hujan yang menemani
sebagai ganti dirimu di sini

Kekasihku,

dalam kegelapan malam
dan rinai hujan
tiada guna berpura-pura
curahkan seluruh tangisan jiwa

Kekasihku,

Biarlah hangat air mata
bercampur dingin air hujan
keduanya mengalir bersama
melarutkan semua luka yang masih dirasakan

Kekasihku,

Saat itulah aku baru menyadari
karunia Allah SWT yang satu ini
hujan yang sering dihujat banyak orang
kali ini benar-benar memberiku kedamaian

Terinspirasi lagu Rain and Tears by Demis Roussos

[Puisi] Pesan dari Sang Hujan



[2.22]. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan buatmu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.


Sesungguhnya aku, sang hujan

adalah cara air menembus permukaan bumi
menumbuhkan benih-benih yang terpendam
sehingga tumbuh mekar bersemi
menambah semarak keindahan alam

Namun bila aku,

dihambat aspal, semen dan bahan-bahan lain
sehingga aku tak bisa meresap ke dalam tanah
sama sekali tak ada pilihan bagiku
kecuali terus mengalir ke tempat yang rendah

Dan ....

bila banjir bandang pun menggulung kotamu
bila tanah longsor menimbun desamu
bila engkau dan keluargamu kehilngan harta bahkan nyawa
sungguh itu semua bukan kesalahanku

karena itulah wahai manusia ..

Cintailah aku

bukan keinginanku berada di sini
bukan kemauanku turun membasahi bumi
bukan pula aku yang meminta diciptakan
seperti ini

Cintailah aku

dengan menjaga lingkunganmu
aku hanya menuruti perintahNya
untuk turun di tempat yang ditentukan olehNya

Wahai manusia,

Allah SWT telah mengatur diriku sedemikian rupa
sehingga aku menjadi rahmat bagi semesta
tanaman, binatang dan manusia

Namun,

ternyata engkau sebagai makhluk paling mulia
ternyata kau rendah hinakan derajat sehingga hina
lebih rendah dari binatang melata
serakah, tamak dan durjana

Apabila azab ujian bala menimpa
sungguh salahkan dirimu wahai manusia
bertaubatlah dan kembalilah segera
kepadaNya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

aku, sang hujan, akan menghapus semua derita dukamu
saat kau merasakan belaian lembutku
mendinginkan hawa panas di hatimu
mendamaikan jiwa dan kehidupanmu

Namun,
aku hanya bisa melakukannya
hanya apabila kau tunduk pada Penciptaku
yang juga Penciptamu



Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian ditumbuhkannya-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu Kami melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. (QS.Az-Zumar - 39:21)

Semoga bermanfaat

More info please read:

Fenomena Hujan dalam Al Quran

Tafsir Tematik: Dia Menurunkan hujan dari langit


Senin, 03 November 2008

[SOSIAL] Ojek Payung siapa peduli?












Ojek payung siapa peduli?




Casas de carton - Javier Alvarez



Tadi sore, setelah mengambil kwitansi dan amplop dari Bunda Ardanti di BI, saya mampir ke Plaza Indonesia untuk sholat Ashar dan lihat-lihat buku. Saat menjelang maghrib, ternyata di luar hujan deras. Anak-anak penjaja jasa sewa payung, alias ojek payung sudah berkumpul di sana menanti datangnya setetes rezeki untuk mereka.




Maka, muncullah perbedaan yang kontras dari kesenjangan sosial yang ada di negeri ini. Para ojek payung yang berpakaian lusuh seadanya serta bertelanjang kaki berjuang meraih rezeki yang ada hari itu. Sambil menggigil kedinginan serta menahan lapar, mereka menawarkan jasa ojek payung.




Saya tidak tahu apakah mereka tadi pagi sekolah atau tidak.

Saya tidak tahu apakah tadi siang mereka sudah makan atau belum.

Saya tidak tahu apakah mereka masih sempat istirahat atau tidak.





Bisa jadi dalam hati mereka terbersit rasa iri melihat anak-anak orang lain bisa naik turun mobil, bisa berpakaian bagus. Mereka juga ingin membeli mainan dan makanan yang mereka lihat ditenteng anak-anak orang kaya yang baru keluar dari Mall.




Entah apa lagi perasaan yang ada dalam hati mereka, yang seharusnya juga bisa kita rasakan jika kita punya kepekaan dan empati yang baik.




Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?

Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi?

Kalau bukan kita yang memberdayakan mereka, siapa lagi?





Saya hanya bisa merenungkan hal tersebut sambil menyanyikan lagunya Javier Alvarez berikut ini






Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué triste vive mi gente en las casas de cartón





Viene bajando el obrero casi arrastrando sus pasos

por el peso del sufrir,

mira que mucho ha sufrido, mira que pesa el sufrir





Arriba deja la mujer preñada

abajo está la ciudad y se pierde en su maraña

hoy es lo mismo que ayer, es un mundo sin mañana





Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué triste vive mi gente en las casas de cartón





Niños color de mi tierra, con sus mismas cicatrices

millonarios de lombrices, y por eso

qué triste viven los niños en las casas de cartón





Qué alegres viven los perros en casa del explotador





Usted no lo va a creer pero hay escuelas de perros

y les dan educación pa' que no muerdan los diarios

pero el patrón hace años, muchos años

que está mordiendo al obrero





Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué lejos pasa la esperanza en las casas de cartón