Tampilkan postingan dengan label madrasah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label madrasah. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2009

[Relawan Pelangi] Ke Jagabita once again, Ahad 2 Februari 2008




hari Ahad kemarin saya dan kawan2 dari Relawan Pelangi kembali ke jagabita untuk melihat perkembangan pembangunan madrasah sarana sanitasi dan air bersih di sana.

Madrasah yang kemarin dipergunakan untuk mutilasi atau pemotongan daging qurban sudah dipugar rapih, Alhamdulillah.

satu titik air sudah bisa dipergunakan dan yang lain menyusul.

sorenya kami pergi ke titik air yang lain dekat masjid Jami Al Istiqomah.

Dekat masjid itu, ada tempat penampungan air yang lebih tepat disebut kubangan, karena hanya mengandalkan air hujan dan air yang itu-itu saja.

Kami menjenguk Ibu Marhunah yang perutnya bengkak, kemungkinan sakit lever.

Kami sangat berharap rekan-rekan sekalian berkenan untuk bersama-sama membantu mengatasi masalah-masalah yang ada di desa ini, terutama masalah kesehatan dan kemiskinan di sana.

Selasa, 09 Desember 2008

[RELAWAN PELANGI] Qurban di Jagabita

Akhirnya setelah berharap-harap cemas hari H yang dinanti para relawan Pelangi pun tiba.  sesuai kesepakatan yang akhirnya berhasil dicapai 

(stelah beberapa kali berubah-ubah rencana) para relawan spakat berangkat dari Masjid Agung Al Azhar ba'da subuh supaya bisa sholat Id' Adha di Desa jagabita. 

saya sendiri berangkat dari rumah janm 2:30 pagi, krn taxinya sudah sampai duluan, Alhamdulillah.  krn pagi buta, sampai di Al Azhar skitar jam 3 pagi. 

Setelah menunggu, mbak Ari dan mpers (Mbak Izoel, Mbak Yusi, Mbak Yanin dan Mbak Ani) yang lain datang, disusul teman2 dari Relawan Pelangi.

Mas Ready menyusul dari Bogor

krn berangkatnya agak molor, maka kami tidak bisa sholat Id di Jagabita.  Kami sholat Id di daerah BSD.

Walaupun sebelum ini pernah ke desa Jagabita dua kali, saya masih aja keder dengan jalan ke sana.  Teman relawan di sebelah sudah gelisah.  "Tahu kan jalannya" dia tanya beberapa kali.  saya hanya bisa diam dan belagak udah tahu

Untung teman-teman di belakang bisa memberitahu supir arah yang benar.   Sempat telepon-teleponan sama yang sudah sampai duluan.  Jadi deh rezeki para operator seluler

sampai jagabita sekitar jam 9 kurang. 

setelah seremonial oleh pak Lurah dan tokoh masyarakat, acara pemotongan Hewan Qurban pun dimulai. 

Saya sendiri sebenarnya pada awalnya lumayan grogi dengan tugas yang akan dihadapi.  Walaupun sudah memepersenjatai diri dari rumah dengan golok yang mirip kepunyaan para pendekar Betawi, mencincang hewan yang baru dikuliti dan dagingnya masih segar itu tentu bukan perkara mudah. Apalagi ada 3 ekor sapi dan 43 ekor kambing yang harus kami tangani. 

Belum lagi relawan yang lain ada yang hanya mempersenjatai diri dengan pisau dapur yang lebih tepat utk mengupas bawang.  Maklum, bukan profesi.

Lebih grogi lagi waktu tahu lokasi mutilasi atau pencincangan itu adalah madrasah yang akan diperbaiki.  Sudah dialas terpal sih, tapi kan tempatnya tertutup.  Sebab saya sendiri pernah masuk ke tempat jualan daging di pasar dan hampir pingsan dgn aroma di tempat itu.

Namun ternyata Alloh SWT berkehendak lain.  Angin kencang yang berhembus cukup membantu para relawan melaksanakan tugas berat tersebut.  Walaupun tempat itu tertutup, namun ventilasinya cukup memadai. 

Namun, yang namanya kompetensi tentu tidak bisa dibohongi.  Tenaga outsource dari penduduk setempat banyak sekali membantu para relawan menuntaskan tugas tersebut.  Kecepatan dan ketrampilan mereka sangat mengagumkan. 

Lanjutan kisah para tenaga outsource dapat dibaca di tulisan ini

Saya sendiir belum sempat membantu banyak di bagian mutilasi.  Saya harus ke ruangan sebelah utk membantu mbak Icha menghitung kepala2 dan kulit2 hewan yang baru dipotong. 

Alhamdulillah, berkat sistem kerja yang baik dan relawan2 yang amanah, kami terhindar dari larangan menjual kulit dan kepala hewan2 teresebut.

Tukang jagalnya juga sudah profesional, jadi aman deh

Setelah zuhur, kami berhasil menyelesaikan kegiatan mencincang dan mengepak potongan-potongan daging tersebut.  Pembagian daging dipercayakan kepada para pejabat RW dan RT setempat.  Hal ini adalah cara para relawan mendidik aparat2 desa utk peduli pada warga dan memegang amanah. 

Alhamdulillah, walaupun cukup heboh, namun tidak ada kerusuhan atau hal-hal yang tidak diinginkan.  

Acara diakhiri dengan pembubaran panitia, de-briefing sejenak dan foto-foto narsis

*teuteup

Yang ingin tahu lebih banyak tentang relawan pelangi, silahkan bergabung di milis ini

http://groups.yahoo.com/group/relawan_pelangi/