Tampilkan postingan dengan label qurban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label qurban. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2011

berqurban sampai ke Somalia, mau?

http://warungact.multiply.com/
Sampaikah ke penjuru lahan bencana negeri ini seperti Mentawai, Merapi dan Wasior? Mampukah seberangi lautan menolong Somalia yang meratap kelaparan atau Palestina yang dijajah kezaliman? Global Qurban siap mengantar amanah hewan qurban anda ke lahan bencana di penjuru Indonesia hingga Somalia dan Palestina.

Minggu, 14 November 2010

[Renungan] Bencana dan Pengorbanan

Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) memiliki akar kata yang sama dengan kata ‘Qurban’ atau Kurban. Ya! kurban yang kita kenal dengan cara menyembelih hewan seperti domba, kambing, kerbau, sapi, atau unta.  Kata Taqarrub dan Qurban berasal dari akar kata qaf-ra-ba, yang berarti dekat. Seperti dalam berkurban yang disyariatkan dalam ajaran Islam, bahkan jauh sebelum itu, seperti dalam kisah dua anak nabiyullah Adam As bahwa qurban adalah pola terbaik yang Allah Swt ajarkan kepada manusia untuk dapat mendekatkan diri kepada-Nya.

Sejarah membuktikan bahwa orang-orang besar yang tercatat di dalamnya adalah mereka yang suka dan rela berkorban.  Mereka mengutamakan orang lain dan siap berkorban demi tujuan besar yang mereka percayai.  Para nabi, pemimpin besar dan para pahlwanan adalah orang -orang yang rela berkorban, bahkan dengan penuh semangat.  

Pengorbanan terbesar sepanjang sejarah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS.  Beliau rela mengorbankan anak tercinta yang lama sudah dinanti kehadirannya.  Nabi Ismail pun rela disembelih demi melaksankan perintah Allah SWT.  Namun, saat itulah Allah SWT menunjukkan Kasih SayangNya sehingga Ismail pun diganti sembeliha kambing yang besar.  Pengorbanan itu terus dikenang sepanjang masa dalma bentuk ritual pengorbanan Hewan saat Idul Adha.  

Selain pengorbanan maha besar tersebut, masih banyak contoh pengorbanan lain yang tercatat dalam sejarah.  Nabi Yusuf AS rela mengorbankan kebebasannya dan masuk penjara daripada menuruti kehendak istri dari pejabat yang membesarkannya.  Nabi Musa rela meninggalkan kehidupan mewah di Istana Firaun karena peduli pada kaumnya, Bani Israil. Nabi Muhammad SAW juga mengorbankan kehidupan yang relatif nyaman di kalangan kafir Quraisy penyembah berhala demi mendakwahkan Islam.  “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya Aku bertawakkal dan dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (At- Taubah [9]: 128-129)

Pengorbanan besar dan berat namun pemuh kemuliaan bukan monopoli para Nabi. Kaum Muhajirin dan Anshor adalah contoh lain pengorbanan yang luar biasa dalam sejarah.  Oragn-orang Madinah yang menjadi penolong kaum Muhajirin disebut kaum Anshor.  Para penduduk kota itu rela membagi harta kesayangan mereka dengan saudara-saudara barunya.  Demikian pula dengan para pahlawan bangsa yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.  Mereka rela mengorbankan jiwa raganya demi lenyapnya penjajahan dari bumi nusantara tercinta ini.  

Bencana yang melanda negeri ini memang sempat tertutup pemberitaan-pemberitaan yang lain.  Mulai dari kedatangan Presiden negara adidaya nan jumawa, yang suka makan bakso, sate dan nasi goreng hingga mafia pajak seribu wajah. Namun, keadaan para pengungsi sebenarnya tidak bisa ditutupi isu apapun juga. Kehidupan mereka yang hancur berantakan dilanda bencana tidak mungkin dipulihkan hanya dalam waktu semalam.  Perlu waktu lama dan biaya yang besar untuk megembalikan kehidupan masyarakat agar pulih sperti sedia kala, bahkan kalau bisa lebih baik lagi.  Bantuan yang mereka butuhkan masih besar sehingga ladang amalnya pun besar.  Semangat berjuang dan berkorban tidak boleh kendur demi kemaslahantan sesama.  

Idul Adha adalah bagian dari ritual agama Islam yang harus dilaksanakan sesuai tuntunan syariat.  Namun, semangat berkorban harus terus ada sepanjang hayat masih dikandung badan.  Apalagi dengan adanya beragam bencana yang datang silih berganti.  Adalah bencana yang lebih besar lagi apabila semangat berkorban itu menjadi redup. Kepedulian pun hilang bagai lilin padam ditiup angin.  

Pengorbanan adalah harga yang harus kita bayar untuk mensyukuri nikmat Allah SWT yang bahkan tak dapat kita hitung.  Mulai dari udara yang kita hirup, makanan yang kita makan dan masih banyak lagi.  Sungguh, pengorbanan kita sangat tidak sebandiing dengna semua nikmat anugerahNya.  Bahkan bukan tidak mungkin di luar sana ada banyak orang yang tingkat pengorbanannya jauh lebih tinggi dari pengorbanan kita.  Arvan Pradiyansyah, dalam sebuah talkshow di radio swasta, pernah mengatakan bahwa tidak ada makan siang yang gratis di udnia ini.  Namun, kita diberi pilihan untuk menikmati dahulu atau membayar dahulu.  Membayar dulu disebut investasi dan menikmati dahulu bakal kena pembayaran di belakang yang disebut biaya.  Dan biaya selalu lebih besar daripada investasi.  Sehingga bisa kita simpulkan bahwa pilihan kita hanya dua: berkorban atau menjadi korban.  Dan menjadi korban jauh lebih berat daripada berkorban sejak awal dengan niat ikhlas hanya mengharap ridho Allah SWT. Orang yang enggan berkorban sesungguhnya sedang melakukan pengorbanan yang sia-sia.  Bahkan,  yang dikorbankan adalah dirinya sendiri.   

Semoga bermanfaat

Selasa, 09 Desember 2008

[RELAWAN PELANGI] Qurban di Jagabita

Akhirnya setelah berharap-harap cemas hari H yang dinanti para relawan Pelangi pun tiba.  sesuai kesepakatan yang akhirnya berhasil dicapai 

(stelah beberapa kali berubah-ubah rencana) para relawan spakat berangkat dari Masjid Agung Al Azhar ba'da subuh supaya bisa sholat Id' Adha di Desa jagabita. 

saya sendiri berangkat dari rumah janm 2:30 pagi, krn taxinya sudah sampai duluan, Alhamdulillah.  krn pagi buta, sampai di Al Azhar skitar jam 3 pagi. 

Setelah menunggu, mbak Ari dan mpers (Mbak Izoel, Mbak Yusi, Mbak Yanin dan Mbak Ani) yang lain datang, disusul teman2 dari Relawan Pelangi.

Mas Ready menyusul dari Bogor

krn berangkatnya agak molor, maka kami tidak bisa sholat Id di Jagabita.  Kami sholat Id di daerah BSD.

Walaupun sebelum ini pernah ke desa Jagabita dua kali, saya masih aja keder dengan jalan ke sana.  Teman relawan di sebelah sudah gelisah.  "Tahu kan jalannya" dia tanya beberapa kali.  saya hanya bisa diam dan belagak udah tahu

Untung teman-teman di belakang bisa memberitahu supir arah yang benar.   Sempat telepon-teleponan sama yang sudah sampai duluan.  Jadi deh rezeki para operator seluler

sampai jagabita sekitar jam 9 kurang. 

setelah seremonial oleh pak Lurah dan tokoh masyarakat, acara pemotongan Hewan Qurban pun dimulai. 

Saya sendiri sebenarnya pada awalnya lumayan grogi dengan tugas yang akan dihadapi.  Walaupun sudah memepersenjatai diri dari rumah dengan golok yang mirip kepunyaan para pendekar Betawi, mencincang hewan yang baru dikuliti dan dagingnya masih segar itu tentu bukan perkara mudah. Apalagi ada 3 ekor sapi dan 43 ekor kambing yang harus kami tangani. 

Belum lagi relawan yang lain ada yang hanya mempersenjatai diri dengan pisau dapur yang lebih tepat utk mengupas bawang.  Maklum, bukan profesi.

Lebih grogi lagi waktu tahu lokasi mutilasi atau pencincangan itu adalah madrasah yang akan diperbaiki.  Sudah dialas terpal sih, tapi kan tempatnya tertutup.  Sebab saya sendiri pernah masuk ke tempat jualan daging di pasar dan hampir pingsan dgn aroma di tempat itu.

Namun ternyata Alloh SWT berkehendak lain.  Angin kencang yang berhembus cukup membantu para relawan melaksanakan tugas berat tersebut.  Walaupun tempat itu tertutup, namun ventilasinya cukup memadai. 

Namun, yang namanya kompetensi tentu tidak bisa dibohongi.  Tenaga outsource dari penduduk setempat banyak sekali membantu para relawan menuntaskan tugas tersebut.  Kecepatan dan ketrampilan mereka sangat mengagumkan. 

Lanjutan kisah para tenaga outsource dapat dibaca di tulisan ini

Saya sendiir belum sempat membantu banyak di bagian mutilasi.  Saya harus ke ruangan sebelah utk membantu mbak Icha menghitung kepala2 dan kulit2 hewan yang baru dipotong. 

Alhamdulillah, berkat sistem kerja yang baik dan relawan2 yang amanah, kami terhindar dari larangan menjual kulit dan kepala hewan2 teresebut.

Tukang jagalnya juga sudah profesional, jadi aman deh

Setelah zuhur, kami berhasil menyelesaikan kegiatan mencincang dan mengepak potongan-potongan daging tersebut.  Pembagian daging dipercayakan kepada para pejabat RW dan RT setempat.  Hal ini adalah cara para relawan mendidik aparat2 desa utk peduli pada warga dan memegang amanah. 

Alhamdulillah, walaupun cukup heboh, namun tidak ada kerusuhan atau hal-hal yang tidak diinginkan.  

Acara diakhiri dengan pembubaran panitia, de-briefing sejenak dan foto-foto narsis

*teuteup

Yang ingin tahu lebih banyak tentang relawan pelangi, silahkan bergabung di milis ini

http://groups.yahoo.com/group/relawan_pelangi/

[RELAWAN PELANGI] Foto baksos jagabita (pakai kamera beneran)


pembacaan doa oleh para tokoh masyarakat

Nah, yang ini baru poto2 dgn kamera beneran, bukan kamera HP. yang motret mbak Ari dan mbak Yanin. kamera dapat minjam dari adik saya, he he he

*upload-nya harus dicicil :D

Senin, 08 Desember 2008

[RELAWAN PELANGI] Foto narsis ala tukang jagal




kayaknya seantaro MP belum ada deh poto narsis kaya gini, he he he he

*asli tanpa sotosop atau image editing lainnya :D

*baru tahu ternyata kepala sapi itu berat, he he he

[RELAWAN PELANGI] Foto baksos jagabita (pakai HP)




Ini sebagian foto baksos kemarin di desa jagabita, pakai HP. more photos coming soon. termasuk foto Al Azhar sebelum subuh :)

Kamis, 27 November 2008

Rabu, 26 November 2008

[RELAWAN PELANGI] Survey ke Jagabita




Hari Ahad kemarin, saya dan beberapa rekan dari Relawan Pelangi pergi survey ke Desa Jagabita, Parung Panjang.

Sepanjang perjalanan truk-truk segede panser berseliweran dgn beban yang beratnya gak kira-kira. Debu yang beterbangan jgn ditanya lagi banyaknya. Oleh karena itu penyakit pernafasan adalah hal yang umum di sana.

Penyakit yang diderita antara lain: gizi buruk, kaki gajah, kanker, tumor bahkan ada yg sampai 20 kilo di tangan, kaki gajah 20 Kg (bengkak di kaki seberat 20 Kg)

Air bersih dan sanitasi hampir tidak ada. Warga hanya bisa mandi dan mencuci di kali, bareng kerbau.

Ada juga kisah anak terlantar seminggu dari citayam karena dibuang orang tuanya. Dia gak mau balik ke rumah takut sama bapaknya. Saat dimandikan, kutu rambut di mana-mana.

Banyak bayi-bayi di tong sampah krn di sana, banyak anak perempuan, sesudah lulus SD, langsung dinikahkan. Banyak juga yang gak siap sehingga cerai dan jadi janda. Yang laki2 sesudah lulus SD dagang di pasar dkt rel kereta.

Kalau ada hajatan, banyak warga yang memaksakan diri membuat pesta mewah yang dibiayai dgn hasil pinjaman dari rentenir alias lintah darat. Hasil panen pun habis utk bayar utang :(

Kami juga mengunjunig Madarasah Nurul Mu'min yang sudah sgt tidak terawat.

Kami juga berkunjung ke rumah Ayu, seorang penderita gizi buruk. pada saat itu, ibunya hendak pergi ke Jakarta, menyusul suami krn sudah tidak punya beras. kami membelikan mereka beras dan makanan serta meminta sang ibu agar tidak pergi ke Jakarta, jaga anak saja.

Apa yang diceritakan di atas hanya sedikit dari penderitaan warga Desa Jagabita yang sesungguhnya, hanya puncak dari gunung es yang ada di sana.