Tampilkan postingan dengan label empati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label empati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juli 2012

Orang Miskin Tidak Selalu Malas


"Orang miskin itu karena salahnya sendiri dia malas bekerja. Jadi bukan salah siapapun kalau ada orang miskin,"
Marzuki Ali, Ketua DPR-RI
berita dari situs ini

Pagi itu masih gelap pekat, walaupun adzan subuh sudah berlalu dan orang-orang yang shalat berjamaah di masjid-masjid sudah bubar. Saya, sesudah sholat berjamaah di masjid, tidak langsung pulang. Saya masih menikmati segarnya udara pagi di kota kembang Bandung saat itu. Dari arah yang berlawanan, tampak beberapa orang ibu-ibu yang akan berjualan sayuran di pasar dekat Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Pasar itu terletak di dataran yang lebih tinggi daripada tempat di mana saya berpapasan dengan mereka. Jarak dari tempat tersebut dengan pasar tujuan mereka masih cukup jauh dan mereka harus melalui jalan mendaki yang cukup curam. Terbayang oleh saya, betapa beratnya perjuangan mereka saat menyambung hidup hari ke hari. Setiap hari harus berjalan sambil membawa dagangan yang banyak dan berat serta harus melalui jalan terjal mendaki. Bagaimana mungkin orang-orang seperti itu bisa dibilang malas?

Para ibu penjual sayuran itu hanya sedikit contoh dari banyaknya orang-orang menengah ke bawah yang harus berjuang menghidupi diri dan keluarga mereka hari demi hari. Kehidupan rakyat di negeri makmur dan kaya ini seakan tidak pernah membaik sedikitpun. Dari sebelum terbit matahari hingga terbenamnya kembali, jutaan rakyat negeri ini bekerja keras membanting tulang memeras keringat di berbagai sektor pekerjaan. Ada yang dari tengah malam buta sampai pagi menyapu jalanan, ada pula yang sudah menggelar dagangannya sebelum matahari bersinar. Namun, kehidupan mereka tak juga membaik karena sistem sosial yang zalim menguasai mereka. Kemiskinan di negeri ini sebagian besar memang kemiskinan struktural. Bisa jadi, diantara orang-orang miskin itu memang ada yagn malas untuk bekerja dan berusaha. Mereka lebih suka tinggal dan bersantai-santai di rumah tanpa peduli pada masa depannya. Namun, sebagian besar rakyat Indonesia menjadi miskin karena kezaliman para penguasanya. Para penguasa lebih suka menyerahkan pengelolaan sumber daya alam pada perusahaan-perusahaan asing ketimbang memberdayakan anak bangsanya sendiri. Mereka lebih percaya kemampuan orang asing daripada bangsanya sendiri. Bahkan, mereka tidak ragu mengeluarkan uang demi membantu IMF, sebuah lembaga keuangan asing yang kerjanya hanya menyengsarakan negera-negara berkembang, termasuk negaranya sendiri. Padahal, akan jauh lebih bermanfaat apabila uang itu dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. IMF seharusnya dibiarkan saja bangkrut agar tidak lagi merusak perekonomian negara-negara berkembang dan membunuh rakyatnya pelan-pelan dengan kelaparan dan pencabutan subsidi.
 
Memang, terkadang saat berkuasa, orang suka lupa diri dan berbuat seenaknya saja. Lidah yang tidak bertulang itu seakan mudah saja melontarkan kata kata yang seharusnya dipikir dahulu sebelum diucapkan. Kini, ucapan itu sudah terlanjur dikatakan. Hati dan perasaan masyarakat yang mendengar atau membaca ucapan itu kini sudah terluka dan berdarah. Mereka, orang-orang kecil itu, mungkin tidak akan bisa membalas perkataan menyakitkan tersebut. Namun, akan ada yang membalas dengan balasan yang adil setimpal. Yaitu Dia yang tidak akan menyia-nyiakan doa hamba-hambaNya yang terzalimi, meskipun mereka hanya rakyat kecil yang lemah dan miskin. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW telah mengutus Mu’adz ke Yaman dan Beliau berkata kepadanya : “Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, karena doa tersebut tidak adah hijab (penghalang) diantara dia dengan Allah”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Semoga bermanfaat

Related Links:

Otak Bung Karno dan Otak Marzuki Alie

Pernyataan Marzuki Alie Sungguh Menyakiti Warga Miskin, Cerminan Penguasa Yang Tidak Melayani Masyarakat

Marzuki Alie dan Kemiskinan

Marzuki Ali: Orang Miskin karena Malas Kerja

Rabu, 07 Juli 2010

[Daily Life] Empati di petang hari

Bukan kebetulan saya merasa mendapat banyak pelajaran tentang empati sore kemarin.  Pada mulanya sih karena hendak mengambil HT di Radio D FM, dari mbak Ari.  Untuk sampai ke daerah Warung Buncit, yang paling praktis walaupun tidak terlalu nyaman krn jam super sibuk, adalah dengan menggunakan Trans Jakarta alias Busway. 

Namun, walau sudah dikasih "privilege" untuk melwati jalur sendiri, terpisah ari kendaran lain, namun tetap saja jalur itu penuh.  Bukan karena armada buswaynya banyak, namunbanyak kendaraan pribadi yang ikutan nimbrung di jalur itu.  Banyak motor dan mobil yang masuk sehingga si busway pun ikut-ikutan tersendat.  Orang yang berdiri dekat saya pun berkata pada temannya "nah, berasa kan, sudah naik busway masih lambat.  Makanya, kalau naik mobil jangan masuk jalur busway... ". Yup, sebuah pelajaran yang luar biasa tentang empati.  Rela bermacet ria karena bertenggang rasa dengan para pengguna trans Jakarta mungkin bukan pilihan yang menyenangkan, namun dengan mengikuti peraturan seperti itu, semoga ketertiban dan kelancaran yang kita dambakan bersama bisa terwujud.  Kebaikan sekecil apapun tentu tidak akan disia-siakan oleh Dia Yang Maha Pemurah.  

Setelah bertemu mbak Ari dan meminjam HT, saya sempatkan untuk berkunjung ke Jakarta Book Fair di Senayan.  Dalam perjalanan, bis Kopaja yang saya tumpangi berjalan pelan, seperti biasa hendak menambah penumpang.  Namun,  bis besar yang ada di belakangnya membunyikan klakson berulang kali, tidak sabar hendak mendahului.  Mungkin karena penumpang sudah penuh atau ada keperluan lain.  Kopaja pun enggan beranjak lebih cepat, sang supir malah berteriak memaki bus yang di belakangnya.  "Kita kan sama-sama cari duit ......... bla bla bla". Makian tersebut tidka bisa diterima supir bis besar dan kondekturnya.  Makian yang tidak kalah sengit pun terlontar, hingga tidak hanya isi kebon binatang yang keluar namun, maaf, apa yang biasa dibuang ke belakang juga ikutan muncul. 

Suasana yang "chaotic" itu membuat saya bergegas keluar dan berjalan kaki ke Istora, walau masih agak jauh.  

Di bookfair saya melihat buku yang ditulis oleh teman-teman Kajian Zionisme.  Buku yang juga memuat tulisan saya tersebut ada di stand Penerbit Cakrawala, harganya sudah didiskon ... sekalian promosi ..




Buku yang berkisah tentang penjarah organ tubuh orang-orang Palestina oleh kaum Zionis itu juga dilengkapi tulisan-tulisan tentang Zionisme.  Banyak diantara tulisan tersebut yang merupakan hal-hal mendasar yang perlu diketahui siapapun yang berminat mengkaji zionisme.  Insya Allah tidak rugi apabila ada diantara sahabat sekalian yang membeli, membaca dan mempelajari isi buku tersebut.  Bicara tentang empati, Insya Allah semua tulisan dalam buku itu dapat menggugah empati.  

Pulangnya, saat hari sudah malam, saya naik kopaja lagi.  Pada saat hendak turun, saya tidak tahu apakah sudah di tempat yang tepat atau belum.  Namun, lagi-lagi ketiadaan empati dari supir membuat hati jadi tidak nyaman.  "Turun di mana pak" kata supir dengan suara keras.  Ya sudah .. Langsugn lompat saja deh, untung selamat ...

Malam, karena belum bisa tidur, saya melihat TV.  dari saluran TV luar negeri, ada film berjudul City of Life and Death.  Sebuah film yang dibuat berdasarkan "Pembantaian Nanking" yang terjadi tahun-tahun awal pada perang Dunia II.  Film tersebut memang cukup sadis, dengan penggambaran pembantaian kekerasan yang vulgar.  Namun, di luar segala kontroversi, film tadi bisa membantu kita mengasah empati dan mensyukuri betapa nyaman kehidupan kita ini.  Paling tidak, negeri ini belum dilanda perang lagi seperti yang pernah dialami para pendahulu kita dulu.  

Empati mungkin bukan segala-galanya, namun tanpa empati, tidak ada hubungan yang bisa dijalin dengan baik, dan kerusakan hubungan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan segala-galanya. 

Semoga bermanfaat

Senin, 02 Februari 2009

Alhamdulillah, tulisan saya dimuat di Warnaislam :)

http://warnaislam.com/rubrik/sahabat/2009/2/3/32460/Ibu_Marhumah_Warga_Desa_Jagabita_Malang.htm
Ini pertama kalinya tulisan saya muncul di situs selain blog. Pagi2 dihubungi Pak Bambang dari Warnaislam dot com diminta ngecek situs Warnaislam.

Alhamdulillah tulisan saya dimuat. Saya jadi ingat kalau tidak salah Pak Jonru pernah bilang bahwa kita tidak boleh memvonis tulisan karya kita sendiri. Bisa saja tulisan yang kita anggap asal-asalan ternyata bagus di mata orang lain dan demikian sebaliknya.

Minggu, 20 Juli 2008

Hari Tanpa TV - Berhasilkah???

UntitledAssalamualaikum,

bagaimana hari tanpa TV kemarin, sukses enggak, he he he

Saat saya lihat pro dan kontra dari ajakan tersebut di situs detiknews dot com, kayaknya koq lebih banyak yang kontra ya.  Tanya kenapa??????????????

Sebagaimana kita ketahui, ketergantungan masyarakat pada hiburan, terutama TV sudah sampai tahap yang mengkhawatirkan.  Hal ini sudah berlangsung lama sekali, mengingat pengalaman saya waktu SD dan SMP seringkali bolos sekolah dan pura-pura sakit agar bisa nonton film kartun yang berseri-seri.  Obrolan di sekolah pada waktu itu juga berkisar tentang film-film kartun di televisi, bukan masalah pelajaran, he he he.

Kekhawatiran orang tua dan guru tentu saja dapat dimengerti dan dipahami.  Mereka tidak ingin anak-anak dan murid-muridnya tidak berhasil dalam menempuh pendidikan sehingga tidak dapat membina masa depan dengan baik.  Acara televisi sering kali sambung menyambung sehingga tidak memberi kesempatan pada anak-anak untuk melakukan hal-hal lain.  Mungkin stasiun TV A saat melihat jadwal siaran Stasiun TV B berpikir, "kalau film kartun ini saya setel jam sekian, pasti bentrok sampa punya TV B dan bisa kalah rating.  Kalau gitu saya setel setengah jam sesudahnya aja deh."

Pemsukan stasiun TV memang dari Iklan, jadi bagaimanapun hancur lebur acaranya, apabila ratingnya tinggi ya akan tetap dipertahankan mati-matian.  Namun, saya pernah dengar bahwa pada rating itu  sendiri terjadi salah kaprah, yang di-rating kan acara TV-nya bukan iklannya.  Kalau orang-orang yang suka nonton TV ditanya, "Bapak-bapak, ibu-ibu, mas, mbak, adik dll kalau pas ada iklan, channel TV-nya diganti enggak" Kemungkinan 90 sekian persen akan menjawab "Digantiiiiiiiiiiiiii". Jadi, bisa dibilang persis dengan apa yang dikatakan Bapak Tung Desem Waringin, para pemasang iklan itu menyebarkan uang di kawah gunung berapi.  Alias buang-buang duit :(

Padahal, bukankah Alloh SWT sudah menjanjikan bahwa Dia akan menjamin rezeki setiap makhluk ciptaan-Nya? Coba kita baca Surat Hud Ayat 6. (Dan tidak ada suatu binatang melata dimuka bumi ini melainkan Allah yang memberi rizqinya).  Tuh, benar kan?
  
Selama manusia belum yakin bahwa Alloh SWT menjamin rezeki setiap hamba-hamba dan makhluk-makhluk ciptaanNya, maka hal-hal seperti itu akan terus terulang sampai kapanpun.  Namun, saya pernah mendengar salah satu editorial radio SMART FM.  Dalam editorial tersebut dikatakan bahwa:
  1. Masyarakat yang terus menerus disuguhi tontonan tidak bermutu akan hilang minat bacanya. 
  2. Masyarakat yang kehilangan minat baca akan bodoh jadinya. 
  3. Masyarakat yang bodoh akan miskin. 
  4. Masyarakat yang miskin akan lemah daya belinya dan tidak bisa beli apa-apa. 
  5. Masyarakat yang lemah daya belinya tentu tidak akan mampu membeli produk-produk yang dipromosikan melalui iklan-iklan di TV.  
  6. Apabila masyarakat tidak bisa membeli produk-produk tersebut, perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk-produk tersebut tentu akan mengalami kesulitan keuangan. 
  7. Apabila perusahaan-perusahaan itu mengalami kesulitan keuangan, bisa-bisa ada PHK massal dan yang paling dahulu kena adalah buruh dan para pekerja kasar.  Mereka pada umumnya kurang berpendidikan dan miskin, sehingga mudah jadi sasaran empuk PHK.
  8. Banyaknya PHK akan menimbulkan lebih banyak pengangguran.
  9. Lebih banyak penggangguran artinya akan lebih banyak tindak kejahatan merajalela di lingkungan kita.
  10. Pada akhirnya kualitas hidup masyarakat akan menurun secara keseluruhan, termasuk penyakit yang merajalela karena sulit bagi masyarakat miskin untuk memelihara kebersihand an menjaga kesehatan, contohnya di  Desa Jagabita, Parung Panjang Tanggerang, alias Kampung Pesakitan.  Foto-fotonya bisa dilihat di sini
  11. Bukan tidak mungkin semua hal yang disebutkan di atas akan memicu krisis yang lebih besar lagi, mungkin seperti Revolusi Prancis atau peristiwa-peristiwa lainnya yang serupa dengan itu.
     

Nauzubillah min dzalik, semoga Alloh SWT melindungi kita semua, Amiiiin


Nah, apakah kita masih meremehkan dampak negatif Televisi dalam kehidupan kita??

Semoga bermanfaat, maaf jika tidak berkenan.

 

Senin, 30 Juni 2008

Foto-foto hasil Survey ke Parung Panjang - Desa Jagabita (desa pesakitan)








Untitled



Casas de Carton - Los Guaraguaos




temans, ini sedikit foto dari saya..
maaf kalau belum menambahkan keterangan,
diwakilkan dengan tulisan Ari disini yah



Hasil Survey Baksos MPID Tim Jagabita



More photos, please visit



desa_Jagabita_desa_pesakitan_parung_panjang




dibawah ini info dari mas Bayu



Sedikit cerita tentang desa Jagabita



Pernah dengar Kampung Pesakitan? Pasti belum. Karena nama kampung ini memang tidak ada dalam wilayah manapun di negeri ini. Sebutan Kampung Pesakitan bukan nama sebenarnya, hanya sebuah nama yang dilabeli oleh relawan ACT yang Selasa lalu (8/4) lalu mendatangi beberapa kampung dan desa di Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.



Sebagai contoh adalah Desa Jagabita. Perekonomian yang carut marut membuat masyarakat sangat tak berdaya untuk sekadar bertahan hidup secara normal. Yang dimaksud normal disini yakni makan tiga kali sehari, pendidikan berjalan lancar, dan kesehatan terjaga. Jika tiga hal ini menjadi patokan standar kehidupan normal, maka nyaris seluruh warga di desa ini bisa dibilang berkehidupan tak normal.



Ella misalnya, gadis 18 tahun ini menderita sakit kaki gajah sejak usianya masih sekitar dua tahun. Ukuran kakinya saat ini sudah benar-benar seukuran kaki gajah dan tak pernah diobati sama sekali. Hanya sekali dibawa ke puskesmas untuk mendapat pemeriksaan, yakni pada saat Ella berusia dua tahun. Sejak saat itu Ella tidak lagi mendapat pengobatan, padahal kakinya terus membesar.



Usan (47 tahun), Ayah Ella, mengaku tidak punya uang untuk mengobati penyakit anaknya. Sehari-harinya Usan hanya bekerja sebagai buruh serabutan membuat anyaman topi pramuka dari bambu. Setiap hasil anyaman topi itu Usan hanya mendapat upah lima ratus rupiah, dan dalam sepekan ia hanya sanggup membuat tidak lebih dari 20 topi. Itu artinya, penghasilan Usan hanya berkisar sepuluh ribu rupiah. Dengan uang sekecil itulah ia menghidupi isteri dan ketujuh anaknya. “Buat makan saja nggak ada pak, apalagi buat ke dokter”, aku Usan kepada relawan ACT.



Ibu Uun, relawan ACT yang menemani tim ACT ke desa tersebut pun menjelaskan, bahkan untuk ongkos ojeg ke puskesmas pun mereka tidak punya. Kini Ella sudah tidak bersekolah, selain karena terlalu berat membawa-bawa kakinya yang membesar, ia juga malu karena sering diejek teman-temannya. Gadis yang bercita-cita masuk pesantren agar bisa menjadi guru ngaji itu sehari-harinya berdiam diri di kamar dan malu keluar rumah.



Selain Ella, ada juga Rohilah, siswi kelas 2 SD yang mulai terkena kaki gajah. Kaki kanan gadis kecil berusia sepuluh tahun ini memang belum terlihat besar karena baru beberapa bulan menderita kaki gajah. Tetapi dari waktu ke waktu kakinya akan terus membesar jika tidak diobati.



Tidak jauh dari rumah Ella, Mas’ud, 50 tahun, sudah tiga tahun tidak bisa berjalan karena ada benjolan di lututnya. Ia tidak pernah memeriksakan kakinya ke puskesmas karena tidak punya biaya. “Jauh pak, harus naik ojeg. Pulang pergi naik ojeg tidak cukup sepuluh ribu…,” keluhnya.



Gizi Buruk


Tim relawan ACT juga menemui banyak kasus gizi buruk di desa itu. Sebut saja Mamay, 3,5 tahun yang hanya memiliki bobot 8,5 kilogram. Perutnya buncit, matanya sayu serta kulitnya yang layu. Anak-anak seusianya sudah mampu berlari, sedangkan Mamay masih digendong ibunya, Linda (22 tahun) karena belum sanggup berdiri. Ternyata, Mamay masih punya adik yang berusia enam bulan. Total anak Linda berjumlah enam, sementara suami Linda hanya bekerja sebagai guru ngaji.



“Mamay dikasih makan apa bu?” tanya relawan ACT. “Nggak mau makan, paling-paling ASI bareng sama adiknya. Soalnya saya nggak punya uang buat beli susu pak,” ujar Linda.




Rafli, 2 tahun, bobotnya hanya 8 kg. Ikrima, anak kelima dari lima bersaudara berusia 2,5 tahun, berat badannya pun tak lebih dari 9,5 kg. Adalagi Khaerul, bocah berusia tujuh tahun, selain bongkok, ia pun menderita gizi buruk karena berat badannya tidak lebih dari 13 kg. Anak yatim ini tidak terurus karena ayahnya sudah meninggal sedangkan ibunya hanya berdagang asongan di pasar. Khairul yang bongkok ini pun sering menjadi bahan olok-olok teman-temannya.



Tidak berbeda nasib dengan yang lain adalah Anisa. Ketika ditemui gadis berusia dua tahun ini sedang bermain di kubangan lumpur. Eli, sang ibu yang buta sejak kecil, tidak tahu kalau anaknya bergelimang lumpur. Berat badan Anisa hanya 5,5 kg dengan perut membuncit. Anisa tidak pernah mengenal Ayahnya, karena sang Ayah kabur saat gadis itu baru dilahirkan.



Hari sudah gelap, padahal menurut ibu Uun masih banyak yang harus dikunjungi. Selain jumlah balita gizi buruk yang sudah didata sampai diangka 100, anak-anak dan warga dengan penyakit lainnya pun sangat banyak. Ada yang sakit hernia, cacat mental, tumor kulit, TBC paru-paru, dan masih banyak lagi sehingga cukup pantas menamakan wilayah ini sebagai kampung pesakitan.



Ketidakberdayaan ekonomi, ketidaktahuan (baca: kebodohan), juga ketidakadilan sistem kehidupan menjadi penyebab utama kondisi memprihatinkan beberapa desa di wilayah Parung Panjang ini. Bahkan, sebagian warga di Parung Panjang harus tinggal di atas tanah yang bukan milik mereka sendiri, karena tanah-tanah itu sudah menjadi milik orang kota.



Beberapa desa di kecamatan ini bisa dikategorikan sebagai desa tertinggal, untuk bertahan hidup pun mereka harus bersusah payah mengurangi frekuensi makan yang biasanya tiga kali menjadi dua kali, bahkan sekali makan dalam sehari. Kesehatan seperti mimpi terindah yang takkan pernah mereka rasakan, sebab untuk membuat kartu GASKIN (keluarga miskin) pun mereka harus mengeluarkan sejumlah uang yang tak sedikit. Padahal kartu GASKIN inilah satu-satunya harapan mereka bisa mendapat perawatan kesehatan secara gratis. Adakah yang masih peduli?



Kampung Pesakitan, pasti bukan hanya di Parung Panjang. Di banyak wilayah di negeri ini terdapat kampung sejenis, dengan ketidakberdayaan ekonomi, ketertinggalan akses informasi, keterbatasan pengetahuan, serta ketidakadilan system yang mengkerangkeng kehidupan masyarakat bangsa ini. Lihatlah, berapa banyak anak-anak menderita gizi buruk di negeri ini? (Gaw)



Informasi: Bayu Gawtama, 02132855165, 085219068581





Kamis, 01 Mei 2008

Refleksi Hari Buruh - Pentingnya Amanah dan Empati

sehubungan dengan hari buruh nasional, saya mau posting ini aja deh:

Sebenarnya ini reply utk siarannya Ibu Presiden MP alias Mbak Ari Wijaya, tetapi gak ada salahnya kan di-share di MP:

Selengkapnya ada di sini

http://ariwijaya.multiply.com/journal/item/47/Proaktivita_-_Kamis_1_Mei

Kontribusi saya waktu itu disini
Saya pernah baca brosurnya Dynamic Consulting-nya Gede Prama

Hubungan antara Buruh atau Pegawai dan Majikan, menurut DC, bisa dibagi menjadi 4 kategori

1. Buruh dan Majikan/Perusahaan sama2 puas, ini disebut The Company of Joy

2. Buruh tidak puas, Majikan/Perusahaan puas, ini disebut The Company of Exploitation

3. Buruh puas, Majikan/Perusahaan tidak puas, ini disebut The Company of Strike --> buruh bisa mengancam perusahaan dengan cara mogok dll

4. Buruh dan Majikan sama-sama tidak puas, ini disebut The Company of Destruction, perusahaan yang ancur-ancuran, yang rugi semua pihak, bukan hanya buruh dan majikan/perusahaan, tapi juga konsumen, pemegang saham, keluarga para buruh dan majikan/perusahaan serta masyarakat secara keseluruhan. Kategori 2 dan 3 bisa berakhir di kategori 4 ini.

Dalam posting kali ini, saya hanya mau nambah yang kelupaan, maklum bukan ahli sosiologi, he he he:

Kategori pertama, The Company of Joy hanya dapat dicapai dengan memperkuat sikap amanah sehingga baik buruh dan majikan  mendapatkan predikat dapat dipercaya.  Dalam agama Islam predikat dapat dipercaya disebut Amanah

Sesungguhnya, Kata kuncinya adalah amanah dan rasa saling percaya antara buruh dan majikan.  Kepercayaan tentu saja tidak bisa dipaksakan.  Kita tidak bisa memaksa orang percaya pada kita demikian pula tidak ada orang lain yang bisa memaksa kita pecaya pada kita.  

Bahaya menyelewengkan amanah dinyatakan dalam Alquran, "Barang siapa yang berkhianat, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatinya itu." (QS Ali Imran: 161).

Tingginya tingkat keseriusan agama memandang masalah amanah ini terlihat dari riwayat ketika seorang penduduk Arab pegunungan datang bertanya kepada Rasulullah SAW. "Apakah yang paling berat dalam agama dan yang paling ringan?

Rasulullah SAW memberi jawaban, "Yang paling ringan ialah mengucapkan dua kalimat syahadat, asyhadu anlaa ilaaha Illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Sedangkan yang paling berat ialah amanah. Tidak sempurna agama seseorang yang tidak menjaga amanah, tidak diterima shalat dan zakatnya." (HR Al Bazar dari Ali bin Abi Thalib).

Amanah merupakan urat nadi kehidupan masyarakat dan negara. Sayid Jamaluddin al Afghani, pelopor kebangkitan Muslimin abad ke20 berkata, "Manakala sifat amanah telah rusak, maka rusaklah segala ikatan dan tata kehidupan yang ada di masyarakat."

Bayangkan, buruh mana yang tidak mau bekerja pada pengusaha yang selalu menepati janjinya.  Upah dibayar tepat waktu, kesejahteraan diperhatikan, hak-hak buruh dipenuhi dan sebagainya.  Sebaliknya, pengusaha mana yang tidak ingin punya buruh yang rajin bekerja, mau mengerti keadaan perusahan, tidak banyak menuntut dan sebagainya.  Sehingga kita akhirnya mendapat kata kunci kedua yaitu empati.  Baik buruh maupun majikan/perusahaan berusaha saling memahami sehingga timbul rasa saling percaya.  Betapa idealnya bila buruh juga menghemat anggaran kesehatan perusahan untuk para buruh dengan cara tidak merokok misalnya, dan pengusaha memelihara perasaan para buruh dengan tidak bermewah-mewah.  Lebih luar biasa lagi baik buruh atau pengusaha sama-sama suka sedekah sehingga keberkahan mengalir deras ke dalam perusahaan.  

Ah, mungkin semua itu hanya mimpi seorang blogger di siang bolong, namun, dengan pertolongan dan kekuasaan Alloh SWT, apa sih yang tidak mungkin?????

Semoga bermanfaat  

Sebagian isi posting diambil dari sini: http://www.pkpu.or.id/artikel.php?id=18&no=17